
"Apa Pa, Naila masuk Rumah Sakit?"ucap Refan lewat teleponnya.
Sontak Kinan dan yang lainnya terkejut mendengar kabar berita itu.
"Iya Fan, seminggu ini dia rewel terus mungkin masih teringat kalian dan tidak kuat minum susunya" jawab Reno.
"Di Rumah Sakit mana Pa Naila di rawat?" tanya Refan.
"Rumah sakit Ibu dan Anak Fan. Dia nangis terus sampai Mama kewalahan menenangkannya" ungkap Reno.
"Baik .. baik.. Pa, kalau begitu kami akan kesana sebentar lagi" balas Refan.
"Terimakasih ya Fan" ucap Reno tulus.
"Sama - sama Pa, terimakasih juga Papa udah mau kasih kabar" jawab Refan.
"Ya sudah Papa tutup dulu ya Fan. Assalamu'alaikum" Reno mengakhiri teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" Refan menutup teleponnya.
Semua mata kini menatap Refan.
"Naila sakit Mas?" tanya Kinan.
Refan menghela nafas panjang.
"Iya kata Papa Reno selama sepekan ini Naila rewel dan gak mau minum susu" jawab Refan.
"Kasihannya.. dia pasti kangen sama kalian" sambut Dhisti.
"Pasti si Talita gak becus jagan cucu" omel Suci.
"Ma.. " ucap Refan mengingatkan Mamanya.
"Fan.. perasaan bayi itu peka. Dia bisa merasakan mana orang yang tulus menjaganya atau terpaksa. Talita kan pernah punya anak, masak dia gak bisa sih ngurus satu orang bayi. Apalagi bayi itu cucu dari anaknya yang sudah meninggal. Kalau Mama jadi dia sudah pasti Mama akan jaga baik - baik Naila dengan sepenuh hati karena hanya tinggal dia lah harapan Mama sebagai penerus keluarga " omel Suci.
Sebenarnya ucapan Mamanya itu memang benar. Satu bulan yang lalu hanya gara - gara sehari Naila di rumah orang tua Renita Naila langsung sakit dan masuk Rumah Sakit.
Hal inilah yang sangat mereka takutkan. Naila akan sakit kembali tapi.. tak mungkin kalau Naila mereka asuh. Pak Reno pasti tidak akan mengizinkan.
"Nan setelah makan siang kita ke rumah sakit ya" ajak Refan.
__ADS_1
"Iya Mas" Kinan langsung mempercepat makannya.
"Santai aja Nan, Naila kan udah di rawat dokter di sana" ucap Suci.
"Iya Ma" balas Kinan pada mertuanya.
Refan dan Kinan sengaja mempercepat makan mereka setelah itu mereka segera bergegas ke mobil dan mobil melaju menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung masuk ke ruang rawat inap Naila. Begitu melihat Kinan dan Refan datang mata Naila terus menangis sambil menatap ke arah mereka.
Seolah - olah minta untuk di gendong. Dan sepertinya Naila memang kehilangan mereka. Kinan langsung menghampiri Naila dan menggendongnya.
Kinan meneteskan air mata tak tega melihat keadaan Naila seperti ini. Tubuhnya tampak kurus padahal mereka baru satu minggu tidak bertemu.
"Sayaaaang.. kenapa sakit nak" sapa Kinan lemah lembut.
Perlahan tangis Naila reda. Refan segera meraih botol susunya dan membuatkan susu Naila setelah itu memberikannya kepada Naila.
Naila meminumnya dengan lahap sampai botol susu kosong. Setelah dia kenyang perlahan - lahan matanya meredup. Sebentar saja Naila sudah tertidur dalam pelukan Kinan.
Reno menyaksikan aksi Refan dan Kinan saat itu. Dia mengakui kalau Kinan dan Refan benar - benar tulus menyayangi cucunya. Tapi dia sangat malu untuk menitipkan Naila kepada mereka.
Apalagi Reno memang sudah tidak memiliki penerus lagi. Tidak mungkin Naila di asuh oleh Refan dan istrinya. Biarlah selama Naila di rawat di Rumah Sakit ini Refan datang untuk menjenguknya.
Pelan - pelan Kinan menarik jilbabnya dan melepaskannya dari tangan Naila hingga akhirnya terlepas karena Naila sudah sangat nyenyak tidurnya.
"Naila sakit apa Pa?" tanya Refan keadaan Reno.
"Kata dokter dehidrasi, kurang cairan Fan. Dia memang sangat sedikit sekali minum susu. Baru tadi saat kalian kasih susu dia mau meminumnya sampai habis" jawab Reno sendu.
"Maaf Bu bukan maksud aku menggurui. Apakah takarannya sudah sesuai dengan petunjuk?" tanya Kinan.
"Sudah" akhirnya Talita bersuara.
"Apa mungkin dia sariawan ya makanya gak mau minum susu?" tanya Kinan.
"Sudah diperiksa Dokter, tidak ada apa - apa di dalam mulut dan tenggorokannya" jawab Reno.
"Kasihaaaaan... " Kinan membelai lembut rambut Naila.
"Mungkin dia merindukan kalian" ujar Reno.
__ADS_1
Refan dan Kinan saling pandang.
"Sebenarnya kami juga merindukannya tapi ini semua memang harus kita jalani. Karena kita sudah sepakat kan Pa bahwa Naila kalian yang asuh. Makanya untuk menutupi rasa kehilangan kami, kami segera pindah ke rumah baru agar kami tidak teringat terus pada Naila" ungkap Refan.
"Iya, pantas saja tadi Papa ke rumah kamu, rumahnya kosong tidak ada orang di sana" ujar Reno.
"Kami baru pindah pagi ini Pa, orang tua saya dan orang tua Kinan masih ada di rumah menemani kami pindahan. Malam ini rencananya kami juga akan mengundang para sahabat untuk acara syukuran masuk rumah baru tapi seperti kami batalkan saja karena Naila masuk rumah sakit" ungkap Refan.
"Maaf Fan jadi merepotkan kalian" sambut Reno.
"Tidak apa Pa. Kalau ada apa - apa dengan Naila jangan sungkan untuk mengabari kami. Kami juga orang tuanya Naila juga" tegas Refan.
"Iya Fan, makanya Papa segera menghubungi kalian. Papa khawatir Naila terus tidak mau minum susu. Lama kelamaan nanti tubuhnya akan melemah" sambung Refan.
"Benar, bisa berbahaya untuk Naila. Dia masih terlalu kecil. Jangan sampai dia kekurangan gizi" ucap Kinan.
Talita tampak sedang mencari kesibukan dengan menyusun barang - barang Naila yang berserakan.
"Mungkin Naila belum terbiasa. Butuh waktu untuk beradaptasi" sambut Refan.
"Iya, Papa juga berfikiran demikian" jawab Reno.
Refan dan Kinan akhirnya sampai malam di rumah sakit karena setiap Naila terbangun dia maunya di gendong Kinan terus kalau tidak akan terus menangis.
Dan selama Kinan dan Refan bersamanya Naila sangat kuat minum susunya. Membuat kondisinya semakin kuat. Tidak begitu lemas lagi seperti pertama mereka bertemu tadi.
"Gimana kita?" tanya Refan kepada Kinan sambil berbisik.
"Naila belum mau tidur Mas, dia sepertinya takut di tinggalkan" jawab Kinan.
Refan dan Kinan mulai resah, karena mereka sudah terlalu lama di rumah sakit. Talita melihat keresahan mereka dan mempunyai firasat kalau Refan dan Kinan hendak pulang.
Talita terlihat sangat panik dan resah. Bagaimana nanti kalau mereka pulang? Saat Naila bangun dan tidak melihat Kinan dia pasti akan menangis lagi. Apa yang bisa aku lakukan pada cucuku? Batin Talita.
Talita segera menghampiri Refan dan Kinan. Dia berdiri tepat dihadapan Refan dan Kinan kemudian bersimpuh di hadapan mereka.
Sontak sikap Talita ini membuat Refan dan Kinan terkejut begitu juga dengan Reno.
"Maafkan Mama Fan... maafkan Ibu Nan"...
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG