Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 242


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Bimo melihat siapa orang yang mereka tunggu, yang Reni katakan adalah temannya.


"Hai Mas Bimo.... " sapa Gery.


"Eh hai Gery" sambut Bimo berusaha tenang.


Ngapain anak ingusan ini datang? Mengganggu saja. Eh tapi tadi Reni bilang, Reni yang mengundangnya. Apakah mereka???? Bimo bertanya dalam hati.


Bimo dan Gery saling berjabat tangan.


"Duduk Ger" perintah Reni.


Bimo, Reni dan Gery duduk di depan meja bulat dimana Reni berada di antara Bimo dan Gery.


"Sudah bisa pesan makan dan minumnya Mbak, Mas?" tanya pelayan.


Reni menatap ke arah Gery.


"Aku seperti biasa Ren" ujar Gery sambil tersenyum.


"Oh oke" sambut Reni.


Apa? Gery dan Reni sudah biasa makan di sini? Sampai Reni sudah tau makanan biasa yang Gery suka. Batin Bimo.


"Apple pienya satu Mas, Charcoal Waffle nya juga satu, Pumpkin Pie Gelatto nya satu" ucap Reni.


"Banyak banget pesanannya jeng, lapar ya?" sindir Gery.


Reni tersenyum membalas ucapan Gery.


Bimo merasa panas melihat tatapan Gery dan Reni dan dia merasa seperti terasing diantara Reni dan Gery.


"Aku memang lagi laper" jawab Reni.


Reni melirik ke arah Bimo.


"Mas Bimo mau pesan apa?" tanya Reni.


"Mas Waffle aja Ren" jawab Bimo lembut.


"Charcoal Waffle aja ya, enak lho. Aku suka banget makanan itu" ujar Reni.


"Iya, sama kan aja" balas Bimo.


"Charcoal waffle nya dua ya Mas. Kopinya satu. Mas Bimo kopi kan minumnya?" tanya Reni.


Bimo tersenyum tipis. Ternyata Reni masih ingat minuman kesukaannya.


"Iya, Mas kopi aja" jawab Bimo.


"Milkshake strawberry dan vanila masing - masing satu. Dessertnya apa nih Mas, Gery?" tanya Reni kepada dua pria yang mengelilinya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja" jawab Bimo dan Gery menjawab berbarengan.


Mereka saling tatap dengan tatapan yang ingin mengalahkan lawan, tatapan persaingan dan cemburu.


"Ya sudah Mas kalau begitu dessertnya Rosepetal Lychee Raspberry Sorbetto satu, Blueberry Lavender Gelato satu dan Strawberry Gelato satu Mas" pinta Reni.


Pelayan sudah mencatat semua pesanan Reni.


"Baik Mbak, Mas di tunggu sebentar pesanannya ya" ucap sang pelayan.


Pria itu pergi meninggalkan Renu, Bimo dan Gery yang saat ini sedang saling tatap dalam sepi sesaat.


Bimo memperhatikan sekelilingnya. Tertara di dinding Cafe kalau Gerai es krim ternama ini sudah ada di Jakarta dan Pulau Dewata sejak tahun 2009 dan selalu menyajikan es krim berselera.


Ternyata Gerai Gelato Secrets sudah memiliki cabang di berbagai daerah di Jakarta.


"Kalian sering ke sini sebelumnya" tanya Bimo kepada Reni dan Gery.


"Dulu waktu kita masih kuliah lumayan sering Mas" jawab Reni.


Pantas saja Reni tau selera Gery Apakah mereka sengaja memilih tempat kenangan masa lalu mereka? tanya Bimo dalam hati.


"Disini es krimnya enak sekali Mas. Perpaduan rasa dari bahan pilihan tertuang ke dalam es krim yang khas sangat terasa, tidak hanya sarat akan susu dan rasa manis namun flavour yang terasa sejak gigitan pertama menjadi moodbooster yang baik untuk Mas. Coba deh nanti Mas rasakan sendiri" ujar Gery.


"Mas Bimo sebenarnya tidak suka es krim Ger" sambut Reni.


"Tidak.. tidak.. aku sudah mulai menyukainya" jawab Bimo.


Kamu mau memperjelas kalau ini memang tempat kenangan kalian? Bimo merasa semakin geram.


"Tapi memang benar sih, es krim disini enak banget. Es krimnya tidak mudah encer dan terasa lembut di mulut, rasa buah-buahan sangat berbeda dengan es krim yang dijual di pasaran. Usut punya usut, Gelato Secrets memiliki petani buah sendiri sehingga cita rasa es krim buah terasa benar-benar segar dari kebun" jelas Gery.


"Kamu sampai tau segitunya ya tentang Cafe ini. Pasti kalian sering sekali ke sini dulu" ujar Bimo.


"Ya habisnnya Cafe Gelato Secrets ini sangat bersih dan terasa nyaman Mas. Jadi kalau lagi bete atau stres karena sedang banyak tugas pasti kami larinya ke sini" jawab Reni.


"Kamu memang benar - benar pecinta es krim" sambut Bimo.


Reni tersenyum manis kepada Bimo. Tak lama kemudian pesana mereka datang dan mereka mulai menikmati hidangan yang disajikan.


Reni tampak sangat semangat menikmati pesanannya.


"Apa Mas kenyang dengan hanya memesan ini saja?" tanya Reni kepada Bimo. Reni merasa tidak enak, makan siang Bimo hanya memakan waffle saja.


"Tadi sebelum jemput kamu Mas sudah makan sedikit bersama relasi Mas dari Papua" jawab Bimo.


"Kalau boleh tau Mas Bimo ini buka usaha di bidang apa?" tanya Gery penasaran.


"Hotel dan penginapan" jawab Bimo ramah.


"Dimana Mas?" tanya Gery.

__ADS_1


"Di Papua, Labuhan Bajo dan sekarang sedang mencari lokasi di Jakarta ini" jawab Bimo.


Anjiiii* pantas kaya banget. Batin Gery langsung menciut.


"Kamu gimana bisnis propertynya?" tanya Bimo.


"Alhamdulillah lumayan Mas, saya mah masih belajar di tempat saya bekerja ini Mas. Yaaah mudah - mudahan saja nanti semakin sukses dan bisa buat perumahan sendiri" jawab Gery.


"Wah boleh juga tuh saya mencoba bisnis itu? kalau hotel kan sudah banyak banget di Jakarta ini. Kalau perumahan kan berkembang terus. Yah sifat manusia, dari pada ngontrak mending beli rumah. Udah dapat satu pengennya dua, begitu terus tambah dan tambah" ungkap Bimo.


"Bener banget Mas. Bagus lho Mas prospeknya" sambut Gery.


"Nanti Mas hubungi kamu ya, kita bisa bahas ini lebih lanjut" ujar Bimo.


Lumayan juga kalau aku buka usaha property dan merekrut Gery sebagai bawahanku. Kalau aku menjadi atasannya pasti dia akan sungkan bersaing denganku. Lagian aku memang harus mulai membangun bisnisku di sini. Rasanya sangat berat untuk kembali ke Papua lagi walau hanya untuk mengecek usahaku saja dan tak mungkin terus menerus mempercayakan kepada teman - temanku di sana. Kalau usahaku sudah berjalan disini akan aku jual semua assetku di sana. Perlahan - lahan aku akan meninggalkan semua apapun yang berhubungan dengan Papua dan membangun hidupku yang baru di sini. Batin Bimo.


Bimo melirik ke arah Reni yang sedang asik menikmati hidangannya.


Apakah kamu yang akan menjadi masa depanku? Apakah aku akan melalui semua rencanaku itu bersama kamu? Bisakah aku mempercayakan kembali hatiku kepada seorang wanita dan itu kamu? Tanya Bimo dalam hati.


Tak lama kemudian pesanan terakhir mereka datang. Dessert yang manis lembut dan dingin.


"Emmmm.... manis dan lembut sekali" ujar Reni.


Dia benar - benar menikmati hidangan penutup mereka siang ini.


Bimo terus memperhatikan setiap gerak - gerik Reni dan tanpa dia sadari senyum tipis dari sudut bibirnya terus saja terpampang jelas.


Setelah selesai makan Reni memanggil pelayan untuk membayar tagihan makanan mereka siang ini.


Bimo mengeluarkan kartu debit nya tapi langsung di tolak oleh Reni.


"Jangan Mas kan hari ini aku yang traktir" cegah Reni.


Tapi Gery langsung memberikan kartunya kepada pelayan.


"Sudah Mbak pakai ini saja, kalau menunggu mereka berdebat pasti lama" ucap Gery pada pelayan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Reni.


"Gery... kan aku yang traktir kamu hari ini" ujar Reni.


"Sudah lah.. udah lama juga kita gak makan di sini sekalian nostalgia dan tidak ada penolakan" tegas Gery.


Walau wajah Reni sedikit manyun tapi dia tidak protes lagi.


Wah gawat nih kenapa Gery yang bayar Reni tidak menolaknya sedangkan aku di tolak habis - habisan sama Reni. Batin Bimo emosi.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2