
Refan keluar dari rumah mantan mertuanya dengan perasaan kesal dan emosi. Seenaknya saja mereka menjelekkan Kinan di depan mataku. Batin Refan.
Refan segera masuk ke mobil dan berlalu meninggalkan rumah mantan mertuanya. Dengan kecepatan penuh Refan melajukan mobilnya.
Kata - kata keluarga Renita sangat mengusik hatinya dan terus terngiang di telinganya. Hatinya sangat panas mendengarnya.
Tak sampai satu jam Refan sudah sampai di halaman rumahnya. Salman terlihat sedang berlari menyambut kedatangannya. Membuat hati Refan kembali hangat merasakan bahwa kedatangannya sangat dinanti.
"Papa sudah pulang? Adek Naila nya mana?" tanya Salman sambil melirik ke arah mobil berharap Bik Nah akan turun dari mobil sambil menggendong Naila.
"Adek Nailanya masih di rumah Omanya sayang" jawab Refan lembut.
"Masuk yuk, gak usah tunggu adeknya. Nanti sore baru dia pulang" sambung Refan.
Mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam rumah.
"Lho sudah pulang Mas? Aku kira kamu akan bertahan di sana sedikit lebih lama. Kan sudah lama juga kamu tidak bertemu dengan kekuatan almarhumah Renita" sapa Kinan ketika melihat Refan sudah di rumah.
Kinan melihat perubahan wajah Refan ketika dia berkata seperti itu.
Apa yang sedang terjadi dengan kamu di sana Mas? Wajah kamu kok dingin dan kaku seperti itu? Tanya Kinan dalam hati.
"Aku ingin cepat pulang mau istirahat atau lebih baik bantuin kamu di rumah untuk menyiapkan menu nanti malam" jawab Refan.
"Hahaha... gak perlu Mas, bisa berantakan dapur kalau kamu ikut masak. Mending kamu istirahat di kamar saja atau main bersama Salman aja yaaa.. " sambut Kinan.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau aku bantu. Aku main dengan Salman aja deh" balas Refan.
Kinan kembali ke dalurt untuk meneruskan masakannya. Hari ini dia masak cake marmer yang kemarin dia bawa ke rumah mertuanya.
Karena saat itu Refan tidak kebagian, Kinan ingat kalau dia sudah janji pada Refan untuk membuatkan cake itu dilain waktu. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyajikan makanan itu.
Hari ini Kinan memasak besar, walau yang datang empat orang saja tapi Kinan memasak berbagai menu untuk menyambut kedatangan teman - teman Refan.
Sudah jam makan siang. Kinan sudah siap menyajikan menu makan siang mereka.
"Mas makan yuk, aku udah laper" ajak Kinan.
"Oke Nan. Yuk Sal kita makan, Mama sudah memanggil tuh" Refan mengajak Salman ke meja makan.
"Oke Papaaa" balas Salman penuh semangat.
Kinan sudah menghidangkan makan siang mereka. Piring Refan sudah penuh berusut makanan.
__ADS_1
"Nih Mas di makan" ucap Kinan mempersilahkan Refan makan.
Refan memperhatikan wajah Kinan dengan seksama. Ingatannya kembali pada kejadian tadi di rumah almarhumah istrinya.
Kalian benar secepat itu aku bisa melupakan Renita, karena wanita yang ada di hadapanku ini sangat baik. Terserah kalian bilang apa, yang jelas aku beruntung sudah menikahinya. Batin Refan
"Ada apa?" tanya Kinan kepada Refan. Dia heran melihat Refan terus menatap wajahnya.
"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Kinan lagi.
Refan tersenyum melihat wajah Kinan yang terlihat lucu seperti itu.
"Ada sesuatu di mata kamu" ucap Refan.
"Haaa? Yang benar Mas? Mana?" Kinan mendekatkan wajahnya ke wajah Refan. Agar Refan bisa membantunya mengambil binatang yang disebutkan Refan tadi.
Seketika wajah mereka sangat dekat, Refan langsung mengambil kesempatan mengecup kening Kinan. Sontak Kinan terkejut dan malu.
"Hahaha.. Mama dibohongi Papa" tawa Salman.
"Awas kamu ya Mas udah ngerjain aku" ancam Kinan.
"Ya habis mata kamu melotot seperti itu? Aku takut ada binatang yang masuk ke mata kamu" jawab Refan seenaknya.
