
Kini Refan, Febri dan Naila sudah berada di ruang keluarga.
"Alhamdulillah... " ucap Kinan lega melihat Naila ikut keluar bersama suaminya.
"Sini sayaaang" panggil Kinan.
Naila duduk diantara Kinan dan Refan.
"Ini Om Rendy suami Tante. Om Rendy juga saudara sepupu Mama kamu" ujar Febri.
"Salim sayang" perintah Kinan.
Naila berdiri dan menjabat tangan Rendy dan mencium tangannya.
"Febri benar, kamu memang mirip sekali dengan Renita" ujar Rendy.
Naila hanya tersenyum lemah.
"Apa Papa kamu sudah cerita tentang amanah Opa kamu?" tanya Rendy.
Naila menatap ke arah Refan. Refan membalasnya dengan senyuman.
"Perusahaan Opa sayang" ucap Refan.
"Sudah Om tapi aku belum mau untuk mengurusnya karena aku belum mampu. Aku masih meminta bantuan Tante Ela dan Tante Dini untuk mengurusnya" jawab Naila.
"Tidak mengapa yang penting amanah Om Reno sudah sampai ke kamu. Itu adalah isi surat wasiat Om Reno untuk kamu" ujar Rendy.
"Gak kerasa ya sudah dua puluh lima tahun yang lalu berlalu. Naila sudah dewasa sekarang. Sudah punya calon?" tanya Rendy.
Naila seketika melirik ke arah Jeta dan Jeta membalasnya dengan senyuman.
Naila tertunduk malu.
"Belum Om.. " jawab Naila. Karena memang begitu adanya saat ini. Walau Jeta memang sudah mengutarakan isi hatinya tapi Naila belum memberikan jawaban.
"Nanti kalau kamu menikah jangan lupa undang Om ya.. Om kan juga kerabat kamu" ujar Rendy sambil tersenyum.
"Pasti donk Ren.. Mana mungkin kami tidak mengundang kamu" sambut Refan.
Kini semua bisa tersenyum lega setelah melihat senyuman malu - malu Naila. Di dalam hati Naila sangat bersyukur dan merasa sangat beruntung bisa berada dan dikelilingi oleh orang - orang yang sangat menyayanginya.
Dia sangat yakin diluar sana pasti banyak anak - anak yang bernasib sama dengan dirinya bahkan mungkin nasib mereka lebih tragis dari kisahnya.
__ADS_1
Naila tidak bisa membayangkan kalau seandainya dia tidak mendapatkan dukungan dari semuanya pasti dia akan sangat terpuruk dan putus asa.
Beruntung Refan dan Febri selalu orang yang terdekat dengan kedua orang tua kandungnya dulu menutup kisah ini dengan sangat rapat sehingga selama dua puluh lima tahun umur Naila dia tidak pernah mendapatkan hukuman sosial di lingkungannya.
Dia bisa hidup dengan baik, sekolah dan bekerja dengan baik tanpa gangguan dari orang lain. Bahkan tidak ada yang tau bahwa hidupnya sudah cacat. Keluarganya sangat pintar menutupi rahasia ini sehingga dia bisa hidup dengan tenang.
Kalau seandainya semua orang tau kisah hidupnya, Naila tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus bersikap. Naila benar - benar tidak sanggup untuk menghadapinya.
Naila melirik ke arah Jeta. Dia kembali teringat kata - kata Jeta.
"Ikut aku Nai.. aku akan bawa kamu pergi dari sini. Kita keluar negeri, disana tidak akan ada orang yang mengenal kamu dan mereka tidak akan peduli dengan kehidupan orang lain. Aku janji akan menyembuhkan luka kamu, aku akan menjaga kamu dan menyayangi kamu. Aku akan membahagiakan kamu" ungkap Jeta kemarin.
Untuk sesaat Jeta dan Naila saling tatap. Senyum lembut terbit dari bibir Jeta. Seolah mengisyaratkan kalau dia sangat senang melihat Naila sudah bisa menerima semuanya. Dia sangat bangga melihat Naila kuat seperti ini dan seandainya Naila butuh penopang dia siap untuk menjadi tempat Naila berpegang dan bersandar.
Naila tidak melihat sosok pria usil dan iseng yang dulu sangat dia benci. Tapi Naila bisa melihat kasih sayang yang sangat besar dari pria itu. Entah mengapa saat ini Jeta terlihat sangat dewasa dimata Naila.
Bahkan Naila seperti larut dan terbuai dalam senyuman manis Jeta yang membuatnya semakin merasa nyaman dengan keberadaan Jeta dan memperjelas arti Jeta di hatinya.
"Sudah malam sayang.. sebaiknya kita pulang. Kita semua sudah lega akhirnya masalah ini selesai dengan baik. Besok - besok kan kita bisa datang ke sini lagi menjenguk Naila" ucap Rendy pada istrinya.
"Tentu donk Ren, silahkan saja. Naila kan ponakan kamu" sambut Refan bijaksana.
"Terimakasih Fan, gimana yank?" Rendy menatap isterinya.
Febri berdiri dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka saling berpamitan. Tibalah di hadapan Naila, Febri membelai lembut kepala Naila.
"Karena kamu adalah ponakannya Mas Rendy dan karena kami tidak mempunyai anak, bolehkan kalau Tante menganggap kamu sebagai anak Tante" ucap Febri tulus.
Mata Naila berkaca - kaca dan dia hanya bisa menunduk sambil mengangguk.
"Waaah enak sekali kau Naila. Banyak sekali orang tuamu... Om dan Tante Jeli juga mau jadi orang tuamu. Tapi karena kau sudah mempunyai dua orang tua bagaimana kalau kami jadi mertua saja" sambut Tagor.
"Papaaa.. waktunya gak tepat" potong Jelita mengingatkan suaminya.
Jelita langsung mencubit perut suaminya yang berbicara lepas tanpa ingat waktu dan tempat.
"Hahahaha... " Rendy dan Febri tertawa melihat tingkah pasangan yang lucu itu. Karena mereka tidak mengerti sehingga mereka menganggapnya hanya candaan saja.
Akhirnya Febri dan Rendy pamit dari rumah Refan dan kembali ke rumah mereka. Kinan merangkul lembut tubuh putrinya.
"Mama bangga pada kamu sayang.. kamu gadis yang kuat" puji Kinan.
"Semua berkat Papa dan Mama aku bisa seperti ini" sambut Naila.
__ADS_1
"Benarkah hanya Papa saja?" goda Salman sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal kepada Naila.
"Kakak jugaaaa" sahut Naila cepat.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Jeta.
Naila sangat malu dengan perkataan Jeta barusan.
"Bang Jeta nggak. Bang Jeta ngeselin" jawab Naila malu. Dia langsung pergi menuju kamarnya untuk menyembunyikan perasaannya yang sangat malu pada semua.
"Yaaaaah.... " ucap Jeta sedih.
"Gagal lagi kau Jeta. Baaaah bukan anak Batak kau. Anak Batak tak kenal kata menyerah. Gas teruuuus" sambut Tagor.
"Hahahaha.. " tawa Refan, Salman dan Kinan pecah mendengar ucapan Tagor barusan.
"Tenang Pa... misi masih berjalan. Aku pasti akan membawa pulang Naila" balas Jeta.
Mereka kembali duduk diruang keluarga tanpa Naila.
"Berhubung karena momentnya sudah pas aku rasa sudah bisalah kita utarakan maksud kepulangan kita ke Indonesia ini sayang. Jangan lagi kau cubit perutku, pedas kali kurasa cubitanmu" ucap Tagor.
Refan, Kinan dan Salman kembali tertawa karena mereka selalu merasa lucu setiap melihat pertengkaran Tagor dan Jelita.
"Iya sayang maaf.. maaf.. kalau sekarang sudah pas waktunya. Jangan di depan Rendy dan Febri. Mereka kan tidak tau apa - apa" jawab Jelita.
"Jadi Refan.. Kinan.. aku rasa Jeta sudah cakap sama kalian lebih dulu tentang niatnya ingin melamar Naila. Sebagai orang tuanya kami sangat mendukung niatnya. Dari pada dia kawin sama bule tak cocok kurasa. Lebih baiklah dia kawin sama orang kita apalagi cewek yang dia maksud itu Naila. Udah cocok kali kurasa, kami sudah kenal siapa Naila dan siapa orang tuanya. Kami tidak peduli dengan kisah hidup Naila yang penting kalian sudah membesarkan dan mendidiknya dengan baik. Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju?" ucap Tagor tanpa basa - basi.
"Iya Bang, Jeta sudah pernah mengungkapkan niat kedatangannya ke sini. Aku sebagai orang tua Naila tidak keberatan. Bahkan juga sangat mendukung, Jeta adalah keponakanku. Aku yakin dia pasti bisa melindungi dan menyayangi Naila dan tidak akan menyakitinya. Tapi semua itu kami serahkan kepada Naila. Toh yang menjalaninya nanti mereka. Kami tidak ingin ada keterpaksaan di sini. Jadi biarlah kita bebaskan Naila memilih sendiri " jawab Refan bijak.
Deg.....
Naila yang belum masuk ke kamarnya masih bisa mendengar pembicaraan Papanya dengan Om Tahor.
Jantungnya berdetak kencang.. Dia meraba dadanya.
Apa yang sedang terjadi pada diriku saat ini? tanya Naila dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1