
Kinan sudah kembali ke kamarnya. Dia melihat Refan sudah berganti pakaian rumah dan sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Maaf ya Mas aku tadi belum siapin pakaian kamu. Kamu jadi cari sendiri" ujar Kinan.
"Gak apa - apa Nan. Kamu kan lagi lihat Salman di kamarnya" jawab Refan.
Kinan mengambil baju tidurnya di lemari kemudian Kinan masuk ke kamar mandi untuk bersih - bersih dan mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian dia sudah selesai dan keluar dari kamar mandi. Kinan berjalan dan naik ke atas tempat tidur. Dia berbaring tepat disamping Refan.
Kinan menghadap ke arah Refan sedangkan Refan sedang asik memainkan ponselnya.
"Maas" panggil Kinan.
Refan pura - pura gak dengar dan sibuk dengan ponselnya.
"Maaaas" Kinan menarik tangan Refan.
"Eh iya Nan.. apaan?" tanya Refan.
"Besok aku boleh gak minta izin ke suatu tempat?" tanya Kinan.
Refan meletakkan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas dekat tempat tidurnya. Setelah itu Refan membalikkan badannya dan kini mereka saling tatap.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Refan.
Kinan tampak sedang berpikir.
Ayolah Nan.. apakah kamu mau jujur padaku? Batin Refan.
Kinan menarik nafas panjang.
"Kamu gak mau jujur padaku?" desak Refan.
"Kamu janji gak akan marah?" tanya Kinan.
Kenapa aku marah? Aku akui aku cemburu Nan tapi cemburu pada orang yang sudah meninggal. Dan aku harus marah pada siapa? marah pada batu nisannya? teriak Refan dalam hati.
"Aku gak akan marah, mengapa aku harus marah?" tanya Refan pura - pura bingung.
"Besok aku dan Salman mau ke makam Mas Bima. Tadi saat melihat Salman di kamarnya, aku melihat Salman mengigau Mas memanggil Papa. Aku rasa dia kangen sama Mas Bima sehingga dia bermimpi bertemu dengan Mas Bima. Sejak menikah dengan kamu, aku tidak pernah lagi mengajak Salman ziarah ke makam Papanya" jawab Kinan.
"Kamu yakin cuma Salman aja yang kangen sama Papanya? Mamanya Salman gak kangen juga?" tanya Refan berusaha bercanda dengan Kinan.
__ADS_1
Refan berusaha sekuat tenaga menekan rasa cemburu di dadanya.
Kinan menarik lengan Refan dan melingkarkan tangan Refan di tubuhnya kemudian Kinan mempersempit jarak antara dia dan suaminya.
Kini Kinan dalam posisi sedang memeluk tubuh suaminya, Refan.
"Tadi waktu kita tiba di bandara tepat sebelum aku pingsan aku seperti melihat Mas Bima Mas. Mungkin sangkin terkejutnya kali makanya aku pingsan. Dan tadi juga saat pulang dari rumah sakit, saat kita sedang di parkiran aku seperti melihat Mas Bima lagi Mas. Gak tau kenapa itu bisa terjadi padahal aku tidak sedang memikirkannya. Daaaan.. pada saat aku melihat Salman tadi, Salman juga sedang bermimpi bertemu dengan papanya. Mungkin Mas Bima kangen Mas pengen di jenguk sehingga dia muncul di ingatan kami. Atau mungkin dia senang melihat kami, aku dan Salman sudah bahagia sekarang bersama kamu" ungkap Kinan.
Refan mengelus lembut pipi istrinya.
"Makanya aku berpikir besok mau ke makam jenguk Mas Bima sekalian kirim doa" pinta Kinan.
"Ya sudah kalau begitu, besok aku antar kalian ke makamnya ya" sambut Refan.
"Iya Mas, makasih ya" balas Kinan.
"Sama - sama sayang" ujar Refan sambil tersenyum lembut.
Kinan kini sudah bisa bernafas lega, tidak ada yang mengganjal dalam hatinya. Kinan juga sudah terbuka kepada Refan. Tidak ada maksud untuk merahasiakan apapun dari Refan. Karena kini Refan lah suaminya.
"Ya udah kita istirahat ya, ingat kamu gak boleh terlalu lelah karena ada dua anak kita di sini" Refan mengelus perut istrinya.
Kinan mulai memejamkan matanya dan tidur nyaman dalam pelukan Refan.
****
Ardianto, Dhisti dan Suci heran melihat Kinan, Refan dan Salam sudah rapi seperti hendak pergi.
"Kalian mau pergi? kok Mama lihat semua sudah pada rapi?" selidik Suci.
"Iya Ma, kami mau pergi ke makam" jawab Refan.
"Makam Renita lagi?" tanya Suci tak suka.
"Nggak Ma, makamnya Mas Bima. Tadi malam Salman mimpi dan memanggil - manggil Papanya.. Mungkin dia kangen sama Papanya. Sejak aku dan Mas Refan menikah, kami memang gak perlahan lagi Ziarah" jawab Kinan.
"Oooh ya sudah. Mama kira mau ke makam Renita lagi. Untuk apa? Semua kan sudah berlalu" ujar Suci.
"Salman kangen ya sama Papa Bima, sampai mimpi. Emangnya gimana sih mimpinya. Oma pengen dengar?" tanya Dhisti.
"Salman lihat Papa sedang duduk di taman Oma. Papa pakai baju shalat warna putih tersenyum pada Salam sambil melambaikan tangan. Trus Salman dada... dadaah.. tangan Papa... " Salman mengangkat tangannya mempraktekkan apa yang dia lakukan sambil melambaikan tangannya.
"Alhamdulillah.. itu tandanya Papanya sudah senang di sana" sambut Ardianto.
__ADS_1
Ardianto dan Dhisti tersenyum menatap cucu mereka.
"Salman harus jadi anak soleh ya biar bisa do'ain Papanya" ujar Dhisti.
"Biar Papa masuk surga kan Oma?" tanya Salman.
"Iya.. pintar cucu Oma" sambut Dhisti.
"Sudah siap makannya?" tanya Refan pada Kinan dan Salman.
"Sudah Pa" jawab Salam.
"Kita berangkat yuk, jangan sampai kesiangan nanti panas. Kasihan Mama kamu gak boleh capek - capek" ajak Refan.
"Eh kamu kok gak mual lagi Fan?" tanya Suci heran.
"Masih mual Ma kalau pagi. Tadi pagi setelah shalat subuh aku sempat muntah - muntah. Tapi alhamdulillah sudah lebih mendingan. Sepertinya obat mual dari dokternya ampuh" jawab Refan.
"Syukurlah.. kalau jadi kamu tidak terlalu menderita. Melihat kamu muntah - muntah kemarin Papa jadi kasihan lihatnya" sambut Pak Ardianto.
"Mungkin karena Refan udah semangat kali Mas dapat anak kembar" ujar Suci.
"Bisa jadi itu" balas Pak Ardianto.
"Ya sudah Pa, Ma.. kami pergi dulu ya" ujar Kinan.
"Hati - hati ya" sambut Dhisti.
Refan, Kinan dan Salman bangkit dari duduknya dan berpamitan dengan Ardianto, Suci dan Dhisti. Kemudian mereka melangkah ke luar rumah dan masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah disiapkan oleh supir.
Refan menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya menuju pemakaman umum dekat rumah Kinan dulu saat dia menikah dengan Bima.
Sesampainya di TPU tempat Bima dimakamkan Refan memarkirkan mobilnya. Kinan dan Salman turun berbarengan dan mereka berjalan memasuki area pemakaman di susul Refan di belakang mereka.
Sampailah mereka di depan makam Bima. Kinan dan Salman mulai merapikan rumput - rumput yang tampak mulai tumbuh liar. Kemudian mereka membaca doa bersama - sama.
Refan menatap dan membaca batu nisan yang tertera di batu Nisan. Bima Akarsana. Ternyata usianya lebih tua tiga tahun dari Refan dan Kinan.
Pantas saja dia terdengar lebih dewasa dari cerita - cerita Kinan. Dia juga sepertinya pria yang sabar, baik dan bertanggung jawab. Bisa membimbing Kinan menjadi istri solehah dan Salman putranya hinga menjadi anak yang baik seperti saat ini.
Hai Bima.. aku datang ke sini untuk mengantarkan putra kamu dan Kinaaan... istriku. Yah sekarang dia sudah menjadi istriku. Aku menikahinya empat bulan yang lalu dan saat ini Kinan sedang mengandung anak - anakku. Terimakasih kamu pernah hadir dalam kehidupanku istriku. Karena berkat kamu Salman bisa terlahir ke dunia ini dan juga kamu telah berhasil mendidik Kinan menjadi istri yang solehah. Sehingga aku yang kini menuai hasilnya. Aku sangat beruntung mendapatkan dia menjadi istriku. Tenanglah di sana, aku yang akan meneruskan usaha kamu untuk membahagiakan mereka. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mereka sampai akhir hayatku. Ucap Refan dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG