Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 155


__ADS_3

"Pa.. Papa.. Papa Bimaaaa" teriak Salman lagi sambil menunjuk ke arah seseorang di luar sana.


Kinan dan Refan langsung saling pandang. Secara Reflek Refan menginjak rem sehingga mobil langsung berhenti. Tubuh Kinan sedikit maju ke depan.


"Ma.. maaf yank aku gak sengaja" ucap Refan.


Mereka kembali melihat Salman yang masih terus melihat ke arah belakang.


"Sayang apa yang kamu lihat tadi?" tanya Kinan.


"Papa Ma.. Papa Bima" jawab Salman masih terus melihat ke belakang mobil.


Refan langsung turun dari mobil dengan jantung yang berdetak cepat. Refan membuka pintu belakang tempat Salman duduk.


"Mana Nak tunjukkan pada Papa?" tanya Refan.


"Itu Pa, di mobil yang sana" jawab Salman. Salman menunjuk mobil yang sudah sangat jauh jaraknya dari mobil mereka.


"Kamu yakin Sal?" tanya Kinan tak percaya.


"Iya Ma, aku sangat yakin itu Papa Bima" jawab Salman.


"Tapi Papa Bima sudah pergi nak. Kan Papa Bima sudah di surga" Refan bertanya lembut sambil mengelus rambut Salman.


"Aku tau Pa, tapi tadi memang benar-benar Papa Bima" Wajah Salman tampak sedih sekali. Dia seperti ingin menangis.


Kinan segera turun dari mobil dan berjalan ke sisi Refan dan Salman. Untung mereka masih di area parkiran supermarket sehingga tidak mengganggu lalu lintas jalan raya.


Kinan memeluk erat tubuh putranya.


"Sayang kamu tau.. di dunia ini banyak orang yang mirip dengan wajah kita" hibur Kinan


"Maksud Mama kembar, seperti adikku nanti?" tanya Salman tidak mengerti.


"Tidak.. walau bukan kembar tadi ada beberapa orang yang terlahir mirip padahal mereka tidak mempunyai hubungan saudara" jawab Kinan berusaha menjelaskan kepada Salman agar Salman bisa mengerti dan tidak bersedih lagi.


Refan menarik nafas panjang, dia tidak menyangka Kinan bisa mempunyai ide seperti itu untuk menenangkan hati Salman.


"Mungkin saja yang kamu lihat tadi orang yang mirip Papa Bima" sambung Kinan dengan lembut sambil mengelus rambut putranya.


"Jadi beneran bukan Papa Ma?" tanya Salman.


Kinan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kan Papa sudah ada di surga, jadi Papa tidak akan mungkin kembali ke sini sayang" jawab Kinan.


"Salman kangen Papa?" tanya Refan.


Salman menundukkan kepalanya dan mengangguk.


"Iya Pa, aku kangen sama Papa Bima" jawab Salman.


"Kalau begitu besok kita ke makam Papa Bima ya" bujuk Refan.


"Beneran Pa?" tanya Salman semangat.


"Maaaaaas" potong Kinan.


Refan tersenyum lembut kepada istrinya.


"Tidak apa - apa sayang.. Bagaimanapun Bima kan Papanya Salman. Pasti akan ada waktunya Salman merindukan Papanya walau ada aku kini yang menjadi pengganti Papanya" jawab Refan bijak.


"Beneran sayang.. besok sepulang Papa dan Mama kerja kita pergi ke makam Papa Bima ya" ucap Refan kepada Salman.


"Terimakasih Pa" Salman langsung memeluk erat tubuh Refan.


"Makasih ya Mas" sambut Kinan.


Refan sudah menduda dan Kinan janda anak satu. Hal ini pasti akan muncul dalam rumah tangga mereka. Sehingga butuh sikap dewasa untuk mengatasi semua ini.


Tidak akan mudah menghapus orang yang pernah sangat kita sayang di masa lalu. Apalagi seperti Salman, Bima adalah Papa kandungnya. Walau Refan sudah berhasil menjadi Papanya saat ini dan Salman sangat dekat kepadanya tapi pasti hati Salman suatu saat akan mengingat dan merindukan Papa kandungnya.


Tak mungkin Refan menanggapinya dengan egois dan memaksa Salman dan Kinan untuk melupakan Bima. Orang yang dulu sangat berarti dalam hidup mereka.


"Sekarang kita kembali masuk ke mobil yuk lalu kita pulang" ajak Refan.


"Iya Pa" jawab Salman.


Salman dan Kinan kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat mereka semula. Sebelum masuk ke dalam mobil Refan sempat melihat ke arah belakang tempat dimana tadi Salman menunjuk ke sebuah mobil. Tapi mobil itu kini sudah menghilang.


Misteri apa ini? Kalau dari cerita Papa Ardi, Bima memang benar - benar sudah meninggal tapi mengapa ada orang yang mirip Bima muncul. Kinan pernah bercerita kalau dia juga sudah dua kali melihat orang yang mirip Bima. Dan saat itu Kinan menganggap itu semua hanya halusinasi nya karena merindukan Bima. Tapi kini Salman juga melihat hal yang sama. Apa mungkin itu juga halusinasi Salman karena merindukan Papanya. Lalu pesan yang dikirim ke handphone Kinan dari nomor yang tak dikenal. Apa mungkin ini sebuah kebetulan? Mengapa aku merasa ada sesuatu di balik kematian Bima? Semoga saja masalah ini tidak mengancam keharmonisan rumah tanggaku dan Kinan. Ya Allah tolong berikan kami petunjuk untuk segera menyelesaikan masalah ini dan aku mohon berikan hasil yang terbaik untuk kami. Jangan KAU pisahkan aku dengan Kinan ya Allah. Aku tidak mau lagi harus berpisah dengan orang - orang yang aku sayangi. Setelah kehilangan Renita, kepergian Naila dan kini aku seperti merasa terancam untuk berpisah dengan Kinan dan Salman. Aku tidak kuat ya Allah.. tolong jangan berikan aku cobaan seberat itu. Aku pasti akan sangat hancur. Doa Refan dalam hati.


"Maaas.. " panggil Kinan.


"Y.. yaaa" jawab Refan terkejut.


Dia tersentak karena panggilan Kinan barusan.

__ADS_1


"Kenapa kamu lama sekali masuk ke mobil?" tanya Kinan penasaran.


"Weh iya.. Maaf aku sempat melamun tadi" jawab Refan sembari masuk ke dalam mobilnya.


Refan kembali menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya. Selama dalam perjalanan mereka lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Salman sudah tertidur di kursi belakang saat mereka sudah sampai di rumah mereka.


"Kamu bisa turun sendiri? Aku mau gendong Salman. Dia sudah tidur" tanya Refan kepada Kinan.


"Bisa Mas, aku turun sendiri saja" jawab Kinan.


"Ya sudah hati - hati ya" balas Refan.


Refan segera mengangkat Salman dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Refan berjalan bersama Kinan sampai ke kamar Salman.


Kinan langsung membersihkan tubuh Salman dan mengganti pakaian yang di kenakan Salman dan kini sudah berganti dengan baju tidur yang nyaman.


Setelah itu Kinan langsung menyusul suaminya ke kamar mereka. Kinan mengambil pakaian untuk Refan dan juga dirinya.


"Mas ini bajunya" ucap Kinan.


Refan sedang sibuk berkirim pesan dengan seseorang mengenai pengirim pesan ke handphone Kinan kemarin.


"Iya kamu letakkan saja di atas tempat tidur. Sebentar lagi Mas ganti baju, Mas lagi balas pesan dari teman" jawab Refan.


Kinan meletakkan baju Refan di atas tempat tidur. Kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti baju. Tak lama kemudian Kinan keluar dan bergantian dengan Refan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih - bersih.


Setelah keduanya selesai berganti baju mereka berdua berbaring di atas tempat tidur. Refan dan Kinan tak bisa langsung tertidur, mereka masih sibuk memikirkan kejadian tadi saat di supermarket.


"Nan.. " panggil Refan.


"Ya Mas" jawab Kinan.


"Apa yang kamu katakan pada Salman tadi itu memang benar?" tanya Kinan.


"Maksud Mas?" tanya Kinan bingung.


"Aku memang pernah mendengar seperti yang kamu katakan tadi dengan Salman. Di dunia ini ada setidaknya lima orang yang mirip dengan wajah kita tapi berbeda dengan kejadian kamu dan Salman. Aku rasa ini bukan satu kebetulan atau halusinasi kalian. Ditambah lagi dengan pesan yang kamu terima kemarin, menurut Mas ada sesuatu dibalik ini semua" jawab Refan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2