
Sore harinya sesuai kesepakatan Refan dan Kinan, mereka sudah sampai di rumah sore hari. Salman dan Naila sudah bersiap dibantu oleh Bik Mar dan Bik Nah.
Ini adalah kali pertama keluarga kecil mereka jalan - jalan keluar. Refan memasukkan stroller Naila ke dalam mobil. Tas bayi yang berisi perlengkapan Naila dan juga Salman.
Kinan sudah mandi dan berganti pakaian kemudian berdandan simple di depan meja rias kamarnya. Sedangkan Refan baru keluar dari kamar mandi. Hatinya langsung bersorak ketika melihat pakaiannya sudah dipersiapkan Kinan di atas tempat tidur.
Refan sengaja memakai bajunya di dalam kamar, sejak dia berjanji untuk merubah dirinya di depan Kinan Refan tidak pernah lagi berbuat canggung di depan Kinan. Dengan santainya dia memakai baju dan celananya di belakang Kinan.
Kinan bisa melihat pantulan tubuh Refan dari kaca cermin meja riasnya. Sontak pipi Kinan memerah karena aksi Refan barusan. Refan hanya tersenyum tipis karena melihat wajah Kinan yang sudah seperti kepiting rebus merah wajahnya.
Refan yang masih memakai celana dan masih bertelanjang dada mendekati Kinan. Dia berdiri tepat di samping Kinan yang sedang duduk di depan meja rias.
"Nan bajunya jangan yang ini donk. Baju yang ini ada nodanya" ujar Refan.
Kinan menahan nafasnya sesaat karena tubuh Refan bagian bawah Refan menyentuh lengannya.
"Ma.. maaf Mas tadi aku tidak perhatikan baju kamu. Sini aku ganti" Kinan langsung mengambil baju Refan dan meletekkannya kembali ke dalam lemari kemudian menggantinya dengan pakaian yang lain.
Refan semakin tersenyum melihat tingkah Kinan yang serba salah.
Kamu semakin cantik Nan dengan pipi memerah seperti itu. Batin Refan.
Refan kini memakai baju yang baru di ganti Kinan, kemudian dia berdiri tepat di samping Kinan yang sedang melanjutkan merias wajahnya.
Refan menyisir rambutnya dengan rapi dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Mmm... wangi kamu Mas, memabukkan. Batin Kinan.
"Sudah selesai?" tanya Refan.
"Tinggal pakai jilbab Mas" jawab Kinan.
"Ya sudah, aku dan anak - anak nunggu di depan ya" ujar Refan lembut.
Mas Refan kenapa ya, sejak aku pulang tingkahnya kok jadi lebih lembut. Apa dia memang sudah berubah? tanya Kinan dalam hati.
Tak lama Kinan juga sudah selesai memakai jilbab dan keluar menyusul Refan yang menunggunya di ruang TV bersama anak - anak.
"Yuk Mas kita berangkat" ajak Kinan.
"Asiiiik jalan.. jalan" teriak Salman.
Kinan mengambil Naila dari dalam dekapan Refan kemudian menuntun Salman untuk naik ke dalam mobil. Refan mulai menyalakan mobilnya.
"Bik kami pergi dulu ya" ujar Kinan pada kedua asisten rumah tangga nya.
"Iya Non, Den.. hati - hati ya" jawab Bik Mar.
__ADS_1
Baik Bik Mar ataupun Bik Nah sangat senang melihat keluarga kecil ini semakin harmonis. Mereka melihat dengan jelas perubahan sikap Refan setelah menikah dengan Kinan. Lebih tepatnya setelah malam honeymoon mereka.
Refan tampak kembali ceria dan bersemangat. Dia juga terlihat semakin sayang dan perhatian dengan anak - anaknya. Dan juga sekarang tatapan Refan kepada Kinan juga sudah sangat berubah. Kini sudah sangat teduh bila menatap Kinan.
Mobil berlalu meninggalkan halaman rumah Refan. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju Mall terbesar di Kota mereka. Refan masuk ke parkir area dan memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia mengeluarkan tas perlengkapan bayi di laci bawah stroller Naila.
Kinan meletakkan Naila di dalam stroller dan siap menggandeng Salman sedangkan Refan mendorong stroller Naila dari belakang. Mereka berjalan beriringan sudah seperti keluarga yang harmonis.
