Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 302


__ADS_3

Refan dan Bimo sudah sampai di kantor polisi tempat Rendy di tahan. Mereka di dampingi Pengacara. Saat dalam perjalanan tadi Refan menghubungi Pak Sitompul, sang Pengacara kepercayaan keluarga Pak Reno Subrata.


Saat ini Rendy sedang berhadapan dengan Refan, Bimo dan Pengacara. Wajah Rendy tampak kacau, mungkin dia belum terbiasa hidup di dalam tahanan.


"Fan maafkan aku yang terlalu tamak sebagai manusia. Padahal Om Reno sudah membebaskan aku untuk mengelola Perusahaan dengan baik tapi aku menyalah gunakan kekuasaan itu. Aku sangat menyesal. Tapi semua ini bermula saat Arga Laksamana menarik semua investasinya di Perusahaan Fan. Aku kalap karena perusahaan sudah rugi banyak, dan aku juga terbujuk nafs* untuk mendapatkan kekayaan Om Reno setelah dia meninggal. Aku tidak tau kalau isi wasiat Om Reno seperti yang dibacakan oleh Bapak Pengacara. Arga menawarkan kesepakatan kepadaku. Dia ingin mengambil Naila dari tangan Om Reno dengan imbalan dia akan menginvestasikan dana yang besar dalam proyek kerjasama Perushaannya dengan Perusahaan Om Reno. Aku berpikir tidak ada salahnya aku membantunya karena Arga memang Papa kandung Naila. Kerjasama itu aku anggap saling menguntungkan tapi aku jujur Fan, bukan aku yang mengutus seseorang untuk memata - matai Om Reno, memantau, mengejar apalagi membunuh Om Reno. Bagaimanapun Om Reno itu adik kandung Papaku Fan. Aku tidak sebrengsek itu membunuh pamanku sendiri" ungkap Rendy sambil menundukkan wajahnya.


Terlihat matanya berkaca - kaca dan wajahnya tampak sangat sedih sekali. Rendy sepertinya memang benar - benar menyesal.


"Aku mengaku salah atas kebocoran dana Perusahaan, semua dana akan aku kembalikan. Tapi jumlahnya tidak banyak Fan. Kerugian perusahaan yang besar karena Arga menarik investasinya dan membatalkan kerja sama secara sepihak sementara proyek sudah berjalan" ungkap Rendy.


"Arga brengsek.. " umpat Refan sambil menggebrak meja.


"Fan.. sabar" pesan Bimo mengingatkan.


"Kalau kamu memang menyesal dengan semua tindakan kamu, kami akan membuat kesepakatan dengan kamu. Kami tidak akan menuntut kamu secara hukum atas penggelapan dana perusahaan tapi kamu harus membantu kami untuk. mencari bukti - bukti pelanggaran perjanjian Perusahaan Refan. Juga bukti bahwa memang Arga lah yang mengutus seseorang untuk mengejar Papa Reno sehingga mobil mereka mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kematian mereka" ucap Refan dengan tegas.


Rendy mengangkat wajahnya dan menatap mata Refan untuk mencari kepastian dan keseriusan dari Refan.


"Kamu se.. rius Fan?" tanya Rendy tak percaya.


"Ya aku serius, kasus akan di tutup dan kita berdamai. Bagaimanapun ini bisa dikatakan masalah keluarga. Tapi kamu harus bisa memberikan barang bukti kesalahan Arga agar kita bisa menuntutnya atas kesalahan pelanggaran kerjasama perusahaan kita" tegas Refan kembali.


"Aku punya Fan. Aku punya surat perjanjian kerja sama dan bukti pesan dan lainnya. Kalau tentang bukti orang yang dia utus untuk mengejar keluarga Om Reno aku juga punya bukti bahwa Arga memang menginginkan dan mengincar Naila. Apakah itu bisa dijadikan barang bukti?" tanya Rendy.


"Bisa, kita bisa menaikkan kasus ini sebagai kasuk percobaan penculikan yang mengakibatkan pembunuhan" sambut sang Pengacara.


Refan menatap wajah Pak Pengacara.


"Benarkah bisa seperti itu Pak?" tanya Refan kurang yakin


"Bisa Pak. Nanti kita lihat bukti - bukti yang ditunjukkan Pak Rendy" jawab Pengacara.


"Aku punya buktinya Fan, dia berulang kali membujukku untuk memberi tau dimana keberadaan Om Reno, Tante Thalita dan Naila. Dia juga pernah memintaku untuk menculik Naila dari Om Reno tapi aku menolaknya" ungkap Rendy.


"Baik kalau begitu, Pak Sitompul tolong urus proses penangguhan kasus Rendy. Kita bisa buat jaminan agar Rendy di bebaskan?" tanya Refan kepada Pengacara.

__ADS_1


"Bisa Pak Refan" sambut Pengacara sigap.


"Tolong urus secepatnya. Saya ingin segera menangkap Arga. Kita harus punya bukti yang cukup untuk menghancurkannya" perintah Refan.


"Baik" sambut Pengacara.


Rendy langsung menangkap tangan Refan dan menciumnya.


"Makasih Fan.. Terimakasih. Maafkan kesalahanku" ucap Rendy benar - benar tulus.


"Ya sudah Ren, kamu tenang saja. Kami akan segera mengurus kamu untuk keluar dari sini tapi kamu sabar ya gak bisa hari ini. Kami janji akan secepatnya mengeluarkan kamu dari sini" ujar Refan.


"Baik Fan" sambut Rendy.


"Kalau begitu kami pamit ya Ren" sambung Refan.


"Selamat tinggal Pak Rendy, jaga diri anda baik - baik" ucap Pak Pengacara.


"Iya, terimakasih" sambut Rendy.


Pihak kepolisian segera mencatat laporan Refan ditemani Pengacaranya. Setelah itu baru Refan dan Bimo pulang menuju rumah Refan.


Hari yang berat untuk Refan dan Bimo. Mereka tiba di rumah Refan tepat saat jam makan siang. Kinan, Reni dan Bu Suci sedang menunggu kedatangan mereka.


Untung saja rumah Bimo jaraknya tak jauh dari rumah Refan jadi Reni tidak perlu kesepian tinggal sendiri di rumah. Setiap Bimo akan pergi membantu Refan, Reni terlebih dahulu diantar ke rumah Refan.


"Sayaaaang" sambut Reni manja.


Bimo segera memeluk dan mencium kening istrinya.


"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Bimo.


"Aku baik Mas, tapi anak kamu doyan makan. Aku kelaperan terus" jawab Reni.


"Gak apa - apa sayang, biar anak kita sehat dan gendut. Kan gemas nanti waktu dia lahir" balas Bimo.

__ADS_1


"Sekarang kita makan yuk, aku udah lapar" ajak Reni.


Refan dan keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Setelah pulang Refan langsung mandi bersih - bersih kemudian menyapa semua anak - anaknya baru bergabung dengan yang lainnya di meja makan.


"Gimana Fan perkembangan kasus kecelakaan Mas Reno?" tanya Bu Suci.


"Alhamdulillah semakin menemukan titik terang Ma. Pelaku mengaku kalau Rendy yang menyuruhnya tapi Rendy tidak mengakuinya. Dia mengatakan kalau Arga dalang semua ini dan dia mempunyai buktinya" jawab Refan.


"Ya Allah.. jadi apa motif si Arga itu Mas?" tanya Reni.


"Seperti yang pernah dia utarakan padaku. Dia ingin meminta Naila. Kecelakaan Papa Reno masih belum jelas apakah karena memang murni kecelakaan atau unsur kesengajaan" jawab Refan.


"Tapi kalau mereka mengikuti Pak Reno dengan cara mengejar sampai terjadi kecelakaan itu sama saja Mas namanya pembunuhan" timpa Kinan.


"Biar polisi yang menentukan sayang.. kita serahkan semua pada pihak kepolisian" sambut Refan.


"Ayo semua kita makan, masalah Mas Reno nanti kita bahas kembali ya. Ayo Fan, Bim makan yang banyak. Kalian pasti sangat lelah kan hari ini mengurus semuanya. Makan yang cukup agar energi kalian kembali dan sehat. Itu yang paling penting. Kalau kalian sakit bisa terbengkalai semuanya. Jalan masih panjang kalian butuh kekuatan" nasehat Bu Suci.


"Iya Ma" sambut Refan dan Bimo.


Mereka menikmati hidangan makan siang dengan semangat dan penuh kehangatan. Membuat rasa lelah Refan dan Bimo hilang seketika karena bertemu dan berkumpul dengan orang - orang yang mereka sayangi dan cintai.


.


.


BERSAMBUNG


Pagi readers.... Apa kabar kalian? Semoga senantiasa sehat selalu.


Terimakasih sudah setia membaca novelku ini..


Aku mau mengajak kalian semua mampir ke novel Playboy insaf. Bagi kalian yang bersedia mampir jangan lupa komentar, like, vote dan hadiahnya ya..


Terimakasih 🙏💕 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2