
Pagi harinya Refan sarapan pagi sambil senyum - senyum. Hari ini dia sangat bahagia sekali. Selain karena hubungannya dengan Kinan sudah berjalan baik, sudah saling memaafkan dan berjanji untuk berteman dan memulai rumah tangga mereka dengan tujuan yang benar.
Tadi malam Refan sudah buka puasa dua minggu. Buka puasa dengan yang manis bahkan sampai tamboh cieek.
"Mas dimakan sarapannya jangan hanya diliatin aja. Emangnya di nasinya ada film kartun yang bisa membuat kamu senyum - senyum begitu?" tanya Kinan penasaran.
"Di nasinya ada topeng monyet Nan lagi lompat - lompat" jawab Refan sambil senyum - senyum.
Salman langsung melihat nasinya. Dengan polosnya dia ikut berkomentar.
"Di nasiku kok gak ada ya Pa?" tanya Salman.
Sontak Refan tertawa lebar mendengar ocehan Salman.
"Papa cuma bercanda sayang" Refan mengacak lembut rambut Salman.
"Makanya Mas di depan anak - anak jangan ngomong yang aneh - aneh" ujar Kinan.
"Bukannya kamu yang mulai duluan?" Refan tersenyum penuh makna.
Iya juga bukannya tadi aku yang mulai duluan bilang ada film kartun di nasinya Mas Refan? Mas Refan sih senyum - senyum gitu kayak kesambet setan. Batin Kinan.
Kinan melanjutkan makannya begitu juga dengan Refan dan Salman.
"Eh iya, jadi kita belanjanya?" tanya Refan.
"Jadi donk. Ke pasar ya?" ajak Kinan.
"Ke pasar? Jangan deh supermarket aja" pinta Refan memelas.
Mas Refan kok jadi seperti anak - anak gini ya. Buat aku geli dengan sikapnya. Apa ini sebenarnya sikap aslinya, manja. Batin Kinan.
"Di pasar lebih murah dan lengkap Mas" jawab Kinan.
"Supermarket juga lengkap Nan, soal harga gak masalah kan aku yang bayar" balas Refan.
Kinan menarik nafas panjang.
Susah kalau bicara harga sama pemilik perusahaan. Semua dianggap remeh sama dia.
"Kalau belanja ke pasar ada keasikan tersendiri Mas" ucap Kinan.
"Apa?" tanya Refan penasaran.
Apa iya belanja ke pasar asik. Bukannya becek gak ada ojeck.. hihi aku kok jadi lebay gini ya. Tawa Refan dalam hati.
"Kalau pengen tau makanya ikut aku belanja ke pasar" ajak Kinan lebih semangat.
Refan tampak sedang berpikir panjang.
"Mmm.. oke deh aku akan temani kamu belanja ke pasar" jawab Refan
Yes.. akhirnya kamu mau aku ajak belanja ke pasar. Siap - siap deh aku kerjain kamu. Batin Kinan.
"Ya udah Mas, cepetan makannya. Setelah itu kita langsung ke pasar. Kalau kesiangan nanti bisa habis semuanya" ujar Kinan.
__ADS_1
"Bagus donk kita bisa langsung ke supermarket" sambut Refan sambil tersenyum.
"Nggak ah aku maunya belanja di pasar" balas Kinan.
"Iya deeeh kamu menang" ujar Refan.
"Emangnya Papa dan Mama sedang bertanding?" tanya Salman.
"Nggak sayang. Papa sama Mama cuma lagi main aja" jawab Refan.
"Main? Aku ikut donk. Kok aku gak di ajak sih" protes Salman.
"Maaaaas... " Kinan memberi peringatan.
"Papa dan Mama sedang bertengkar sayang" jawab Refan.
"Gak boleh bertengkar. Kalau marah - marah kawannya setan. Aku gak mau dekat sama setan" teriak Salman.
"Maaaaaaas" Kinan semakin kesal lihat sikap Refan yang seperti anak - anak.
"Hahaha... sayang Papa sama Mama cuma ngobrol aja kok" jawab Refan dengan benar.
Akhirnya selesai juga mereka sarapan pagi walau dengan adu argumen soal ke pasar atau supermarket. Kini Refan dan Kinan sudah dalam perjalanan menuju pasar tradisional yang paling besar di kota tempat mereka tinggal.
Refan memarkirkan mobilnya di area parkir.
"Yuk Mas masuk" ajak Kinan.
Refan terlihat enggan untuk masuk ke dalam pasar tapi Kinan menarik tangan Refan dan menggenggamnya. Membuat Refan terkejut dan kesenangan karena baru kali ini Kinan inisiatif duluan mesra - mesraan kepadanya.
Setelah itu Kinan memasukkan belanjaanga ke dalam keranjang rotan yang dibawa oleh Refan. Dengan sabar Refan menenteng keranjang belanjaannya asalkan tangannya yang sebelah lagi tetap di genggam Kinan.
Kemudian Kinan berjalan ke arah penjual ikan. Kinan memilih dan membeli beberapa ikan.
"Mas coba pegangin ikan ini" punya Kinan.
"Nggak ah Nan, kotor. Aku gak mau" tolak Refan.
"Ih pegangnya kotor tapi makannya mau" sindir Kinan.
"Ya namanya kalau sudah dimasak enak Nan. Apalagi kamu yang masak" jawab Refan.
Setelah itu mereka berjalan ke tempat penjual ayam.
"Mas kita beli anak ayam ya" pinta Kinan.
"Untuk apa?" tanya Refan bingung.
"Untuk di pelihara donk, Salman pasti senang" jawab Kinan.
"Nggak ah Nan, mau di letak dimana?" tanya Refan.
"Di depan rumah aja letakin kandangnya. kalau di belakang rumah kan udah habis gak ada ruang lagi" jawab Kinan.
"Tetangga bisa komplain Nan karena bauk" sambut Refan.
__ADS_1
"Yah sayang donk padahal lucu - lucu nih ayamnya bulunya warna warni" ujar Kinan lucu.
"Nanti deh kalau kita punya rumah yang lebih besar lagi" ucap Refan.
"Kamu berencana mau beli rumah lagi?" tanya Kinan.
"Iya donk, kan anak kita dua. Butuh kamar lebih banyak, belum lagi nanti kalau nambah anak lagi" jawab Refan.
Kinan langsung terdiam dan menunduk malu.
"Kok malu? Wajar kan kita tambah anak lagi? Asal sering - sering aja temani aku olahraga malam" goda Refan.
"Apaan sih Mas. Udah ah yuk kita pindah lapak" ucap Kinan mengalihkan pembicaraan.
Kinan membeli ayam setelah itu baru dia ajak Refan ke bagian penjual sayur - sayuran. Kinan membeli bahan - bahan masakan seperjuangan bawang, cabai, tomat, kentang, wortel dan sayur - sayur yang lain. Tak lupa juga dia membeli kelapa dan rempah - rempah untuk bumbu masakan.
Kinan meletakkan semua belanjaanya ke dalam keranjang rotan yang di pegang Refan. Refan tampak kewalahan dan keberatan membawa semua belanjaan mereka.
"Mas teman - teman kamu udah pada bikah?" tanya Kinan.
"Ada yang sudah ada yang belum" jawab Refan.
Kinan tersenyum dan senyumannya sangat mencurigakan.
"Kenapa kamu senyum - senyum gitu? Kamu mau menggoda teman - teman aku yang belum nikah?" tanya Refan curiga.
"Yeeeee kamu jelek amat pikirannya. Ngapain juga aku menggoda teman - teman kamu. Tanpa aku goda saja ada yang mau kok" jawab Kinan percaya diri.
"Fadlan maksud kamu?" Refan tampak tak suka mengingat pria itu.
"Kamu yang memulai duluan Mas jadi jangan marah" ucap Kinan.
Kinan singgah di tempat penjual sayuran dan memilih beberapa sayuran. Kemudian Kinan mengambil beberapa ikat jenis sayuran yang membuatmu Refan terkejut.
"Kamu beli itu?" tanya Refan tak suka.
"Iya" jawab Kinan cuek.
"Jangan donk Nan, itu gak enak" protes Refan.
"Enak, lihat aja nanti kalau sudah aku olah kamu pasti suka" ujar Kinan
"Nan malu donk sama teman - temanku. Masak di suguhin makanan itu" protes Refan, dia masih tampak keberatan.
"Kalau kamu gak suka ya sudah. Aku gak mau lagi temani kamu olehraga malam" tantang Kinan.
"Oke.. Oke.. terserah kamu deh Nan, aku ngikut aja" jawab Refan pasrah.
Mati aku.. kalau mereka komplain gimana ya? Batin Refan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1