
"Be... belum Mas... lantas aku harus bagaimana?" tanya Reni bingung.
Refan menarik panjang dan tetap menatap adik bungsunya.
"Kamu jaga hati kamu dulu ya... Bagi wanita, dalam rumah tangga itu lebih baik dicintai dari pada mencintai. Mas tidak mau kamu mengalami hal yang seperti Mad dan Mbak Kinan alami. Kamu tidak sekuat Kinan. Diawal pernikahan kami, Kinan lebih banyak terluka. Mas selalu menyakitinya karena Mas belum mencintainya. Hanya saja Kinan sabar menunggu Mas dan melayani Mas dengan baik. Mas bukan menilai kamu sebagai wanita yang tidak solehah tapi untuk menjadi wanita solehah butuh kekuatan dan kesabaran yang sangat besar. Lebih baik kamu persiapkan diri kamu sebaik mungkin, kalau memang Bimo menyukai kamu dan dia adalah jodoh kamu. Monggo... silahkan... Mas tidak akan menghalanginya. Mas hanya ingin saat hari itu datang kamu datang meminta izin Mas dengan suara yang lantang dan yakin seratus persen bahwa keputusan kamu sudah final. Tidak ada kata mundur dan penyesalan " tegas Refan.
Reni kembali menangis.
"Kamu jangan bersedih, Mas kan tidak melarang kamu. Mas hanya minta kamu persiapankan diri. Pasrah diri kamu hanya kepada Allah dan yakinlah apapun nanti yang Allah gariskan kepada kamu, itu adalah yang terbaik untuk hidup kamu. Coba kamu mulai rajin shalat tahajjud minta petunjuk Allah. Mas yakin kamu akan segera mendapatkan jawabannya" Refan menyentuh bahu Reni.
Reni menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Kamu harus mengerti kalau Mas sangat ingin sekali kamu bahagia. Kamu adalah adik Mas satu - satunya, kalau kamu terluka Mas yang akan menjadi sandaran kamu. Kalau kamu tersakiti biar Mas yang maju melawan. Mas akan melindungi kamu dek dengan sekuat tenaga Mas. Kamu adalah tanggung jawab Mas" ujar Refan.
"Terimakasih Mas" jawab Reni.
"Sekarang kamu bersihkan wajah kamu dan kembali ke ruangan kamu dan selesaikan pekerjaan kamu. Mas gak mau karyawan lain melihat Mas pilih kasih kepada anak magang. Oh iya, bulan depan kamu akan diangkat menjadi karyawan tetap. Masa magang kamu sudah selesai" ujar Refan memberitahu.
"Benarkah Mas?" tanya Reni terkejut dan tak percaya.
"Benar. Adek Mas ini kan udah kerja dengan baik dan serius jadi sudah layak diangkat jadi pegawai" jawab Refan sambil tersenyum.
Reni langsung memeluk kakaknya.
"Terimakasih Mas" ucap Reni.
"Sama - sama" balas Refan tersenyum.
"Ya sudah aku balik ke ruang aku ya Mas" Reni langsung pergi meninggalkan Refan dengan langkah bahagia.
Sore harinya di rumah Refan. Reni mulai menjaga jarak dengan Bimo. Dia lebih banyak berada di kamar dan kalau keluar sebisa mungkin Reni menghindari Bimo.
Sejak pulang kerja, Bimo tidak melihat Reni di rumah. Dia hanya melihat Bela dan Ela duduk santai sambil ngobrol di teras belakang.
"Tumben cuma ngobrol berdua?" tanya Bimo.
"Ada yang kecarian ya" ledek Bela.
"Ya kan biasanya kalian selalu bertiga. Malam ini tumben cuma berdua. Reni mana?" tanya Bimo.
"Lho kok tanya kami, bukannya hubungan Mas dengan Reni semakin dekat? Tadi siang kan kalian makan bareng" sindir Bela.
__ADS_1
"Pasti Aril cerita pada kamu ya?" tanya Bimo.
"Mas Aril cuma kasih informasi aja kok Mas" balas Bela sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Bimo hanya bisa tersenyum tipis mengingat kejadian tadi siang saat dia makan siang bersama dengan Reni, Riko, Aril dan Romi.
Tak lama kemudian Bu Akarsana memanggil anak - anaknya.
"Bim, Bel, Ela... yuk makan" ajak Bu Akarsana.
Bimo, Bela dan Ela berjalan menuju ruang makan dimana Refan dan keluarganya yang lain sudah berkumpul. Bimo merasa lega ketika melihat Reni sudah ada di sana. Tapi Bimo terkejut ketika Reni tampak sangat acuh kepadanya.
Ada apa dengan Reni? Tadi siang dia terlihat sangat senang sekali saat aku mengantar dia kembali ke kantornya. Sekarang mengapa aku melihat dia jadi dingin? Tanya Bimo dalam hati.
Mereka makan malam bersama dengan hangat. Salman bercerita bagaimana sekolahnya hari ini. Bimo juga berceritalah kalau akhir pekan ini dia, Bela dan Ela akan pindah rumah ke rumah Bimo yang baru.
Reni tampak tidak ada reaksi dan tanggapan. Dia hanya sibuk menyantap makan malamnya. Hal ini membuat Bimo semakin bertanya - tanya.
Refan melirik beberapa kali ke arah Bimo. Refan sempat memergoki Bimo beberapa kali sedang menatap adiknya.
Setelah selesai makan malam Reni langsung bergegas meninggalkan ruang makan.
"Aku lagi gak enak badan Bel. Aku duluan ya istirahat" jawab Reni pamit.
Bimo melirik ke arah Reni, tapi Reni tampak memang sedang menghindari Bimo. Reni tidak pernah membalas tatapan Bimo.
Reni segera berjalan meninggalkan seluruh keluarga di ruang makan. Selanjutnya yang lainnya berpindah ke ruang keluarga.
Bela mendekati Bimo dan berbisik.
"Ada apa dengan Mas dan Reni?" tanya Bela.
"Tidak ada apa - apa? Kami baik - baik saja" jawab Bimo.
"Tapi Reni kok sepertinya dingin kepada Mas. Dia tidak ada menyapa Mas? Bukankah tadi siang kalian makan bareng? Apakah ada kata - kata Mas yang menyakiti hatinya?" tanya Bela.
"Tidak, saat terakhir Mas antar dia ke kantornya Reni baik - baik saja" jawab Bimo.
"Tapi ada yang aneh dengan Reni" selidik Bela.
"Ya mana Mas tau. Kamu cari tau aja sendiri. Kamu dan Bela kan seumuran dan kalian juga berteman sangat dekat. Yah siapa tau sesuai tebakan kamu, Mas ada salah dengan Dia yang Mas lakukan tanpa sengaja?" perintah Bimo.
__ADS_1
Bela menarik nafas panjang.
"Baiklah besok aku akan cari tau" jawab Bela.
*****
Keesokan harinya saat Reni dan Bela baru saja pulang kerja. Mereka menyempatkan untuk ngobrol sebentar seputar pekerjaan di halaman depan rumah Refan.
Bela bercerita kalau dia semakin nyaman bekerja di kantor Aril. Aril juga sering menyapanya dan sejak Bela bekerja di perusahaan Aril tidak pernah ada tamu wanita yang datang sesuai dengan cerita Reni.
Bela teringat akan pesan Kakaknya Bimo tadi malam. Dia segera menanyakan tentang hubungan Reni dengan Bimo.
"Kamu sama Mas Bimo lagi bertengkar ya?" tanya Bela.
"Nggak" jawab Reni pura - pura normal.
"Tapi kalian terlihat saling diam dan dingin satu sama lain?" selidik Bela.
"Ah perasaan kamu aja kali" balas Reni.
"Dari kemarin kamu gak banyak bicara" ujar Bela.
"Kemarin kan aku gak enak badan Bela" elak Reni.
"Sekarang udah gimana? Udah baikan?" Bela.
Reni tersenyum ramah.
"Alhamdulillah udah. Yuk masuk ke dalam. Udah sore, aku mau mandi" ajak Reni.
"Okey" balas Bela.
Mereka masuk ke dalam rumah secara berbarengan lalu masuk ke kamar masing - masing untuk bersih - bersih. Tapi kali ini Bela semakin yakin kalau ada sesuatu dengan Reni.
Reni terlihat memang sedang menghindari Kakaknya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1