Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 317


__ADS_3

Setelah selesai sidang Refan dan keluarga kecilnya pulang kembali ke rumah.


"Gimana sidangnya?" tanya Mama Kinan.


"Alhamdulillah sudah selesai Ma" jawab Kinan.


"Berapa lama hukuman untuk Arga?" Kali ini Papa Kinan yang bertanya.


"Seumur hidup Pa" jawab Refan.


"Wah lama ya" sambut Papa Kinan.


"Yah habis dia terbukti melakukan pembunuhan berencana. Dua orang lagi korbannya" balas Refan.


Mereka kumpul dan duduk di ruang keluarga. Refan memperhatikan Naila yang sedang asik bermain dengan Salman.


"Kenapa kamu pandangi Naila seperti itu Mas?" tanya Kinan.


"Aku ingat perkataan Arta tadi" jawab Refan.


"Tentang keinginan Arga untuk bertemu dengan Naila?" lanjut Kinan.


Refan menarik nafas panjang.


"Iya, aku tidak bisa bohongi perasaanku. Walau Arga memang sejahat itu pasti dia ingin sekali bertemu Naila. Yang membuat dia seperti itu kan juga karena ingin bertemu dengan Naila" ujar Refan.


"Kalau kamu merasa ada beban, pertemukan saja Naila dengan Arga Mas. Walau bagaimana pun Arga kan memang orang tua kandungnya" sambut Kinan.


"Tapi kalau aku bawa Naila ke penjara, apa sehat untuk anak seumur dia? Kalau dia bertanya siapa Arga apa yang harus aku katakan? Satu lagi, aku takut ada yang melihat dan akhirnya terbongkar kalau Naila adalah anak Arga. Aku takut masa depan Naila terancam. Selama ini kan kita sudah menutupi keberadaan Naila dengan sangat baik. Sehingga tidak ada yang tau kalau Naila lah, seorang anak perempuan, anak dari Renita dan Arga" ungkap Refan.


"Ya sudah Fan tunggu aja dulu semua berjalan dengan baik, lihat perkembangan nya. Kalau situasinya sudah aman baru kamu pertemukan Naila dengan Arga" sahut Papa Kinan.


"Iya Mas begitu saja. Biar lebih aman, kalau waktu berjalan lama kelamaan orang akan melupakan cerita Arga. Perhatian orang tidak akan mengarah kembali pada dia. Nanti di situ baru kita pertemukan Naila dengan Arga. Kalau soal ketakutan Mas yang kedua, Naila kan masih kecil. Dia tidak akan bertanya kepada kita siapa Arga" sambut Kinan.


Refan melepaskan nafasnya dengan kasar. Terlihat dia masih berat hati memikirkan Naila.


"Sudah Faaan... jangan terlalu dipikiran. Lepaskan saja semua, biar Allah yang mengaturnya. Kamu pasrahkan saja semuanya kepada Allah. InsyaAllah nanti Allah akan beri jalan sendiri atas masalah ini. Kalau Arga benar - benar bertobat dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Allah akan memperlancar pertemuannya dengan anaknya" nasehat Papa Kinan.


"Iya Pa, aku tidak akan memikirkannya lagi. Biarlah aku serahkan kepada Allah semuanya" jawab Refan.

__ADS_1


Refan berdiri kemudian menghampiri Naila dan Salman. Refan mengelus lembut kepala Salman dan Naila.


"Pap... pa... ain ama tatak Alman" ucap Naila masih belum lancar bicaranya.


"Iya sayang, main yang akur ya sama Kakak kamu. Salman jaga adiknya dengan baik ya" pesan Refan.


"Iya Pa" sahut Refan.


Refan berdiri kemudian berjalan menuju kamarnya. Kinan segera menyusul suaminya, ingin memastikan kalau suaminya butuh sesuatu.


"Mas kenapa?" tanya Kinan.


"Aku ingin istirahat, kepalaku pusing" jawab Refan sambil membuka bajunya.


Kinan langsung sigap memilihkan pakaian rumah Refan dan menyerahkannya kepada suaminya itu. Refan meraihnya dan mengganti bajunya dengan pakaian santai. Setelah itu Refan berbaring di atas tempat tidur.


"Mau aku ambilkan obat?" tanya Kinan menawarkan.


"Gak usah yank, aku istirahat aja sebentar. Mudah - mudahan nanti setelah bangun udah segaran" tolak Refan.


"Ya sudah, aku cek si kembar dulu ya Mas" Kinan keluar kamar setelah dia memastikan AC kamar sudah nyaman untuk Refan tidur.


Refan mencoba memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia sudah tertidur. Entah sudah berapa lama dia tidur, Refan terbangun karena tanpa sadar Kinan menyentuhnya.


"Kamu tau sayang, melihat wajahmu saat tidur seperti ini. Aku seperti melihat wajah anak kita. Aku bersyukur putri kita mirip sekali denganmu. Dan yang paling membuat aku tak henti - hentinya bersyukur.. Kamulah Ibu dari anak - anakku bukan yang lain. Aku sangat bahagia sekali sejak mencintaimu. Aku sangat beruntung kau selalu ada di sisiku" gumam Refan sambil mengelus lembut pipi Kinan.


Walau sudah selembut mungkin tapi Kinan tetap tersadar. Kinan membuka matanya dan mendapati suaminya sedang menatapnya dengan intens.


"Gimana kepala kamu Mas, masih pusing?" tanya Kinan khawatir.


"Sudah tidak sayang, tapi pusingnya pindah ke bawah" jawab Refan usil.


"Kebawah gimana?" tanya Kinan bingung.


Refan tersenyum menggoda.


"Kamu tau kan kalau para pria punya dua kepala, seperti kata orang kalau wanita juga punya dua mulut" goda Refan sambil tersenyum nakal.


"Maaaaas.... " sambut Kinan dengan wajah malu.

__ADS_1


"Anak kita sudah empat, tapi kamu tetap saja malu - malu setiap kita membahas masalah ranjang" ujar Refan.


"Tapi ini sudah sore" balas Kinan.


"Bagus donk, setelah itu kita mandi. Pasti segar sekali" bujuk Refan sambil tangannya mulai menjelajahi tubuh istrinya.


"Mimpi apa kamu tadi Maaas?" oceh Kinan.


"Mimpi terbang melayang bersama kamu ke langit yang ke tujuh" jawab Refan iseng.


"Aaaaw... jangan bermain - main di situ Mas" ucap Kinan saat tangan Refan berhasil mendarat di area sensitif Kinan.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Refan.


Nafas Kinan sudah mulai menderu.


"Sepertinya kamu menyukainya sayang.. kalau suka mengapa harus malu. Aku akan selalu siap melayani kamu" goda Refan sambil berbisik ke dekat telinga Kinan.


Membuat bulu kuduk Kinan seketika berdiri.


"Aku tidak pernah puas jika berhubungan dengan kamu sayang. Kamu selalu membuat aku merindukan aromamu. Membuat aku mabuk dan tak bisa jauh darimu" goda Refan kembali.


Kinan tak bisa berkata - kata lagi karena Refan sudah aktif menyerangnya. Sore itu menjadi saksi keharmonisan rumah tangga Refan dan Kinan.


Pernikahan yang semula tak pernah mereka bayangkan akan seperti apa mereka jalani. Ternyata takdir berkata lain, semakin hari rasa saling membutuhkan bahkan tak ingin terpisahkan semakin mengikat mereka.


Hidup saling melengkapi, menutupi kekurangan masing - masing dan saling menyempurnakan. Keduanya menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna.


Bukan perbedaan yang dipertentangkan tapi karena perbedaan itulah yang membuat irama kehidupan menjadi lebih bersenandung.


Kini Refan dan Kinan menjalaninya dengan penuh kebahagian. Menutup dan menghapus semua masa lalu mereka. Saling menyembuhkan luka lama yang pernah mereka rasakan.


Saling mendukung dan saling menguatkan. Bersama - sama menjalani lika - liku kehidupan dengan penuh kesabaran dan semangat.


Menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup terlebih dalam rumah tangga. Walau pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang pertama, tapi kali ini mereka sangat berharap, ini akan menjadi pernikahan terpanjang selama hidup mereka.


Semoga rumah tangga mereka senantiasa terlindungi dan mereka bisa melalui semua cobaan dalam hidup ini.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2