
Hari ini hari pertama Kinan bekerja setelah mereka menikah. Ini adalah hari pertama dia meninggalkan Salman dan Naila di rumah. Kemarin beberapa hari dia mengambil cuti untuk mengurus Naila setelah pemulihan dari Rumah Sakit.
Kini Naila sudah terlihat semakin segar dan sehat. Kinan memutuskan meminta izin suaminya untuk berangkat ke kantor hari ini.
Pagi - pagi sekali Kinan sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Nasi goreng adalah menu andalannya dulu saat menikah bersama Bima suami pertamanya.
Makanan ini juga yang menjadi favorit Salman dan Bima hampir setiap pagi. Selain praktis Kinan memang suka memanjakan lidah suami dan anaknya dulu.
Kini Kinan mencoba masakan itu, berharap mudah - mudahan Refan juga menyukainya. Setelah selesai memasak sarapan pagi Kinan menyuruh Bik Mar untuk menyiapkan meja dan menyajikan makanan di atasnya.
Kinan beranjak ke kamar untuk memandikan Salman sebelum dia berangkat ke kantor. Setelah itu Kinan mengintip ke kamar Refan. Sepertinya Refan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor juga.
Tok.. tok.. tok..
"Mas boleh aku masuk, aku mau lihat Naila" ucap Kinan dari balik pintu kamar penghubung.
"Ya masuk" jawab Refan.
Refan sedang membolak - balikkan dasinya. Memasang dasi inilah masalah utamanya setiap pagi. Biasanya istrinya Renita yang selalu memasangkan dasinya setiap pagi dulu sebelum dia meninggal. Kemudian sebulan belakangan ini Refan memakai dasi yang siap pakai. Itupun karena dia meminta Mamanya untuk membelikannya.
Pagi ini entah mengapa dia ingin sekali memakai dasi kesayangannya yang di beli Renita sebagai hadiah ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu.
Kinan melihat wajah dan kening Refan mengkerut dan sibuk memutar - mutar dasinya tapi tak kunjung selesai.
"Kenapa Mas, sulit masang dasinya? Sini aku pasangkan" pinta Kinan.
Refan melirik Kinan dari pantulan cermin dan akhirnya dia menyerah. Refan memberikan dasinya kepada Kinan.
Tinggi Refan dan Kinan tidak terlalu jauh sehingga Refan tidak perlu menunduk untuk dipasangkan dasi. Itu karena memang tubuh Kinan lebih tinggi dari Renita.
Dulu setiap Renita ingin memasangkan dasi untuk Refan, Renita pasti harus naik ke bangku kecil yang terbuat dari kayu yang kini di simpan di bawah tempat tidur.
Kinan memasangkan dasi di leher Refan dengan serius sementara Refan yang awalnya merasa canggung tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Kinan.
Baru kali ini dia memperhatikan wajah Kinan dari dekat. Wajahnya yang mulus walau kulitnya tak seputih Renita, hidungnya mancung, bibirnya mungil dan alis matanya tebal dan tersusun rapi tanpa ada bekas cukuran.
Beda dengan Renita yang selalu mencukur alisnya setelah itu setiap dia handak pergi Renita pasti akan melukis alisnya.
__ADS_1
Refan memperhatikan wajah Kinan yang sedang sibuk memasangkan dasi di lehernya. Sangkin seriusnya sedikitpun Kinan melirik ke wajah Refan.
Untuk sesaat Refan sudah berhasil meneliti secara rinci bentuk wajah Kinan dan merekamnya dalam ingatannya.
"Nah sudah rapi Mas. Sudah selesai" ucap Kinan sambil tersenyum.
Kinan langsung berbalik ke arah box Naila dan mengangkat Naila. Dia langsung menggendong Naila sambil memberinya botol susu.
"Sudah selesai Mas? Sarapan yuk" ajak Kinan.
"Iya duluan aja, aku mau mengambil beberapa barangku sebentar" jawab Refan yang masih sibuk mengatasi kegugupannya karena interaksi mereka tadi yang terlalu dekat.
Kinan keluar kamar dari pintu penghubung dan setelah itu keluar dari kamarnya menuju meja makan. Disana sudah duduk Salman dengan rapi, wangi dan ganteng karena baru saja selesai mandi.
"Pagi ini anak Mama makannya suap sendiri ya. Mama lagi gendong adik bayi" ucap Kinan pada putranya.
"Oke Mama. Adik bayi mau makan juga gak, sini biar kakak suapin" ucap Salman.
"Adik bayinya belum boleh makan sayang.. Adiknya masih terlalu kecil, dia cuma bisa minum susu aja dari dodot" jawab Kinan.
"Gitu ya Ma..? Kalau begitu Kakak makan sendiri aja ya deek" balas Salman.
"Anak pintaaaar" puji Kinan.
Refan memperhatikan cara Kinan mengurus putranya dan juga anak Refan yang kini juga sudah menjadi anak Kinan. Tidak ada wajah terpaksa ataupun lelah. Dengan senyum tulus, sabar dan penuh kasih sayang Kinan mengasuh keduanya.
Tidak ada perbedaan antara anak kandung dengan anak tiri. Harusnya Refan bersyukur atas hal itu.
Refan duduk tepat di depan Kinan. Kinan menitipkan Naila kepada Bik Nah dan dia mulai menyiapkan sarapan Refan. Kinan mengambilkan nasi goreng ke piring Refan.
"Cukup segini Mas?" tanya Kinan.
"Sudah cukup" jawab Refan.
"Pakai telur?" tanya Kinan menawarkan.
"Iya" balas Refan.
__ADS_1
Kinan menyajikan nasi goreng lengkap di piring Refan tak lupa juga secangkir kopi buatan Kinan. Kinan sudah bertanya sebelumnya pada Bik Mar apa kebiasaan Refan pagi hari.
Menurut informasi dari Bik Mar, soal makanan Refan tidak rewel. Makanan apa saja yang disajikan dia akan memaknnya hanya saja setiap paginya Refan pasti akan minta disediakan kopi panas.
Kinan juga sudah belajar takaran kopi Refan dari Bik Mar. Pagi ini dia menyiapkan semuanya. Semoga Refan suka, harapan Kinan.
Mereka mulai menikmati makanan yang tersaji di hadapan mereka.
"Bik nasi gorengnya kok beda dari biasanya ya. Siapa yang buat?" tanya Refan pada Bik Mar.
Sebelum menjawab Bik Mar melirik Kinan terlebih dahulu.
"Bibik Den pakai resep baru. Kenapa Den gak enak?" tanya Bik Mar.
"Enak, lebih enak ini dari yang biasa. Besok - besok buat yang seperti ini saja ya Bik" pesan Refan.
"Baik Den" jawab Bik Mar tersenyum sambil melirik Kinan tapi Kinan masih sibuk makan sambil memperhatikan Salman makan.
"Mas... hari ini aku mulai ke kantor ya. Cutiku sudah selesai" ucap Kinan.
"Ya sudah kamu kerja saja. Biar Naila dan Salman di jaga sama Bik Nah dan Bik Mar di rumah" jawab Refan.
"Iya makasih Mas" balas Kinan.
"Ngapain makasih? sebelum kita menikah kamu kan memang sudah bekerja dan aku tidak mempunyai hak untuk melarang kamu. Lagian kerja kamu di kantor itu kan memang tanggung jawab kamu jadi harus dilaksankan. Aku tidak masalah kalau Naila di tinggal. Sebelumnya juga dia sudah seperti itu" jawab Refan dingin.
Kinan terdiam, bingung harus berkata apa lagi. Apa maksud dari perkataan Refan? Apakah ada atau tidak ada Kinan di rumah ini tidak ada masalah bagi dia dan putrinya? batin Kinan.
Refan selesai menyantap sarapannya kemudian dia meminum kopi yang tersedia.
Sruuuup..... aaaah..
"Aku rasa Bik Mar tadi malam saat tidur mimpi indah ya... Semua hidangan Bibik pagi ini rasanya lebih enak dari biasanya" ucap Refan sambil berdiri meninggalkan meja makan.
Bik Mar menatap wajah Kinan yang sepertinya sedang melamun dan memikirkan sesuatu.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG