
Satu bulan kemudian..
Kinan sudah mulai aktif kembali bekerja. Keinginannya untuk pensiun dini sudah bulat hanya saja tidak bisa langsung. Kinan harus mengikuti proses pengajuan.
Sebelum hasilnya keluar Kinan tetap bekerja seperti sebelumnya. Dan seperti sebelum dia melahirkan setiap hari Kinan diantar Refan berangkat ke kantor. Tentu saja setelah mengantar Salman ke sekolahnya terlebih dahulu.
Setelah mengantar Salman, Refan langsung mengantar Kinan ke kantor lalu melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya.
Sekitar jam delapan pagi Refan sudah sampai di kantornya. Refan langsung naik melalui lift khusus pejabat perusahaan dan kemudian berjalan masuk ke ruangannya.
Baru saja Refan meletakkan tas kerja dan duduk di kursi kebesarannya, sekretaris mengetuk pintu ruangan Refan.
Tok.. Tok..
"Masuk" jawab Refan dari dalam
Tak lama muncul seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris Refan.
"Maaf Pak ada tamu yang sedari tadi sudah menunggu di ruang tunggu untuk bertemu dengan Bapak" ujar Sekretaris Refan.
"Tamu, pagi sekali, siapa?" tanya Refan.
"Katanya teman lama Bapak" jawab wanita itu.
"Baiklah, suruh tamu itu masuk" perintah Refan.
"Baik Pak" jawab Wanita itu.
Sekretaris Refan berbalik dan keluar dari ruangan Refan. Tak lama kemudian masuk seorang pria yang sangat Refan kenal sekaligus benci.
"Kamu? Ngapain kamu datang ke sini?" tanya Refan emosi.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan Fan" jawab tamu Refan yang tak lain adalah Arga.
"Bagiku semua sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan" bantah Refan.
"Tapi Fan.. tolong.. dengarkan dulu penjelasan aku" pintar Arga sedikit memohon.
"Aku tidak mau mendengarkan apapun cerita kamu dan tidak ada lagi yang harus dijelaskan" jawab Refan.
Melihat kerasnya pendirian Refan, Arga langsung berlutut di hadapan Refan.
"Fan.. aku mohon.. maafkan perbuatanku dan Renita. Semua terjadi begitu saja, awalnya kami hanya teman curhat biasa. Dia mengatakan sudah lama menikah dan ingin punya anak. Renita bilang dia pusing karena keluarga kamu sudah menuntut anak tapi kalian tak kunjung juga mendapatkan momongan. Rumah tanggaku juga sama Fan" ungkap Arga.
"Kamu jangan membuat alasan Ga dan ingin membela diri seolah kalian saat itu pihak yang sama - sama tertekan karena belum mempunyai momongan. Kamu kira aku dan Renita tidak pernah konsultasi ke dokter kandungan? kami sudah lama memeriksakan tubuh kami. Semua sehat, tapi Renita yang masih belum mau hamil dia tetap minum pil KB" bantah Refan.
Arga terkejut mendengar penjelasan Refan.
"Tapi Renita katakan saat itu dia ingin punya anak Fan, begitu juga aku" ujar Arga.
Arga semakin terkejut Refan bisa tau semu tentang kisah perselingkuhan mereka. Padahal sampai dia terakhir kali bertemu dengan Renita sebelum Renita melahirkan, Renita bilang rumah tangganya baik - baik saja. Refan tidak curiga sedikit pun dan tidak mengetahui apapun.
Bahkan saat Renita meninggal dunia sikap Refan baik dan biasa - biasa saja kepadanya. Mengapa kini Refan tau kisah perselingkuhannya dengan Renita.
"Kenapa kamu diam? kamu terkejut mengapa aku bisa tau kisah perselingkuhan kamu dengan Renita? Aku sudah bilang Ga, masih ada Allah.. Aku justru mengetahui perselingkuhan kalian setelah Renita meninggal. Naila anakku sakit dan saat itu aku tau golongan darahnya tidak sama denganku. Akhirnya aku mencari semua informasi tentang itu dan aku menemukan file video dan foto - foto mesra kamu dan Renita di laptop Renita. Dan kisah cinta kalian semua tercatat dibuku diary Renita" ungkap Refan.
Arga sangat terkejut sampai bibirnya terbuka lebar.
"Kalian liburan kepulau yang sepi dan terpencil demi menutupi dosa kalian dari aku dan istri kamu. Selama seminggu full seolah-olah kalian honeymoon dan akhirnya menghasilkan anak. Benarkan?" bentak Refan kesal.
Walau tidak ada cinta lagi di hati Refan tapi harga dirinya sebagai laki - laki tetap merasa marah bertahun - tahun dibohongi oleh orang yang sangat dia percayai.
Dan saat ini baru dia punya kesempatan untuk mengeluarkan semua kekesalan hatinya. Dulu dia hanya marah di depan makam Renita tapi saat ini dia bisa memuntahkan emosinya pada Arga.
__ADS_1
"Kamu harusnya bersyukur Ga, aku tidak memukul kamu. Bersyukur aku sudah bisa meredam amarahku selama satu tahun ini. Kalau seandainya kamu muncul saat aku baru tahu kebusukan kalian, sudah habis kamu aku buat" ancam Refan.
"Fan.. ma.. maafkan aku. A.. aku memang sudah bersalah pada kamu" aku Arga.
"Minta maaf sama istri kamu dan terlebih pada Allah. Dosa kamu sudah terlalu banyak" bentak Refan.
"Aku tau Fan. Oleh sebab itu aku datang ke sini untuk memohon pengampunan dan maaf dari kamu lebih dulu. Anakku meninggal Fan dan saat ini istrinya depresi karena kehilangan anak kami. Aku.. aku berpikir kalau seandainya dalam rumah tangga kami hadir seorang anak mungkin istriku akan terhibur. Dari pada aku mengambil anak orang lain kan lebih baik kalau aku mengasuh anakku sendiri Fan" ungkap Arga akhirnya.
Kini Refan tau maksud dan tujuan Arga menemuinya. Inilah yang utama tujuan Arga untuk menemuinya.
"Apa hak kamu? Naila anakku secara negara dan secara agama dia nasab Mamanya. Dia tidak butuh kamu" tolak Refan.
"Tapi dia anakku Fan, darah dagingku" sambung Arga.
Dia tetap berusaha ingin meluluhkan hati Refan.
"Kamu sudah menikah lagi kan Fan dan aku lihat kemarin kamu juga sudah mempunyai anak kembar. Tolong berikan anakku padaku" pinta Agra.
"Hahahaha.... semudah itukah pikiran kamu? Kamu fikir Naila sebuah barang yang bisa diminta begitu saja? Mengapa baru sekarang kamu pinta? Setelah kecelakaan yang menimpa keluarga kamu. Dulu kamu kemana? Sedikitpun kamu tidak ingat tentang anakmu. Kamu tidak tau dia sakit dan kamu tidak perduli. Orang tua seperti apa kamu" teriak Refan kesal.
Refan semakin kesal setiap mengingat Naila. Gadis mungil yang harus menderita karena perbuatan kedua orang tuanya.
Arga terdiam sesaat.
"A.. aku menyesal Fan.. aku menyesal. Aku ingin sekali melihat anakku. Dimana dia Fan? Tolong Fan pertemukan aku dengan anakku" Arga kembali memohon.
"Dia tidak ada padaku.. dia tidak bersamaku. Kamu tidak akan bisa menemuinya. Naila tidak butuh kamu.. Lebih baik kamu pergi saja dari hadapanku. Pergi dari kantorku" usir Refan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG