
"Mas Bimoooo.... " ucap Bela begitu dia membuka pintu rumahnya.
"Paaaak Buuuu Mas Bimo pulaaaang" teriak Bela sangkin senangnya.
Bapak dan Ibu Akarsana yang sedang bersiap hendak istirahat ke kamar terkejut mendengar teriakan Bela. Mereka langsung menyusul Bela ke depan.
Bu Akarsana langsung memeluk Bimo, matanya tampak berkaca - kaca.
"Kamu pulang leeee.... Akhirnya kamu kembali lagi ke rumah ini" ujar Bu Akarsana.
Air matanya langsung saja menetes deras. Setelah sepuluh tahun anak yang selama ini dia tunggu - tunggu kedatangannya akhirnya kembali juga. Bimo pulang ke rumah mereka. Bimo kembat menjadi putra mereka.
Walau beberapa minggu yang lalu mereka sudah bertemu Bimo di Jakarta tapi kedatangan Bimo saat ini merupakan sebuah kejutan yang mereka tunggu - tunggu selama sepuluh tahun ini.
Bimo membalas pelukan Ibunya dengan erat.
"Iya Bu aku pulang maaf telat" jawab Bimo.
"Tak apa le.. Ibu sangat senang kamu pulang" sambut Bu Akarsana.
Setelah melepaskan pelukannya pada Ibunya Bimo mencium tangan Bapaknya dan memeluknya juga.
"Kami sangat senang akhirnya kamu kembali. Ini rumah kamu Nak, sampai kapanpun akan tetap menjadi rumah kamu. Pintu rumah ini terbuka lebar untuk kamu" ujar Pak Akarsana.
"Terimakasih Pak" Bimo memeluk erat tubuh Bapaknya.
Setelah itu baru Bela yang terakhir dia peluk.
"Maaas akhinya impian aku selama ini terkabul. Aku melihat Mas kembali ke rumah ini. Ini mimpi aku selama sepuluh tahun ini" ungkap Bela.
Bimo mengelus kepala Bela dengan penuh kasih sayang.
"Iya Dek, Mas kangen banget pulang" jawab Bimo.
"Eh ada Nak Reni dan Nak Aril rupanya. Mereka ikut juga ke sini?" tanya Pak Akarsana terkejut melihat kehadiran Reni dan Aril.
Reni dan Aril langsung mencium tangan Bapak dan Ibu Akarsana bergantian.
"Iya Pak, mau kasih kejutan buat Bela. Besok kan dia wisuda. Aku udah izin juga seminggu sama Mas Refan. Jadi bisa sekalian liburan dan jalan - jalan di kota ini" jawab Reni sopan.
"Waaah aku tersanjung sekali kalian mau datang ke acara wisudaku" sambut Bela.
"Apalagi kedatangan calon Bos ya kan Bel? Jarang banget ada kesempatan seperti ini. Calok Bos datang ke wisuda calon sekretarisnya" ujar Reni sambil melirik ke arah Aril.
Aril tersenyum lebar dan merasa tersanjung dengan ucapan Reni barusan.
"Iya Mas Aril jadi gak enak, Mas Aril bersedia menyempatkan datang ke Surabaya dan hadir di acara wisudaku besok" balas Bela.
__ADS_1
"Senin Mas ada pertama dengan client dan besok acara Mas kosong. Gak ada salahnya kan kedatangan ke Kota ini dipercepat. Udah janji juga sama Bimo mau berangkat bareng. Rupanya Reni tertarik untuk ikut ke sini juga ya sudah sekalian kami bareng - bareng ke sini" jawab Aril.
"Ayo masuk.. masuk.. " ajak Bu Akarsana.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan membawa koper mereka masing-masing.
"Kalian sudah makan?" tanya Bu Akarsana.
"Sudah Bu, tadi sebelum ke sini kami singgah ke Restoy makan dulu. Dek Renita udah kelaperan katanya" jawab Bimo sambil merangkul tubuh Ibunya dalam pelukannya sembari berjalan menuju ruang keluarga.
"Kenapa gak kasih kabar, Ibu kan bisa siapkan makanan spesial untuk kalian" ujar Bu Akarsana.
"Saya gak ada rencana ikut Bu. Pulang kerja Mas Aril dan Mas Bimo sudah kumpul di rumah Mad Refan dengan koper mereka. Aku penasaran mereka mau kemana? Ternyata mau ke sini dan aku di ajak. Alhamdulillah Mas Refan kasih izin jadinya dadakan aku ikutnya. Langsung susun baju dan pamitan sama Mama dan yang lainnya" jawab Reni.
Bu Akarsana tersenyum menatap Reni. Ada sesuatu yang membuatnya sangat senang dengan kedatangan dan kehadiran Reni di rumah mereka. Apalagi datangnya bersama Bimo.
Apa mungkin ini langkah awal untuk pembuka jalan niat dirinya yang sempat terbesit kemarin saat di Jakarta? Tidak ada yang tau rencana dan rahasia Allah.
"Bel siapkan kamar Almarhum Mas Bima untuk Aril, kamar Bimo juga" perintah Bu Akarsana.
"Iya Bu, Ren kamu tidur dikamar aku ya" ajak Bela.
"Iya Bel" sambut Reni senang.
Bela langsunh pergi mengerjakan perintah Ibunya sedangkan Bu Akarsana bergegas hendak ke dapur.
"Gak usah repot Bu. Kami baru aja makan tadi" tolak Reni halus.
"Ah hanya air minum saja Nak Reni" sambung Bu Akarsana.
"Kalau begitu air hangat aja Bu. Udah malam juga" pinta Reni.
"Iya Bu" sambut Aril.
"Ya sudah Ibu ambilkan dulu ya" ujar Bu Akarsana.
"Berapa lama kamu di sini?" tanya Pak Akarsana pada Bimo.
"Seminggu Pak, aku gak bisa terlalu lama di sini. Urusan di Jakarta kan belum selesai. Nanti kalau sudah selesai baru aku balik lagi ke sini" jawab Bimo.
Pak Akarsana mengangguk mengerti.
"Iya, selesaikan dulu masalah di Jakarta baru kita bisa bernafas lega. Saat ini rasanya Bapak selalu khawatir terhadap keselamatan kamu, Kinan dan Salman. Takutnya mereka juga kena imbasnya karena mereka keluarga dekat Bima. Pasti pembunuh itu mencari informasi keluarga Bima" ujar Pak Akarsana.
"Iya Pak tapi Refan sudah mempersiapkannya" sambut Aril.
"Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Pak Akarsana.
__ADS_1
"Mereka sedang mengejar keberadaan penabrak Bima. Kalau pelakunya sudah tertangkap tinggal korek siapa dalangnya" jawab Bimo.
"Berarti pihak keluarga almarhum istri kamu sudah tau kalau polisi mulai bergerak?" tanya Pak Akarsana.
"Itu belum bisa aku pastikan Pak, apakah mereka sudah tau atau tidak tapi sejauh ini aku masih aman. Itu artinya mereka belum tau kalau mereka sedang di cari" jawab Bimo.
"Kamu yakin tidak ada penguntit atau mata - mata yang mengikuti kamu?" tanya Pak Akarsana lagi.
"InsyaAllah sejauh ini aku belum menemukan kecurigaan. Semua masih terlihat aman" balas Bimo.
"Tapi kita harus tetap waspada" sambut Pak Akarsana.
"Iya Pak" balas Bimo.
Tak lama Bu Akarsana sudah kembali bersama Bela yang sedang membawa nampan berisi gelas minuman untuk Aril, Bimo dan Reni.
Bela membagikan gelas kepada mereka dan mempersilahkan mereka minum.
"Silahkan diminum" perintah Bela.
Reni tersenyum menatap Bela.
"Jadi gara - gara kamu melakukan ini sampai dikira pembokat?" tanya Reni sambil tersenyum.
"Yah begitulah. Namanya tampangnya mirip gembel" jawab Bela.
Wajah Aril langsung memerah karena malu.
"Aku sudah minta maaf" ujar Aril.
"Aku kira masalahnya sudah selesai, ternyata kamu belum ikhlas memaafkan Aril?" tanya Bimo.
"Ya kan kilas balik Mas" protes Bela..
"Kalian ini seperti anak - anak" ujar Bu Akarsana
"Yuk Ren kita ke kamar. Mari aku tunjukkan kamar kamu selama tinggal di sini" ajak Bela.
"Ayo Bel" sambut Reni.
Mereka berdiri dan langsung bergegas menuju kamar Bela. Bapak dan Ibu Akarsana saling lirik ketika Reni berlalu di hadapan Bimo. Tampak Bimo sekilas memperhatikan kepergian Reni dari hadapannya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1