
Sepekan setalah laporan tentang kecelakaan yang dialami Almarhum Bima. Keadaan masih terlihat aman di lingkungan rumah dan kantor Refan juga Kinan.
Aril setiap hari selalu datang berkunjung ke rumah Refan dan Kinan karena Bela ada di situ. Ada saja alasan dan buah tangan yang selalu dia bawa saat berkunjung.
Pertengkaran Aril dan Reni juga semakin sering terjadi. Hal itu terjadi karena Reni mencium bau - bau maksud terselubung Aril datang ke rumah Kakaknya.
Saat mobil Reni dan Aril parkir di halaman rumah Refan dan Kinan. Mereka berdua sama - sama baru saja turun dari mobil masing - masing.
"Mas Aril datang lagi? Ngapain? Pasti mau cari - cari kesempatan buat gangguin Bela kan?" tebak Reni.
"Nggak, Mas cuma mau tau perkembangan kasus kecelakaan Bima sudah sampai mana" jawab Aril.
"Halaaaah alasan aja tuh. Tanya sama Mas Refan aja kan sudah cukup. Gak perlu juga datang ke sini setiap hari?" sindir Reni.
"Sekalian mau tanya kabar Bapak dan Ibunya Bela" balas Aril.
"Kabar Bapak Ibu Bela apa Bela nya sendiri?" goda Reni.
"Ya semuanya lah Ren. Ngapain di pisah - pisah" jawab Aril sok cuek sedangkan dalam hati siapa yang tau.
Reni mendekati Aril dan bersikap pura - pura mencium wangi parfum Aril.
"Aku seperti mencium sesuatu? Pasti Mas Aril ada maunya nih ke sini? Mas walau Bela itu bukan keluarga dekat tapi sekarang kan udah jadi saudara. Di tambah lagi dia gadis yang baik. Aku gak rela kalau Mas Aril jadikan dia mainan. Aku tau maksud Mas Aril sering - sering ke sini itu buat apa? Mas Aril itu sahabatnya Mas Refan dari zaman kuliah dulu sering main dan tidur di rumah kami. Mas Aril juga sudah aku anggap seperti kakak sendiri. Udah seperti keluarga dan aku tau betul sifatnya Mas Aril. Kalau Mas Aril mau main - main cari gadis lain saja di luar sana. Jangan mainin keluarga kami ya" pesan Reni.
Aril langsung merangkul tubuh Reni layaknya seorang kakak yang sedang bercanda dengan adiknya.
"Hei setan kecil.. tumben otak kamu benar kali ini. Biasanya kamu selalu ngajak berantem. Aku juga sudah anggap kamu sebagai adik aku sendiri. Berhubung kita sudah saling perjelas status kita sebagai seorang kakak dan adik, ada baiknya kalau kita saat ini bersikap kayaknya seperti saudara" bujuk Aril.
Reni menutup sebelah matanya dan melirik Aril.
"Aku mencium bau - bau bujuk rayu persekongkolan" ledek Reni.
"Hahahaha.. " Aril menyentik kepala Reni.
__ADS_1
"Adik yang pintar, tau aja apa yang sedang aku rencanakan" ujar Aril.
"Naaah kan beneeer" balas Reni.
"Kakakmu ini sudah lama bertaubat.. mmm... sudah tiga bulan lah" ungkap Aril.
"Itu belum lama kakaaaaak" potong Reni.
"Hahahaha iya ya belum lama. Perasaan udah lama banget gak godain cewek" sambut Aril.
"Tuh kan belum bener tobatnya" sindir Reni.
"Mas udah serius, beneran tobatnya. Kalau kamu gak percaya tanya aja Kinan dan Refan. Kami... Mas Aril, Mas Romi dan Mas Riko sudah lama tobat dan sekarang sudah buat pengajian" ungkap Aril.
"Haaa...? Cinca?" tanya Reni sambil menutup mulutnya.
"Apa tuh maksudnya?" tanya Aril tak mengerti.
"Serius?" jawab Reni.
"Memang benar yang kami lakukan dulu itu salah tapi apakah kami tidak boleh mempunyai kesempatan untuk berubah dan memiliki impian dapat istri yang solehah?" ungkap Aril dengan wajah sendu.
Reni melihat kali ini Aril tampak serius dalam berucap. Membuat hati Reni jadi iba melihat keadaan Aril dan dua sahabat Kakaknya yang lain yang sudah sejak lama Reni kenal.
"Boleh donk.. masak Mas Riko di tolak begitu saja sih.. Harusnya kan bisa di lihat keseriusan dari niat Mas Riko mendekati wanita itu. Jangan langsung main tolak begitu aja" protes Reni.
"Yaaah namanya orang tua Ren. Kami juga mengerti, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik buat anak - anak mereka. Makanya Riko tidak bisa berbuat banyak, saat ini dia fokus untuk memperbaiki diri dulu setelah itu baru dia memperbaiki niatnya untuk mencari jodoh. Naaaah Mas Aril juga sama. Mas juga lagi cari wanita solehah. Ada sih kamu yang ada di dekat Mas Aril. Tapi apa kamu mau sama Mas?" goda Aril.
"Iiih jijay... amit - amit... Mas Aril kan udah seperti Kakak aku sendiri" tolak Reni.
"Nah itu, Mas juga udah anggap kamu sebagai adik Mas sendiri. Lagian mana dapat izin dari Mas kamu apalagi Mama kamu" jawab Aril.
"Trus apa rencananya?" tanya Reni.
__ADS_1
"Saat Mas bertemu Bela pertama kali di Surabaya, hati Mas sudah suka.. tapi saat itu Mas salah menduga. Mas kira dia itu pembokatnya keluarga Akarsana" ungkap Aril.
"Oooh.. jadi Mas pria yang dikatakan Bela kemarin? Yang mengira kalau Bela itu pembokat?" tanya Reni langsung nyambung dengan ucapan Bela kemarin.
Aril menganggukkan kepalanya.
"Waaaah paraaah... gadis seperti Bela dikira pembokat. Salah tuh matanya Mas Aril. Masak gadis secantik Bela dibilang pembokat. Kalau aku jadi Bela, aku akan benci Mas Aril seumur hidupku. Karena Mas sudah merendahkan harga diriku sebagai seorang gadis" ujar Reni.
Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mas udah minta maaf pada Bela.. Saat itu Mas memang benar - benar bodoh. Bisa - bisanya berpikiran seperti itu" jawab Aril.
"Trus Bela jawab apa?" tanya Reni.
"Dia sih gak masalah dan setelah itu cuek aja" jawab Aril.
"Hahaha... rasain Mas Aril. Bagus Bel, aku dukung sikap kamu sebagai seorang wanita. Harus punya harga diri yang tinggi, enak aja direndahkan seperti itu. Apalagi yang ngomong seperti itu Mas Aril seorang cowok playboy" ejek Reni.
"Mantan Ren, udah tobat" protes Aril.
"Ah sama aja. Belum ada tanda - tanda tobatnya" ucap Reni mematahkan.
"Jangan gitu donk. Katanya kamu sudah menjadi adiknya Mas Aril. Dukung donk Masnya bertaubat dan tolong carikan gadis yang baik dan solehah buat Mas Aril. Itu baru adik yang baik" bujuk Aril.
"Modus... ada maunya baru muji - muji" jawab Reni.
"Serius lho Ren.. Kali ini Mas Aril beneran.. Mas benar - benar ingin berubah dan jika secepatnya Mas ketemu dengan gadis baik dan solehah Mas akan mengajaknya menikah. Berhubung gadis itu adalah Bela jadi dengan segala rasa hormat Mas Aril memohon kepada kamu. Tolong donk bantuin Mas Aril deketin Bela... pleaseeeee... " Aril mengangkat kedua tangannya memohon kepada Reni.
Reni tampak sedang berpikir keras dan memperhatikan sikap dan wajah Aril saat berkata seperti itu. Reni merasa Aril memang benar - benar ingin berubah dan dia juga sangat serius saat ini.
"Mmm... baiklah. Aku akan coba bantu Mas Aril. Tapi ingat, aku tidak bisa memaksa Bela lho. Kalau Bela gak mau, itu bukan salah aku. Keputusan tetap ada di tangan Bela" jawab Reni.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG