
Kinan keluar dari kamar tamu dan kembali ke ruang keluarga dimana semua keluarganya berkumpul.
"Kamu mau istirahat juga kan Bel? Yuk Mbak tunjukkan kamar kamu?" ajak Kinan kepada Bela.
"Mmm.. kamarnya asisten rumah tangga Mbak dimana?" tanya Bela.
Mati aku.. sepertinya gadis ini sedang membalas perbuatanku. Batin Aril.
"Ada di belakang. Emangnya kenapa Bel? Kok kamu tanya kamar mereka?" tanya Kinan bingung.
"Sepertinya aku pantasnya tidur disana Mbak. Karena ada yang mengira bahwa aku adalah pembokatnya Bapak dan Ibu" jawab Bela.
"Siapa?" tanya Kinan penasaran.
"Tuh yang disamping Mas Refan. Siapa lagi kalau bukan dia. Kan dia yang jemput kami tadi ke Bandara" jawab Bela lagi.
Aril tersenyum malu sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal. Sementara Kinan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aril sahabat suaminya.
"Mas Aril, ada - ada saja. Yuk Bel, gak usah di dengerin perkataan Mas Aril. Dia emang gitu orangnya, suka asal dan usil" ujar Kinan.
Bela dan Kinan berjalan meninggalkan Refan dan Aril juga kedua orang tuanya.
"Bapak dan Ibu juga mau ke kamar ya Fan. Mau istirahat" ucap Pak Ardianto.
"Iya Pak" jawab Refan.
"Ibu juga" ucap Suci.
Para orang tua juga berjalan menyusul Kinan dan Bela. Mereka masuk ke kamar masing - masing.
Kini hanya tinggal Refan dan Aril berdua di ruang keluarga.
"Jadi kamu nganggap Bela itu pembokatnya Pak Akarsana?" tanya Refan penasaran.
"Iya Bro.. aku salah menilai. Saat aku ke rumah mereka di Surabaya aku melihat Bela membawa minuman untukku dan temanku yang ikut menemaniku bertamu ke rumah mereka. Aku pikir dia seorang pembantu" jawab Aril serba salah.
"Oh jadi yang kamu maksud ada surga di Surabaya itu Bela?" tanya Refan.
Seketika Refan ingat ucapan Aril sepulang dia dari Surabaya dan melaporkan semua apa yang dia dapatkan selama di rumah orang tua Almarhum Bima.
"Ya gitu deh. Pembokat yang cantik" jawab Aril pasrah.
"Hahaha... gila kamu Ril. Bisa - bisanya kamu menduganya sept itu" Refan tak percaya dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya habis waktu itu tampilan Bela sangat sederhana dan tanpa polesan. Tapi tetap cantik kok, kecantikan alami" puji Aril sambil tersenyum.
"Ya jelas lah dia berpenampilan sederhana kan cuma di rumah. Lagian kamu juga bukan tamu spesial yang harus disambut dengan full make up dan baju kebaya persis orang mau kondangan atau mau nikahan" gumam Refan.
"Ya siapa tau aja dia emang mau aku ajak nikah Fan jadi lebih ringkas aku tinggal jabat tangan Bapaknya, ucapkan ijab kabul terus sah deh jadi pasangan suami istri" sambut Aril.
"Mimpi kamu" ejek Refan.
"Mimpi dulu Fan, baru jadi kenyataan. ** Habibie juga dulu bermimpi kok buat pesawat terbang dan ternyata mimpinya jadi nyata. Dia bisa menciptakan pesawat terbang" jawab Aril.
"Tapi mimpi kamu lebay, mana ada orang baru pertama ketemu belum saling kenal udah langsung main ijab kabul dan akad nikah" komentar Refan.
"Eh ada donk. Zaman dulu banyak tuh yang nikah di jodohkan seperti itu. Belum pernah bertemu, belum saling kenal. Gitu di ketemuin langsung nikah" Aril membela diri.
"Itu kan zaman dulu, zaman sekarang mana ada lagi seperti itu" balas Refan.
"Kira - kira Bela mau gak ya aku ajak nikah?" tanya Aril.
"Gak tau. Aku bukan Bela, aku Refan. Suaminya Kinan" jawab Refan geli.
"Bantuin napa Fan. Bantuin teman untuk mendapatkan jodoh temannya pahalanya besar lho. Kamu bisa mendapat imbalan mesjid di akhirat" ucap Aril.
"Tumben lo tau" sindir Refan.
"Bacot kamu. Mana ada juga AC di mesjid surga. Wong disana udah sejuk kok udaranya. Namanya juga surga" timpa Refan.
