
Refan dan Kinan sudah sampai di rumah mereka. Kini mereka sedang istirahat di kamar. Salman masuk ke dalam kamar mereka.
"Papa.. Mama.. kata Oma sebentar lagi aku akan punya adek lagi ya?" tanya Salman.
"Iya sayang" jawab Refan.
"Apa adeknya kayak adek Naila?" tanya Salman ingin tau.
"Belum tau sayang" jawab Kinan sambil merapikan rambut Salman dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa belum tau?" Salman bertanya lagi.
"Karena adeknya masih terlalu kecil di perut Mama" ucap Refan menjelaskan.
Salman mengelus perut Mamanya.
" Terus kapan donk Salman bisa tau adek Salman itu perempuan atau laki - laki?" tanya Salman lagi.
"Sabar ya beberapa bulan lagi Kak Salman baru bisa tau adeknya seperti Adek Naila atau seperti Kak Salman" jawab Kinan.
"Mama.. mama.. aku mau deh masuk ke perut Mama. Aku mau ketemu adek" ujar Salman.
Sontak Kinan dan Refan saling pandang. Refan tertawa mendengar pemikiran Salman yang diluar aspektasi.
Refan mengelus rambut Salman lembut.
"Kalau sudah keluar dari perut Mama gak bisa donk Nak masuk lagi. Lagian kalau Kak Salman masuk ke dalam perut Mama lagi nanti adeknya kesempitan. Kak Salman harus sabar ya, nanti kalau adeknya sudah besar diperut Mama baru adeknya bisa lahir" jawab Refan.
"Gitu ya Pa? Kalau begitu Mama harus makan yang banyak biar adeknya cepat besar" komentar Salam.
"Iya nanti Mama makan yang banyak ya" Kinan tersenyum lembut kepada putranya.
"Sekarang Kak Salmannya keluar dulu ya main - main sama Opa. Mamanya mau istirahat sayang, kasihan Mamanya masih lemas" perintah Refan.
"Oke Papa.. aku keluar ya. Mau main dulu" Salman turun dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar Papa dan Mamanya.
Refan berbaring disamping Kinan.
"Kamu masih pusing?" tanya Kinan.
"Sudah nggak Mas" jawab Kinan.
"Ya sudah tidur gih biar nanti lebih segar" suruh Refan.
"Tapi aku mau dipeluk" pinta Kinan.
Refan tersenyum lalu merapatkan tubuhnya ke tubuh Kinan kemudian menarik Kinan dengan lembut dan memeluknya.
"Pantas saja beberapa hari kita di Bali sikap kamu aneh. Bawaannya manja terus. Apa anak kita nanti perempuan ya" ujar Refan sambil mengelus perut istrinya.
__ADS_1
Kinan tidak menjawab, dia meletakkan kepalanya tepat di dada Refan. Rasanya sangat nyaman sekali.
"Pantas saja beberapa hari ini aku gampang capek Mas" ujar Kinan.
"Dan moodyan banget ya... pengen makan bakso eeh tiba - tiba gak jadi habis itu ngambek dan nangis lagi karena minta gendong" sambut Refan.
"Mas pasti kesal banget ya ngadepin aku" ujar Kinan.
"Nggak sayang.. ngapain Mas cuma merasa aneh aja. Kamu kan biasanya gak gitu. Biasanya pacar Mas ini kan selalu baik hati, ramah tamah dan gemar menabung" goda Refan.
Kinan memejamkan matanya.
"Besok kita ke dokter ya.. Aku ingin memastikan apakah anakku di dalam sini baik - baik saja" ujar Refan sambil mengelus perut Kinan.
Kinan tidak menjawab kata - kata Refan. Refan penasaran dan melirik ke arah istrinya. Ternyata Kinan sudah tidur. Refan membuat posisi Kinan senyaman mungkin di dalam pelukannya.
"Kamu tau sayang, aku rela seluruh badan aku kaku dan kesemutan asalkan kamu dan anak aku nyaman tidurnya. Terimakasih kamu sudah memberikan aku sesuatu yang terindah dalam hidup ini. Rasanya aku sangat bahagiaaa sekali" gumam Refan sambil mengecuk kening Kinan.
Refan memejamkan matanya dan ikut terlelap sambil memeluk Kinan. Satu jam kemudian Refan terbangun karena sesuatu yang bergejolak di perutnya. Pelan - pelan Refan menggeser tubuh Kinan dan melepaskan tubuh Kinan dari pelukannya setelah itu Refan segera turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
"ueeek... ueeeekkk.. " Refan muntah.
Kinan yang sedang tertidur terbangun karena mendengar suara Refan di kamar mandi. Dia turun dari tempat tidur dan menghampiri Refan yang ada di kamar mandi.
"Maaaas... " panggil Kinan.
"Hemm.. " sahut Refan.
Refan segera membersihkan mulutnya.
"Gak usah Nan.. biar aku sendiri aja gak apa - apa kok. Aku bisa" jawab Refan.
Gejolak kedua datang lagi
"Ueeek... ueeeeek.... " perut Refan rasanya diaduk - aduk.
"Maaas buka aja biar aku pijitin" Kinan kembali mengetuk pintu kamar mandi.
"Jangan.. nanti kamu jijik lihat aku" sambut Refan.
Kinan mencari minyak angin di kamarnya tapi tidak dia temukan. Akhirnya dia keluar dan hendak mencari minyak angin atau minyak telon di kamar Salman.
"Kamu cari apa Nan?" tanya suci.
"Minyak angin Ma" jawab Kinan.
"Untuk apa?" tanya Suci penasaran.
"Mas Refan muntah - muntah Ma.. Masuk anginnya kumat" jawab Kinan.
__ADS_1
Suci mengikuti Kinan ke dalam kamarnya. Mereka melihat Refan sangat lemas keluar dari kamar mandi.
"Masih mual Mas?" tanya Kinan kasihan melihat suaminya.
"Udah keluar semua... " jawab Refan. Dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Masuk angin lagi?" tanya Kinan.
"Iya kok gak sembuh ya padahal kan kemarin udah minum obat" ucap Refan.
"Ya gak sembuh lah.. itu kan bukan masuk angin tapi kamu mabuk darat" potong Suci.
"Mabuk darat gimana Ma?" tanya Kinan.
"Mabuk karena kamu hamil" jawab Suci.
"Aku yang hamil kok Mas Refan yang mabuk?" tanya Kinan tak mengerti.
"Dulu waktu Mama hamil juga seperti itu. Mama dan Papa bagi tugas. Yang hamil Mama yang mabuk Papa. Mama yakin Refan juga mengalami hal serupa seperti Papanya" ujar Suci menjelaskan.
"Pantas saja aku tidak tau kalau aku hamil. Dulu waktu hamil Salman aku mabuk Ma bahkan parah sampai masuk rumah sakit. Tapi kehamilan aku kali ini kok beda sampai aku sendiri tidak sadar kalau aku hamil. Hanya saja memang aku merasa aneh belakangan ini gampang banget capek dan emosiku naik turun" ungkap Kinan.
"Refan juga tidak tau hal ini karena ini memang pertama untuknya. Dulu saat Renita hamil dia tidak merasakan apapun karena ternyata Renita hamil bukan anak dari Refan tapi orang lain. Sekarang baru Refan merasakannya. Jadi Refan nikmatilah tiga bulan kehamilan Kinan ini dengan ikhlas dan sabar ya.. Biar kamu tau gimana perjuangan seorang wanita yang sedang mengandung anak kamu. Lagian Mama sangat setuju akan hal itu. Seandainya saja semua pria mengalami hal yang sama seperti kamu Mama yakin pasti pria - pria hidung belang diluar sana akan berpikir keras untuk tidak menabur benih mereka sembarangan" ujar Suci.
"Ada obatnya gak Ma?" tanya Refan.
"Kamu baru mabuk dua hari Fan udah tanya obat. Yang namanya mabuk hamil itu obatnya cuma sabar" jawab Suci sambil tersenyum menggoda Refan.
"Mamaaaa... " protes Refan.
"Hahaha... kapan kalian rencana mau ke Dokter?" tanya Suci.
"Besok Ma" jawab Kinan.
"Ya sudah besok tanya sama Dokter dan minta obat pereda mual. Karena yang mual itu Refan jadi kamu boleh minum obat kalau wanita hamil gak bisa minum obat sembaranhan" ungkap Suci.
"Kalau begitu kita ke Dokternya nanti malam aja ya yank habis maghrib" anak Refan.
Kinan dan Suci tertawa mendengar perkataan Refan. Sepertinya Refan memang benar - benar merasa tersakiti karena kehamilan Kinan.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers.. mana suaranya???
Jangan lupa like, vote, koment dan hadiah dari kalian ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sungguh sangat berati.
Terimakasih