Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 85


__ADS_3

"Fan Mama yakin Naila bukan anak kamu. Dari golongan darahnya aja udah bisa kita simpulkan" ujad Suci.


Refan terdiam menatap lantai rumah sakit. Sedangkan Naila sudah mulai berhenti menangis.


"Ren bisa minta tolong buatkan susu Naila" pinta Kinan.


"Bisa Mbak" jawab Reni.


Reni segera membuatkan susu Naila di dalam. botol susu kemudian memberikannya kepada Kinan. Kinan segera memberikannya kepada Naila. Dengan lahapnya Naila langsung mengisapnya.


"Tadi Mama menyuruh tes DNA agar si Talita tidak bisa berkata - kata lagi. Karena kalau hanya dari golongan darah Mama yakin dia pasti tidak akan terima kalau Naila bukan anak kamu" sambung Suci.


Refan masih tetap diam, jiwanya benar - benar terguncang atas kejadian tadi.


"Dan kamu harus kawal pemeriksaan DNA Naila. Mama takut Talita melakukan sesuatu pada hasil pemeriksaannya. Kamu gak lihat tadi dia begitu tidak terima kalau Naila bukan anak kamu. Dia juga ngotot kalau seandainya Naila bukan anak kamu itu artinya Naila juga bukan anak Renita. Cih... dia gak tau kemungkinan Renita selingkuh itu besar karena dulu dia kan sering pergi ke luar kota sama Bosnya" ujar Suci.


"Mama.... " bentak Refan.


Suci langsung terdiam, sepertinya Refan tersinggung.


"Mama... Mama juga tolong tinggalkan rumah sakit ini. Biar aku dan Kinan aja yang jagain Naila" pinta Refan lemah.


Suci menatap wajah Kinan. Kinan menganggukkan kepalanya memberi isyarat agar Suci membiarkan mereka berdua saja yang menjaga Naila. Kinan yakin saat ini Refan pasti sangat shock karena mengetahui kenyataan putrinya yang sepertinya memang bukan anak kandungnya.


"Ya sudah kalau begitu Mama pulang saja" ucap Suci kesal.


"Mama maaf.. aku benar - benar butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini. Tolong Mama mengerti perasaanku saat ini" ujar Refan.


Suci dan Reni berpamitan kepada Kinan dan Refan. Mereka juga mengecup lembut pipi Naila yang sudah mulai mengantuk dalam gendongan Kinan.


"Mama pulang ya, Assalamu'alaikum" ujar Suci.

__ADS_1


"Kak, Mbak Kinan kami pulang ya" sambut Reni.


"Iya Ren hati - hati ya" jawab Kinan.


Suci dan Reni segera meninggalkan ruangan rawat inap Naila. Refan tampak bersandar di sofa. Matanya terpejam, tapi Kinan sangat yakin dia tidak tertidur.


Naila perlahan - lahan mulai terlelap, dan Kinan meletakkannya kembali di atas tempat tidur. Setelah Naila sudah tidur dengan nyenyak Kinan mendekati Refan.


Kinan duduk tepat di samping Refan dan meraih tanggan Refan kemudian menggenggamnya.


"Maaaas" panggil Kinan.


Refan membuka matanya dan menatap ke arah Kinan.


"Mas tolong berjanjilah padaku" ujar Kinan.


"Berjanji apa Nan?" tanya Refan pelan.


"Kamu benar - benar menyayanginya?" tanya Refan lembut.


Kinan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas, sejak pandangan pertama aku sudah langsung menyayanginya. Aku tidak perduli dia anak siapa. Aku akan tetap menjadi Mamanya" jawab Kinan.


Refan membalas genggaman tangan Kinan. Wanita ini memang sungguh berhati mulia. Dia benar - benar menyayangi Naila tulus tak perduli siapapun orang tua Naila. Tapi apakah aku bisa seperti dia? Menyayangi Naila dengan tulus sementara disatu sisi hatiku sangat sakit. Kalau Naila bukan anakku itu artinya Renita sudah mengkhianatiku. Dan setiap aku melihat wajah Naila bisakah aku melupakan semua perbuatan Renita yang telah membohongiku.


Tiba - tiba Refan teringat akan mimpinya beberapa hari yang lalu.


"Nan apakah ini arti dari mimpiku beberapa hari yang lalu?" tanya Refan.


"Mimpi yang mana Mas?" tanya Kinan penasaran.

__ADS_1


"Mimpi yang aku ceritakan pada kamu waktu kita tidur siang. Dalam mimpi itu aku bertemu dengan Renita di sebuat taman yang indah. Renita memakai pakaian serba putih duduk di taman sambil menangis. Aku menghampirinya dan dia meminta maaf kepadaku. Apa arti permintaan maafnya? Apakah dia ingin meminta maaf karena Naila bukan anakku. Oh ya Tuhaaaaaan.... aku semakin yakin jadinya" Refan mengacak rambutnya sendiri dan menarik - nariknya.


"Maaaas jangan terlalu cepat menarik kesimpulan" cegah Kinan mengingatkan.


"Setelah itu dia berkata titip anakku. Mengapa dia mengatakan titip anaknya, bukan anak kita? Apakah itu artinya Naila memang anaknya tapi bukan anakku?" Refan semakin frustasi menyadari apa arti mimpinya.


Kinan kembali menggenggam tangan Refan mencoba memenangkan Refan.


"Tega sekali Renita membohongiku selama ini? Dulu di awal pernikahan aku ingin kami segera memiliki anak tapi dia menolaknya. Dia meminum pil KB karena alasan masih ingin berkarir dan belum siap direpotkan oleh anak. Aku menerimanya begitu saja. Hingga dua tahun pernikahan kami aku mulai resah karena keluargaku selalu menanyakan tentang anak kepadaku apalagi saat itu keluarga sering membandingkan pernikahan kamu dengan pernikahanku. Saat ini aku dengar dari keluargaku kalau kamu sudah menikah dan sedang hamil Salman" ungkap Refan.


Oh ternyata seperti itu kejadiannya Mas? tanya Kinan dalam hati.


"Akhirnya Renita mau menghentikan minum pil KBnya tapi setahun setelah itu hasilnya tetap sama. Dia tak kunjung hamil. Akhirnya aku dan dia memutuskan untuk memeriksakan diri kami ke dokter kandungan. Hasilnya aku normal, sehat dan subur. Hanya Renita yang sedikit terganggu mungkin karena pengaruh pil KB yang dia minum sudah sampai beberapa tahun" sambut Refan.


Kinan masih mendengarkannya dengan tenang sambil tetap menggenggam tangan Refan untuk memberi kekuatan dan semangat kepada Refan.


"Hingga satu tahun kemudian tepat di usia pernikahan kami empat tahun Renita hamil. Aku sangat senang sekali akhirnya perjuangan kami membuahkan hasil. Renita hamil menggugurkan tuduhan orang - orang bahwa dia mandul dan tidak sehat. Aku fikir semua baik - baik saja dan berjalan sebagaimana semestinya. Tapi... oh Tuhan apa yang telah kamu lakukan Renita... mengapa kamu setega ini padaku. Bertahun - tahun aku memimpikan mempunyai anak, kamu juga sangat tau bagaimana bahagianya aku saat mengetahui kalau kamu hamil. Kita menjalaninya dengan bahagia selama sembilan bulan kamu hamil" Mata Refan mulai basah dan tanpa sadar dia menangis.


"Maaaaas... jangan seperti ini. Mas harus kuat, Mas tidak boleh lemah. Belum tentu juga apa yang terjadi. Jangan berburuk sangka dulu. Hasilnya belum keluar, sebelum semuanya jelas. Mas tidak boleh berpikiran buruk terhadap almarhumah Renita. Bagaimanapun juga dia adalah istri Mas. Wanita yang sangat Mas cintai selama bertahun - tahun" ujar Kinan.


"Tapi hatiku mengatakan seperti itu Nan. Perasaanku menolaknya dan mengatakan kalau memang seperti itulah yang terjadi. Apakah.. apakah... aku yang salah dalam hal ini sehingga Renita melakukannya pada orang lain? Karena desakanku untuk mempunyai anak dan dia tak kunjung hamil sehingga dia melakukannya dengan orang lain?" tanya Refan.


Sontak mata Refan melotot memikirkan kemungkinan baru yang terjadi. Sungguh hal itu begitu saja terbesit di pikirannya dan dengan spontan keluar dari mulutnya.


"Ya Tuhaaaaan..... "


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2