
"Om... izinkan aku.. izinkan aku untuk membahagiakan Naila Om. Aku janji akan menjaga Naila dengan sebaik mungkin. Aku sangat mencintai Naila" pinta Jeta.
"Om tau, Salman sudah menceritakan bagaimana perasaan kamu kepada Naila. Pada dasarnya Om setuju dan memberikan restu dengan syarat Naila sendiri bisa menerima perasaan kamu. Yang terpenting adalah kebahagiaan Naila. Dia anak yatim piatu dan tidak punya keluarga. Mamanya anak tunggal, dia hanya punya saudara jauh. Om dan kita semualah yang menjadi keluarga terdekatnya saat ini. Om serahkan semua keputusannya kepada Naila" balas Refan bijaksana.
Salman menepuk bahu Jeta untuk memberikan semangat.
"Kamu lanjutkan usaha kamu Jet untuk membuat Naila jatuh hati kepada kamu. Aku titip adikku ya, tolong jangan sakiti dia. Aku juga sangat menyayanginya. Sejak kecil kami sudah hidup bersama sebagai saudara. Sampai kapanpun dia akan tetap menjadi saudaraku" ujar Salman.
"Iya Sal, aku akan memperjuangkan hati Naila. Aku akan membuat Naila juga mencintaiku" balas Jeta.
"Papa berterimakasih kepada kalian semua. Kalian anak - anak Papa yang sangat Papa sayangi. Papa bangga mempunyai anak - anak seperti kalian yang saling menyayangi. Sejak saat ini jangan ada perlakuan yang berbeda kepada Naila. Jangan biarkan dia merasa asing dan sendiri di rumah ini. Bersikaplah biasa saja jangan terlalu berlebihan. Naila juga tidak mau karena nasibnya yang buruk kalian jadi mengasihaninya" pesan Refan.
"Iya Pa, kami mengerti" sahut Salman dan Jeta.
"Ya susah kalau begitu lebih baik kita istirahat, sudah malam" Refan berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Kinan masuk ke dalam kamar dan bersiap - siap hendak tidur disamping Refan.
"Bagaimana keadaan Naila? Apakah dia sudah tenang?" tanya Refan khawatir.
"Dia terus menangis Mas, tapi Alhamdulillah akhirnya dia tenang dan sekarang sudah tidur. Aku rasa dia kecapekan nangis makanya jadi ngantuk" jawab Kinan.
Refan menarik nafas berat.
"Hal ini pasti akan terjadi, aku sudah mempersiapkannya sejak lama. Aku hanya berharap Naila tidak merasa bersalah di hadapanku karena pengkhianatan Mamanya. Aku juga berharap dia tidak merasa asing dan sendiri di rumah ini karena semua orang sudah mengetahui statusnya. Semoga dia bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Karena masa lalu tidak bisa dirubah dan kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita di lahirkan" ujar Refan.
"Iya Mas, aku juga berharap yang sama. Semoga Naila kuat menerima semua ini" sambut Kinan.
"Aamiin.." jawab Refan.
Kinan dan Refan kemudian beristirahat.
*****
Keesokan paginya semua berkumpul di meja makan seperti biasanya. Semua mata diam - diam memperhatikan keadaan Naila. Tapi sesuai pesan Refan kemarin mereka berusaha bersikap biasa saja agar Naila merasa tetap nyaman berada di rumah.
Naila menyantap makanannya dengan tidak bersemangat.
"Pa Ma... aku mau tinggal di rumah Opa dan Oma ya mulai hari ini" ucap Naila tiba - tiba.
__ADS_1
Nyes.... semua terkejut dan suasana hening. Mereka saling lirik dan saling pandang. Kinan menatap wajah suaminya meminta jawaban Refan. Kinan hanya bisa menahan nafas sejenak.
"Kak Naila mau meninggalkan kami semua?" tanya Khalid sedih.
"Kaaaak, kami tetap menyayangi Kakak, apapun yang terjadi" sambut Khansa dengan mata berkaca - kaca.
Salman yang duduk tepat dihadapan Naila menatap dalam wajah Naila.
"Nai... kamu sudah memikirkan hal ini matang - matang?" tanya Salman dengan tenang.
"Aku butuh waktu sendiri Kak. Aku ingin menenangkan hatiku. Biarkan aku menjauh dulu dari kalian. Aku ingin memikirkan semuanya dulu sendirian" ucap Naila dan air matanya kembali menetes.
Kinan merangkul bahu Naila dan mencoba menenangkannya.
"Sayaaang" ucap Kinan.
Refan menarik nafas berat.
"Papa kasih kamu izin dengan satu syarat" ucap Refan.
Semua mata menatap ke arah Refan seolah tak setuju dengan keputusan Refan.
"Kami akan memberi kamu waktu untuk sendiri tapi kamu tidak boleh memutus hubungan dengan kami. Kamu tidak boleh memblokir semua nomor kami dan menerima kami kapanpun kami datang untuk melihat kamu disana" sambung Refan.
"Papa tau dan kami tidak akan menganggu kamu. Kami hanya ingin memastikan kalau kamu baik - baik saja sayaaaang. Kamu tinggal disana dan bawa satu bibik disini untuk mengurus kamu disana" perintah Refan.
"Aku bisa mengurus diri aku sendiri Pa" bantah Naila.
"Tidak sayang, kamu butuh seseorang yang menemani kamu tinggal di sana. Jangan buat kami khawatir atau Papa tidak akan mengizinkan kamu pergi dari sini. Ingat sayang kamu masih menjadi anak Papa dan sampai kapanpun tetap menjadi anak Papa" tegas Refan.
Naila terdiam sesaat untuk berpikir.
"Baik, aku terima syarat dari Papa. Aku akan pergi dengan membawa bibik bersamaku. Aku tidak akan memutuskan hubungan dengan kalian semua dan kalian boleh datang kapan saja ke rumah Opa Subrata" jawab Naila mengalah akhirnya.
"Aku antar ya Nai" bujuk Jeta.
"Tidak bang.. biar aku pergi sendiri" tolak Naila.
"Kakak yang antar ya" kali ini Salman yang bujuk.
__ADS_1
Naila menarik nafas panjang.
"Ya sudah, Kak Salman aja ya. Bang Jeta gak boleh ikut" jawab Naila.
"Kami ikut ya Kaaaak" bujuk Khansa.
"Itu namanya aku gak bisa sendiri donk" protes Naila.
"Setelah itu kami janji tidak akan ganggu Kak Naila buat istirahat dan berpikir dengan tenang. Kami hanya ingin ikut mengantarkan Kak Naila. Semoga bisa membuat Kakak tetap semangat" sambung Khalid.
"Terserah deh" jawab Naila pasrah.
Kinan tersenyum melihat anak - anaknya saling sayang menyayangi. Kinan mengelus lembut kepala Naila.
"Jangan lama - lama disana ya sayang. Nanti Mama kangen banget sama kamu" ucap Kinan.
"Kalau kangen, Mama kan bisa datang" jawab Naila.
"Mama kangen kamu tinggal di sini. Kita tinggal bersama lagi. Kamu tidak berencana ingin meninggalkan kami kan sayang?" tanya Kinan.
"Maaa... Naila hanya butuh waktu sendiri. Nanti setelah Naila bisa berpikir dengan tenang, Naila akan cerita pada Papa dan Mama" jawab Naila.
"Baiklah.. kamu siap - siap ya. Biar Mama suruh Bibik juga siap - siap untuk menemani kamu di sana" ujar Kinan.
"Makasih Ma.. makasih Pa" balas Naila.
Naila pergi meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Kinan menyuruh salah satu asisten rumah tangganya untuk bersiap - siap menemani Naila pergi. Kinan juga mempersiapkan banyak makanan kesukaan Naila untuk dibawa ke rumah Opa dan Omanya Naila.
Salman, Khalid dan Khansa bersiap - siap setelah selesai makan. Mereka akan pergi mengantar Naila ke rumah orang tua dari Mama kandungnya. Rumah yang saat ini sudah resmi menjadi milik Naila karena hanya Naila penerus keluarga Subrata.
Setelah berpamitan dengan Papa dan Mamanya, Naila pergi diantar oleh seluruh saudaranya. Mereka sampai di rumah keluarga Subrata.
Khansa memeluk Naila sebelum berpisah lalu Khalid ikutan memeluk mereka dan terkahir Salman. Mereka bertiga memeluk Naila dengan penuh kasih sayang.
"Sampai kapanpun kita akan tetap bersaudara. Jangan pernah berpikir kamu sendirian. Kami akan selalu ada untuk kamu kapanpun kamu butuhkan. Jangan berusaha menjauh dari kami karena kami selalu menyayangi kamu" ucap Salman.
Naila dan Khansa sama - sama meneteskan air mata mendengar ucapan dari Kakak sulung mereka yang sungguh sangat bermakna dihati mereka masing-masing.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG