
Keluarga Akarsana sedang berpamitan keluarga Refan malam harinya. Mereka saling rangkul dan berpelukan.
"Jeng besok kami pinjam Reni ya. Mau ajak dia cari semua seserahan" ucap Bu Akarsana meminta izin kepada Bu Suci.
"Oh silahkan saja Jeng" sambut Bu Suci.
"Besok kamu siap - siap ya, sekitar jam sepuluh Mas jemput" ujar Bimo dengan lembut.
"Iya Mas" jawab Reni.
"Asiiiik... besok kita temani Reni dan Mas Bimo berbelanja" ucap Bela dan Ela girang.
"Dasar kalian ini. Yang mau nikah Reni kalian yang kesenangan" ucap Bu Akarsana.
"Tentu donk Bu, Reni kan teman kami. Sebentar lagi akan jadi saudara, so pasti aku sangat senang. Apalagi nanti tinggal bareng. Rumah pasti ramai" balas Bela.
Reni tersenyum malu kepada calon mertuanya.
"Kalau begitu kami pulang ya Jeng, Fan, Kinan, Mas Ardhiyanto dan Jeng Dhisti" ujar Bu Akarsana.
"Yuk semua kami pamit" sambut Pak Akarsana.
"Iya Pak, hati - hati. Sampai ketemu lagi" jawab Refan.
Keluarga Akarsana masuk ke dalam mobil Bimo dan beranjak pulang. Sedangkan Refan dan keluarganya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
*****
Keesokan harinya Bimo sudah muncul di rumah Refan sekitar jam sembilan pagi. Sambil bermain dengan Salman, Bimo dengan sabarnya menunggu Reni siap berdandan.
Bukan salah Reni tapi Bimo yang terlalu cepat datang. Bimo bilang tadi malam kalau dia akan menjemput Reni jam sepuluh pagi tapi ternyata lebih cepat karena Bimo sudah tidak sabar untuk bertemu bidadari surganya kembali.
"Uncle nanti kalau udah nikah sama Tante Reni mau tinggal dimana?" tanya Salman.
"Tinggal di rumah Uncle donk" jawab Bimo.
"Tante Reni mau di bawa pergi?" tanya Salman.
"Iya sayang, kan Uncle suaminya jadi Tante Reni akan ikut kemanapun Uncle tinggal. Seperti Papa dan Mama kamu" jawab Bimo memberi pengertian kepada Salman.
__ADS_1
"Sepi donk" ucap Salman sedih.
"Jangan sedih, kan kamu udah punya adek kembar. Nanti kalau Uncle dan Tante nikah kamu akan dapat adek lagi" ujar Bimo.
"Benarkah Uncle?" tanya Salman terkejut.
Bimo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Do'ain aja ya" sahut Bimo.
"Waaah senang ya bakal punya adek yang banyak" sapa Refan yang baru muncul bersama Kinan.
Mereka masing-masing menggendong si Kembar. Kemudian mereka ikut bergabung bersama Salman dan Bimo.
"Rencana mau kemana hari ini Mas?" tanya Kinan pada Bimo.
"Mau pesan gaun pengantin, beli cincin nikah dan seserahan yang lain" jawab Bimo.
"Pasti senang sekali ya Mas" sambut Kinan.
"Yaaank.. jangan gitu ah. Aku merasa bersalah pada kamu. Waktu kita nikah aku hanya membelikan kamu cincin nikah saja" ujar Refan merasa bersalah.
"Yaaah aku juga sangat senang saat ini sayang" Refan menatap istrinya mesra. Membuat Bimo ingin segera seperti mereka bahagia bersama Reni dan anak - anak mereka nanti.
Tak lama Reni keluar dari kamarnya dengan riasan natural dan gaya fresh ala anak remaja.
"Cantik sekali, berasa aku ketuaan jalan bareng kamu" puji Bimo.
"Mas Bimo" protes Reni.
"Nanti kalau sudah menikah saling menyesuaikan kok" potong Kinan.
"Jangan aku yang jadi tua Mbak tapi Mas Bimo aja yang kembali muda" jawab Reni.
"Tentu donk" sambut Bimo.
Kinan dan Refan tersenyum melihat Reni dan Bimo tampak bahagia menjelang pernikahan mereka.
"Kami pamit dulu ya. Salam buat Ibu" ucap Bimo pada Refan dan Kinan.
__ADS_1
"Iya nanti disampein. Mama jam segini biasanya lagi shalat dhuha" balas Kinan.
"Iya Mbak, Mama memang lagi shalat, tadi aku udah pamit kok sama Mama" sambut Reni.
"Salman Tante pergi dulu ya, dah Mas, Mbaaak" sambung Reni.
"Hati - hati ya dek" ujar Refan.
Reni dan Bimo segera melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat untuk memesan gaun pengantin. Bela dan kedua orang tuanya sudah jalan duluan menuju tempat yang sudah ditentukan.
Kini mereka sudah sampai di sebuah butik pemilik perancang busana terkenal di Jakarta. Reni dan Bimo melakukan pengukuran tubuh untuk gaun pernikahan mereka nanti. Tak lupa juga Bapak, Ibu Akarsana, Bela dan Ela. Besok giliran keluarga Refan yang akan diukur dan berhubung Kinan belum lepas selapan mereka meminta pihak butik yang langsung datang ke rumah Refan.
Setelah itu mereka jalan ke Mall terbesar di Jakarta untuk mencari cincin nikah. Tetapi karena waktu makan siang sudah tiba mereka makan siang terlebih dahulu.
Selesai makan siang baru mereka berjalan - jalan mencari cincin pernikahannya dengan Bimo. Baru kali ini Reni jalan bareng seluruh keluarga Akarsana.
Walau sebelumnya memang dia sudah mengenal keluarga ini lebih dulu sebagai sahabat Bela tapi kini kedudukannya sebagai calon istri Bimo. Reni merasa benar - benar di sambut baik oleh keluarga Akarsana.
Reni juga merasa mereka semua menyayangi dirinya. Reni merasa sangat bersyukur akan mendapatkan keluarga baru seperti keluarga mereka.
Benar kata Mbak Kinan, mereka keluarga yang baik. Menganggap menantu sebagai anak sendiri. Batin Reni sambil melirik Bapak dan Ibu Akarsana.
Setelah selesai mencari cincin dan barang - barang seserahan yang akan dibawa saat pernikahan Reni dan Bimo nanti. Mereka memutuskan untuk pulang.
Sore harinya mereka sudah sampai di rumah Bimo. Bimo, Bela dan Ela masuk ke kamar mereka masing-masing menyisakan Reni bersama Bapak dan Ibu Akarsana di ruang keluarga.
"Ren.. Ibu sangat senang sekali kamu mau menerima lamaran Bimo. Sejak awal Bapak dan Ibu memang sudah menyukai kamu dan berharap kamu akan menjadi menantu kami tapi kami sadar status putra kami seorang duda dan sudah tua. Sedangkan kamu masih muda dan masih gadis. Tapi alhamdulillah harapan kami terkabul. Kamu menerima lamaran Bimo " ujar Bu Akarsana sambil menyentuh lembut tangan Reni.
"Bapak dan Ibu titip Bimo ya.. tolong kamu urus putra kami yang nakal itu. Walau usia kamu masih muda tapi kami yakin kamu gadis yang baik yang bisa mengajak Bimo untuk hidup lebih baik lagi. Maaf kalau kami memberikan harapan yang sangat besar kepada kamu untuk selalu setia mengingatkan Bimo jika dia salah arah dalan menjalani hidupnya dimasa akan datang. Hanya tinggal Bimo putra kami satu - satunya" pesan Bapak Akarsana.
"InsyaAllah Pak, aku juga masih harus banyak belajar Pak. Apalagi Mas Bimo kan sudah berpengalaman dalam berumah tangga sedangkan aku masih perdana. Setelah Mas Bimo melamarku, Mama, Mas Refan dan Mbak Kinan juga sudah bertanya kepadaku tentang kesiapanku menerima Mas Bimo seutuhnya, dengan masa lalunya. Tapi aku katakan InsyaAllah aku bisa menerimanya" ungkap Reni.
"Alhamdulillah kami sangat lega mendengarnya Ren. Rasanya kali ini Bimo benar - benar tidak salah pilih istri. Doa Bapak dan Ibu kalian akan bahagia dan bersama sampai di surga kelak" sambut Pak Akarsana.
"Aamiin... " sambut Reni.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG