Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 47


__ADS_3

"Kalau aku yang bertanya pada kamu seperti itu apa jawabannya? Kamu mengapa tidak pernah sekalipun menghubungi ku kecuali pada saat Salman sakit? Apa arti diriku dalam hidup kamu Mas? Seorang istri atau hanya wanita yang kamu butuhkan untuk mengasuh Naila putri kamu satu - satunya" Kinan balik bertanya.


Refan terdiam mendengar pertanyaan Kinan.


"Kenapa diam Mas? Mas gak bisa jawab kan?" tanya Kinan lagi.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu padaku?" Refan balik bertanya.


"Mas ingat saat kita pergi ke Rumah Sakit membawa Naila imunisasi, kita kan bertemu dengan teman kuliah kamu?" tanya Kinan.


"Iya ingat. Kita ketemu Susy, terus?" tanya Refan bingung.


"Trus kamu katakan kamu menikah lagi karena kamu butuh pengasuh Naila. Coba deh Mas tanya ke dalam hati Mas, apa sebenarnya aku ini dalam hidup Mas? Apakah aku ini istri Mas atau Mas butuhkan hanya sebagai pengasuh Naila?" Kinan menatap mata Refan yang tampak sedang berpikir.


"Aku berpikir kalau bagi kamu aku hanya sebagai pengasuh Naila apakah aku perlu menghubungi kamu selama aku pergi?" tanya Kinan.


"Ya kamu kan bisa menelepon untuk mengetahui keadaan Sal..." elak Refan.


"Aku setiap hari menghubungi Mama untuk menanyakan keadaan Salman dan Naila Mas. Kalau kamu tidak percaya tanya saja Mama dan Mama kamu?" potong Kinan.


Refan terdiam dan mencoba memikirkan semua perkataan Kinan.


"Tapi kalau Mas menganggap aku istri Mas, aku akan memberi kabar pada Mas kemana saja aku pergi. Gimana Mas? Coba Mas tanya hati Mas, apa arti aku dalam hidup Mas?" tanya Kinan lagi.


Refan tak bisa berkata apa - apa lagi. Dia bingung menjawab semua pertanyaan Kinan.


"Aku gak memaksa Mas harus menjawabnya malam ini. Mas bisa pikirkan aja dulu. Selama ini aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang istri dan seorang Ibu. Kalau Mas menganggap aku hanya sebagai pengasuh Naila, mulai sekarang aku akan menjalankan tugasku sebagai pengasuh Naila. Aku akan mengurus semua kebutuhan Naila. Sedangkan tugasku sebagai istri akan aku hentikan karena aku merasa Mas belum menganggapku sebagai istri Mas" Ujar Kinan.


Refan menatap wajah Kinan, raut wajahnya terlihat sangat serius dan tegas. Refan yakin saat ini Kinan memang akan menjalankan apa yang dia katakan barusan.

__ADS_1


"Sudah malam Mas, besok aku akan kembali bekerja dan mau membuat laporan hasil pelatihan kamu kemarin. Aku tidur duluan ya" Kinan membalikkan badannya dan tidur membelakangi Refan.


Refan hanya bisa menatap punggung Kinan dari belakang. Ingin sekali dia menggapai tubuh Kinan dan memeluknya dari belakang tapi dia sadar dengan pertanyaan Kinan tadi.


Apa arti Kinan dalam hidupnya, apakah memang benar hanya sebagai pengasuh Naila atau istri. Refan tidur teletang dengan berbantalkan tangannya di bawah kepalanya. Dia memandang langit - langit kamarnya.


Mencoba mengulang waktu satu minggu tanpa Kinan dalam hidupnya. Refan sadar Kinan kini sudah mulai berperan dalam hidupnya. Dia sudah memiliki fungsi lebih dari sekedar pengasuh Naila.


Tapi apakah itu artinya Refan sudah mulai menyukai Kinan? Tidak... tidak... Renita masih menempati hati Refan seutuhnya tak menyisakan tempat untuk yang lain.


Refan mulai menutup matanya dan mencoba tertidur, tak lama kemudian nafas Refan sudah teratur. Kinan yang sedari tadi sebenarnya belum tidur kini mencoba membalikkan badannya mencari posisi nyaman untuk dia tidur.


Kinan melirik ke arah Refan yang sudah tidur dengan lelapnya. Kinan memandang wajah Refan yang tidur dengan tenang.


Sebenarnya aku marasa tidak enak Mas menanyakan semuanya tadi pada kamu? Tapi aku harus menanyakannya agar aku tau posisiku di rumah ini.


Apakah kamu tau Mas sakitnya perasaanku saat kamu mengatakan pada teman kamu bahwa aku ini hanya pengasuh Naila. Itu baru kepada satu orang, bagaimana kalau kamu bertemu dengan teman - teman kamu yang lain. Kamu tetap mengatakan seperti itu kepada semua orang.


Tanpa sadar air mata Kinan mengalir dari sudah matanya. Dia meraba hatinya, rasanya sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang menyucuk langsung ke dalam hatinya yang paling dalam.


Arti diriku padamu hanya sebagai teman tidur dan pengasuh Naila kan Mas? Tangisan Kinan semakin kencang, dia membalikkan badannya dan menutup matanya agar tangisannya tidak terdengar Refan.


Tapi Refan dapat merasakan pergerakan di atas tempat tidurnya, dia menatap punggung Kinan yang terlihat bergetar dan suara tangisan yang beberapa kali lolos terdengar.


"Nan" panggil Refan.


Kinan terdiam, dia tidak menyangka kalau Refan terbangun karena suara tangisannya.


"Kinan... kamu menangis?" Tanya Refan.

__ADS_1


Tanpa sadar akhirnya Refan menyentuh bahu Kinan. Sontak membuat Kinan menegang. Apakah semua harus diselesaikan malam ini juga? Karena sifat Kinan memang tak suka memendam masalah sampai berlarut - larut.


"Apakah perkataanku minggu lalu dengan Susy sangat menyakiti perasaan kamu Nan?" tanya Refan akhirnya.


Kinan menganggukkan kepalanya.


"Maaf kan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi" jawab Refan.


Kinan kembali berbalik menghadap Refan.


"Jangan berjanji suatu hal yang mungkin kamu belum bisa tepati Mas. Tadi aku sudah katakan pada kamu kalau aku kasih kamu waktu berpikir. Hanya ada satu yang masih tertinggal dan selama ini sebenarnya sangat mengganjal di hatiku. Kalau di atas tempat tidur, aku juga sering bertanya apa fungsi di sini Mas selain pengasuh Naila" ungkap Kinan.


"Ma.. maksud kamu?" tanya Refan bingung.


"Saat aku di luar tempat tidur mungkin kamu menganggap aku sebagai pengasuh Naila tapi saat kita sama - sama di atas tempat tidur kamu menganggap aku sebagai apa Mas? Apakah aku hanya patner tidur kamu saja? Bukan sebagai patner hidup kamu?" tanya Kinan.


Mata Refan spontan melotot mendengar pertanyaan Kinan? Perkataan yang sangat telak memukul sampai ke ulu hatinya.


Apakah Kinan menangis karena pertanyaannya barusan? Jantung Refan seperti berhenti berdetak rasanya karena tatapan Kinan menyucuk sampai ke jantung nya.


Apa arti Kinan di atas tempat tidur baginya? Yah.. hampir setiap malam setelah malam pertama mereka melakukannya Refan tak pernah berhenti mengajak Kinan melakukannya. Dan Kinan tidak pernah menolaknya. Entah mengapa wangi tubuh Kinan dan lekuk tubuh Kinan begitu menggoda Refan. Membuatnya ketagihan ingin lagi dan lagi. Dan satu minggu tanpa Kinan kemarin sebenarnya hampir membuatnya gila. Refan begitu nelangsa dan tempat tidurnya ini mendadak dingin tanpa kehadiran Kinan disampingnya.


"Na... nan... Maaf.. apakah selama ini aku merasa aku paksa untuk melakukan itu?" tanya Refan hati - hati.


"Aku tidak terpaksa Mas, aku tau betul tugas aku sebagai istri. Aku harus memenuhi semua kebutuhan suamiku di luar atau di atas tempat tidur. Karena aku menganggap kamu adalah suamiku. Aku ini istri kamu, sebagai istri aku wajib memenuhi semua keinginan kamu. Tapi kalau bagi kamu aku hanya sebagai pengasuh, apakah kamu tidur dan melakukan aktivitas tempat tidur dengan seorang pengasuh?" tanya Kinan.


Mata Refan kembali melotot karena terkejut, dia tidak menyangka Kinan akan menanyakan hal itu.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2