Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 109


__ADS_3

"Aku tau Pa, dia adalah Bos Renita di kantor" ungkap Refan.


"Arga? Arga Laksamana?" tanya Reno terkejut.


"Ya dia orangnya" tegas Refan.


Menyebut namanya saja Refan enggan. Muak rasanya melihat foto dan video mesum pria itu dengan istrinya apalagi menyebut namanya.


Reno terlihat marah, rahangnya mengeras.


"Ma ambil laptopku" perintah Reno.


Talita langsung bergegas menuju ruang kerja suaminya kemudian kembali dengan membawa laptop di tangannya. Reno mengambil laptop itu dari tangan istrinya kemudian meletakkannya di atas meja dan menyalakannya.


Setelah itu Reno memasukkan flashdisk yang diberikan Refan kemudian membukanya. Di barisan pertama langsung terlihat sebuat video. Reno menekan tombol play dan terputarlah semua aksi bejat Renita dengan pacar gelapnya.


Praaaang....


Gelas yang ada di tangan Talita jatuh ke lantai dan pecah. Wajahnya sangat terkejut dan shock. Talita meraba dadanya dan tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.


Renita putri semata wayangnya yang dia cintai dan sayangi sepenuh hati. Dia manja dan bangga - banggakan ternyata bisa berbuat sebwrani ini.


"Astaghfirullah... " ujar Reno.


"Kalau Papa dan Mama tidak kuat jangan lihat semuanya. Cukup satu video itu saja menjadi bukti perselingkuhan mereka" ujar Refan.


Reno mengepalkan tangannya lalu memukul meja.

__ADS_1


"Brengsek... " ucap Reno.


Reno menatap ke istrinya dengan tatapan menekan.


"Kamu tau tentang semua ini? Apa ada yang kamu sembunyikan lagi dariku?" tanya Reno dengan tatapan marah.


"Ti.. tidak Pa. Aku tidak tau apa - apa dan tidak ada lagi yang aku sembunyikan dari Papa" jawab Talita terbata - bata.


"Kita saja sakit melihat semua ini, apalagi Refan yang telah di khianati di sini" ujar Reno.


Suci merekam di ingatannya bagaimana pucat dan paniknya wajah Talita ketika mengetahui perbuatan anaknya.


Cih kemana perginya kesombonganmu itu. Enak saja kamu menjelek - jelekkan Kinan menantu kesayanganku. Sejak awal aku memang sudah tidak suka dengan anakmu dan ternyata firasat aku dan suamiku benar. Anak kalian memang bukan wanita yang baik. Batin Suci.


"Sudah satu bulan ini aku mencoba berdamai dengan semua ini Pa. Kalau tidak karena dukungan dari istriku mungkin aku akan berbuat nekat. Tapi istriku menahannya, dia mengingatkan aku bahwa Renita sudah meninggal dan tidak ada lagi yang bisa diubah. Nasi sudah menjadi bubur semua sudah terjadi. Kini aku sudah mengikhlaskan semuanya, aku akan memulai hidupku yang baru. Minggu depan aku dan keluargaku akan pindah dari rumah aku dan Renita. Rumah itu akan aku jual dan hasil penjualan rumah akan aku waqafkan atas nama Renita sebagai rasa tanggung jawabku sebagai seorang suami yang mungkin selama ini tidak bisa membimbing Renita menjadi istri yang baik" ungkap Refan.


"Mengenai Naila aku serahkan semuanya kepada Papa dan Mama. Seperti yang sering Mama ucapkan berulang kali. Mama lebih berhak terhadap Naila dari pada Kinan istriku karena Mama dan Naila mempunyai hubungan darah sedangkan saat ini seperti yang kita ketahui Aku dan istriku tidak mempunyai hubungan darah dengan Naila. Tapi kalau kalian menyerahkan Naila kepada kami, kami tidak akan menolaknya. Naila sudah kami anggap sebagai putri kami" jawab Refan tegas.


Talita tidak bisa membuka bibirnya. Mulutnya rasanya kelu dan kaku. Tak ada sepatah kata pun yang bisa dia ucapkan. Sungguh semua ini diluar prediksinya.


"Kalau Mama masih tidak bisa terima dengan hasil tes DNA aku dan Naila, Mama bisa melakukan tes DNA Renita dengan Naila. Seperti yang beberapa kali Mama katakan bila perlu Mama akan membongkar kuburan Renita. Silahkan itu hak Mama karena Mama adalah orang tua Renita" bongkar Refan.


Reno kembali menatap wajah istrinya dengan amarah.


"Kamu akan melakukan itu?" tanya Reno tak percaya dengan apa yang istrinya katakan.


"Sa.. saat itu aku tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya Pa" jawab Talita dengan nada ketakutan.

__ADS_1


Reno menarik nafas panjang dan menatap wajah Refan dengan tatapan sendu.


"Refan, kami selaku orang tua Renita. Atas nama Renita meminta maaf yang sebesar - besarnya kepada kamu atas apa yang telah putri kami lakukan kepada kamu. Papa tau selama Renita hidup kamu memang benar - benar mencintai dan menyayanginya. Salah kami yang terlalu memanjakannya sehingga salah mendidiknya menjadi seorang wanita dan menjadi seorang istri. Kami sangat berterimakasih bahkan setelah Renita menyakiti perasaan kamu sampai seperti ini kamu masih tetap berniat mewaqafkan rumah kalian atas nama Renita. Terimakasih kamu masih mempunyai perhatian kepada Renita sampai sejauh itu. Papa sebagai laki - laki sangat mengerti apa yang saat ini kamu rasakan. Papa benar - benar minta maaf Nak. Papa tidak tau Renita benar - benar bisa berbuat sejauh ini dan itu semua tanpa sepengetahuan kita. Papa sangat menyesal" Reno menundukkan wajahnya, air matanya menetes menyesalkan perbuatan anaknya yang sangat mencoreng wajah kedua orang tuanya di hadapan suami dan mertuanya.


Refan kini bisa bernafas lega mendengar ucapan mertuanya itu. Dia sangat bersyukur Papa Renita sangat bijak dalam bersikap.


"Papa harap dengan kejadian ini janganlah kamu membenci keluarga kami ataupun memutuskan tali silaturahmi diantara kita. Bagaimanapun kamu adalah menantu di rumah kami. Kamu akan tetap menjadi putra di rumah kami. Kapan pun kamu ingin datang ke rumah ini, pintu rumah akan selalu terbuka untuk kamu" ujar Reno bijak.


Talita tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Refan dan Mamanya, Suci. Kesombongannya pudar sudah, malah berganti dengan rasa malu. Malu dengan perbuatan putrinya


"Mengenai Naila menurut kami lebih baik kalau dia kami asuh saja. Kami sangat tau diri Naila itu siapa, dia adalah anak Renita dengan pria lain. Kami tidak mau malah merepotkan kamu dan istri kamu. Kami adalah Opa dan Omanya yang mempunyai hubungan darah dengannya. Putri kami satu - satunya telah tiada, hanya Naila lah satu - satunya penerus keluarga kami. Dia adalah cucu kami, cucu yang sangat malang" Reno kembali meneteskan air matanya.


"Sebenarnya tidak mengapa Pa. Aku dan istriku sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Kami tidak keberatan kalau Naila kami yang urus" sambut Refan.


"Tidak Fan biarkan kami yang membesarkan Naila. Kami ingin menebus kesalahan kami dalam mengasuh Renita dulu. Kami akan mendidik Naila menjadi anak yang baik agar kelak bisa membantu meringankan dosa - dosa Mamanya. Izinkan Naila kami asuh Fan, sebagai obat atas luka hati kami karena kehilangan Renita" pinta Reno kembali.


Refan kembali menarik nafas panjang. Sekali lagi mencoba mengikhlaskan orang yang sudah dia sayang harus pergi meninggalkannya. Suci mengetahui perasaan putrnya yang sangat berat untuk berpisah dengan Naila. Dia sudah terlanjur menyayangi anak itu.


"Fan.. mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kita semua. Biarlah Naila di asuh oleh Opa dan Oma kandungnya. Kamu kan bisa tetap meneruskan hidup kamu bersama Kinan dan Salman. Mama yakin kalian bisa melalui semuanya" ujar Suci memberikan semangat kepada Refan.


Refan menarik nafas dalam dan menatap kedua orang tua Renita.


"Baiklah Pa, aku akan menyerahkan Naila kepada kalian"...


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2