
Kasus kecelakaan Pak Reno Subrata yang berakibat kemarin Pak Reno dan istrinya akhirnya sampai pada sidang terakhir yaitu sidang putusan.
Refan dan para sahabatnya tetap setia hadir disemua persidangan. Tapi tidak dengan Febri istrinya Arga Laksamana. Refan dan teman - temannya berpikiran kalau Febri sengaja karena kekecewaannya yang sangat dalam atas kasus perselingkuhan Arga Laksamana dengan Renita.
Disidang terakhir ini Febri kembali hadir, mungkin dia juga ingin mendengar secara langsung apa hukuman yang akan di vonis hakim untuk Arga.
Febri datang tetap bersama Rendy. Mereka keluar dari mobil yang sama yaitu mobil Rendy.
"Sepertinya hubungan mereka semakin dekat. Yang aku dengar dari Shela, di lapangan Rendy dan Febri memang terdengar sangat dekat" ungkap Romi.
"Mungkin itu lebih baik untuk mengobati patah hati Febri" sambut Refan.
"Tapi apa kamu yakin Rendy tulus menyukai Febri? Aku takut dia dan Arga tidak jauh beda. Hanya memandang harta yang Febri punya?" tanya Bimo.
"Sebenarnya Rendy itu pria yang baik. Kemarin aku rasa dia terjebak bujuk rayu Arga sehingga berbuat salah" jawab Refan.
"Mudah - mudahan mereka cocok dan berjodoh ya Mas" sambung Kinan.
"Semoga saja" balas Refan.
Mereka masuk ke ruang sidang satu persatu. Refan dan para sahabat mengambil posisi di sisi kanan dalam ruang sidang. Sedangkan Rendy dan Febri berada di sisi kiri.
Rendy menyempatkan diri untuk menyapa Refan dan teman - temannya, begitu juga dengan Febri. Mereka saling berjabat tangan.
"Senang melihat tampilan kamu yang sedikit berbeda. Sepertinya kamu sudah berhasil mengatasi permasalahan rumah tangga kamu" sapa Refan.
"Hidup terus berjalan Pak Refan. Aku harus bertahan dan berusaha waras agar bisa hidup dengan normal" jawab Febri.
"Kalau kamu tidak keberatan kamu bisa berteman dengan istriku dan teman - temannya. Mereka sering melakukan pengajian, siapa tau itu satu cara agar kamu tetap waras" ucap Refan menawarkan.
Kinan menyenggol lengan Refan lalu tersenyum ramah kepada Febri.
"Kinan" sapa Kinan ramah.
"Febri.. boleh aku tau nomor ponsel kamu. Benar kata Pak Refan, aku butuh teman atau tempat untuk mengingatkan aku kepada Tuhan. Itu akan mencegah aku berbuat hal - hal yang putus asa" sambut Febri.
"Boleh, ini nomor ponsel saya" Kinan memberikan nomor ponselnya kepada Febri dan Febri segera mencatatkan.
"Senang mengenal kamu. Aku penasaran apa yang kamu lakukan pada Pak Refan sehingga dia bisa dengan cepat melupakan lukanyam?" tanya Febri penasaran.
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya selalu berada disampingnya, menghiburnya dan memberikan semangat di saat - saat terburuk dalam hidupnya" jawab Kinan.
Febri terdiam mendengar jawaban Kinan.
"Aku yakin kamu juga akan bisa melewati masa - masa itu. Dukungan keluarga pasti sangat membantu" hibur Kinan.
"Aku melihat sepertinya kamu orang yang damai, wajar Pak Refan sangat nyaman berada di dekat kamu. Aku sudah beberapa kali bertemu dengan Ibu Cishela dan sempat berbincang - bincang dengan beliau. Dia sudah menceritakan kepada saya semua kebaikan kamu. Aku ingin berteman dengan kalian. Apakah kalian mau menerimaku?" tanya Febri jujur.
"Dengan senang hati Febri, nanti kapan - kapan aku ajak kamu gabung bersama teman - temanku ya. Kamu yang kuat ya Febri, ingatlah habis gelap akan terbit terang. Aku yakin kamu pasti akan dapatkan kebahagiaan itu kembali" jawab Kinan.
"Sidang sudah dimulai, mari kita ambil posisi masing-masing" ucap Bimo.
Tak lama kemudian para Pengacara, Jaksa Penuntut dan hakim sudah masuk ke dalam ruangan. Kemudian dipanggil lah nama Arga agar memasuki ruangan sidang.
Arga masuk dengan dikawal oleh dua orang polisi dan duduk di kursi pesakitan. Dia mencari - cari keberadaan istrinya dan akhirnya Arga menemukan sosok Febri.
"Yaaank... aku tidak mau cerai. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Yank aku mencintai kamu" teriak Arga.
Arga langsung di pegang oleh dua polisi yang mengawalnya.
"Mohon tersangka diharap tenang dan silahkan duduk kembali" perintah Hakim.
Refan dan teman - temannya sangat terkejut mendengar protes Arga barusan.
"Ternyata Febri sudah mulai bertindak. Pantas saja dia tidak pernah datang lagi setiap persidangan" komentar Aril.
"Lihatlah Arga kamu akan benar - benar terpuruk dan hancur" umpat Riko kesal.
"Akhirnya hukumannya pun tiba.. dia akan kembali gembel dan mendekam di penjara" sambut Romi.
"Naila tidak akan pernah membutuhkanmu, dia tidak butuh orang tua seperti kamu" ucap Refan pelan.
"Baiklah sidang akan kita mulai.." ucap Hakim memulai sidang.
Semua menunggu dengan seksama hasil keputusan Hakim yang akan dibacakan saat ini.
"Berdasarkan dari bukti dan kesaksian para saksi maka terdakwa Arga Laksamana dinyatakan bersalah dengan berencana menghilangkan nyawa orang lain yaitu Bapak Reno Subrata dan Ibu Thalita. Oleh sebab itu, berdasarkan UU pasal 34 KUHP yang isinya.. Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan berencana dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun. Maka dengan pertimbangan itu kami putuskan bahwa terdakwa akan dijatuhi hukuman pidana seumur hidup. Tok.. tok.. tok.... " ucap Hakim sambil mengetuk palu.
"Tidak hakim... jangaaaaan.. Aku hanya ingin mengambil anakku. Tolong jangan lakukan ini padaku" teriak Arga tidak terima.
__ADS_1
"Tolong Pak kerjasamanya atau Bapak akan kami borgol" ucap polisi yang menjaga Arga.
Arga meronta sambil menangis.
"Feb.. sayaaaang.. tolong aku. Aku bukan seorang pembunuh. Jangan ceraikan aku, aku mencintai kamu.. " ucap Arga sambil menangis dan menatap Febri dari kejauhan.
Kemudian Arga menatap ke arah Refan.
"Faaan... tolonglah sekaliiiii saja.... aku ingin bertemu dengan anakku. Aku ingin menciumnya.... " ucap Arga putus asa.
"Dia tidak membutuhkan kamu, kamu hanyalah orang asing baginya" sambut Refan.
"Toloooong... maafkan aku.. aku mengaku salah selama ini. Jangan hukum aku seperti ini. Aku.. aku.. tidak berniat membunuh Pak Reno. Toloooong aku sangat menyesal. Aku hanya ingin bertemu anakku" rengek Arga.
"Penjaga segera bawa terdakwa ke dalam mobil dan akan segera dipindahkan ke penjara" perintah hakim.
"Tidaaaaak.. Febriiii... tolong aku. Jangan ceraikan aku... aku mencintai kamu. Maafkan aku telah menyakiti kamu" tangis Arga.
Febri menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Untung saja dia mengenakan kaca mata hitam di wajahnya.
"Aku tidak menyangka kisah kita akan berakhir seperti ini Mas.. Selamat tinggal.. Jalani hukuman kamu sebagaimana mestinya karena apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu tuai" gumam Febri sambil menatap Arga yang dengan paksa dibawa dua orang penjaga meninggalkan ruangan sidang.
Febri berdiri dari tempat duduknya dan segera meninggalkan ruang sidang. Rendy dengan setia mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan menuju parkiran mobil dan segera meninggalkan Pengadilan Negeri.
Refan dan teman - temannya bisa bernafas lega, Arga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Itu baru hukuman dunia belum nanti di akhirat.
"Naudzubillah.. semoga kita dijauhkan dari dosa seperti itu.... "
.
.
BERSAMBUNG
Sepertinya ada gangguan.. 😭
Dari kemarin aku udah up tapi review terus..
Sabar ya readers.. 🥰
__ADS_1