Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 34


__ADS_3

Refan melihat Kinan menyeka air matanya.


"A.. apakah kamu terpaksa untuk melakukannya?" tanya Refan saat dia melihat tiba - tiba wajah Kinan berubah sedih bahkan menangis.


Kinan menggelengkan kepalanya dan tak mau menatap wajah Refan.


"Lantas mengapa kamu menangis?" tanya Refan.


Kini Refan sudah berbaring di samping Kinan.


"Bolehkah aku meminta suatu hal pada kamu Mas?" pinta Kinan.


"Apa itu?" tanya Refan bingung.


Kinan memberanikan dirinya untuk menatap Refan Kini mereka sudah saling berhadapan di bawah selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Jika kamu sudah puas dengan pelayananku tolong sebut namaku, jangan panggil nama orang lain. Apalagi orang tersebut sudah meninggal" ungkap KinanKinan dengan nada kesal dan marah.


Sontak wajah Refan berubah tegang.


A.. apakah tadi aku menyebut nama Renita? Ya Tuhaaaan... pantas saja wajahnya berubah jadi sedih seperti ini. Batin Refan.


"Aa.. apa kamu bilang?" tanya Refan tak percaya dengan ucapannya sendiri sebelumnya. Benarkah dia sudah menyebut nama Renita tadi.


"Namaku Kinan.. Kinan Adhisti, ingat itu. Bukan Renita" tegas Kinan. Kini dia membalikkan tubuhnya dan terus menangis.


Ya Tuhaaaan aku sudah menyebut nama Renita tadi. Apa yang harus aku lakukan. Aku tak sadar menyebut nama istri pertamaku. Semua di bawah alam sadarku. Padahal aku tidak sedang membayangkan Renita. Aku benar - benar sadar kalau aku melakukannya bersama Kinan. Mengapa mulutku berkata lain. Refan menarik rambutnya tanpa sadar.


Dia benar - benar bingung bagaimana cara menenangkan Kinan yang saat ini sedang menangis. Sehari ini dia sudah dua kali menangis karena Renita.

__ADS_1


Tadi siang Mamanya Renita dan malam ini aku yang menyebut - nyebut nama Renita. Tapi sepertinya kali ini dia sangat marah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah melihat Kinan marah. Dia selalu sabar menghadapi dan meladeniku. Batin Refan.


Refan meraih bahu Kinan yang terlihat masih bergetar karena menangis.


"Nan... maafkan aku ya. Aku janji tidak akan menyebutnya lagi. Tapi kita sama kan Nan. Sama - sama belum bisa melupakan masa lalu kita. Kamu juga waktu sakit masih panggil - panggil nama suami kamu" ucap Refan.


Kinan terdiam sesaat, dia mengingat - ngingat kejadian yang dikatan Refan barusan. Saat dia sakit kan mereka tidur terpisah. Bagaimana Refan tau kalau dia menyebut nama suaminya? tanya Kinan dalam hati.


"Mas gak udah ngarang cerita. Saat itu kita tidur terpisahkan, mana mungkin Mas dengar aku memanggil - manggil nama Mas Bima?" tanya Kinan.


"Hari itu sejak aku pulang kerja aku tidak melihat kamu. Kata Bik Mar kamu sakit. Saat makan malam juga kamu gak keluar bahkan sampai mau tidur kamu tidak keluar kamar untuk mengecek keadaan Naila seperti biasanya. Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan kamu malam itu. Aku tidak bermaksud apapun hanya ingin memeriksa bagaimana keadaan kamu. Kalau sakit kamu parah setidaknya aku bisa membawa kamu ke Rumah Sakit" ungkap Refan.


Tiba - tiba hati Kinan menghangat, ternyata suaminya tak sedingin yang dia fikirkan selama ini. Mas Refan masih mengkhawatirkan keadaannya saat dia sakit.


Kinan menghapus air matanya kemudian berbalik. Kini mereka sudah saling berhadapan dan bertatapan.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Refan.


"Sekarang pernikahan kita sudah sah dimata negara dan agama. Pernikahan kita bukan mainan Mas, kemana arah kita menjalankan pernikahan ini. Mas kepala keluarga, Mas adalah imamnya. Kemana Mas mau membawa kami?" desak Kinan tegas.


Refan terdiam dan terus menatap mata Kinan mencari jawaban.


"Kamu maunya apa?" tanya Refan.


"Seperti yang Mas katakan tadi. Keadaan kita sama. Sama - sama kehilangan orang yang kita cintai dan sama - sama masih belum bisa melupakannya. Kita masih sama terlukanya Mas. Bukan hanya Mas saja yang kehilangan Renita secara tiba - tiba. Aku juga sama, Mas Bima meninggal juga tiba - tiba karena kecelakaan. Hanya beda waktunya saja. Mas Bima sudah pergi tujuh bulan yang lalu sedangkan Renita tiga bulan. Bukan aku meminta Mas untuk melupakan Renita karena jujur aku juga belum bisa melupakan Mas Bima" ungkap Kinan.


Entah mengapa Refan tidak suka dengan ucapan Kinan yang terakhir. Refan menunggu sampai Kinan selesai bicara


"Aku cuma ingin kita sama - sama berusaha untuk mulai membina rumah tangga ini dengan baik. Agar anak - anak kita tidak menjadi korban keegoisan orang tuanya. Aku ingin kita saling terbuka dan saling percaya. Baik itu masalah di luar atau masalah di dalam. Contohnya masalah Naila. Aku berjanji tidak akan melarang mereka bertemu dengan Naila tapi tidak juga setiap saat. Kita harus atur jadwalnya. Kalau tidak kita atur aku takut merusak cara kita mendidik Naila. Menurutku kita harus memakai satu pintu Mas untuk mendidik anak - anak. Aku tidak mau banyak campur tangan orang sekeliling yang nantinya akan meracuni pikiran anak - anak kita. Kalau sudah seperti itu akan sulit bagi kita mendidik mereka dengan disiplin. Mereka bisa saja manja karena merasa banyak yang membela mereka. Naila dan Salman sama Mas. Salman juga masih punya Oma dan Opa dari Mas Bima" sambung Kinan.

__ADS_1


Refan mendengar dan mencoba mencerna semua perkataan Kinan. Benar, mengapa aku selalu merasa Naila yang paling menderita di sini. Memang benar Naila masih terlalu kecil kehilangan Mamanya tapi karena dia masih kecil tidak sulit untuk mengurusnya atau mendidiknya. Dia akan mengingat Kinan sebagai Mamanya karena sejak kecil Kinan lah yang mengurusnya.


Tapi Salman dia sudah punya ingatan tentang Papa nya. Bagaimana wajah Papanya dan bagaimana kasih sayang Papanya. Bagaimana perlakuan Papanya kepada dia dan Mamanya.


Refan jadi teringat saat Kinan sakit Salman sempat berkata 'Kalau Mama sakit Papa Bima selalu menemani Mama'. Itu perkataan Salman waktu itu. Dia pasti sering merindukan keberadaan Papanya tapi dia tidak pernah rewel ataupun manja. Salman tumbuh menjadi anak yang dewasa dan cepat mengerti. Buktinya dia selalu senang bermain dan menjaga Naila kalau mereka di rumah.


"Bagaimana Mas? Apakah Mas masih mau bertahan dengan keyakinan Mas bahwa kita tetap hidup dengan masa lalu kita masing - masing?" tanya Kinan.


Refan menarik nafas panjang. Sepertinya memang masalah ini harus segera mereka selesaikan. Tapi memang harus dengan bicara ya? Ya iyalah mana bisa diselesaikan dengan baku hantam.


"Baiklah, aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan, semuanya. Aku.. aku akan berusaha untuk menerima kamu di rumahku, di hidupku dan hatiku. Tapi please.. jangan paksa aku untuk cepat melupakan dia ya.. Aku butuh waktu. Hanya saja aku akan berusaha tidak menyebut namanya lagi di hadapan kamu. Aku akan berusaha percaya sama kamu, percaya semua yang kamu lakukan untuk mengurus aku, anak - anak kita dan rumah tangga kita. Aku juga akan berusaha terbuka pada kamu. Seperti kamu yang selalu terbuka padaku pada saat Mama Renita menuduh kamu dengan kata - katanya dan pada saat tadi saat kita.... " jawab Refan.


Satu yang Refan ketahui tentang sifat Kinan. Kinan memang selalu terbuka padanya, tidak suka menutup - nutupi apapun masalah sampai berlarut - larut. Kinan selalu ingin menyelesaikan sebuah masalah. Contohnya saat ini, di usia pernikahan mereka yang baru dua minggu Kinan sudah mencoba menyelesaikan masalah dalam rumah tangga mereka.


"Janji ya Mas" desak Kinan.


"Iya aku berjanji akan berubah dan selalu terbuka sejak malam ini. Bolehkan aku memulai janjiku?" tanya Refan.


Tatapan Refan kini berubah, matanya terus menatap ke arah dada Kinan yang tanpa Kinan sadari sedikit terbuka, memperlihatkan kembali bentuknya yang indah. Membuat Refan yang sudah tiga bulan berpuasa merasa harus melepaskan hasrat*nya kembali.


Kinan melirik ke arah tatapan Refan yang menatap dadanya dan Kinan meraba selimutnya.


"Ya Tuhaaaaaaan"....


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2