"Papa.. Mama.. aku mau mandi bola" teriak Salman sambil menunjuk ke area mandi bola untuk anak - anak.
Kinan dan Refan saling pandang.
"Ya sudah kita kesana ya" jawab Refan.
"Yeaaaaay.. horeee" teriak Salman senang.
Kinan menunggu mereka di luar sambil memberikan Naila susu, sedangkan Salman menemani Salman bermain bola.
Setelah bosan bermain bola Salman meminta naik ke gerbong kereta api yang berjalan di arena lantai dasar mall itu.
"Mas jangan di turuti semua kemauannya" cegah Kinan.
"Gak apa - apa Nan sekali - sekali" jawab Refan.
Refan tampak santai dan sabar menemani Salman bermain. Kini Salman berada dalam mini kereta api dan memutar mengelilingi gedung lantai dasar.
"Nan aku tinggal shalat dulu ya. Kamu gak apa - apa kan di sini bareng mereka?" tanya Refan.
"Nggak, Mas shalat aja dulu. Biar aku yang jaga anak - anak" jawab Kinan.
Tak lama Refan pergi ke lantai empat dimana terletak musholla di dalam gedung Mall itu. Sepeninggal Refan, Kinan mendorong stroller Naila ke dekat stasiun kereta api yang dinaiki Salman.
Sambil menunggu Salman selesai berputar Kinan bermain bersama Naila yang sudah berumur empat bulan.
"Sayaaang Mamaaaa... ciluk baaaaaaa" ucap Kinan menghibur Naila.
Naila tersenyum lalu tertawa lebar membuat Kinan jadi ikutan tertawa melihat wajah lucu Naila.
"Kinaaaan" panggil seseorang dari belakang.
Kinan menoleh langsung kepada empunya suara.
"Lho Fadhlan, lagi main ke sini juga toh" sapa Kinan ramah.
"Iya ada yang sedang aku cari di sini" Fadlan menatap ke arah Naila.
"Anak kamu?" tanya Fadlan.
__ADS_1
"Iya " jawab Kinan sambil kembali tersenyum menatap Naila.
"Bukannya anak kamu laki - laki Nan?" tanya Fadlan.
"Ini anak Mas Refan, dan sekarang sudah menjadi anakku juga" jawab Kinan.
"Anak kamu mana?" Fadlan melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Salman di dekat mereka.
"Lagi naik kereta api keliling gedung ini" jawab Kinan ramah.
"Kamu cuma bertiga aja sama anak - anak?" tanya Fadlan.
"Nggak, aku bareng Mas Refan" balas Kinan.
"Emangnya suami kamu kemana?" selidik Fadlan.
"Lagi shalat di atas" jawab Kinan.
"Eh Nan soal hasil pelatihan kita kemarin aku rasa ada yang harus kita revisi. Menurut aku masih ada yang kurang" ujar Fadlan.
"Ya sudah besok saja kita bahas di kantor. Kamu siapkan aja data yang mau di revisi biar kita diskusikan sama - sama dengan anggota tim yang lain" sambut Kinan.
"Oke nanti sepulang dari sini aku akan susun datanya ya dan besok pagi akan aku serahkan ke ruangan kamu" ujar Fadlan.
"Oke Fad, eh kamu sama siapa kesini?" tanya Kinan.
"Sendiri Nan, maklum masih jomblo" jawab Fadlan.
"Kamu sih status jomblo aja di pertahanin" ledek Kinan.
Fadlan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Habis gitu ketemu gebetan eh langsung di sambar orang Nan, gigit jari deh" ungkap Fadlan.
Kinan tertawa mendengar jawaban Fadlan.
Refan melihat Kinan sedang berbincang dengan seorang pria dengan santai dan akrabnya. Sesekali mereka tertawa bersama, entah apa yang sedang mereka bahas. Semakin dekat Refan semakin mengenal sosok pria yang sedang bersama dengan Kinan. Dia adalah Fadlan teman kantor Kinan.
Naluri kelelakiannya mengatakan kalau pria ini juga menyukai istrinya dan Refan tidak bisa menerimanya.
Enak saja kamu mau mendekati istriku. Langkahi dulu mayatku. Tantang Refan dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1