Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 271


__ADS_3

Berlalu sudah honeymoon tiga hari dua malam di kapal pesiar. Bimo dan rombongan kembali ke Hotel. Rencananya besok keluarga dan para sahabat akan kembali ke Jakarta sedangkan Bimo dan Reni melanjutkan honeymoon mereka sampai seminggu lagi.


Sebelum kembali ke Jakarta Refan dan Kinan ingin bertemu Naila sekali lagi. Refan menghubungi Pak Reno dan Bu Thalita dan meminta waktu mereka untuk bertemu lagi.


Pak Reno malah mengundang mereka untuk datang ke rumah mereka. Tentu saja Refan menyambutnya dengan senang hati.


Refan, Kinan dan Salman keluar dadi Hotel dengan menggunakan mobil Hotel dan diantar supir menuju rumah mantan mertua Refan.


Ternyata Pak Reno dan istrinya sudah menunggu dan mempersiapkan kedatangan Refan dan Kinan. Bu Thalita sudah memasak makan malam dan akan menjamu mereka.


Kinan dan Bu Thalita sedang bersama - sama mempersiapkan menu makan malam mereka sedangkan Salman sedang bermain dengan Naila.


Saat ini Refan sedang duduk santai di teras belakang rumah Pak Reno yang menunjukkan pemandangan laut. Sungguh tempat ini sangat indah dipandang mata. Membuat jadi nyaman dan betah berlama-lama duduk di tempat ini.


"Papa dan Mama hanya tinggal bertiga di sini?" tanya Refan.


Dia merasa sedikit aneh, rumah mantan mertuanya itu terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan rumahnya di Jakarta.


"Ya kami hanya tinggal bertiga, kalau siang hari ada asisten rumah tangga yang membantu urusan rumah tangga selebihnya kami kerjakan berdua semuanya" jawab Pak Reno.


Refan sangat terkejut mendengar pengakuan mantan mertuanya itu. Dia seperti melihat orang lain, bukan Pak Reni yang dulu.


"Papa dan Mama sudah sepakat ketika meninggalkan Jakarta untuk hidup yang baru. Banyak yang harus kami benahi demi Naila agar kami tidak mengulang kesalahan kami dalam mendidik Renita dulu. Kami akan mengajarkan Naila kesederhanaan dan ilmu agama agar dia kelak bisa lebih kuat menjalani hidupnya. Dengan latar belakang kehidupannya kelak dia pasti akan mendapatkan banyak sekali rintangan, sedari kecil Papa dan Mama harus mempersiapkannya untuk menjadi wanita yang kuat " ungkap Pak Reno.


Refan tersenyum bangga mendengar perkataan mertuanya. Keluarga yang sejak dulu dia sangat tau hidup dengan bergelimang harta kini lebih memilih hidup sederhana untuk memperbaiki hidup mereka.


Kesalahan masa lalu yang sangat besar dalam mendidik anak membuat pukulan besar bagi mereka dan menjadi cambuk agar mereka bisa mendidik Cucu mereka dengan sangat baik sehingga kelak Cucu mereka akan menjadi gadis solehah yang kuat.


"Selama hampir satu tahun ini apakah Naila tumbuh dengan baik Pa?" tanya Refan.


Reno tersenyum menatap Refan.


"Dia anak yang sehat dan kuat Fan. Naila jarang banget sakit, paling hanya demam tapi tak lama. Dia juga anak yang pintar, walau masih balita tapi sudah mengerti kalau Opa dan Omanya sudah tua sehingga dia tidak rewel dan tidak aktif banget mungkin karena dia anak perempuan juga kali ya... " jawab Pak Reno.


"Syukurlah aku sangat khawatir pertumbuhan Naila merepotkan Mama" sambut Refan.


"Naila itu cucu kami Fan, dia adalah pengganti Renita di hati kami. Tentu saja Naila tidak merepotkan Mama. Dia malah kelihatan lebih ceria sejak ada Naila. Mama lebih sabar, lebih muda lagi karena sekarang lebih banyak gerak hahaha... " ungkap Pak Reno.


Refan ikutan tertawa..


"Kehadiran Naila banyak membawa pengaruh baik untuk Mama. Dia jadi lebih sederhana, lebih pengertian, lebih bisa mengurus rumah tangga sendirian dan yang terbaik dari semuanya Mama lebih solehah" sambung Pak Reno.


Refan menarik nafas lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah... kepergian Renita banyak memberikan jalan kebaikan untuk yang ditinggalkan. Bagiku terlebih untuk Papa dan Mama. Semoga kelak Naila juga ya Pa" sambut Refan.


"Aamiin... " jawab Pak Reno.


"Pa.. pa.. pa.. pa.. " panggil Naila terbatas - bata sambil berjalan perlahan karena dia baru pandai berjalan.


"Ya sayang..." sahut Refan lembut.


Refan berdiri dan berjalan menyambut kedatangan Naila kemudian menggendongnya.


"Papa.. Naila mau ajak main" ucap Salman.


"Mau main apa? Adek Naila mau main apa sama Papa?" tanya Refan lembut.


"Ku... da... " jawab Naila.


"Kuda Pa.. Naila mau main kuda" sambut Salman.


"Oke.. kita main kuda ya... Kakak Salman bantuin Naila naik di punggung Papa ya sambil peganging Nailanya" perintah Refan.


"Oke Pa.. Hore Nai.. kita main kuda... " teriak Salman ceria.


"Oyeeeee... " sambut Naila.


Bagaimanapun Naila butuh sosok Papa dan Mama yang mungkin tidak akan dia dapatkan dengan utuh. Mungkin ini kali terakhir Naila mendapatkan kasih sayang dari Kinan dan Refan.


Pak Reno tidak bisa memastikan apakah kedepannya mereka akan bertemu lagi dengan mereka. Walau Pak Reno sudah membuat wasiat jika dia dan istrinya meninggal dunia seluruh harta kekayaannya akan dialihkan kepada Naila. Jika Naila masih dibawah umur maka Naila dan seluruh kekayaannya akan diserahkan kepada Refan.


Pak Reno sangat yakin Refan dan Kinan akan mengurus dan membesarkan Naila dengan baik dan penuh kasih sayang. Tapi itu adalah wasiat terakhir, kalau mereka masih hidup sampai Naila besar nanti mereka akan tetap tinggal di sini dan mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Refan dan Kinan.


"Papa, Refan, Salman dan Naila... yuk kita makan" ajak Bu Thalita.


"Hore kita makaaaan" teriak Salman.


"Oye.. mamaaaam... " Naila ikutan berteriak.


Kinan mengangkat Naila dari punggung Refan dan menggendongnya kemudian mwmbawanya masuk menuju meja makan.


Malam ini mereka makan malam bersama dengan penuh kehangatan. Mereka juga berbincang-bincang untuk melepas rindu.


"Ma, Pa.. besok kami akan kembali ke Jakarta" ucap Refan.


"Oh ya, jam berapa berangkatnya?" tanya Pak Reno.

__ADS_1


"Sekitar jam sepuluh berangkat dari Hotel. Pesawat berangkat jam setengah satu siang" jawab Kinan.


"Wah masih sempat itu Pa" sambung Bu Thalita.


"Sempat apa Tante?" tanya Kinan.


"Kami akan lihat kalian ke Hotel sebelum berangkat.. Sekalian pamitan sama yang lainnya kan" jawab Bu Thalita.


"Eh iya.. Mama pasti sangat senang sekali Tante" balas Kinan.


"Adek Naila dibawa juga kan Oma?" tanya Salman


"Tentu donk sayang.. gak mungkin adeknya di tinggal sendirian di rumah" jawab Bu Thalita.


"Oh iya, aku lupa. Adek Naila kan masih kecil" sambut Salman.


"Emangnya Kakak Salman udah berani tinggal sendirian di rumah?" tanya Pak Reno.


"Nggak" jawab Salman polos.


"Lho kok nggak?" goda Pak Reno.


"Aku kan masih kecil juga Opa" jawab Salam.


"Oh iya.. Opa juga lupa kalau Kak Salman juga masih kecil" balas Pak Reno.


"Hahaha.... " semua tertawa mendengar pembicaraan Pak Reno dengan Salman.


Setelah selesai makan malam mereka berbincang - bincang lagi sebentar setelah itu sebelum larut malam Refan dan Kinan berpamitan untuk kembali ke Hotel dan berjanji besok mereka akan berjanji bertemu lagi di hotel sebelum berangkat ke Bandara.


Mereka saling berpelukan sebelum kembali ke Hotel.


"Kami balik ya Pa, Ma.." ucap Refan.


Naila sudah tidur di dalam gendongan Bu Thalita. Refan mencium puncak kepala Naila dengan lembut. Setelah itu bergantian dengan Kinan.


"Daah adek Naila.. tidur yang nyenyak ya dan mimpi indaaah" ucap Salman.


Pak Reno tertawa gemas melihat tingkah Salman sambil kemudian mengacak rambut Salman.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2