
Pesta berlangsung sampai sore, sebelum maghrib seluruh tamu dan keluarga sudah pulang. Rumah Refan hanya tinggal keluarga inti yaitu Papa dan Mama Kinan, Suci mamanya Refan dan adik Refan.
"Ini kado pernikahan kalian" Papa Kinan memberikan amplop berwarna coklat.
"Apa ini Pa?" tanya Refan pada mertuanya.
"Buka saja" jawab Papa Kinan.
Refan membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Sontak Refan dan Kinan saling pandang melihat isi amplop yang diberikan Papa Kinan. Isinya adalah voucher menginap di Hotel mewah di kota mereka.
"Tapi Pa anak - anak?" tanya Kinan.
"Anak - anak biar kami yang jaga. Ada Papa, Mama dan mertua kamu di sini. Kami bisa menjaga mereka bergantian" jawab Papa Kinan.
"Ayo siap - siap, pakaian kalian juga sudah kami siapkan dari tadi" sambung Mama Kinan yang sedang menggendong Naila.
"Reni mana koper Mas dan Mbak kamu?" tanya Mama Refan.
"Ini Ma.." jawab Salsa.
"Kasih sama Mbak kamu" perintah Mama Refan.
Reni memberikan koper Kinan dan Refan.
"Udah langsung pergi saja, nanti keburu Adzan magrib" perintah Papa Refan.
Duh kok berasa di usir dari rumah sendiri ya. Batin Refan.
Ya Allah... apalagi ini yang di rencanakan para orang tua ini? ucap Kinan dalam hati.
Akhirnya dengan berat hari Refan dan Kinan berangkat menuju Hotel yang tertera di amplop yang diberikan Papa Kinan tadi.
Sesampainya di Hotel mereka di sambut ramah oleh pegawai Hotel.
"Bapak dan Ibu Refan ya.. Selamat ya Pak atas pernikahan kalian, semoga langgeng sampai anak cucu" sambut pihak Hotel.
"Terimakasih" jawab Refan dan Kinan bersama.
"Mari Pak kamu antar ke kamar kalian" ajak pegawai Hotel.
Mereka berjalan mengikuti pegawai Hotel sampai ke kamar yang sudah di pesan untuk mereka malam ini.
"Silahkan Pak Bu masuk, selamat menikmati paket honeymoon nya" ucap pegawai hotel itu.
Refan dan Kinan masuk dengan berhati - hati, mereka melangkah perlahan sambil memperhatikan isi kamar hotel tersebut.
Ya Allaaah, kamar apa ini? Mengapa kamar mandinya transparan seperti ini. Kalau aku mandi pasti terlihat jelas. Papa.. Mama... dari mana kalian dapat ide seperti ini. Ucap Kinan dalam hati. Rasanya ia ingin menangis melihat kamarnya ini.
Duh.. ini pasti kerjaan Papa mertua dan Mamaku ini. Kalau seperti ini aku takut tidak bisa menjaga diriku malam ini. Batin Refan.
__ADS_1
"Mm.. Mas apa kita harus minta ganti kamar?" tanya Kinan
"Nanti kalau orang tua kita tahu trus nanya apa alasannya kita jawab apa?" tanya Refan balik.
Duh... bisa - bisanya mereka punya niat seperti ini mengerjain kami. Kinan merasa sangat malu.
"Gimana ini Mas?" tanya Kinan lagi.
"Ya sudah kita nikmati saja tidur di sini malam ini. Namanya kado gak enak kan kalau di tolak" jawab Refan.
Selain kamar mandinya transparan gak ada sofa di kamar ini, hanya berisikan tempat tidur, dua kursi kecil yang terbuat dari kayu dan ditengahnya ada meja. Aku rasa Papa dan Mama sengaja melakukan ini. Takut kalau salah satu diantara kami lebih memilih tidur di sofa. Ujar Kinan dalam hati.
Kinan duduk di pinggir tempat tidur.
"Sudah adzan maghrib, kamu gak mau ganti baju dan bersih - bersih?" tanya Refan.
"Mau tapi... Mas boleh gak lihat ke arah sana. Aku malu, kamar mandinya transparan seperti itu" pinta Kinan.
"Ya sudah cepat, habis itu gantian" jawab Refan.
Refan langsung memutar tubuhnya menghadap dinding membelakangi kamar mandi.
Kinan langsung membuka koper mereka untuk mencari pakaiannya.
"Ya Allah" ucap Kinan terkejut.
"Ada apa Nan?" Reflek Refan berbalik melihat apa yang terjadi dengan Kinan.
Hanya ada baju tidur tipis yang Kinan tau itu lingerie karena dulu saat menikah dengan Bima dia pernah memakainya di beberapa momment spesial dalam rumah tangga mereka.
Ada seperangkat mukena, pakaian dalam, baju untuk shalat Refan, kain sarung, sajadah, baju kaos dan celana pendek untuk Refan.
"Ini pasti kerjaan Mama dan Salsa" ucap Refan.
"Bagaimana ini Mas?" tanya Kinan.
"Pakai saja hanya itu yang ada. Kamu mau tetap memakai baju ini? Gak gerah apa, sudah dipakai seharian" jawab Refan.
"Ba.. baiklah" balas Kinan pasrah. Toh mereka memang sudah menikah. Sah - sah saja jika terjadi sesuatu diantara mereka. Tapi masalahnya belum ada cinta diantara mereka. Haruskah semua ini terjadi? Tanya hati Kinan.
Refan kembali menghadap dinding dan memainkan ponselnya.
"Cepat mandinya, sebentar lagi waktu shalat habis" desak Refan.
"I.. iya Mas" jawab Kinan.
Kina segera bergegas ke kamar mandi dia membuka semua pakaiannya kini tinggal pakaian dalam saja. Saat mandi, Kinan tak henti - hentinya melirik ke arah Refan. Dia takut kalau Refan ingkar janji dan berbalik badan
Walau Refan mempunyai hak untuk itu tapi dia belum siap dan merasa sangat malu sekali saat ini. Kinan mempercepat mandinya, dia membersihkan tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Setelah selesai mandi Kinan segera memakai lingerie dan langsung memakai mukena untuk shalat maghrib. Kinan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Sudah selesai Mas, buruan mandi biar kita shalat berjamaah" ajak Kinan.
"Iya, sebentar" balas Refan.
Kini giliran Kinan yang duduk membelakangi Refan. Jantungnya berdetak sangar kencang. Malam ini sungguh sangat menegangkan ketimbang malam pertamanya dulu bersama Bima suami pertamanya.
Kalau bersama Bima dulu Kinan memang sudah mempersiapkan dirinya lahir dan bathin untuk menyerahkan tubuh dan hatinya pada suaminya. Dan saat itu dia sangat yakin kalau Bima juga mencintainya.
Tapi malam ini, Kinan sangat ragu dengan apa yang dia rasakan begitu juga dengan perasaan Refan pada dirinya. Jelas - jelas di awal pernikahan mereka Refan berkata kalau dia masih mencintai Renita istri pertamanya.
Kinan terus berdoa untuk menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Sampai Refan selesai mandi.
Kini Refan sudah memakai baju Koko dan kain sarung. Kinan tidak mendengar lagi suara gemericik air dari kamar mandi. Dan dia mendengar suara pintu kamar mandi itu artinya Refan sudah selesai mandi.
"Sudah selesai Mas?" tanya Kinan.
"Sudah, Yuk kita shalat" ajak Refan.
Mereka segera mengambil posisi shalat berjamah. Setelah selesai shalat mereka duduk di atas tempat tidur tentunya di sisi yang berbeda. Bingung mau melakukan apa akhirnya keduanya sama-sama memegang ponselnya.
Tak begitu lama karena memang tadi mereka shalat maghribnya sudah telat akhirnya mereka mendengar Adzan Isya berkumandang.
"Sebaiknya kita langsung Shalat Isya Mas" ucap Kinan.
"Ya sudah, yuk" ajak Refan.
Mereka Shalat Isya berjamaah lagi. Begitu Shalat Isya selesai bel kamar berbunyi. Ternyata salah satu pegawai hotel datang membawa makan malam untuk mereka.
Refan menerimanya dan membawanya ke dalam kamar.
"Lebih baik kita makan dulu" ajak Refan.
"Iya Mas" jawab Kinan.
Refan meletakkan hidangan yang dibawa pelayan Hotel di atas meja. Dan mereka mulai menikmati makan malam yang disediakan pihak Hotel.
Setelah selesai makan malam apa lagi yang harus mereka lakukan. Keduanya serba salah dan merasa sangat canggung.
Kinan memulai duluan. Dia sudah gerah dengan sikap yang saling diam dan hanya duduk di kursi. Akhirnya dia naik ke tempat tidur. Mau tidur pakai mukena Kinan takut mukenanya kotor, besok kan dia mau shalat subuh.
Akhirnya Kinan pasrah dengan keadaan ini. Terserah Refan berfikir apa, Kinan membuka mukenanya dan langsung berbaring di tempat tidur kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut. Kinan tidur membelakangi Refan yang masih duduk di kursi.
Refan sempat melirik apa yang barusan Kinan lakukan. Terus terang dia juga sedang panas dingin malam ini.
Sebagai seorang lelaki normal menahan nafs* lebih dari tiga bulan merupakan perjuangan yang berat. Kalau tidak ada daging di depan mata mungkin serigala bisa menahan laparnya. Tapi kalau di depan mata sudah tersaji seperti ini siapa yang kuat menahannya.
Aaaaaakh... panas....
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG