
"Baik Bu Febri, saya akan pikirkan kembali itikad baik Ibu. Semoga kita bisa melewati semua masalah ini dengan baik Saya harap Anda jangan larut dari kehancuran. Bangkitlah, tunjukkan padanya kalau Anda wanita yang kuat dan dia akan menyesal sudah menyia-nyiakan wanita seperti Anda" sambut Refan.
"Saya akan bangkit Pak Refan, saya pastikan itu. Saya akan tunjukkan pada Arga kalau saya bisa hidup tanpa dia. Tapi boleh saya bertanya? Dimana sekarang anak Arga dan Renita?" tanya Febri.
"Maaf kalau itu saya tidak bisa kasih tau. Karena keselamatannya sangat harus di jaga. Yang jelas dia diasuh oleh orang yang benar - benar menyayanginya" jawab Refan.
"Baiklah Pak Refan saya mengerti. Secepatnya saya akan ambil alih Perusahaan dan saya akan mengelolanya sendiri. Saya juga akan benahi kerja sama perusahaan kita. Dan terakhir kita pasti akan bertemu di pengadilan" ujar Febri.
"Yah pasti, saya tidak akan melewatkan proses pengadilan. Saya ingin melihat Arga menerima semua hukuman yang setimpal dengan kejahatannya sambut Refan.
"Yah aku juga mengingkan begitu. Mudah - mudahan dia bisa sadar dengan semua dosa - dosanya. Harusnya dia bersyukur, Tuhan masih memberi dia waktu untuk bertaubat" balas Febri.
"Iya, Bu Febri benar" jawab Refan.
"Oke Pak Refan, kalau begitu sampai disini dulu kunjungan saya ini. Sembari proses hukum Arga berjalan, kita akan tetap melakukan perbaikan kerjasama. Senang bertemu dengan Anda" Febri berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Refan.
Refan juga ikut berdiri dan menyambut ukuran tangan Febri.
"Saya juga merasa senang mengenal Anda" balas Refan.
"Saya permisi Pak Refan, selamat pagi" ucap Febri pamit.
Refan tersenyum membalas ucapan perpisahan dari Febri.
"Pagi" jawab Refan.
Febri segera keluar dari ruangan kerja Refan. Refan menatap kepergian wanita itu sampai bayangannya pun hilang tak kelihatan lagi.
Gaya berpakaian Febri tidak jauh beda seperti Renita dulu. Memang lebih cantik dan lebih sexy. Tapi setelah Refan mengenal Kinan. Kecantikan wanita itu relatif penilaiannya.
Saat ini bagi Refan, Kinan lah wanita yang paling cantik menurut pandangannya dan yang pernah dia miliki. Tidak ada lagi wanita lain yang bisa mengalahkan Kinan.
Refan berulang kali mengucap syukur karena bisa mendapat istri secantik, sebaik dan sesolehah Kinan. Kini keluarga sudah sempurna, hidupnya sangat bahagia. Mempunyai istri yang istimewa dan banyak anak.
Bimo muncul ke ruangan Refan.
"Fan aku dengar berita tadi kalau masalah Arga sudah berkembang. Akhirnya kisah perselingkuhannya dan Renita terbongkar juga. Apa kamu sudah tau?" tanya Bimo.
__ADS_1
Refan menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah dengar Bim, dan aku juga sudah berbicara dengan Pengacara. Identitas Naila sementara aman, Pengacara berhasil menutupi informasi Naila. Tapi aku harus jaga ketat, jangan sampai informasi Naila terbongkar" jawab Refan.
"Syukurlah kalau kamu sudah mengetahuinya" sambut Bimo.
"Barusan istri Arga datang ke sini" ungkap Refan.
"Apa? Istri Arga Laksamana datang ke sini? Ke kantor ini Fan?" tanya Bimo tak percaya.
"Ya" sambut Refan.
"Ngapain Fan?" tanya Bimo penasaran.
"Dia meminta aku membatalkan somasi pada Perusahaannya. Dia juga bertanya apakah aku sudah mengetahui kisah perselingkuhan Suaminya dengan Renita" jawab Refan.
"Kamu sudah ceritakan semuanya Fan?" tanya Bimo.
"Ya.. aku sudah cerita semuanya. Hanya tinggal identitas Naila yang aku sembunyikan padanya" ungkap Refan.
"Syukurlah.. aku takut bukan hanya jiwa Naila saja yang terancam. Tapi anak - anak kamu yang lainnya juga" sambut Bimo.
