Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 59


__ADS_3

"Kinaaaaan" ucap tamu pria yang baru datang menemani Mamanya.


"Fadlan kamu kok bisa di sini?" tanya Kinan terkejut.


"Kalian saling kenal?" tanya Suci.


"Kenalin jeng ini putra saya Fadlan, dan ini siapa Jeng?" tanya tamu Suci.


"Ini menantu saya, istrinya Refan" jawab Suci.


"Oh menantu barunya Jeng Suci rupanya. Kamu kok bisa kenal Fad?" tanya wanita itu.


"Kinan ini teman sekantor aku Ma. Kemarin waktu aku dinas ke luar kota ya bareng sama dia ini" jawab Fadlan.


Wajah Refan langsung berubah kesal. Kinan langsung sadar perubahan wajah Refan. Dia harus bisa menenangkan Refan di depan orang ramai. Kalau tidak semua orang bisa tau keadaan rumah tangganya yang sebenarnya.


"Mas Naila sepertinya sudah ngantuk, aku ke kamar ya tidurin Naila dulu. Permisi Tante, Fadlan saya ke dalam dulu ya" ujar Kinan tak mau terjadi kesalahan pahaman lagi. Dia malas bertengkar dengan Refan karena Fadlan.


"Sebentar ya Ma, Tante.. aku nyusul Kinan dulu ke kamar. Yuk Sal" tak lama Refan juga ikut menyusul Kinan dia malas melihat wajah Fadlan di rumah Mamanya.


Refan menitipkan Salman pada Bik Mar dan Bik Nah kemudian menyusul Kinan masuk ke kamar. Di dalam kamar Refan melihat Kinan dan Naila sedang tiduran di atas tempat tidur sambil memberikan susu untuk Naila.


"Lho Mas kok ikutan ke kamar gak temani Mama menjamu tamu di luar?" tanya Kinan.


"Aku malas" jawab Refan.


"Karena ada Fadlan?" tanya Kinan.


Refan terdiam dan mulai memainkan rambut Naila yang masih tipis.


"Mas marah padaku? Menyalahkan aku lagi atas kedatangan Fadlan di sini?" tanya Kinan.


"Nggak, kan bukan kamu yang mengundangnya ke sini. Lagian ini rumah Mamaku dan acara yang sedang berjalan adalah acara keluargaku jadi sudah jelas kamu tidak sedang merencanakan hal ini terjadi" jawab Refan berusaha tenang.


"Jadi kenapa wajah Mas berubah dingin seperti itu? Di luar tadi seolah - olah Mas marah padaku?" tanya Kinan lagi.


"Aku tidak marah pada kamu aku hanya kesal saja. Mengapa pria itu selalu saja ada di dekat kita akhir - akhir ini?" sambut Refan kesal.


"Mana aku tau Mas. Kalau di kantor ya aku oastj akan sering bertemu dengannya karena dia adalah teman kerjaku. Kalau di luar seperti di Mall kemarin itu adalah satu ketepatan. Dan sekarang di sini aku tidak bisa mengatakannya. Kalau dia datang ke sini berarti dia adalah saudara kamu donk, masak kamu gak tau kalau dia adalah saudara kamu?" tanya Kinan balik.

__ADS_1


Refan mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan kalau dia tidak mengetahuinya.


"Aku baru pertama kali ini melihatnya di acara keluargaku. Aku tidak tau kalau ternyata dia anaknya Tante Yuni sepupu jauhnya Mama" jawab Refan.


"Ya sudah Mas lebih baik kamu keluar sana ketemu dengan semua keluarga kamu biar saling kenal dan tidak terjadi lagi hal seperti ini" usir Kinan.


Kinan sebenarnya merasa canggung karena malam ini Refan sangat berbeda. Mulai dari mereka sampai di rumah Mama mertuanya sampai tadi saat Refan menggenggam dan menggandeng tangannya kemudian memperkenalkan Kinan di depan saudara - saudaranya.


Saat ini juga tatapan Refan yang sedang memandang Kinan yang sedang tiduran memberikan Naila susu sangat membuat Kinan salah tingkah. Mending lebih baik kalau Refan meninggalkannya saja berdua dengan Naila di kamar ini.


"Aku jadi malas keluar lagi, lebih baik aku tetap di sini menemani anak dan istriku" jawab Refan.


Apa? lagi - lagi Mas Refan menyebutku istrinya. Apa dia sudah mengakui statusku sebagai istrinya? Batin Kinan.


Refan kemudian berbaring telengtang dan mulai memejamkan matanya. Entah mengapa dia sangat merasa nyaman berada disini bersama Kinan dan Naila putrinya. Tiba - tiba mata Refan mengantuk dan dia mulai memejamkan matanya.


"Maaaas" panggil Kinan.


"Heeemmmm" jawab Refan.


"Kamu sudah ngantuk?" tanya Kinan.


"Kamu belum makan malam lho Mas. Makan sana gih nanti masuk angin" perintah Kinan.


"Malas ah gak ada kamu yang mengambilkan makananku" jawab Refan malas.


Tumben manja gini, seperti anak kecil yang lagi ngambek karena di cuekin. Kok aku jadi geli sendiri dengan sikapnya Mas Refan malam ini. Batin Kinan.


"Ya sudah tunggu sebentar ya biar aku tidurkan Naila dulu nanti baru kita keluar dan makan" ujar Kinan.


"Tapi kamu jangan dekat - dekat Fadlan ya" sambut Refan.


Kinan menyipitkan matanya.


"Kamu cemburu Mas?" tanya Kinan.


"Siapa yang cemburu?" elak Refan.


"Hahaha kamu cemburu Mas sudah ngaku saja. Aku sama Fadlan hanya sebatas teman kantor. Kamu jangan berlebihan ah. Lagian ngapain kamu cemburu padaku? Aku kan hanya kamu anggap sebagai pengasuh Naila saja selama ini" ungkap Kinan.

__ADS_1


Refan menggeser tubuhnya dan kini menghadap ke arah Kinan.


"Nan please... jangan sebut - sebut kata - kata itu lagi. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Walau awak kata itu ada semuanya berasal dari bibirku. Tapi aku kan sudah berjanji pada kamu untuk berubah. Aku akan mulai menganggap kamu dan menghargai kamu sebagai istriku, ibu dari anak - anakku" tegas Refan.


Sontak Kinan terdiam dan balas menatap ke wajah Refan. Ada kesungguhan dari wajah dan perkataan Refan. Seketika suasana di kamar terasa hangat tapi Kinan langsung mengalihkan pandanganannya ke arah Naila.


Kinan tidak mau terlalu banyak berharap karena seperti sebelum - sebelumnya Refan bisa saja berubah dingin kembali dan bibirnya akan kembali mengatakan kata - kata yang sangat menyakitkan perasaan Kinan.


Naila sudah tidur dengan lelapnya. Sedangkan Refan kembali tidur telentang sambil menutup matanya.


krucuk... krucukk....


Terdengar suara perut Refan.


Kinan tersenyum tipis, dia tau saat ini suaminya itu sedang lapar tapi dia menahannya hanya karena malas bertemu dengan Fadlan di luar dan juga minta diambilin makanan.


Fix malam ini tingkah Refan udah seperti anak - anak, gak jauh beda sama Salman yang lagi ngambek makan.


"Maas" panggil Kinan.


Refan pura - pura mendengkur. Membuat Kinan semakin tersenyum lebar.


Seperti bukan kamu Mas yang ada di hadapanku saat ini. Batin Kinan.


"Mas aku tau kamu belum tidur, dan saat ini kamu kelaparan kan? Yuk kita keluar makan" ajak Kinan.


Refan tetap bertahan dengan posisinya sekarang, dia masih pura - pura tertidur. Kinan turun dari tempat tidur dan mulai merapikan pakaiannya.


"Bener ya kamu gak mau bangun. Ya sudah kalau begitu aku keluar nih dan makan sendiri" ancam Kinan.


"Enak saja kamu makan sendiri, aku sudah nungguin kamu dari tadi dengan perut kempes menahan lapar. Mana cacingku dari tadi udah demon dan sibuk bernyanyi" jawab Refan langsung. Dia segera bangun dan bangkit dari tempat tidurnya.


"Makanya jangan seperti anak kecil gitu pakai acara ngambek. Ya sudah yuk kita keluar" ajak Kinan.


Kinan segera berjalan keluar dan membuka pintu kamar Refan, Refan langsung menyusulnya dan tanpa ragu - ragu lagi langsung menangkap tangan Kinan dan menariknya berjalan ke arah ruang keluarga yang sedang ramai dengan para keluarga.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2