Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 245


__ADS_3

Malam ini Bimo sulit sekali menutupkan matanya. Rasanya sungguh tak sabar menunggu hari esok tiba. Wajah bahagia Reni saat menikmati es krim selalu terbayang - bayang.


Apakah besok dia akan sebahagia itu saat aku melamarnya? tanya Bimo dalam hati.


Usianya tidak lagi remaja, tidak ada lagi waktu untuk berlama - lama ataupun masa pacaran. Ditambah lagi berbahaya kalau mengajak Reni berpacaran.


Gery pasti tetap menjadi pihak pengganggu dalam hubungan mereka. Kalau Bimo sudah melamar Reni dan mereka menikah pasti Gery akan menghapus perasaannya kepada Reni.


Ya.. secepatnya dia akan melamar Reni kepada keluarganya setelah Reni menerima lamarannya besok.


Bima harus mempersiapkan lamarannya besok dengan sebaik dan seromantis mungkin agar Reni terharu dan menerima perasaannya.


Reni harus tau kalau Bimo benar - benar serius ingin memperistrinya. Karena saat ini Bimo sudah semakin yakin dengan perasaannya.


Setelah mendapatkan pencerahan dari Ustadz saat mereka pengajian. Bimo semakin memantapkan diri untuk melupakan almarhumah istrinya dan fokus pada masa depannya.


Mencari wanita yang lebih baik lagi dari segi agama. Bimo tak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.


Ada baiknya dia meminta izin Allah dulu, agar besok lamarannya berjalan dengan lancar dan Reni menerima perasaannya.


Bimo segera berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu setelah itu dia shalat dua rakaat.


Shalat hajat dan meminta kepada Allah agar dilancarkan semua niat baiknya ini untuk benar - benar menyempurnakan agamanya bukan untuk meninggalkannya.


Setelah hatinya tenang baru Bimo bisa menutup matanya dan tidur dengan nyenyak.


Keesokan paginya seperti biasa dia akan mengantar Bela dan Ela ke kantor mereka masing - masing. Untung saja arahnya sejalan jadi dia tidak perlu repot mengantar kedua gadis itu.


Ela baru saja turun dari mobil Bimo, kini hanya tinggal Bela dan Bimo di dalam mobil.


"Mas nanti siang jangan lupa ya" ucap Bela.


"Iya Bel" jawab Bimo tenang.


"Mas sudah benar - benar siap kan?" tanya Bela.


"Siap apa dulu nih?" tanya Bimo penasaran.


"Siap di tolak?" tanya Bela lagi.


"Lho tapi kamu bilang Reni juga punya perasaan yang sama dengan Mas? Kok bisa dia nolak perasaan Mas?" tanya Bimo bingung.


"Ya kan bisa aja di tikung Gery duluan di sepertiga malam" goda Bela.


"Maksud kamu Gery pakai shalat tahajjud gitu untuk nikung aku?" tanya Bimo.


"Bukan.. maksud aku keduluan Gery ngelamar Reni. Dia udah datang duluan ke rumah Reni di sepertiga malam" sambung Bela.


"Pasti di usir Refan. Mengganggu si kembar aja malam - malam bertamu di rumah orang" ungkap Bimo.


"Ya siapa tau Mas Refan juga setuju. Kalau mereka berdiri serasi banget lho" goda Bela.


"Kamu ini ada di Tim Mas atau Tim Gery sih?" tanya Bimo kesal


"Hahaha... esmosi aja. Ya Tim Mas lah. masak Tim Gery. Tapi kalau dia kasih sogokan lebih banyak bisa berubah haluan juga" jawab Bela.

__ADS_1


"Dasaaar..... " umpat Bimo kesal.


Akhirnya mereka sampai di kantor Bela. Sebelum turun Bela sempat memberikan semangat kepada saudaranya itu.


"Goodluck bro... semoga aku secepatnya mendapatkan kakak ipar" ucap Bela.


"Do'ain terus ya.. " sambut Bimo.


"Aku tunggu kabarnya secepatnya ya Mas" ujar Bela.


"Oke... " jawab Bimo.


Bimo melanjutkan mobilnya meninggalkan area kantor Bela kemudian melaju menuju tempat yang akan dia datangi.


Rasanya Bimo semakin tak sabar menunggu hari siang. Sambil bersenandung ringan Bimo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hatinya rasanya sangat gembira.


Tak lama kemudian Bimo sudah sampai di sebuah Mall yang tak jauh dari kantor Aril. Dia berjalan menuju toko perhiasan yang paling besar di dalam Mall itu. Bimo masuk ke dalam toko tersebut dan memilih barang yang dia inginkan.


"Ada yang bisa dibantu Pak?" tanya seorang pelayan.


"Mmm... cincin untuk lamaran?" tanya Bimo.


"Bapak mau melamar pacarnya ya?" tanya pelayan itu.


"Ya begitulah" sambut Bimo.


Pelayan itu mengeluarkan beberapa cincin yang cantik.


"Saya ingin yang terbaik" pinta Bimo.


Bimo memegang cincin yang diberikan pelayan kepadanya. Dia melihat - lihat dan menerka - nerka besar jari tangan Reni.


"Baiklah saya ambil yang ini" ujar Bimo.


"Baik Pak, tunggu sebentar" ucap sang pelayan.


Pelayan menghitung harga cincin itu kemudian memberikan jumlahnya kepada Bimo. Bimo langsung meraih dompetnya setelah itu membayarnya dengan kartu debitnya.Bimo tersenyum tipis.


Semoga Reni menyukainya.. doa Bimo dalam hati.


Setelah selesai membayar Bimo segera keluar dari toko dan berjalan - jalan disekitar Mall. Bimo melihat toko jam tangan dan singgah untuk melihat - lihat.


Bimo teringat permintaan Reni pada tiga mantan playboy. Sepertinya mereka belum memberikan pesanan Reni. Tiba - tiba Bimo punya ide untuk dia dan Reni.


Perhatian Bimo beralih kepada jam tangan couple yang bagus. Bimo langsung memilihnya dan membelinya. Setelah membayar Bimo keluar dari toko jam dan berjalan menuju counter handphone.


Bimo meminta handphone terbaru yang baru saja booming. Bimo sengaja membeli dua untuk dia dan Reni. Tiba - tiba Bimo ingin handphone couple juga dengan Reni.


Bimo tersenyum membayangkan wajah senang Reni.


Aaah... ternyata aku bisa jatuh cinta lagi dan seperti kembali remaja. Cinta memang selalu seperti ini. Langsung membuat hati begitu senang hanya karena memikirkan senyum yang terbit di wajahnya. Batin Bimo.


Bimo segera membayar handphone tersebut dan keluar dari counter handphone. Bimo berjalan kembali masuk ke toko perlengkapan dan aksesoris wanita.


Bimo meminta kepada pelayan tas yang terbaru yang bagus. Bentuknya elegant untuk wanita remaja tapi juga bisa dibawa ke kantor.

__ADS_1


Pelayan memberikan beberapa pilihan kepada Bimo tapi akhirnya pilihan Bimo jatuh kepada tas yang berwarna coklat muda.


Kali ini Bimo tersenyum sumringah. Dia bisa mengalahkan Aril, Riko dan Romi dan lebih dulu membelikan apa yang Reni mau sekaligus.


Setelah semua ia dapatkan Bimo berjalan menuju parkiran mobil. Hatinya sangat senang sekali bisa membelikan semua hadiah yang diinginkan Reni. Bimo menyimpannya di bagasi mobil karena tak ingin Reni melihatnya nanti saat Bimo akan menjemputnya makan siang.


Bimo melihat jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sudah saatnya dia menjemput Reni ke kantornya.


Satu jam kemudian Bimo sudah sampai di parkiran kantor Reni dan Reni sudah menunggunya di loby kantor. Hari ini Reni memakai baju berwarna pink muda dengan jilbab yang senada.


Aaah.. mengapa kamu cantik sekali hari ini Ren. Puji Bimo dalam hati.


Reni segera masuk ke dalam mobil Bimo dan tersenyum ramah.


"Kita mau makan dimana Mas siang ini?" tanya Reni ceria.


"Ke suatu tempat, Mas baru menemukannya kemarin" jawab Bimo.


Bimo melajukan mobilnya menuju Cafe yang kemarin sudah di booking Bela untuk dia dan Reni. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di Restoran The Forest by Wyl’s.


Reni terkesima pada tempat yang dipilih Bimo. Reni tidak menyangka Bimo akan mengajaknya makan di tempat seperti ini.


"Mas kita cuma makan siang, kenapa harus di tempat seperti ini?" tanya Reni.


"Emang kenapa Ren? Apa ada peraturan yang melarang kita makan di tempat ini?" tanya Bimo.


"Nggak sih.. tapi kan ini tempat istimewa Mas, harusnya Mas ke sini... " jawaban Reni terputus.


"Bersama orang yang istimewa maksud kamu? Emangnya kamu bukan orang yang istimewa? Selama ini kan kamu sudah banyak membantu Mas jadi pantas donk kalau kamu diperlakukan istimewa hari ini" potong Bimo.


Sontak wajah Reni merah merona karena mendengar ucapan Bimo barusan. Pelayan datang menyambut mereka dan mengantarkan mereka ke tempat yang sudah dipesan Bela kemarin.


Tempat dengan view yang romantis dan menu menu spesial untuk mereka siang ini. Reni benar - benar merasa tersanjung Bimo sudah mengajaknya makan siang di sini.


Mas kalau kamu semakin manis seperti ini aku jadi semakin jatuh hati pada kamu. Aku takut aku akan semakin sakit ketika kamu tidak mempunyai perasaan apapun padaku. Batin Reni.


Mereka menikmati makan siang dengan saling tatap. Reni merasa hari ini Bimo berbeda.


Mas Bimo tidak seperti biasanya. Seperti...Akh.... Reni tak berani terlalu berharap.


Kini sampailah mereka pada hidangan penutup. Pelayan datang dengan membawa dessert yang berisikan menu es krim.


"Waaah es krim.. Mas Bimo tau aja kalau aku memang suka banget es krim" ucap Reni senang.


Bimo tersenyum senang karena melihat Reni sangat bahagia. Saat mereka mulai mencicipi hidangan penutup itu tiba - tiba Reni terdiam sesaat.


"Ada apa Ren?" tanya Bimo.


Reni segera mengambil tisu dan mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam mulutnya. Saat dia melihat apa yang ada di dalam tisu itu sungguh Reni sangat terkejut.


"Cin.... cin.....?"


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2