"Ya ganti lah Fan, dapat keset kaki di mesjid juga gak apa - apa Fan, lumayan" sambung Aril.
"Banyak banget istilah kamu" ujar Refan.
"Namanya usaha Fan siapa tau Bela emang jodohku" Aril masih mencoba berusaha.
"Ya usaha aja sendiri. Aku males ah promosiin kamu sama Bela. Malu sama Pak Akarsana. Sepertinya mereka keluarga yang punya ilmu agama tinggi Ril. Nanti takutnya nasib kamu sama seperti Riko di tolak secara halus. Walau lebih lumayan nasib kamu. Kalau Riko langsung di tolak secara kasar dan di usir" ujar Refan.
Hati Aril jadi nelangsa.
"Gini aja, karena kamu teman aku. Gak apa - apa deh aku kasih kamu kesempatan untuk berusahalah" ucap Refan memberi ide.
"Gimana Fan, gimana?" desak Aril.
"Gimana kalau selama Bapak dan Ibu Akarsana ada di sini kamu yang antarin mereka kemanapun mereka pergi. Kamu harus bisa luangkan waktu kamu buat mereka. Pengorbanan donk" ujar Refan.
Seketika wajah Aril menjadi bersinar dan bahagia.
__ADS_1
"Bisa Fan, aku bisa. Bila perlu selama mereka ada di sini aku ikutan ya nginap di rumah kamu" pinta Aril.
"Enak saja, rumahku sudah penuh. Tidak ada kamar kosong lagi untuk kamu" tolak Refan.
"Ya elaaah pelit amat. Sama sahabat sendiri aja begitu" protes Aril.
"Yang ada tinggal kamar pembokat. Kalau kamu mau biar Bik Mar dan Bik Nah satu kamar, satu kamarnya lagi kosong. Gimana?" tanya Refan menawarkan kepada Aril.
"Yaaah apes donk aku. Malah aku tidur di kamar pembokat" jawab Aril.
"Karma buat kamu karena sudah menebak pekerjaan Bela pembokat" balas Refan.
"Iya deh gak apa - apa. Tidur di kamar pembokat pun aku mau Fan demi surga indah di depan mata" ucap Aril pasrah.
"Sorry Ril aku becanda. Aku hanya ngetes kamu tadi rupanya kamu tanggapi dengan serius. Aku kira kamu akan tolak tadi. Tawaran aku cuma main - main" sambut Refan.
"Maksud kamu boongan Fan?" tanya Aril terkejut.
"Iya bohong. Yang benarnya kamu memang di larang tidur di rumahku. Kamu pulang aja ke apartemen kamu. Besok kalau mereka membutuhkan bantuan kamu baru kamu datang ke sini lagi" jawab Refan
"Yaaaah Reeeeefaaaan tega banget" protes Aril.
"Ya semuakan perjuangan Ril. Aku mau lihat seberapa seriusnya kamu pada Bela. Kalau memang aku merasa kamu serius baru aku sampaikan keinginan hati kamu pada Kinan biar nanti Kinan yang sampaikan niat hati kamu kepada Bela. Itu pun kalau Bela mau terima ya Ril, tapi kalau tidaaaak ya tanggung sendiri sakitnya. Kamu akan patah hati seperti Riko" ujar Refan.
"Sadis amat jadi teman. Malah do'ain seperti itu, bukannya do'ain yang baik - baik" sambut Aril.
"Ya kemungkinan terburuk itu harus kamu fikirkan masak - masak biar kamu gak kecewa. Belajarlah dari pengalaman hidup Riko. Semua bisa saja terjadi, walau kalian itu playboy dan sering menaklukkan hati para wanita tapi kekuatan jodoh itu maha dahsyat. Kalau Allah sudah bilang kamu bukanlah jodoh Bela, sekuat apapun usaha kamu itu tidak akan berhasil Ril" nasehat Refan.
"Yang kamu lakukan itu ja.. hat Faaaan" ucap Aril kesal.
"Hahaha.... " Refan tertawa melihat wajah kesalnya Aril.
"Udah ah, kalau begitu aku pulang dulu. Besok pagi aku datang lagi ke sini. Bilang sama Kinan sediakan satu kursi di meja makan untukku. Selama bidadariku ada di sini aku akan sarapan pagi bersama kalian" tegas Aril.
"Sompret lo" balas Refan dengan kesal.
"Hahaha.... timbal baliknya Fan. Daaah aku pulang" Aril bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan rumah Refan, kembali ke apartemennya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1