Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 73


__ADS_3

Pagi harinya Refan dan Bik Nah sudah bersiap - siap hendak mengantar Naila. Kinan juga ikutan repot menyiapkan semua keperluan Naila. Mulai dari memandikan Naila, memberikannya susu dan sempat bermain dengan Naila sebentar sebelum Naila pergi bersama Bik Nah.


"Adek mau kemana sih Ma?" tanya Salman.


"Adek Naila mau pergi sayang ke rumah Omanya" jawab Kinan lembut.


"Ooh Oma yang datang tadi malam ya Ma?" tanya Salman.


"Iya sayang" jawab Kinan lagi.


"Oma jahat kayak penyihir, Salman gak suka Ma" ujar Salman.


"Huus... gak boleh bilang begitu sayang. Itu kan Omanya Naila. Sama seperti Kakak Salman punya Oma dari Papa Bima" jawab Kinan.


"Oh jadi itu Omanya Naila dari Mamanya Naila ya Ma" balas Salman bijak.


"Iya sayang" Kinan mengelus lembut kepala putranya sambil bermain dengan Naila dan Salman di atas tempat tidur.


Tak lama Refan masuk ke kamar.


"Udah siap Nan?" tanya Refan.


"Sudah Mas" jawab Kinan.


"Mana tasnya Naila? biar aku masukin ke mobil" tanya Refan.


"Itu Mas" Kinan menunjuk ke dekat sofa dimana tas perlengkapan Naila di letak.


"Papa adek Nailanya jangan lama - lama ya perginya. Kakak Salman nanti kangen" ujar Salman.


"Iya, gak lama kok" jawab Refan sampai mengacak rambut Salman.


"Ya sudah yuk Mas biar kami antar sampai depan" ajak Kinan.


Kinan, Salman dan Refan berjalan sampai ke pintu depan. Sebelum menyerahkan Naila ke dalam gendongan Bik Nah terlebih dahulu Kinan mengecup lembut pipi Naila.


"Emmmmuaaah.. baik - baik di rumah Oma ya sayang jangan nakal" ujar Kinan penuh kasih sayang pada Naila.


"Aku juga Ma.. aku mau cium adek Naila" pinta Salman.


Kinan membungkukkan badannya agar Salman bisa mencium Naila.


"Dah adek Naila jangan nangis ya di sana. Adek Naila cepat pulang, Kakak akan tunggu di sini" ucap Salman lembut.


Refan tersenyum melihat kasih sayang anak tirinya itu kepada putrinya. Kinan menyerahkan Naila dalam gendongan Bik Nah.


"Ingat pesan aku ya Bik, jangan lupa atur waktu tidur dan minum susunya Naila" pesan Kinan sebelum mereka pergi.

__ADS_1


"Baik Non" jawab Bik Nah.


"Kami pergi ya Nan" ucap Refan pamit. Kinan mencium tangan suaminya.


"Hati - hati ya Mas, salam buat Omanya Naila" jawab Kinan.


Refan dan Bik Nah yang sedang menggendong Naila masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak keluar dari halaman rumah dan kemudian melaju meninggalkan Kinan dan Salman.


"Sekarang Kakak Salman main sendiri di rumah ya. Mama dan Bik Mar mau memasak" perintah Kinan..


"Oke Ma" jawab Salman.


*****


Tepat jam sepuluh pagi Refan sudah sampai di rumah orang tua Almarhumah istri pertamanya, Renita. Di sana kelihatannya rumah orang tuanya memang sudah ramai.


Refan dan Bik Nah turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Mamanya Almarhumah Renita.


"Assalamu'alaikum... " ucap Refan ketika masuk ke dalam rumah mantan mertuanya.


"Wa'alaikumsalam.. Nah panjang umur, itu si Refan datang bawa Naila" jawab mantan mertuanya.


Refan tersenyum dan menyapa beberapa keluarga Almarhumah istrinya yang sudah datang.


"Ini anaknya Almarhumah Renita Jeng, ih udah besar ya. Cantik lagi" sambut seorang wanita yang Refan kenal sebagai Tantenya Almarhumah Renita.


"Iya" jawab Mamanya Renita.


"Bik kamu ke belakang saja" perintah Mamanya Renita.


Setelah selesai menyapa semua keluarga Almarhumah istrinya Refan berniat hendak pulang.


"Kamu mau kemana Fan?" tanya sepupunya Renita.


"Mau pulang Mas" jawab Refan hormat.


"Cepat banget, tunggu sebentar kita ngobrol dulu" cegah sepupunya Renita.


"Maaf Mas kebetulan sekali nanti malam aku ada acara di rumah. Jadi harus segera pulang mau menyiapkan semuanya" jawab Refan sopan.


"Tunggu sebentar Fan, satu jam saja" pinta pria itu.


Refan merasa sungkan akhirnya dia gabung dan ngobrol sebentar dengan keluarga almarhumah istrinya.


"Katanya kamu sudah nikah lagi ya Fan?" tanya pria itu.


Sebenarnya selain memang dia ada kepentingan dirumah, Refan juga malam menjawab semua pertanyaan keluarga Kinan. Pasti mereka akan mengorek hidup Refan yang sekarang.

__ADS_1


"Iya Mas" jawab Refan singkat.


"Sama janda?" tanya pria itu lagi.


"Iya janda anak satu" sambung Refan.


"Kamu di jodohkan? Soalnya kalau cari sendiri cepat banget, baru berapa bulan juga Renita meninggal. Waktu Renita meninggal bukannya kamu menangis pilu?" sindir lelaki itu.


"Halaaaah biasa itu. Kalau seorang pria di tinggal mati suaminya. Saat istrinya meninggal pasti nangisnya kenceng amat tapi sebentar juga menikah lagi persis seperti Refan ini" celetuk istri sepupunya Renita.


Gleg... Seketika wajah Refan berubah. Hal seperti inilah yang sekali dia elakkan.


"Aku di jodohkan Mamaku Mas sama anak tetangga dekat rumah Mama yang ketepatan juga baru di tinggal mati suaminya karena meninggal kecelakaan. Kata Mama biar ada yang jagain Naila" jawab Refan.


"Alasan aja tuh kamu Fan bilang aja emang gak tahan lama - lama tidur sendiri" goda yang lain.


Refan hanya diam, malas meladeni ucapan mereka.


"Semua lelaki sama saja. Pasti gak tahan lama di tinggal istri langsung matanya jelalatan cari istri baru. Kalau cuma buat jagain Naila, baby sitter juga ada" sindir wanita sebelumnya.


Kenapa hatiku panas ya mendengar perkataan mereka? Batin Refan.


"Istri kamu kerja Fan?" tanya sepupu Renita yang tadi.


"Kerja Mas, dia PNS" jawab Refan.


"Tuh kan, Refan cuma cari alasan untuk menikah. Kalau istrinya kerja juga gimana mau jaga Naila? Tetap saja Naila di jaga sama baby sitter" sambut wanita tadi lagi.


"Tapi hanya saat kerja Mbak, kalau dia sudah pulang Naila sepenuhnya dia jaga" bela Refan.


"Gak seratus persen juga Fan, kan istri kamu itu punya anak juga. Pasti dia lebih sayang sama anaknya ketimbang anak kamu" jawab wanita itu.


Hati Refan semakin panas mendengar ucapan keluarga Kinan. Tanpa sadar tangannya mengepal, tapi dia harus sabar karena ini di rumah orang tua almarhumah istrinya. Tak enak rasanya kalau Refan buat keributan di sini.


"Alhamdulillah dia sangat sayang kok pada Naila seperti anak kandungnya sendiri. Sampai sekarang Naila masih tidur di kamar kami, malah anaknya sendiri tidur di kamar sebelah" lagi - lagi Refan membela istrinya.


"Tetap berbeda Fan, anak kandung dengan anak tiri tidak akan pernah sama kasih sayangnya" tegas wanita itu.


Itu mungkin kalau Mbak yang jadi Ibu tiri tapi Kinan berbeda. Jangan kalian tuduh Kinan seperti yang kalian bayangkan. Batin Refan.


"Wanita itu pintar sekali merayu Refan, buktinya tadi malam aku meminta Naila untuk ikut bersamaku menginap di rumah ini Refan tidak mengizinkannya. Pasti itu atas perintah istri barunya" ujar Mamanya Renita.


Refan sudah tidak tahan lagi untuk tetap berada di sini. Sebelum semuanya kacau dia harus segera keluar dari rumah ini. Heran.. dulu mengapa dia sangat betah berada diantara keluarga Renita yang ternyata bermulut pedas semua. Apalagi mantan mertuanya.


"Maaf Ma, kalau maksud Mama keberadaanku di sini untuk merendahkan istriku di depan semua orang lebih baik aku pamit pulang. Dan jangan lupa Ma kesepakatan yang kita buat. Sebelum hari gelap Naila harus sudah sampai di rumahku atau Mama tidak akan pernah bertemu dengan Naila lagi sampai kapanpun"...


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2