Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 192


__ADS_3

Setelah selesai shalat mereka bersiap - siap untuk makan malam bersama. Bik Mar dan Bik Nah sudah sibuk di dapur mempersiapkan menu makan malam bersama Bu Suci, Bu Dhisti, Reni dan Bela.


"Bel kamu duduk aja di depan" ujar Reni.


"Gak apa - apa Ren, di rumah juga udah biasa" jawab Bela.


Mereka menata meja makan bersama sedangkan para Ibu - Ibu tugasnya memasak. Tak lama Bu Akarsana juga tiga di dapur.


"Reni sudah tamat kuliah?" tanya Bu Akarsana.


"Sudah Bu baru beberapa bulan yang lalu" jawab Reni sopan.


"Sekarang apa kegiatannya?" tanya Bu Akarsana.


"Saya lagi magang di perusahaan Mas Refan Bu" jawab Reni.


"Enak ya kalau Kakaknya punya perusahaan sendiri" sambut Bu Akarsana.


"Ah biasa aja Bu. Mas Refan gak suka nepotisme Bu. Aku dan pegawai lainnya sama saja gak ada bedanya" balas Reni.


"Ren, aku mau donk di cariin kerja? Aku juga sebentar lagi wisuda. Setelah itu pengangguran" pinta Bela.


"Boleh Bel, nanti aku bilang sama Mas Refan" sambut Reni antusias.


"Kamu wisuda dulu dan dapat ijazah. Setelah itu baru kerja" ucap Bu Akarsana pada putrinya.


"Ya kan sebentar lagi Bu. Tinggal hitungan hari" jawab Bela.


"Mas Refan punya banyak sahabat, semua pada punya perusahaan masing - masing. Ya walau gak besar - besar amat tapi lumayan lho gajinya. Nanti kalaupun di perusahaan Mas Refan gak ada lowongan kan bisa minta tolong sahabatnya yang lain. Ada Mas Aril, Mas Riko, Mas Romi dan Mas Bagus" ujar Reni.


"Eh iya aku udah kenal sama salah satu dari mereka yaitu Mas Aril" sambut Bela.


"Nah itu udah kenal tapi hati - hati mereka itu playboy. Suka gonta ganti pacar. Hati - hati nanti kamu di godain" ujar Reni.


"Sepertinya Nak Aril anak yang sopan" ucap Bu Akarsana.


"Itu karena bertemu dengan Ibu. Mungkin Ibu kan orang tua. Tapi tiga sahabat Mas Refan yang belum menikah yaitu Mas Riko, Mas Aril dan Mas Romi semuanya playboy. Kecuali Mas Refan dan Mas Bagus. Itupun keduanya sudah menikah" ungkap Reni.


"Sudah.. sudah.. kan ceritanya mau cari Kerja bukan cari jodoh" potong Bela.


"Ya sekalian donk Bel, siapa tau cocok dan berjodoh" potong Bu Suci ikut campur.


"Aaah Ibu bisa aja" balas Bela.

__ADS_1


"Kamu siap berpisah dengan Ibu?" tanya Bu Akarsana.


"Siap Bu, harus siap. Aku kan anak perempuan. Nanti kalau aku menikah kan harus ikut kemana suami membawaku. Masak mau manja sama Ibu terus" jawab Bela manja.


"Tuh... gini aja masih manja" sindir Bu Akarsana.


"Sama Mbak, Reni juga begitu masih suka manja. Mungkin karna anak paling kecil" ujar Bu Suci.


"Refan berapa bersaudara?" tanya Bu Akarsana.


"Tiga, Refan punya seorang Kakak perempuan, tinggal di luar kota dibawa suaminya. Refan meneruskan usaha Papanya yang di bangun setelah Papanya pensiun dan alhamdulillah sudah semakin berkembang. Dan ini nih si bontot baru selesai kuliah dan masih magang di kantor Refan. Katanya kalau dia lulus magang baru di terima jadi pegawai" jawab Bu Suci.


"Bagus itu, agar adiknya punya motivasi. Itu namanya seorang pemimpin yang bertanggung jawab" puji Bu Akarsana.


Bu Dhisti datang mendekati mereka.


"Mbak Yu makanan sudah siap, yuk ajak yang lain ke sini. Kita makan bersama" ajak Bu Dhisti.


"Eh iya, kamu aja deh Ren yang ajak mereka ke sini" sambut Bu Akarsana.


"Baik Bu" jawab Reni.


Reni berjalan menuju ruang keluarga dimana para lelaki sedang asik ngobrol.


Reni mencari keberadaan Kinan.


"Mas Re, Mbak Kinan mana?" tanya Reni.


"Di kamar Salman. Lagi ngajarin Salman belajar. Kamu panggil gih" jawab Refan.


"Oke" balas Reni.


"Yuk Pak, Bimo kita ke belakang makan" ajak Refan.


Pak Ardianto, Pak Akarsana dan Bimo bersama Refan kini berjalan menuju meja makan. Di sana sudah menunggu Bela, Bu Suci, Bu Dhisti dan Bu Akarsana. Tak lama Kinan, Reni dan Salman juga tiba.


Mereka duduk di meja makan, untung saja rumah Refan bersama Kinan besar, coba kalau di rumah lama yang serba mini malis pasti semua tidak akan muat makan di sini.


"Yank, nanti sebelum Bimo pulang kamu kasih aja kunci rumah kepadanya. Biar besok dia udah bisa pindah ke rumah kamu yang lama" perintah Refan.


"Tapi Fan gimana tanggapan para tetangga? Pasti mereka akan terkejut melihat wajah Bimo?" tanya Bu Dhisti.


"Kalau mereka kita kasih tau Bimo itu kembaran Bima takutnya para penjahat itu kembali mengincar Bimo Ma" jawab Refan.

__ADS_1


"Nanti aku akan kabari Bik Sumi Mas biar dia gak terkejut ketemu dengan Mas Bimo. Selama ini ada Bik Sumi Mas yang bersihin rumah. Mas Bimo boleh kok suruh Bik Sumi minta buatin sesuatu seperti makanan, nyuci dan nyetrika baju atau lainnya" sambut Kinan.


"Gini aja biar aman aku juga sebisa mungkin menghindari para tetangga" ujar Bimo.


"Bapak rasa sebaiknya juga begitu Mo" sambut Pak Akarsana.


"Apa perlu untuk sementara kita juga tinggal di sana Pak?" tanya Bu Akarsana.


"Jangan Pak, Bu.. Nanti membahayakan kalian. Biar kalian di sini aja dulu. Nanti kalau sudah aman baru kalian bisa main ke rumah Bima dan Kinan" jawab Bimo.


"Iya Buk, sementara tinggal di sini saja dulu. Ya kan Mas?" sambut Kinan.


"Iya gak apa - apa. Tinggal saja di sini sesuka kalian. Jangan sungkan - sungkan. Anggap saja rumah anak kalian sendiri" jawab Refan.


"Terimakasih Nak Refan" balas Pak Akarsana.


Mereka akhirnya selesai makan malam bersama. Semua beranjak kembali menuju ruang keluarga. Tinggal Bela, Reni, Bik Mar dan Bik Nah di dapur.


Mereka membereskan meja makan seperti semula.


"Ren, aku serius lho soal cari kerja di sini" ujar Bela.


"Iya Bel nanti aku akan sampaikan pada Mas Refan" sambut Reni.


"Di perusahaan sahabatnya juga gak masalah. Aku kan cuma mau cari kerja, bukan mau godain teman - temannya Mas Refan. Jadi gak masalah mereka itu playboy atau nggak" balas Bela.


"Iya juga sih. Tapi sebaiknya tunggu semuanya tenang ya Bel. Sepertinya Mas Refan lagi serius banget urusin tentang kecelakaan Almarhum Kakak kamu" jawab Reni.


"Iya Ren, aku juga ngerti. Aku gak maksa kok. Lagian aku sangat berterimakasih Mas Refan mau ngurusin masalah kakak - kakakku dengan tulus" ujar Bela.


"Itu gak jadi masalah Bel. Satu sifat Mas Refan yang paling hebat menurutku. Dia kalau sudah mencintai itu sangat total. Semua akan dia lakukan untuk menyayangi dan melindungi orang - orang yang dia sayang. Dalam hal ini Mbak Kinan dan Salman adalah orang - orang yang ingin dilindungi Mas Refan" tegas Reni.


"Iya Ren, aku bisa melihatnya dengan jelas. Mas Refan benar - benar sangat mencintai Mbak Kinan dan juga Salman" ujar Bela.


"Kalau soal Salman kamu jangan khawatir. Mas Refan sudah lama sekali menginginkan seorang anak. Makanya begitu menikah dengan Mbak Kinan, Mas Refan langsung menyayangi Salman. Apalagi Salman itu anak yang pintar dan gemesin. Semua orang yang melihatnya bisa langsung sayang" ungkap Reni.


"Yah aku berharap sepeninggal Mas Bima. Mbak Kinan dan Salman hidup bahagia. Aku menyayangi Mbak Kinan seperti Kakakku sendiri" balas Bela.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2