Mereka diam sesaat dan sibuk dengan pikiran masing - masing.
"Kerjasama perusahaan ini dengan PT. ABC akan dilanjutkan. Kini PT. ABC sudah dikelola oleh Febri" ungkap Refan.
"Aku rasa lebih baik kita perbaiki surat perjanjian kerjasama Dan. Agar tidak terjadi hal seperti kemarin lagi. Untuk menghindari kerugian yang sangat besar lagi" sambut Bimo.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu. Nanti kita meeting dengan Pak Sitompul selaku Pengacara Perusahaan dan juga Ela. Biar sekalian dihitung keuntungan atau kerugian yang kita dapatkan dari kerjasama ini" tegas Refan.
"Aku rasa itu ide yang bagus" jawab Bimo.
Hari itu Refan bersama, Bimo, Ela dan Dini juga Pak Sitompul pengacara Perusahaan berdiskusi bersama tentang kerjasama Perusahaan Pak Reno yang akan kembali menjalin kerjasama dengan PT. ABC.
Refan dan Bimo memberikan ide berupa point - point yang penting dalam perjanjian kerjasama yang akan mereka jalin kembali. Dan semua sudah di catat oleh Pak Sitompul yang nanti akan di susun dan ditandatangani pada saat rapat dengan pihak PT. ABC.
"Apakah semua sudah cukup Pak Refan?" tanya Pak Sitompul.
__ADS_1
"Saya rasa semua sudah cukup Pak Sitompul" jawab Refan.
"Baiklah, mudah - mudahan kerja sama perusahaan kali ini bisa terjalin dengan baik dan keduanya sama - sama mendapatkan keuntungan" sambut Pak Sitompul.
"Aamiin" jawab Refan dan yang lainnya.
Tanpa terasa rapat dadakan itu berlangsung sampai sore hari.
"Aku rasa pertemuan ini kita sudahi sampai disini saja. Sudah sore, sudah waktunya pulang. Saya dan Bimo harus segera sampai rumah" ujar Refan jujur.
Sebelum masalah Arga Laksamana selesai. Refan tidak bisa berlama - lama pulang dari kantor karena dia sangat mengkhawatirkan keluarganya.
Apalagi saat ini anak dia sudah empat, tak mungkin hanya Kinan dan Mamanya saja yang menjaga anak - anaknya. Mereka juga membutuhkan keberadaan dan perhatian dari Refan.
Refan dan yang lainnya bersiap - siap untuk pulang.
"Kita lanjutkan lagi besok sembari menunggu kabar berita perkembangan masalah Arga Laksamana. Nanti kalau sidangnya sudah dimulai, kita akan sering bertemu dengan Febri istrinya Arga" ujar Refan pada Pak Sitompul.
"Iya Pak, dari pantauan saya dia adalah wanita yang baik. Mungkin karena cintanya yang begitu dalam pada suaminya membuatnya dengan mudah dipermainkan seperti itu oleh Arga Laksamana" sambut Pak Sitompul.
"Aku pernah berada di posisinya. Dan aku tau bagaimana rasanya dikhianati. Aku berharap dia akan tetap kuat" jawab Refan.
"Sepertinya dia memang wanita yang kuat Pak. Buktinya setelah dia mengetahui semua kebusukan suaminya dia tidak tinggal diam, mengurung diri dan menangis di kamarnya. Tapi dia bergerak mengurus Perusahaan yang selama ini telah dikuasai dan dikelola oleh Arga" sambut Bimo.
"Tentu saja Pak Bimo. Dia pasti tidak mau harta kekayaan keluarganya bocor dan dikuasai oleh pengkhianat yang tak lain adalah suaminya sendiri" ujar Pak Sitompul.
"Arga memang laki - laki brengse* , tidak pernah bersyukur dan egois. Tidak pernah memikirkan dampak buruk dari apa yang telah dia lakukan" umpat Bimo.
"Belum lagi dosa yang telah dilakukan dan takdir buruk yang akan di tanggung oleh anaknya karena perbuatannya" sambung Refan.
"Inilah saatnya dia membayar semua kejahatannya Pak Refan.. Dia akan hancur kali ini" tegas Pak Sitompul.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Para readers jangan kecewa dan harap maklum ya.. saya agak repot akhir - akhir ini. Terimakasih kalian masih setia mendukung dan membaca novel saya ini.
I Love you all