Bik Mar yang menyaksikan kejadian itu tersenyum bahagia. Sekarang dia melihat Refan sudah banyak berubah. Kini Refan terlihat sangat rileks berada di dekat Kinan. Dia sudah lebih santai dan pintar bercanda.
Sekarang Refan malah terlihat seperti anak - anak dan lebih sering bermanja dan bercanda dengan Kinan. Refan juga sering tersenyum dan tertawa sekarang.
Bik Mar sangat yakin Refan saat ini sangat bahagia dan sudah mencintai istrinya, Kinan. Bik Mar merasa bersyukur kalau Refan sudah bisa menerima Kinan dalam hidupnya.
Semoga rumah tangga Den Refan dan Non Kinan terus bahagia seperti saat ini sampai kakek nenek. Aamiin.. doa Bik Mar dalam hati.
Setelah selesai makan siang Kinan dan Refan shalat dzuhur berjamaah bersama di kamar. Setelah selesai shalat Refan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kinan kembali keluar kamar dan mencari Salman di luar.
"Sayang tidur siang yuk, sini Mama temani kamu tidur" ajak Kinan.
"Asiiik.. garukin punggungku ya Ma" pinta Salman.
Kebiasaan yang selalu Kinan lakukan saat menemani Salman tidur.
"Iya sayang... " jawab Kinan.
__ADS_1
Mereka kini sudah berada di kamar Salman. Kinan naik ke tempat tidur menemani Salman tidur. Menggaruk punggung Salman sambil bersenandung shalawat Nabi.
Tak butuh waktu lama Salman sudah tidur pulas di dalam kamarnya. Kinan turun perlahan dari atas tempat tidur Salman dan berjalan menuju kamarnya dan Refan yang ada tepat di samping kamar Salman.
Kinan melihat Refan juga sudah tidur terlelap. Kinan ikut merebahkan tubuhnya di samping Refan dan akhirnya juga ikut tertidur bersama Refan.
Refan kini berada di sebuah taman indah. Dimana terbentang pemandangan pernuh warna tapi sangat di dominasi dengan warna hijau rerumputan. Banyak kupu - kupu yang beterbangan, udara yang sangat cerah tapi sejuk di kulit melukiskan kalau tempat ini sangat indah dan nyaman.
Dari kejauhan Refan mendengar suara orang menangis. Semakin dia dekat dia semakin tau kalau yang menangis itu adalah seorang wanita. Refan berjalan semakin mendekat
Dibawah pohon yang rindang ada sebuah kursi taman yang terbuat dari kayu. Duduklah seorang wanita memakai pakaian putih sedang menangis sesegukan.
Dia menyembunyikan wajahnya di balik ke dua tangannya. Refan berjalan mendekat dan mencoba menenangkan wanita itu.
"Jangan menangis? Mengapa kamu menangis seperti itu?" tanya Refan.
Wanita itu terkejut dan langsung terdiam. Perlahan dia menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya.
Alangkah terkejutnya Refan ketika melihat wajah itu.
"Renita?" ucap Refan.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Refan.
"Maaas.. maafkan aku... maafkan aku... " ucap Renita kembali menangis.
"Maaf? Mengapa kamu minta maaf padaku?" tanya Refan tak mengerti dan bingung.
"Aaaku.. aku... " Renita tak bisa melanjutkan kata - katanya.
"Kamu sekarang sudah menikah lagi Mas?" tanya Renita.
Refan menganggukkan wajahnya.
"Maaf Ren, bukan maksudku untuk melupakan kamu secepat itu" jawab Refan.
"Tidak mengapa Mas, aku ikhlas kamu menikah lagi. Berbahagialah Mas dengan istri kamu yang sekarang. Dia bisa mengurus dan melayani kamu dengan sangat baik. Aku melihat sekarang wajah dan tubuh kamu semakin berisi dan kamu terlihat sangat bahagia. Waktu aku tidak lama Mas, aku harus segera pergi. Titip anakku ya.. Selamat tinggal Mas" ucap Renita.
Renita berdiri dan berjalan dari hadapan Refan. Semakin lama tubuh Renita terlihat menghilang. Refan panik karena dia akan ditinggalkan Renita lagi. Refan segera berdiri dan memanggil namanya.
"Renitaaaa".......
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG