Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 84


__ADS_3

Refan, Mamanya dan mantan mertuanya kembali ke ruangan rawat inap Naila menunggu petugas datang.


"Gimana Mas?" tanya Kinan.


"Sebentar lagi petugas datang dan akan melakukan pengambilan sampel darah ulang" jawab Refan tegang.


"Ya Allah Mas, kasihan sekali Naila harus di suntik lagi" ujar Kinan sambil menatap ke arah Naila.


"Mau bagaimana lagi Nan, itu satu - satunya jalan untuk memastikan hasil pemeriksaan darah Naila" balas Refan.


Refan tampak sangat tegang sekali. Saat ini hatinya sangat kacau, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


Ya Tuhan.. bagaimana kalau Naila bukan anaknya? Apa yang akan dia lakukan pada Naila. Apakah dia bisa menyayangi Naila seperti dulu lagi? Lantas siapa ayah Naila? Apakah Naila bayi yang tertukar? Kalau benar dimana putri kandungnya saat ini? Refan benar - benar merasa perang batin.


Tak lama kemudian pintu ruangan di ketuk.


Tok.. tok.. tok..


"Silahkan masuk" ujar Refan.


Reni mendekat ke arah Mamanya, Talita memeluk tasnya erat sedangkan Kinan mendekati Naila dan ingin memeluk Naila. Naluri keibuannya ingin melindungi bayi mungil itu.


"Kasihan sekali kamu nak.. harus di ganggu waktu fidur kamu" ujar Kinan tampak sedih.


Refan terlihat sedang menatap ke arah Kinan dan Naila. Dengan perasaan penasaran dan curiga akhirnya Refan harus merelakan Naila diperiksa oleh tim media.


"Maaaas" ujar Kinan sedih, matanya mulai berkaca - kaca.


Dengan berat hati Refan menatap ke arah Kinan.


"Tolong kamu gendong Naila ya agar dia tenang" pinta Refan pasrah.


Sebenarnya hatinya juga hancur dan sangat tak tega tapi dari pada dia berburuk sangka terus kepada Almh istrinya dan curiga pada Naila, Refan memberikan izin kepada tim medis untuk mengambil sample darah ulang.


"Silahkan Sus" ujar Refan.


Kinan menggendong Naila dan penuh kasih sayang, seorang perawat menghampiri Kinan dan memegang tangan Naila mencari nadinya setelah itu menancapkan jarum suntik ke tangannya.


Sontak Naila menjerit dan menangis karena sakit dan terkejut. Kinan meneteskan air mata menyaksikan Naila diperlakukan seperti itu.


Ya Allah mengapa Naila harus mengalami hal ini, kasihan sekali kamu sayang.... Batin Kinan.


Refan juga tampak meneteskan air mata dari sudut matanya. Sedangkan Talita nampak tegang sekali, Suci dan Reni kini saling berpelukan.


Perawat tersebut langsung melakukan tes golongan darah di depan mereka dengan memakai alat - alat yang di butuhkan.

__ADS_1


Kemudian menunjukkan alat tersebut ke arah Refan.


"Lihat Pak hasil pemeriksaan kami tidak salah. Golongan darah anak Bapak memang AB. Saya sudah memeriksanya" ungkap Perawat itu.


Refan langsung terduduk di sofa. Naila masih menangis menjerit, Kinan mencoba menenangkannya. Dia sendiri pun masih tetap menangis.


Ya Allah... jadi Naila anak siapa? Aku yakin sekali Naila tidak tertukar karena hari dimana Naila lahir aku sangat memperhatikan hal itu. Kalau dia memang anak Renita, siapa ayahnya? Tanya Refan dalam hati.


Refan terdiam dan sedang berpikir apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Wajahnya sangat tegang sekali.


"Sus tolong lanjutkan untuk tes DNA" perintah Suci.


Perawat menatap ke arah Refan.


"Bagaimana Pak?" tanya perawat.


Refan menganggukkan kepalanya.


"Iya, lakukan tes DNA.


"Baik kalau begitu kami akan mengambil sample darah Bapak dan Ibu" jawab perawat.


"Ambil darah saya saja, istri saya tidak. Dia bukan Ibu kandung Naila. Mamanya Naila sudah meninggal saat melahirkan" sambut Refan.


"Baik Pak" ujar Perawat tersebut.


"Ambil juga darah saya, saya yakin Naila itu tertukar saat lahir di rumah sakit. Kalau dia bukan anak kamu, Mama yakin dia bukan anak Renita. Dia pasti tertukar saat lahir di rumah sakit" ungkap Talita.


"Maaf Ibu ini siapa?" tanya perawat itu.


"Saya Oma dari Mamanya Naila. Aku yakin Renita tidak selingkuh, aku pastikan putriku tidak bersalah. Tega sekali kalian menuduh putriku selingkuh. Aku ingin buktikan kalau dia memang benar - benar tidak ada hubungan darah denganku" jawab Talita.


"Mohon maaf Bu, kalau untuk neneknya tidak bisa, maksud saya tidak akurat. Paling hanya sekitar 20 - 25 %. Kalau ingin membuktikan bayi Bapak adalah anak kandung Bapak dan almarhumah istrinya. Kita terpaksa harus membongkar makam almarhumah istri Bapak" jelas Perawat.


Semua terdiam karena mendengar penjelasan dari perawat itu.


"Bagaimana Pak?" tanya perawat kepada Refan.


Refan terdiam dan sedang berpikir. Semua terdiam dan menunggu perintah dari Refan selanjutnya.


"Aku yakin Naila tidak tertukar saat dia lahir di Rumah Sakit. Silahkan kalian ambil darah saya saja" perintah Refan.


"Baik Pak" balas Perawat.


Perawat langsung mengambil sample darah Refan. Suasana di ruangan itu terasa sangat mencekam. Semua terlihat sangat tegang, sementara Naila masih belum berhenti menangis.

__ADS_1


Kinan menggendong Naila dan mencoba menenangkannya. Kinan juga tidak berhenti menangis.


"Sayang Mama... diam ya naaaak" ujar Kinan.


Air mata Kinan masih terus mengalir.


Naaaak... siapapun orang tua kamu, Mama akan tetap sayang sama kamu. Kamu jangan nangis ya... Batin Kinan.


Perawat selesai mengambil sample darah Refan.


"Kapan hasilnya keluar?" tanya Refan.


"Sekitar satu bulan Pak, nanti kalau hasilnya keluar Bapak akan segera kami kabari" jawab perawat.


"Baiklah" sambut Refan.


"Kalau begitu saya pamit ya Pak" ujar Perawat.


"Iya, terimakasih" jawab Refan.


Perawat pergi meninggalkan ruang rawat inap Naila. Meninggalkan Refan dan keluarganya. Suci mendekati Refan putranya.


"Faaaan... kamu yang tenang ya.. semua pasti akan jelas" ujar Refan.


"Oh maksud kamu jelas kalau Naila bukan anak Refan? Kalau Naila bukan anak Refan dia juga buka anak Renita. Enak saja kamu mau menuduh anakku berselingkuh, aku tidak terima" sambut Talita.


"Kamu gak dengar tadi Refan bilang apa? Dia bisa pastikan kalau Naila tidak tertukar di rumah sakit karena saat Naila lahir Refan benar - benar menjaga Naila. Lagian wajah Naila juga sangat mirip dengan Renita, sudah jelas kalau dia anak Renita" balas Suci.


"Aku tidak terima kalian menuduh anakku seperti itu. Kalau nanti hasil DNA mereka tidak cocok aku juga akan membuktikan kalau Naila juga bukan anak Renita. Bila perlu aku akan membongkar makam Renita. Aku tidak terima kalau kalian" ujar Talita.


"Astaghfirullah... " ucap Kinan.


Refan menatap wajah mantan mertuanya.


"Ma... tanpa mengurangi rasa hormatku pada Mama, tolong tinggalkan ruangan ini. Aku butuh ketenangan. Aku perlu memikirkan semua ini dengan kepala dingin. Aku belum bisa memikirkan semuanya kedepan. Aku butuh waktu, semua ini terjadi dengan tiba - tiba dan aku tidak bisa berfikir jernih. Tolong kasihkasih aku waktu" pinta Refan dengan pelan tapi cukup membuat Talita takut melihat mimik wajah Refan.


Talita langsung terdiam dan langsung meraih tasnya.


"Kalau begitu Mama pulang sekarang" ujar Talita.


Talita keluar dan pergi langsung meninggalkan ruang rawat inap Naila. Meninggalkan Refan bersama Kinan, Suci dan Reni yang menjaga Naila di rumah sakit.


Suasana sangat mencekam dan tegang di dalam ruangan itu. Membuat Reni dan Suci juga tidak berani mengeluarkan suara. Refan terdiam dan menundukkan wajahnya. Tak ada yang bisa menebak apa yang saat ini sedang Refan pikirkan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2