Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 216


__ADS_3

Satu jam setengah diatas pesawat sungguh akan sangat menegangkan bagi Reni. Bimo tau Reni tidak nyaman duduk di sampingnya.


"Kamu mau tukeran tempat duduk dengan Aril. Biar aku bilang sama Aril?" tanya Bimo memberikan penawaran kepada Reni.


"Ah nggak Mas, gak apa - apa kok disini aja" jawab Reni.


Reni berulang kali mendesah dan menarik nafas panjang, seolah - olah dia sedang kekurangan oksigen.


"Makasih ya Dek Reni" ucap Bimo.


Reni melirik ke arah Bimo.


"Makasih untuk apa nih Mas?" tanya Reni.


"Makasih kamu udah mau bantuin Bela untuk bekerja di Jakarta dan beradaptasi di sana. Bela itu baru kali ini tinggal berjauhan dari Bapak dan Ibu" jawab Bimo.


"Oooh itu Mas, biasa aja. aku sudah anggap Bela itu sahabat sekaligus keluarga. Aku juga senang dirumah punya teman. Kakakku yang perempuan jauh di pulau Sumatera dan jarang banget pulang, udah gitu jarak usia kami juga sangat jauh" ungkap Reni.


"Iya ya, aku lupa kalau kamu punya kakak perempuan juga" sambut Bimo.


"Mas Bimo masih simpan foto almarhum istrinya gak?" tanya Reni ingin tau.


"Masih, ada di ponselku. Kenapa dek Reni bertanya begitu?" Bimo balik bertanya.


"Aku pengen lihat, boleh?" pinta Reni.


"Boleh, bentar ya" jawab Bimo.


Bimo meraih ponselnya dari saku celananya dan membuka layar ponselnya kemudian membuka menu galeri dan mencari foto istrinya.


"Ini dia" ucap Bimo sambil menyerahkan ponselnya kepada Reni.


Reni menerima ponsel Bimo dan melihat foto yang ada di dalamnya. Reni melihat seorang wanita cantik, kulit putih, berambut panjang keriting yang diikat dan ada lesung pipinya.

__ADS_1


"Cantik Mas, sebelumnya aku ngebayangin wajah gadis Papua pada umumnya dan kulitnya" Puji Reni.


"Elliah adalah gadis keturunan. Dia bukan gadis Papua asli. Ibunya blasteran australia" jawab Bimo.


"Jadi namanya Elliah?" tanya Reni.


"Iya, Elliah Maruna" jawab Bimo sambil melirik ke arah foto Elliah istrinya.


Entah mengapa hati Reni menciut, seperti merasa kecewa akan kalah bersaing. Tanpa sengaja jari Reni menggeser foto berikutnya tampak foto Bimo dengan istrinya sangat mesra. Bimo terlihat senyum bahagia di dalam foto tersebut.


Mengapa hatiku sakit ya melihat foto mereka? Ada apa denganku? Mas Bimo kan bukan siapa - siapa? Perasaan apa ini? tanya Reni dalam hati.


"Mesra ya Mas" ujar Reni.


"Hehe iya Dek Reni, itu foto kami jalan - jalak ke Labuhan Bajo merayakan unniversarry pernikahan kami yang ke delapan. Tepat sebulan sebelum Elliah meninggal" jawab Bimo.


"Pasti Mas sedih sekali ya saat Mbak Elliah meninggal?" tanya Reni.


"Bagaimanapun dia adalah wanita yang sudah menemaniku selama delapan tahun, kamu tau kan karena dia juga aku melawan perkataan orang tuaku. Saat itu cintaku memang buta. Hanya dialah orang yang paling aku cintai mengalahkan siapapun. Aku rela meninggalkan semuanya demi untuk hidup bersamanya. Dia pergi begitu tiba - tiba, paginya kami masih sarapan pagi bersama dan dia mengantarkan aku ke kantor lalu melanjutkan perjalanannya dengan mengendarai mobilku. Satu jam setelah kami berpisah aku mendapat telepon dari rumah sakit yang mengabarkan kalau Elliah kecelakaan dan sedang di tangani di rumah sakit. Dengan sekuat tenaga aku langsung menuju rumah sakit dan melihat keadaannya yang saat itu sedang kritis" jawab Bimo.


Bimo menyandarkan kepalanya ke kursi pesawat dan memejamkan matanya sesaat.


"Disaat detik - detik terakhir dia mengucapkan kata maaf.. maaf karena telah membuat aku menjauh dari keluargaku karena menikahinya. Maaf karena tak bisa melanjutkan perjuangan kami dan dia pergi meninggalkanku. Dia mengucapkan terimakasih karena sudah menjadi suami yang baik selama delapan tahun pernikahan kami dan terimakasih karena sudah mencintainya dengan tulus" sambung Bimo.


Reni bisa melihat kesedihan dimata Bimo saat dia menceritakan tentang almarhumah istrinya.


"Maaf Mas gara - gara aku tanya begini Mas jadi sedih lagi mengingat Mbak Elliah" ujar Reni merasa bersalah.


Bimo menarik nafas dalam dan membalas tatapan Reni.


"Setiap orang yang pernah singgah dalam hidup kita baik dia buruk atau tidak pasti akan meninggalkan kenangan. Apalagi orang tersebut pernah menjadi orang yang sangat penting dalam hidup kita pasti akan lebih banyak meninggalkan kenangan manis. Aku, Kinan, Refan dan Mama kamu adalah salah satu contoh orang yang pernah merasa kehilangan orang sangat kita cintai. Tapi Kami harus terus hidup karena hidup harus terus berlanjut. Terus hidup bukan berarti harus melupakan masa lalu tapi tidak juga hidup dengan semua kenangan itu. Aku memilih terus menatap masa depan dengan menyimpan semua kenangan manis masa laluku bersamanya. Mencintainya bukan sebuah kesalahan hanya saja caraku mencintainya dulu yang salah. Aku sadar apa salahku dimasa lalu dan aku akan memperbaikinya dan tidak akan mengulanginya lagi. Cukup Elliah yang menjadi kesalahan manis dalam hidupku" ungkap Bimo.


"Kesalahan manis?" tanya Reni.

__ADS_1


"Ya.. kini aku sadar caraku dulu mencintainya salah. Tapi kesalahan itu sangat manis hingga aku rela menanggung dosa selama sembilan tahun. Setelah kecelakaan Bima aku baru sadar dengan kesalahanku dan aku kembali. Kembali pada kodratku" jawab Bimo.


Reni tidak tau harus bagaimana mengekspresikan wajahnya. Apakah dia harus ikut bersedih dengan kesedihan yang dialami Bimo.


Tapi saat Reni jujur pada hatinya sendiri, ada yang sakit saat melihat Bimo sedih seperti ini. Bukan rasa iba tapi akh... Reni sendiri tidak bisa memastikan perasaan apa yang saat ini sedang dia rasakan.


Rasanya ingin sekali menghibur Bimo saat ini tapi dia bingung harus berkata dan berbuat apa lagi.


Reni mengembalikan ponsel Bimo ketangan Bimo.


"Ini Mas handphonenya" ujar Reni kepada Bimo.


"Kamu apakah sudah pernah jatuh cinta?" tanya Bimo.


Reni sebenarnya sangat terkejut dengan pertanyaan Bimo tapi dia berusaha untuk sewajarnya mungkin.


"Kalau naksir atau cinta monyet mungkin sudah pernah Mas. Tapi mencintai seseorang seperti Mas, aku belum pernah" jawab Reni.


"Jangan sampai seperti aku ya" Bimo mengelus lembut kepala Reni.


"Apalagi kamu itu seorang wanita. Kalau seorang pria salah jalan yang rusak hanya dirinya sendiri tapi kalau seorang wanita yang salah jalan yang rusak seluruh keluarganya. Ingatlah perkataan Mas. Seperti aku, Aril dan teman - teman mereka lainnya pernah berbuat salah tapi akan lebih mudah bagi kami untuk berubah dan bertaubat. Sedangkan kalau seorang wanita sampai kapanpun orang akan terus melihat dan mengingat kesalahannya. Sehingga untuk menjalani masa depan akan lebih sulit" ujar Bimo.


Reni mencoba mencerna dan mengerti pesan - pesan yang diberikan Bimo. Benar apa kata Bimo, Reni ingat tentang kesalahan Renita yang berakibat pada lahirnya Naila. Bahkan sampai orang tua Renita harus pergi keluar kota untuk menyimpan aib anaknya.


Yang menjadi korban adalah Naila, anaknya Renita yang kelak akan hidup tanpa sosok orang tua. Bahkan Naila harus membawa nasab Mamanya saat dia menikah nanti. Mungkin secara administrasi negara Refan bisa menjadi Papanya karena Naila lahir didalam pernikahan Refan dan Renita tapi saat Naila lahir tidak mungkin nama Refan dibawa dan tidak mungkin juga Refan yang menikahkan Naila.


Hidup akan terasa berat atau ringan sesuai dengan perlakuan kita sendiri. Kalau kita tetap hidup dalam aturan agama dan negara mungkin hidup akan terasa ringan dan bahagia. Jadi kita harus berhati - hati dalam menjalani hidup ini agar jangan sampai terpeleset dan masuk ke dalam lobang dosa.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2