
"Mama Omaaa... aku mau Mamaaaa" tangis Salman pecah begitu Dhisti memeluknya.
"Sabar ya sayang. Mama kan lagi kerja, kamu di sini aja ya sama Oma, sama Papa, sama adeek dan sama Bibik. Semua menyayangi Salman" bujuk Dhisti.
"Mama lama perginya Oma?" tanya Salman.
"Nggak, sebentar kok. Kalau Salman sakit seperti ini pasti akan terasa lama. Tapi kalau Salman sembuh pasti Mamanya cepat pulang" sambung Dhisti.
"Aku mau cepat sembuh Oma, biar Mama cepat pulang" balas Salman.
"Kalau mau cepat sembuh minum obat dulu ya. Papa mana obat untuk Salman?" Dhisti melirik ke arah Refan.
Dengan sigap Refan langsung mengambil obat Salman dan membaca aturan pakaianya. Kemudian Refan memberikannya kepada Salman untuk dia minum.
"Sruup..." makasih Papa.
"Anak pintar" puji Refan sambil mengelus lembut kepala Salman.
"Terimakasih Papa" balas Salman.
Hati Refan benar - benar menghangat mendengar ucapan Salman. Anak sekecil dia saja tau cara berterima kasih.
"Sekarang kamu berbaring saja ya. Hari ini jangan bermain dulu sama adek Naila ya. Kalau Salman sudah sembuh baru Papa kasih main sama adek Naila" bujuk Refan.
"Iya Pa" jawab Salman.
Refan menyimpan kembali obat Salman ke dalam kotaknya.
"Kinan sudah tau kalau Salman sakit Refan?" tanya Dhisti.
"Belum Ma, dia masih belum menjawab teleponku tapi aku sudah mengirim pesan kepadanya" jawab Refan.
"Mungkin dia masih sibuk. Tunggu saja dulu, atau nanti malam kamu coba menghubunginya lagi" pertingah Dhisti.
"Iya Ma" jawab Refan cepat.
Kini Salman kembali berbaring di tempat tidur. Refan sudah sedikit tenang karena Mama dan Mama mertuanya ada di sini.
Untung Mama Kinan segera kemari. Kalau tidak aku akan panik mengurus Salman sakit. Ucap Refan dalam hati.
"Aku ke kamar dulu ya Ma, mau mandi. Udah gerah banget" ujar Refan.
"Iya, biarkan Salman Mama yang jaga" jawab Dhisti.
Refan masuk ke kamarnya melului pintu penghubung. Dia lalu masuk ke dalam kamar mandi, setelah mandi Refan keluar dengan menggunakan handuk, dia menahan ke arah atas tempat tidur.
__ADS_1
Biasanya setiap dia mandi begitu keluar dari kamar mandi dia akan mendapati pakaian yang akan dia pakai lengkap dengan pakaian dalam. Tapi kali ini tidak. Tiba - tiba Refan tersadar.
Akh... Kinan tidak ada. Batinnya.
Refan membuka lemari dan mengambil sendiri pakaiannya. Setelah itu Refan melaksanakan shalat maghrib. Setelah selesai shalat Refan melihat sekeliling kamarnya terasa sangat sepi. Biasanya setelah shalat berjamaah Kinan akan langsung mencium tangannya.
Lebih satu bulan mereka menikah dan dia sudah merasa terbiasa dengan pelayanan dan keberadaan Kinan di rumah ini. Kini kamar ini kok terasa sangat sepi ya. Biasanya Kinan akan bertanya bagaimana tadi di kantor. Apakah ada masalah atau tidak, tadi siang makan apa di kantor dan sebagainya.
Malam ini tidak ada yang menanyakan itu lagi kepadanya. Refan melihat sajadah dan kain shalatnya. Dia kemudian duduk di pinggiran tempat tidur dan meraih ponselnya.
Refan mencoba menghubungi Kinan sekali lagi, tapi teleponnya tetap tidak di jawab. Akhirnya Refan melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
Awas kalau kamu telepon nanti ya, aku akan marah kepada kamu. Batin Refan kesal. Tak lama pintu kamar Refan di ketuk
Tok.. tok...
"Den Refan makan malam sudah siap" teriak Bik Mar dari luar.
"Iya Bik, sebentar" jawab Refan
Refan segera keluar dari kamarnya dan menuju dapur kemudian duduk di depan meja makan. Mama dan Mama mertuanya juga sudah ada di sana.
"Gimana keadaan Salman Ma?" tanya Refan.
"Oh iya Naila mana? Dari tadi aku belum lihat dia" ujar Refan.
"Naila di gendong sama Bik Nah" jawab Suci Mama Refan.
Refan memandang isi meja makan dan menatap piring kosong di depannya. Biasanya Kinan dengan sigap langsung mengisikan piringnya dengan penuh makanan yang akan dia santap. Lagi - lagi kali ini dia mengambil sendiri makanannya.
Dia mulai menyantap hidangan makan malam yang pasti di masak oleh Bik Mar.
Akh... rasanya berbeda, lebih enak masakan Kinan. Ujar Refan dalam hati.
Refan terlihat tidak semangat makan malam. Mamanya memperhatikan sikap Refan yang jadi aneh malam ini.
"Kamu kenapa Fan, gak enak badan juga?" tanya Suci.
"Nggak Ma, aku sehat kok. Gak sedang sakit" jawab Refan.
"Lantas kenapa makan kamu sedikit? Seperti gak selera makan gitu, persis orang sakit" todong Suci.
"Lidahku rasanya lagi sariawan. Kok makanannya kurang enak ya" jawab Refan jujur.
Suci tersenyum kepada putranya.
__ADS_1
"Halaaaaah bilang aja kamu sudah terbiasa dengan masakan Kinan yang enak kan?" tebak Suci dan memang benar seperti itulah yang Refan rasakan.
"Terkadang Bik Mar juga memasak kok Ma saat Kinan lembur atau sedang repot ngurusin anak - anak. Aku juga sudah terbiasa dengan masakan Bik Mar. Mungkin lidahku sedang sariawan ini" elak Refan.
Dengan berat dan lama akhirnya makanan yang ada di piringnga habis juga. Setelah selesai makan Refan berjalan menghampiri Bik Nah untuk melihat gadis kecilnya.
"Sini Bik biar aku gendong, Bibik makan sana" perintah Refan.
Bik Nah memberikan Naila dalam dekapan Refan kemudian dia berjalan ke dapur untuk makan malam. Refan mulai mengajak Naila ngobrol dan berjalan - jalan sambil menggendong Naila.
Satu jam kemudian Naila tampan sudah ngantuk. Suci datang dengan membawa botol susu. Tapi Naila rewel belum bisa tidur.
"Kamu kenapa sayang kok belum tidur juga padahal udah ngantuk banget kan?" tanya Refan.
"Kamu kangen Mama ya... Gendongan Oma beda ya sama Mama kamu?" tanya Suci.
Refan mendengar ucapan Mamanya. Benarkah anak sekecil ini juga kehilangan Kinan? Belum satu hari semua kecarian Kinan. Salman sakit, Naila rewel dan aku..... kesepian. Batin Refan.
Akhirnya setelah setengah jam di gendong Naila tertidur pulas. Suci meletakkan Naila di kamar Salman yang juga ada box bayi Naila.
"Naila malam ini tidur sama kami aja ya, biar gak repot kalau dia mau nyusu malam - malam" ucap Suci.
"Iya Ma, terserah Mama saja" jawab Refan.
Suci membawa Naila ke kamar sedangkn Dhisti sudah lebih dulu ke kamar untuk memeriksa keadaan Salman. Tinggal Refan sendiri yang ada di ruang TV.
Refan ikut beranjak dan segera masuk ke kamarnya. Dia melihat layar ponselnya hidup. Refan segera meraih ponselnya, ternyata ada lima panggilan tak terjawab dari Kinan.
Refan duduk di atas tempat tidur dan langsung menekan kembali nama Kinan untuk melakukan panggilan telepon.
Tuuuut.... tuuuuuuut....
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Kinan dari seberang sana.
Akhirnya kamu angkat juga telepon aku. Refan bersyukur dalam hati.
"Wa'alaikumsalam" jawab Refan.
"Mas maaf ya tadi kami langsung kegiatan dan HP aku tinggal di kamar hotel jadi aku gak tau kalau kamu bulak balik telepon aku"...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1