
"Almarhumah Non Renita selingkuh dengan pria lain" ucap Bik Nah.
"Apa? Serius kamu?" tanya Bik Mar terkejut.
"Iya serius, kalau gak kenapa coba Naila di urus sama Papa dan Mamanya Almarhumah Non Renita bukan Den Refan?" tanya Bik Nah.
"Iya juga ya.. aku sih gak heran kalau Almarhumah Non Renita selingkuh. Habis gaya hidupnya bebas gitu seperti gak ada tanggung jawab sama suaminya. Pakai baju suka yang terbuka, suka dandan, manja banget dan gak pernah ngurusin rumah tangga dan Den Refan. Ditambah lagi sering bulak balik ke luar kota sama Bosnya. Eh jangan - jangan Almarhumah Non Renita selingkuh sama Bosnya? Pantas beberapa minggu yang lalu kita di suruh bongkarin barang - barang Almarhumah Non Renita. Naudzubillah... amit - amit ya Allah, jangan sampai anak cucu keturunan kita seperti itu ya. Dosanya itu ya Allah... " ungkap Bik Mar.
"Udah Mar kita jangan gosipin mereka nanti gak enak kalau ketahuan. Mending kita siapin barang - barang Naila masukin ke tas" ujar Bik Nah.
"Kalau kamu di transfer ke sana juga gimana Nah? Kamu ikutan di bawa ke rumah nenek lampir buat jagain Naila" tanya Bik Mar.
"Emmoh aku, mending aku minta berhenti dari pada kerja sama Mak Lampir, walau aku kasihan sama Naila tapi aku gak mau kerja sama Nenek Lampir, sereeem dan kejaaam" jawab Bik Nah.
"Kamu doa - doa aja, mudah - mudahan kamu gak ikut di bawa ke sana" balas Bik Mar.
*********
"Malam ini Mama mau menginap di rumah kita Nan" ucap Refan.
"Iya Ma, benar ya.." sambut Kinan senang.
Suci semakin bersyukur mempunyai menantu seperti Kinan. Kalau Renita dulu tidak pernah bersikap seperti ini. Membuat Suci malas datang ke rumah ini, jangankan untuk menginap.
Kinan tampak tulus dan benar - benar senang menyambutnya tidur di rumah ini. Semoga rumah tangga anaknya dengan Kinan langgeng sampai mereka tua dan maut memisahkan. Itulah doa Suci.
"Kata Refan minggu depan kalian mau pindah?" tanya Suci.
"Iya Mas" jawab Kinan.
"Pindah kemana Fan?" tanya Suci.
"Gak jauh dari kantor Kinan, agar Kinan gak repot kalau pulang pergi kantor" jawab Refan.
__ADS_1
"Udah dapat rumahnya?" tanya Suci.
"Sudah Ma. Besok kita lihat ya, setelah Papa dan Mama Renita datang menjemput Naila" jawab Refan.
Kinan kembali sedih jika mengingat Naila akan di bawa pergi besok sama Opa dan Omanya. Refan tau isi hati istrinya itu, oleh sebab itu dia bertekad untuk segera pindah dari rumah ini agar Kinan tidak terus - terusan mengingat Naila.
"Ma tunggu sebentar ya, aku mau siapin cemilan tadi aku masak sesuatus" ucap Kinan ketika dia ingat sesuatu. Kinan segera berdiri dan beranjak ke dapur.
"Gak usah repot Nan" sambut Suci.
Suci mengikuti Kinan yang berjalan menuju dapur. Refan melihat keakraban istri dan Mamanya membuat hatinya menjadi tenang. Refan beranjak ke kamarnya dan melihat Naila sedang tidur dengan nyenyaknya. Dia menghampiri Naila yang sedang tidur di dalam box.
"Sayaaang maaf Papa tidak bisa mempertahankan kamu untuk tetap tinggal bersama Papa. Kamu lebih berhak tinggal bersama Opa dan Oma kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi anak Papa. Papa gak keberatan kalau kelak kamu tetap memanggil Papa dengan sebutan Papa. Jadilah anak solehah ya sayang, selalu do'akan Mama kamu agar dia tenang disana. Kamu baik - baik ya tinggal bersama Opa dan Oma jangan sakit - sakit. Papa yakin kamu akan jadi anak yang kuat" Air mata Refan menetes karena sedih membayangkan akan berpisah dengan Naila.
"Papa akan tetap menyayangi kamu. Kamu harus tau, Papa menyerahkan kamu pada mereka bukan karena Papa tidak sayang lagi pada kamu tapi karena memang itulah yang terbaik untuk kita sayang... Papa sayang kamu" sambung Refan.
Tiba - tiba ada tangan yang menyentuh bahu Refan dengan lembut.
"Maaaas... " sapa Kinan.
"Harusnya aku membencinya kan Nan, karena perbuatan Mamanya. Tapi.. tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membencinya karena dia tidak salah. Dia hanya jadi korban. Seandainya dia bisa memilih dan meminta. Aku rasa dia pasti lebih memilih menjadi anak kamu dari pada anak Renita" air mata Refan kembali menetes.
"Maaaas tidak boleh berkata seperti itu. Itu artinya kita berusaha melawan takdir Allah. Allah sudah menetapkan kalau Naila itu adalah anak Renita bukan anak kita. Pasti ada hikmah dibalik semua ini Mas, kita gak tau apa rahasia Allah dibalik semua ini" nasehat Kinan.
Refan menggenggam tangan Kinan lembut.
"Kata - kata kamu selalu menentramkan hatiku. Kamu selalu membuat aku merasa nyaman berada di dekat kamu" Refan memeluk istrinya.
"Aku hanya sedih membayangkan bagaimana nanti hidup Naila. Sehari saja dia bersama Mama Talita dia sudah sakit dan masuk Rumah Sakit Nan, gimana kalau dia selamanya diasuh sama Mama Talita? Dan bagaimana nanti mereka mendidiknya?" tanya Refan.
"Tadi Mas sendiri yang bilang itu bukan tanggung jawab kita lagi. Kita harus saling menguatkan Mas dan terus berdoa semoga Naila baik - baik saja" jawab Kinan.
Refan mengecup pipi Kinan dengan lembut dan mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Aku ingin semua ini segera kita lewati Nan, minggu depan kita buka lembaran baru hidup kita. Kita benar - benar mulai semuanya dari awal. Aku ingin menjalani rumah tangga yang benar - benar dengan ridho Allah dan ridho orang tua. Aku sudah lelah hidup seperti dulu. Aku ingin lepas dari bayang-bayang masa lalu" ungkap Refan.
"Aamiin.. setiap niat yang baik ingatlah Mas pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik juga asal kita menjalaninya juga dengan penuh kebaikan. Niat yang baik bisa juga akhirnya buruk karena dijalani dengan buruk. Apalagi sejak awal sudah niatnya buruk, sudah pasti akhirnya akan buruk" nasehat Kinan.
"Makasih Nan" balas Refan.
"Tuh di icip dulu masakan aku" Kinan melepaskan diri dari pelukan Refan kemudian mengambil piring yang tadi sudah dia isi dengan dessert dan dia hidangkan untuk suaminya, Refan.
"Sepertinya enak" puji Refan.
"Emang enaaak" balas Kinan dengan senyuman.
"Semua masakan kamu memang enak, aku puji itu. Kamu memang pintar banget mengurus suami dan anak kamu. Kalau seperti ini aku khawatir sakit diabetes" canda Refan.
"Lho kenapa malah jadi sakit diabetes?" tanya Kinan bingung.
"Ya kami selalu menyajikan yang manis - manis. Hidangan manis plus senyuman kamu yang sangat manis. Aku jadi lumeeer" goda Refan.
"Udah pintar ngegombal sekarang ya" Kinan mencubit perut suaminya.
"Aaaw sakit Nan" elak Refan.
"Mau aku tambah lagi?" tanya Kinan pura - pura galak.
"Mau kalau cubitnya bawahan dikit" goda Refan sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Yeee... itu mah akal - akalan kamu Mas" balas Kinan.
"Hahaha.... " Refan tertawa bahagia walau tadi dia sempat sedih dan menangis. Kinan memang selalu bisa menghapus air matanya dan membuatnya bahagia.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG