
Keesokan harinya Refan sudah mengatur pertemuan dengan pengacarnya dan Bimo. Refan sudah mengirimkan pesan kepada Bimo alamat kantor pengacara dan jam pertemuan mereka.
Jam sepuluh pagi mereka sudah sampai di kantor pengacara kepercayaan Refan.
"Silahkan duduk Pak Bimo" ucap sang Pengacara.
Bimo duduk di sofa tepat di hadapan Refan. Refan sudah lebih dahulu sampai di kantor pengacara lima menit sebelum Bimo tiba.
"Pak Refan sudah menceritakan kepada saya mengenai kecelakaan yang dialami oleh almarhum suami pertama dari istrinya Pak Refan sekarang. Kejadian itu sekitar lebih satu tahun yang lalu. Beliau mengatakan kalau ada indikasi pembunuhan dalam kecelakaan yang menimpa Bapak Bima Akarsana yang tak lain adalah saudara kembar Bapak?" tanya sang Pengacara.
"Ya benar. Semua yang Refan katakan adalah benar" jawab Bimo.
"Apa yang membuat Bapak sangat yakin kalau kecelakaan yang dialami oleh saudara kembar Bapak adalah sebuah pembunuhan?" tanya Pengacara.
"Saya sangat yakin karena sebenarnya target pembubuh itu adalah saya. Sebelumnya saya sudah mereka kejar karena masalah pribadi saya dengan istri saya" jawab Bimo.
"Bisa Bapak jelaskan secara rinci apa yang Bapak alami? Agar saya bisa menarik benang kusut dalam permasalahan ini" pinta Pengacara.
"Saya menikah dengan istri saya sepuluh tahun yang lalu. Kami menikah dan bahagia, kehidupan kami juga semakin mapan tetapkan selama hampir sembilan tahun pernikahan kami, kami tidak mempunyai keturunan. Walau kami sudah melakukan banyak cara dan menjalani berbagai pengobatan tapi istri saya tidak kunjung hamil. Pernikahan kami hampir memasuki tahun ke sembilan, saat itu mobil istri saya sedang masuk bengkel jadi istri saya memakai mobil saya untuk pergi bertemu dengan para teman - teman arisannya. Dalam perjalanan istri saya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan istri saya meninggal dunia. Dia lahir dari keluarga terpandang dan kaya di papua sehingga saat menikah dengan saya dia sudah memiliki banyak harta dari keluarganya. Hanya saja saya tidak pernah mengharapkan semua harta istri saya. Saya bekerja dengan giat membangun usaha saya sendiri dan berhasil. Mereka kira saya yang merencanakan kecelakaan istri saya karena ingin mengambil seluruh harta kekayaan milik istri saya. Mereka menuduh saya yang membunuh istri saya tapi polisi tidak menemukan bukti apapun bahwa saya merencanakan sebuah pembunuhan. Semuanya memang murni kecelakaan bukan karena ada unsur kesengajaan. Tapi mereka tetap tidak mau menerimanya. Sejak saat itu mereka terus menekan dan mengancam saya. Hingga akhirnya saya tidak nyaman dan merasa terancam hidup di sana. Akhirnya saya memtusukan untuk meninggalkan papua dan memulai hidup saya yang baru di pulau ini. Ternyata mereka terus meneror dan mengancam saya. Mereka juga mengejar saya sampai di sini" ungkap Bimo.
Refan dan pengacara mendengarkan penjelasan Bimo dengan sangat baik. Setiap perkataan Bimo mereka ingat dengan baik demi penyelesaian permasalahan kematian Bima.
"Hingga hati itu tanpa sengaja saya bertemu dengan Bima di Bandung. Saya ingin bercerita panjang kepada Bima tapi saya ingin mencari tempat yang aman untuk saya juga Bima. Saya mengajak Bima bertemu di Sukabumi. Dan Bima menyetujuinya, sebelum pulang kembali ke kota ini dia memilih jalur jalan kota bukan jalan tol. Kami bertemu di salah satu restoran Sukabumi. Di sana saya menceritakan kepada Bima apa yang sedang saya alami. Bima bersedia membantu saya. Kami menyusun rencana untuk bertemu lagi lain waktu, kemudian kami berpisah. Bima melanjutkan perjalanan pulang sedangkan saya kembali ke Bandung. Hanya saja Bima yang lebih dahulu keluar dari Restoran sehingga mereka mengira kalau Bima itu adalah saya. Mereka mengejar Bima sampai akhirnya terjadilah kecelakaan yang mengakibatkan kematian Bima" Ungkap Bimo sedih. Dia kembali harus mengingat kejadian terakhir dia bertemu dengan Bima.
__ADS_1
"Apa bukti - bukti yang Anda punya?" tanya pengacara.
"Saya punya bukti - bukti berupa pesan - pesan yang mereka kirim kepada saya, rekaman CCTV di Restoran tempat kami bertemu dan juga rekaman CCTV jalan saat mobil mereka mengejar mobil Bima" jawab Bimo.
"Baik, boleh anda berikan bukti - bukti tersebut? Saya ingin melihatnya?" pinta Pengacara.
"Baik, saya akan memperlihatkannya kepada Anda" sambut Bimo.
Bimo segera mengeluarkan sebuah flashdisk kepada pengacar juga beberapa lembar bukti pesan yang di kirim kepadanya.
"Ini, silahkan Anda lihat" ucap Bimo sambil menyerahkan semua bukti - bukti yang dia punya.
Sang Pengacara langsung mengambil laptopnya dan memasangkan Flashdisk yang diberikan Bimo ke dalam laptopnya. Pengacara membuka file bukti - bukti dan dia bersama Refan melihat rekaman CCTV mulai dari pertemuan Bimo dengan Bima di restoran. Rekaman CCTV di parkiran Restoran sampai mobil penguntit mengikuti kemana mobil Bima pergi.
Pengacara membuka rekaman CCTV di jalan yang memperlihatkan mobil tersebut kejar - kejaran dengan mobil Bima hingga sampai di tepi jurang karena Bima menjalankan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk mengelakkan kejaran mereka akhirnya mobil Bima masuk ke dalam jurang dan jatuh sampai ke dasar jurang.
Memang jarak kejadian dengan pantauan mereka sekitar satu jam. Oleh sebab itu mungkin polisi tidak curiga dengan kecelakaan yang di alami Bima.
Sehingga polisi menganggap kalau kecelakaan Bima memang murni karena kelalaian Bima yang mengendarai mobil dengan sangat kencang sehingga mobil Bima jatuh ke dalam jurang.
"Ya Tuhaaan" ucap Refan.
"Bagaimana Pengacara, apakah semua bukti - bukti saya cukup?" tanya Bimo.
__ADS_1
"Cukup kuat, tapi apakah orang yang ada di mobil itu adalah salah satu keluarga dari almarhum istri Anda?" tanya Pengacara.
"Tidak, memang mereka bukan keluarga almarhum istri saya. Tapi mereka adalah orang - orang suruhan dari keluarganya.
"Itu artinya kita harus menemukan dulu siapa mereka baru setelah itu menekan mereka untuk membuka rahasia siapa dalang dari kejadian ini yang menyuruh mereka membunuh Bima?" tanya Refan.
"Ya seperti itu Pak Refan. Kalau mereka sudah di temukan, mudah - mudahan kita bisa mendapatkan bukti - bukti lain. Siapa tau Pak Bimo mempunyai kenalan di Papua sana?" ucap Pengacara.
"Saya punya, nanti saya akan coba hubungi teman - teman saya yang masih mau menolong saya di sana" sambut Bimo.
"Baik kalau begitu saya akan menyusun laporan dan hari senin kita akan laporkan ini segera ke kantor polisi. Anda harus sampaikan ini semua kepada istri Anda Pak. Pasti polisi nanti akan meminta keterangan dari istri Anda" pesan pengacara.
"Baik nanti akan saya sampaikan kepada istri saya di rumah" jawab Refan.
"Akhirnya saya lega. Kita bisa memulai peperangan ingin dan saya sangat senang akhirnya saya tidak berjuang sendiri untuk menuntut keadilan adik kembar saya" ujar Bimo.
"Ini masih tahap awal. Masih panjang prosesnya Pak Bimo dan khusus untuk Anda harus hati - hati. Begitu laporan ini sampai ke kepolisian sana mungkin mereka akan mulai mencari Anda lagi dan Anda harus waspada jangan sampai mereka berhasil mencelakakan Anda" pesan Pengacara.
"Iya Pak" jawab Bimo.
Refan dan Bimo pamit pulang dari kantor pengacara. Karena sudah waktunya makan siang mereka melanjutkan dengan acara makan siang di luar berdua saja sekalian membahas tentang rencana mereka untuk melapor dan membuat tuntuntan mereka ke kantor polisi.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG