Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 321


__ADS_3

Malam harinya di rumah Refan.


"Mas gimana? Kamu jadi ke rumah sakit bertemu Arga?" tanya Kinan penasaran.


Refan menghentikan aktivitasnya mengecek email melalui ponselnya dan meletakkannya di nakas dekat tempat tidurnya.


Refan menarik nafas berat.


"Besok kita ke Rumah Sakit ya" ajak Refan.


"Untuk apa Mas?" tanya Kinan bingung.


"Bawa Naila. Arga ingin bertemu Naila, mungkin itu kesempatan terakhir" jawab Refan.


"Kesempatan terakhir? emangnya Arga sakit apa Mas?" tanya Kinan.


"Sakit kanker hati. Besok kamu pasti sangat terkejut yank dan gak menyangka kalau itu Arga. Tubuhnya sangat kurus, aku saja sulit untuk mengenalinya" ungkap Refan.


"Semoga dia sabar menerimanya Mas sehingga sakitnya itu bisa jadi penggugur dosa" sambut Kinan.


"Aku harap juga begitu. Sepertinya dia sudah menyadari semua kesalahannya" balas Refan.


Refan meraih tangan istrinya kemudian menciumnya.


"Besok kita cuma bawa Naila saja ya.. Salman sekolah dan sulit untuk membawa si kembar lagian kan di sana Rumah Sakit, tidak baik bawa anak - anak" ucap Refan.


"Gak masalah kalau kita cuma bawa Naila saja Mas?" tanya Kinan.


"Aku rasa tidak akan ada masalah. Pasti gak ada para wartawan yang suka mencari berita. Aku rasa aman untuk Naila" jawab Refan.


Selama ini masa depan Naila yang mereka khawatirkan. Kalau banyak wartawan yang mengetahui Naila lah anak Arga dan Renita pasti hidup Naila akan tersorot media.


Ujungnya akan menambah beban berat dalam hidup Naila. Dia pasti akan di cap sebagai anak haram dan akan sangat mengganggu perkembangan hidup Naila kelak.


Itu sebenarnya yang membuat Refan berat untuk mempertemukan Naila dengan ayah kandungnya. Seumur hidup Naila akan menanggung cap jelek tentang kisah hidupnya oleh hukum masyarakat.


Anak haram sangat sulit diterima dalam masyarakat. Padahal itu bukan salah mereka, seandainya mereka bisa memilih pasti tidak ingin dilahirkan sebagai anak diluar nikah.


Anak yang akan menjadi korban karena kesalahan orang tuanya yang tergoda hawa nafs* dunia.


"Tapi untuk mencegah hal buruk terjadi. Gak ada salahnya kalau Naila kita pakaikan baju laki - laki yank. Kalau bisa dia pakai penutup kepala" pesan Refan.


"Baik Mas, besok akan aku siapkan semua" jawab Kinan.


Refan kembali menarik nafas berat dan dalam.


"Sudahlah, sudah malam. Lebih baik kita tidur dan istirahat" ajak Refan.

__ADS_1


Refan dan Kinan mulai rebahan, tubuh mereka saling merapat dan mereka saling berpelukan. Mungkin dengan begini bisa membuat kegalauan hari Refan berkurang.


Kinan tau, beratnya hati Refan saat ini. Tapi tidak mungkin baginya untuk tidak mengabulkan permintaan Arga kali ini. Apalah kata Refan penyakit Arga sangat serius dan mungkin umurnya tidak akan panjang lagi.


Kinan memeluk tubuh suaminya dengan penuh kelembutan. Semoga dengan pelukannya ini bisa memberikan dukungan dan semangat untuk Refan besok. Malam itu mereka tidur dengan saling menguatkan.


Keesokan harinya Kinan sudah mendandani Naila seperti laki - laki sesuai dengan pesan Refan kemarin. Tujuannya untuk menyamarkan jenis kelami* Naila agar tidak ada yang melihat. Semua untuk mencegah hal - hal buruk yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang.


Untung saja Kinan masih menyimpan beberapa pakaian Salman dulu. Saat Kinan memakaikannya kepada Naila ternyata pas ke tubuh Naila.


"Lho Ma, Naila kok pakai baju laki - laki?" tanya Salman heran.


"Iya Nan gak biasanya" sambut Bu Suci.


"Kami mau bawa Naila ke rumah sakit Ma" jawab Kinan.


"Naila sakit? Kapan? Kemarin masih baik - baik saja" tanya Bu Suci bingung.


"Kami mau bawa Naila ketemu Arga Ma" jawab Refan.


"Arga? Kenapa ke Rumah Sakit?" tanya Bu Suci penasaran.


"Arga sakit Ma dan dia ingin bertemu Naila" jawab Refan.


"Sakit apa?" tanya Bu Suci.


"Ya Allah... " sambut Bu Suci. Dia tidak tau harus berkata apa lagi.


"Siapa Om Arga itu Pa? Kenapa dia ingin bertemu Naila?" tanya Salman ingin tau.


"Sayaaang... Om Arga itu kerabat dari Mamanya adek Naila. Dia lagi sakit dan katanya kangen dan pengen ketemu adek Naila" jawab Kinan penuh kelembutan.


"Aku gak boleh ikut?" tanya Salman.


"Kamu kan sekolah" balas Kinan.


"Setelah aku pulang sekolah kan bisa Ma" bujuk Salman.


"Maaf ya sayang... Papa yang gak bisa. Siang nanti Papa ada kerjaan di kantor. Jadi pagi ini bisanya ke Rumah Sakit. Lain kali saja ya kita jalan - jalan bareng adek - adek kamu" ungkap Refan.


"Iya Pa, gak apa - apa kok" balas Salman.


"Ya sudah cepetan makannya, setelah itu kita berangkat. Kamu diantar duluan ke sekolah baru Papa, Mama dan adek Naila ke Rumah Sakit" ucap Kinan.


"Ma kan Kaaak" sambung Naila.


Salman tersenyum lembut pada adeknya.

__ADS_1


Mereka sarapan pagi bersama kemudian bergegas untuk pergi. Sebelum ke Rumah Sakit terlebih dahulu mereka mengantar Salman ke sekolah. Baru kemudian melanjutkan perjalanan.


Kini Refan, Kinan dan Naila sudah sampai di parkiran Rumah Sakit. Refan memperhatikan keadaan sekeliling Rumah Sakit. Tampak tenang dan tidak ada hal - hal seperti yang mereka khawatirkan.


"Yuk yank, kita keluar dan jalan ke kamar rawat inap Arga" ajak Refan.


Mereka keluar dari mobil. Kinan menggenggam tangan Naila dan mereka berjalan bergandengan tangan.


"Mama kita mau kemana?" tanya Naila.


"Kita mau jenguk Om kamu sayang" jawab Kinan.


Kinan bingung akan menjelaskan siapa Arga kepada Naila. Naila masih sangat kecil pasti dia tidak akan mengerti kalau mereka memberitahu kepada Naila siapa Arga itu.


Biarlah Naila menganggap Arga adalah omnya. Kelak kalau Naila sudah mengerti mereka akan menceritakan kisah hidup Naila yang sebenarnya. Dan pada saat itu semoga Naila siap menerima kenyataan hidupnya.


Sampailah mereka di depan pintu kamar Arga. Sebelum masuk ke dalam kamar tersebut, sekali lagi Refan memperhatikan keadaan sekeliling. Apakah aman untuk mereka masuk.


"Yuk yank, sudah aman. Ayo kita masuk" ajak Refan.


Refan, Kinan dan Naila masuk ke dalam kamar Arga di rawat.


"Oh ya Allah... " ucap Kinan terkejut ketika melihat keadaan Arga saat ini.


"Si apa?" tanya Arga yang baru saja terbangun ketika merasa ada orang lain yang berada di kamarnya.


"Aku Ga, Refan" jawab Refan mendekati tempat tidur Arga.


"Fan... a pa kah ka mu mem ba wa Nai la?" tanya Arga lemah dan terbata - bata.


"Ya.. aku membawanya Ga" jawab Refan.


Refan menatap wajah istrinya kemudian beralih ke wajah Naila yang polos dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.


Refan mendekati Naila dan menggendongnya kemudian membuka penutup kepalanya. Refan melangkah mendekat ke tempat tidur Arga.


Arga menoleh ke arah Refan dengan mata berkaca - kaca. Sungguh apa yang terjadi saat ini sudah sangat lama dia nanti - nantikan. Melihat secara langsung putrinya, putri kandungnya.


Saat ini dia tak peduli bagaimana cara Naila terlahir ke dunia ini. Melihat wajah Naila hatinya sangat lega dan siap menerima semua konsekuensinya.


"Nai la a.. nakku.. " ucapnya lemah, air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2