
Sesuai kesepakatan mulai hari ini Bimo tinggal di rumah Refan dan Kinan. Reni tidur sekamar dengan Mamanya. Bapak, Ibu dan Bimo tidur di kamar atas sedangkan Bela tidur di kamar Salman.
Beberapa hari ini dan hari ke depan rumah Refan akan ramai. Refan tampak tidak keberatan sama sekali akan hal itu. Bu Akarsana, Bu Suci dan Bu Dhisti juga tampak semakin dekat.
Mereka sudah benar - benar seperti keluarga besar. Salman juga sangat senang dengan kedatangan Bimo di rumah mereka. Dia bisa melepaskan kerinduan pada Bimo akan wajah Papanya Bima.
"Horeeee Uncle Bimo akan tinggal di sini Pa?" tanya Salman senang.
"Iya sayang" jawab Refan.
"Yeeeeaaay rumah jadi tambah ramai. Uncle Bimo bisa berenang gak?" tanya Salman polos.
"Bisa donk" jawab Bimo.
"Kalau begitu nanti kita bisa donk lomba berenang?" tanya Salman.
"Bisa... " jawab Bimo lembut.
"Assssiiiiik" teriak Salman gembira.
"Lho kok Bimo jadi tinggal di sini Pak?" tanya Bu Akarsana.
"Ini saran dari Pak Polisi, agar mereka lebih mudah memantau dan menjaga keluarga kita. Jangan tinggal berpencar" jawab Pak Akarsana.
"Tapi ini kan rumah... " protes Bu Akarsana. Dia merasa sungkan sama Refan.
"Tidak apa - apa Bu. Saya tidak keberatan" sambut Refan.
Refan merangkul istrinya sambil berjalan menuju ruang keluarga.
"Kamu sudah suruh Bibik siapkan semuanya yank?" tanya Refan.
"Sudah Mas" jawab Kinan.
Kinan menatap Bimo.
"Mas Bimo bisa menempati kamar di lantai dua" ujar Kinan.
"Iya, terimakasih Nan" balas Bimo.
Tak lama Bela dan Reni datang membawa beberapa piring yang berisikan makanan ringan.
"Taraaa... ayo semua di coba. Aku dan Bela tadi nyoba masak ini" ucap Reni.
Reni menghidangkan donut kecil - kecil diatas meja.
"Wah pinter sekali kamu Ren" puji Bu Akarsana.
"Sama kok Bu buatnya sama Bela, kami belajar dari youtube" jawab Reni.
Semua mencoba makanan yang dimasak Bela dan Reni.
"Enak nih Bel donatnya" puji Aril.
"Hati - hati Bel, rayuan pulau kelapa" sindir Reni.
"Bener kok Ren enak" ulang Aril.
__ADS_1
"Terus kenapa bilangnya ke Bela?" tanya Reni.
"Ya kan tadi kamu bilang kamu buat makanan ini bareng Bela" jawab Aril.
"Aku kok gak di puji?" tanya Reni
"Kamu mah gak perlu di puji udah pede banget dari sononya" jawab Aril.
"Kalian ini kalau udah ketemu pasti berantem" sindir Refan.
"Jangan mau tergoda bujuk rayu dia Bel" ujar Reni.
"Aku gak ngerayu kok Bel, semua ini fakta" sambut Aril.
"Dia playboy" ejek Reni.
"Udah tobat kaleeee" balas Aril.
"Mantan donk" ledek Reni.
"Iya gak apa - apa kan mantan dari pada gak tobat - tobat" jawab Aril.
"Reeeen, Ariiiillll kalau udah berantem ngalahin Salman yang masih umur empat tahun" ucap Bu Suci menengahi.
Bu Akarsana tersenyum melirik Reni.
Bimo mencoba makanan yang dimasak Bela dan Reni.
"Iya benar kata Aril, beneran enak ini makanannya" puji Bimo.
"Beneran Mas?" tanya Bela.
"Yang ngadon Reni Mas, aku cuma goreng dan kasih toping doank" ungkap Bela.
"Berarti Reni donk yang pintar masak" puji Bimo.
Reni udah senyum - senyum senang di puji Bimo. Akhirnya ada juga yang muji dia. Bukan Bela aja yang di puji Aril.
"Ya kan aku ikutan masak" ujar Bela.
"Udah.. kalian berdua emang pintar masak. Tapi belum ada yang ngalahin Mbak Kinan masak cake marmer" ujar Bu Akarsana.
"Iya benar Mbak Yu. Dulu pernah waktu arisan di rumah aku, Kinan bawa cake marmer dua loyang langsung ludwes. Semua suka makan cake buatan Kinan" sambut Bu Suci.
"Nanti lain waktu aku buatin ya Bu untuk kita semua" ujar Kinan.
"Gak wajib kok Nan, kamu kan lagi hamil. Gak boleh terlalu capek" jawab Bu Suci.
"Gak apa - apa Bu kalau cuma buat cake marmer aku gak akan capek kok. Atau kalau gak nanti aku buatnya bareng Bela dan Reni biar mereka pinter juga buat cakenya" balas Kinan.
"Benar Mbak Kinan mau ajarin kami?" tanya Bela semangat.
"Iya bener" jawab Kinan.
"Asiiik... nambah lagi ilmu kita Bel" sambut Reni senang.
Kinan tersenyum melihat dua adik iparnya sudah kompak dan akrab berteman.
__ADS_1
"Eh iya Mas sekalian mumpung lagi ngumpul. Sebentar lagi Bela wisuda, katanya dia mau kerja di sini dan minta cariin kerja. Di kantor ada yang kosong gak?" tanya Reni kepada Refan.
"Nanti Mas tanya bagian HRD ya. Kapan Bela wisuda?" tanya Refan.
"Satu bulan lagi Mas" jawab Bela.
"Di kantor aku ada Fan, sekretaris aku mau ngundurin diri karena lagi hamil besar. Katanya setelah melahirkan dia mau berhenti bekerja dan fokus ngurusin anaknya" sambut Aril.
"Modus" sindir Reni.
"Beneran Ren, Mas gak lagi modus ataupun main - main. Masak Bela mau dimainin" ujar Aril serius.
"Gimana Bel?" tanya Refan.
"Boleh deh Mas, aku malah gak enak sama Mas Aril. Aku belum punya pengalaman kerja sama sekali" jawab Bela.
"Gak masalah. Jadi sekretaris itu yang penting ingatannya kuat, gak lupa apa aja tugas atasannya" ujar Aril.
"Kalau soal itu aku sih bisa Mas. Alhamdulillah aku punya ingatan yang kuat. Bahkan ada seseorang yang mengira aku pembokat aja sampai sekarang aku masih ingat" jawab Bela.
"Apa? Kamu di kira pembokat? Siapa yang mengira kamu seperti itu Bel? Tega banget tuh orang, wong manis gini dikira pembokat?" tanya Reni.
Bela tersenyum sambil sesekali melirik Aril yang wajahnya sudah memerah karena malu.
"Adalah seorang cowok. Waktu itu dia datang ke rumah di Surabaya. Aku hidangin teh ke dia saat dia bertamu di rumah nah gara - gara itu aku dikira pembokat" ungkap Bela.
"Habis waktu itu mungkin wajah kamu kucel sih dek? Kamu kan kalau di rumah gak mau dandan makanya tamu itu mengira kamu pembokat" ujar Bimo.
"Iya benar itu, kalau di rumah luar biasa malesnya. Mandi aja harus diingatin" sambut Bu Akarsana.
"Ibuuuuu jangan buka aib orang ah... di depan orang ramai" ujar Bela malu.
Hahaha... ternyata kamu punya rahasia.. Entah mengapa aku senang sekali mendengarnya. Batin Aril.
"Bisa - bisa di kantor Aril nanti kamu dikira OB dek, karena kan tampang kamu emang pas" ejek Bimo.
"Iiiiiih Mas Bimo ikutin ledekin aku. Paaaak tolong aku, aku di bully... " teriak Bela manja kepada Pak Akarsana.
"Hahaha... makanya kamu juga harus berubah. Kalau nanti sudah bekerja harus bisa menyesuaikan. Jangan buat malu nak Aril nanti di kantornya" pesan Pak Akarsana.
"Nah tu Bel, udah enak kan setelah wisuda langsung dapat kerja" ujar Kinan.
"Tapi harus tetap hati - hati ya Bel.. dari awal aku udah ingatkan kalau Mas Aril itu playboy. Siap - siap aja kamu setiap hari akan punya banyak tamu wanita yang datang ke ruangannya" pesan Reni.
"Gak ada Ren, Mas gak pernah bawa - bawa urusan pribadi ke kantor. Lagian itu sudah masa lalu, Mas sudah tobat" sambut Aril.
"Aku gak percaya" balas Reni.
"Reeeen... jangan begitu sama Aril" ucap Bu Suci mengingatkan putrinya.
"Aah.. lega, aku bisa langsung bekerja setelah wisuda. Di tunggu ya Mas janjinya. Begitu aku wisuda aku bisa langsung kerja di kantornya Mas Aril" desak Bela.
"Iya Mas janji. Begitu kamu wisuda langsung antar aja lamaran ke kantor Mas. Nanti Mas akan bilang ke bagian HRD" jawab Aril sambil berjuang bersikap biasa saja padahal dalam hati sudah bersorak - sorak kesenangan.
Akhirnya setiap hari dia akan melihat surga. Ehm... mudah - mudahan awal yang baik.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG