Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 75


__ADS_3

"Renitaaaa" panggil Refan. Refan tersentak dari tidurnya dan langsung duduk dari tidurnya. Nafasnya tersenggal - senggal dan keringat mengucur deras.


Ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Refan terkejut dan langsung menatap ke wajah Kinan.


"Mas ada apa? Kamu mimpi buruk?" tanya Kinan.


Duuuh gawat.. apakah tadi aku mengigau menyebut nama Renita? Mana aku baru dari rumah Renita lagi hari ini, nanti takutnya Kinan berpikiran macam - macam. Aku gak mau lagi bertengkar karena hal ini. Sepertinya aku harus jujur dengan apa yang aku alami hari ini. Batin Refan.


"Aku bermimpi bertemu dengan Renita Nan, dia menangis dan minta maaf, kemudian dia berpesan titip anaknya lalu pergi" ungkap Refan jujur.


Wajah Kinan tidak berubah. Apakah dia menerima penjelasanku? tanya Refan dalam hati.


"Me.. mengapa dia minta maaf padaku dan menangis? Dia juga tau kalau aku sudah menikah lagi. Dia ikhlas dan malah mendoakan agar aku bahagia" sambung Refan.


"Mimpi di siang hari Mas itu hanya bunga tidur" jawab Kinan.


"Apakah karena perlakukan keluarganya tadi yang menyudutkan makanya dia minta maaf?" Refan menghubungkan dengan apa yang dia alami hari ini.


"Kejadian apa yang kamu alami di rumah Mamanya Renita tadi Mas?" selidik Kinan ingin tau.


Refan menarik nafas panjang, wajahnya kini berubah dan terlihat sedang menahan amarah.


"Aku tidak menyangka mulut mereka semua beracun. Mereka membullyku dengan kata - kata mereka. Sangat pedas, mereka juga menjelakkan kamu di depan mataku. Aku kesal sekali dan langsung pergi dari sana. Heran mengapa dulu aku sangat tahan bercengkrama dengan mereka ya... " ungkap Refan.


"Hahaha... karena dulu kamu juga sama dengan mereka Mas. Mulut kamu juga sangat pedas setiap berkata - kata padaku" ledek Kinan.


"Kamu... " Refan balik berbaring dan memeluk Kinan.


Kini jantungnya sudah normal berdetak.


"Tapi aku tidak habis fikir, mengapa Renita menangis dan meminta maaf padaku?" Refan ternyata masih memikirkan mimpinya.


"Sudahlah Mas, kalau kamu masih merasa terganggu dan penasaran dengan mimpi itu lebih baik kamu kirim doa saja untuk Renita atau kami ziarah ke kuburnya" ujar Kinan.


Refan menarik nafas panjang.


"Kamu gak marah kan aku cerita seperti ini?" tanya Refan.

__ADS_1


"Marah? Marah kenapa? Itukan hanya sebuah mimpi? Emangnya kita bisa mengatur mimpi kita. Hari ini pengen mimpi begini besok mimpi yang begitu?" tanya Kinan.


Refan mempererat pelukannya.


"Makasih Nan, aku jadi lega sekarang" jawab Refan.


Kinan menarik nafasnya panjang


"Renita adalah masa lalu kamu Mas yang sudah sangat lama kamu cintai. Aku sangat sadar tidak akan semudah itu kamu lupakan" ujar Kinan.


Kamu salah Nan, nama dan kenangannya sudah terkunci di dalam hatiku di tempat tersendiri. Sekarang yang ada di hatiku hanya kamu. Batin Refan.


"Kamu tidak cemburu dalam rumah tangga kita masih ada orang lain?" tanya Refan berniat memancing.


"Cemburu pada orang yang sudah meninggal? untuk apa aku cemburu Mas toh dia hanya tinggal kenangan kan di dalam hati kamu. Justru aku yang egois kalau harus memaksa kamu untuk secepatnya melupakan dia. Itu sangat jahat" jawab Kinan.


"Kita kan sudah berjanji memulai hubungan ini dengan pertemanan kan? Fungsi teman salah satunya ya curhat seperti ini. Kita bisa ngobrol santai tentang masa lalu kita. Sama seperti aku kemarin bercerita tentang Mas Bima pada kamu saat kita belanja di pasar. Apakah kamu cemburu?" Kinan balik bertanya.


Refan menatap langit - langit kamarnya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak aku tidak cemburu" jawab Refan.


"Ya sudahlah Mas.. masak gara - gara bunga tidur kita bertengkar. Udah ah aku mau mandi terus siap - siap masak untuk hidangan nanti malam" Kinan melepaskan pelukan Refan dan turun ke bawah.


"Mandi bareng lagi yuk" ajak Refan sambil tersenyum nakal.


"Maaf ya Pak suami, hari ini saya mau cepat jadi gak ada mandi - mandi bareng.. Daaaah" Kinan segera lari ke kamar mandi sebelum Refan menahan pintunya dan ikut mandi bersama. Bisa lama nanti urusannya.


Refan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Hahaha.. akhirnya aku bisa tertawa lega Nan. Kamu memang luar biasa, bisa membuat banyak perubahan dalam hidupku. Batin Refan.


Setelah selesai mandi dan shalat Kinan bergegas ke dapur untuk menyiapkan semua masakannya. Memanasi beberapa makanan yang tadi siang sudah dia masak dan menyempurnakannya.


Setelah itu membangunkan Salman dan memandikannya. Kinan mengerjakan aktivitas itu dengan lincah tanpa ada merasa repot sedikitpun.


Sekitar jam lima sore ada tamu yang datang. Bik Mar membuka pintu rumah Kinan.


"Siapa Bik?" tanya Refan pada Bik Mar yang sedang melihat ke arah luar.

__ADS_1


"Mobilnya Nyonya Den. Mamanya Almarhumah Non Renita. Mungkin mau ngantarain Naila dan Bik Nah" jawab Bik Mar.


Refan berdiri dan menyusul ke luar.


"Naaaan, sini sebentar" panggil Refan.


"Ya Mas" jawab Kinan.


Kinan menyusul Refan ke depan dan berdiri menyambut kedatangan Naila. Mamanya Renita beserta Bik Nah keluar dari mobil. Naila ada di dalam gendongan Mamanya Renita sedangkan Bik Nah keluar dengan menenteng tas perlengkapan Naila.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dimana Refan dan Kinan sudah menunggu. Mamanya Renita tampak tak senang begitu melihat wajah Kinan yang berdiri di samping Refan.


"Nih anak kamu Mama pulangin. Tapi ingat ya Fan jangan pernah kamu larang Mama untuk bertemu dengan Naila. Naila juga darah dagingnya Mama, cucu Mama" tegas Mamanya Renita.


Wanita itu memberikan Naila kepada Refan tapi Kinan langsung menyambutnya. Dia sudah kangen sekali seharian gak menggendong Naila.


Ingin rasanya Mama Renita mengeluarkan kata - kata sindiran kepada Kinan tapi dia langsung menahannya. Mama Renita tampak tak suka tapi dia melihat wajah Refan sedang tidak enak dilihat. Wanita itu tidak mau mengambil resiko lebih lanjut.


Dia ingat kata - kata terakhir Refan sebelum keluar dari rumahnya. Kalau dia terus merendahkan Kinan di depan Refan dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan Naila dan hal itu sangat tidak diinginkannya.


Naila adalah satu - satunya peninggalan Renita. Naila adalah pengganti Renita yang sudah meninggal. Dia harus menahan perasaannya walau mulutnya sudah sangat gatal karena ingin mengumpat Kinan.


Cih gak sadar posisinya di rumah ini sebagai apa, enak saja langsung mengambil cucuku seperti ini seperti Naila ini anak kandungnya. Naila ini cucuku, putri dari Renita anakku. Batin Mama Renita.


"Terimakasih ya Ma udah mulangin Naila tepat waktu. Dan maaf ngerepotin Mama padahal di rumah Mama mungkin masih banyak keluarga yang belum pulang" ujar Refan.


Refan sengaja mengatakan penekanan pada kata - kata di rumah mungkin masih banyak keluarga yang belum pulang. Agar Mama Renita tidak berniat untuk berlama - lama di rumah mereka.


"Ya sudah Mama tidak bisa berlama - lama lagi. Mama langsung pulang ya. Naila Oma pulang ya sayang nanti kapan - kapan Oma jemput kamu lagi" Mama Renita mencium lembut pipi Naila dan berlalu dari hadapan Refan dan Kinan.


Dia langsung masuk ke dalam mobil dan mobil pun bergerak meninggalkan rumah Refan. Refan dan Naila kini bisa bernafas lega karena pengganggu sudah tidak ada dan mereka masuk kembali ke dalam rumah.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2