Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 184


__ADS_3

"Bimo.... " ucap Pak Akarsana terkejut ketika melihat wajah Bimo dari dalam mobil.


Dia tampak sangat terkejut melihat wajah pria itu. Matanya tampak berkaca - kaca. Rasa rindu pada kedua putranya menjadi satu. Pertama rasa rindu pada Bimo yang sudah tidak bertemu selama sepuluh tahun dan kedua kerinduan pada putranya Bima yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu.


Tapi seketika saja Pak Akarsana bisa menguasai dirinya dan raut wajahnya kembali seperti semula. Bahkan jadi terasa lebih dingin saat menatap wajah Bima.


Ngapain aku gembira bertemu dengan anak durhaka itu. Batin Pak Akarsana.


"Ssst.. kalian diam jangan berisik. Nanti dia bisa mendengar atau dia bisa tau kalau di mobil ini ada orangnya" ujar Pak Akarsana pelan.


Seketika Aril mematikan mesin mobilnya dan mengirim pesan kepada Refan.


Aril


Fan, Bimo parkir tepat di samping mobil kami dan saat ini dia akan masuk ke dalam Restoran.


Refan


Oke Ril, berarti lebih baik seperti itu. Jadi lebih mudah mengawasi gerak - geriknya. Apakah dia datang sendiri atau bersama seseorang.


Aril


Sepertinya sendiri, di mobilnya tidak ada tanda - tanda ada orang yang tinggal di dalam


Refan


Bagus, tunggu kabar dariku ya.. kalau aku missed call, suruh Bapak dan Ibu keluar dari mobil dan lansung masuk ke dalam Restoran. Tanya saja sama pelayan meja yang di pesan atas nama Refan


Aril


Oke


Refan


Sudah dulu ya, dia sudah datang.


Refan menutup pesan dan menyimpan ponselnya.


"Sayang itu Mas Bimo" ucap Kinan yang tampak tegang ketika Bimo berjalan semakin dekat ke meja mereka.


Salman tampak mulai semangat.


"Papa Bima... Papa Bimaaaa.... " teriak Salman.


Bimo langsung melihat ke arah suara. Matanya tampak terpaku dan berkaca - kaca ketika melihat wajah Salman.


"Salmaaan" sambut Bimo.


"Papa Bimaaaaa" teriak Salman senang.


Diluar prediksi Salman langsung turun dari kursinya dan berlari ke arah Bimo membuat Refan dan Kinan terkejut.


Salman memeluk Bimo dengan sangat kuat untuk melepaskan rindunya. Salman kini berada dalam gendongan Bimo.

__ADS_1


"Papa Bimaaaa hiks.. hiks.. " Salman mulai menangis.


"Papa Bimaaaa aku rindu sekali sama Papa. Kata Mama, Papa sudah pergi dan sekarang Papa sudah di Surga. Papa jahat padaku, kenapa Papa meninggalkan aku di sini. Kenapa Papa tidak mengajak aku pergi" isak Salman.


Bimo membalas pelukan Salman dengan begitu erat, hatinya begitu teriris mendengar tangisan dan isakan anak kecil yang merupakan anak dari saudara kembarnya.


"Salmaaaaan... sayaaang.. Ini Pak De Bimo bukan Papa Nak" panggil Kinan.


Kinan juga tampak sedang menangis melihat pertemuan Salman dengan kakak kembar almarhum suaminya yang sangat mirip wajahnya dengan almarhum suaminya.


"Tidak Ma... ini Papa Bima.. aku sangat yakin. Ini Papa Bima.. Papa Bima masih hidup, dia tidak pergi ke surga. Kalau Papa pergi, Papa pasti akan mengajakku" bantah Salman.


"Biarkan Kinan, biarkan dia menangis sampai puas untuk meluapkan rasa rindunya pada Bima" ujar Bimo.


Refan menarik tubuh istrinya dan membiarkan Salman melepaskan kerinduannya pada Papanya. Anak kecil itu sangat merindukan sosok Papa kandungnya.


"Papa.. sekarang aku sudah sekolah, Papa kenapa lama sekali pulangnya. Aku juga sekarang udah punya Papa baru yaitu Papa Refan. Dia juga sangat baik dan sayang padaku seperti Papa. Sekarang juga di perut Mama ada adik bayi, kata dokter adeknya ada dua. Aku senang sekali Pa punya adek dua" curhat Salman.


Bimo tersenyum mendengar celoteh anak kecil yang lucu dan polos itu.


"Sekarang kita bisa duduk dulu?" tanya Bimo.


"Bisa Pa, maaf pasti aku berat ya jadi Papa capek. Aku sekarang sudah lebih besar Papa, makanya Papa capek menggendongku" jawab Salman.


"Nggak kok kamu gak berat tapi kasihan Mama kamu berdiri dari tadi menunggu kita duduk dengan perutnya yang besar itu" ujar Bimo.


Salman turun dari gendongan Bimo dan menarik tangan Bimo duduk di hadapan Refan dan Kinan.


"Sayaaang.. sekarang Papa boleh tanya gak?" tanya Refan lembut kepada Salman.


"Boleh, Papa mau tanya apa?" tanya Salman bijak.


"Sekarang kamu sudah bisa tenang?" tanya Refan.


"Bisa Pa, aku sudah lebih tenang dari tadi" jawab Salman polos.


"Sekarang kamu dengarkan apa yang Papa katakan ya" pinta Refan.


"Iya Pa" sambut Salman sambil menganggukkan kepalanya.


"Dengar ya Papa akan jelaskan sesuatu kepada kamu. Kamu mengerti tidak cerita tentang anak kembar?" tanya Refan memulai penjelasan kepada Salam.


"Aku mengerti, seperti adek yang ada di dalam perut Mama kan? Adeknya ada dua" jawab Salman.


"Pinteeer, apakah kamu tau kalau anak kembar itu wajahnya mirip?" tanya Refan lagi.


Kembali Salman menganggukkan kepalanya.


"Tau Pa, aku pernah lihat anak kembar di sekolahku. Mereka sangat mirip, terkadang kami salah memanggil namanya" jawab Salman senang.


"Anak pintar" Refan mengacak rambut Salman.


"Papa dan Pakde Bimo ini juga saudara kembar. Mohon maaf sayang.. Papa kamu memang sudah meninggal sekitar lebih satu tahun yang lalu. Dan saat ini Papa kamu sudah ada di surga" jelas Refan.

__ADS_1


Salman terdiam sesaat. Semua sedang memperhatikan reaksi Salman dengan hati yang tak tenang, terlebih Kinan yang sudah terus berdoa dalam hati.


Salman melihat kembali ke arah Bimo, menatapi wajah Bimo dengan teliti. Dan mengangkat tangannya ke arah wajah Bimo dan membelainya perlahan.


"Jadi kamu bukan Papa?" tanya Salman.


Bimo tersenyum dan mengangguk kepada Salman.


"Aku harus panggil kamu apa?" tanya Salman lagi.


"Panggil Pakde atau Uncle juga boleh" jawab Bimo.


"Aku panggil Uncle aja ya" pinta Salman.


"Terserah kamu sayang" balas Bimo.


"Uncle siapa namanya?" tanya Salman lagi.


"Uncle Bimo" balas Bimo ramah.


"Jadi nama Uncle Bimo, nama Papa aku Bima?" tanya Salman mulai mengerti.


"Iya Nak" balas Bimo sambil mengacak lembut kepala Salman.


"Uncle, aku kangen banget sama Papa Aku" curhat Salman.


"Uncle tau, kalau kamu kangen hubungi Uncle ya. Kamu bisa melepaskan kangen kamu pada Papa Bima kamu dengan cara memeluk Uncle seperti ini" balas Bimo.


Bimo kembali memeluk Salman dengan penuh kasih sayang. Hal ini membuat rasa tegang Kinan perlahan mereda.


"Uncle... kenapa selama ini Uncle gak pernah datang melihatku? Dulu waktu ada Papa Uncle juga gak pernah muncul?" tanya Salman ingin tau.


"Karena Uncle tinggalnya jauh sayang dan dulu Uncle belum tau rumahnya kamu dan Papa Bima dimana" jawab Bimo.


"Papa kok gak pernah cerita ke aku kalau dia punya saudara kembar?" tanya Salman penasaran.


Seketika Bimo terdiam, bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan anak berumur empat setengah tahun.


"Uncle dulu jahat, jadi dibenci semua orang. Makanya Papa Bima gak pernah cerita kepada kamu tentang Uncle" jawab Bimo akhirnya.


"Jadi sekarang apakah Uncle masih jahat?" tanya Salman dengan segala rasa keinginan tahuannya.


Bimo menarik nafas panjang dan menatap Salman lembut.


"Tidak Nak, Uncle sudah tidak jahat lagi. Uncle capek jadi anak jahat. Uncle akan berubah menjadi anak baik kembali. Uncle akan menjadi anak yang baik agar Uncle bisa tetap bertemu dengan kamu. Kamu kini alasan Uncle untuk berbuat baik" ucap Bimo.


Bimo kembali memeluk Salman dengan erat.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2