Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 313


__ADS_3

Sidang pertama kasus Arga Laksamana akhirnya di gelar. Beberapa hari sebelum sidang, Refan dan keluarganya diundang untuk hadir dalam sidang tersebut.


Tanpa sengaja Refan bertemu dengan Febri istrinya Arga.


"Hai Pak Refan, apakah anda sudah mendapat undangan sidang pertama Arga?" tanya Febri sopan.


"Sudah Bu Febri" jawab Refan hormat.


"Apa anda datang?" tanya Febri.


"InsyaAllah saya akan datang" jawab Refan tegas.


"Apa anda tidak takut media akan mengetahui semua kisah rumah tangga anda?" tanya Febri penasaran.


Refan tersenyum tulus.


"Apa yang harus saya takutkan? Saya tidak berbuat kesalahan. Semua hanya masa lalu. Saat ini saya sudah punya keluarga yang lebih bahagia. Saya hadir demi keadilan Pak Reno Subrata dan istrinya" jawab Refan sigap.


Febri terdiam sesaat, sepertinya dia sedang berpikir keras.


"Anda beruntung, Allah memberikan pengganti yang lebih baik dari pada Renita" ujar Febri.


"Anda juga akan mengalami hal yang sama Bu Febri. Asalkan anda mau introspeksi diri dan benar - benar selektif memilih calok pendamping selanjutnya. Ingat dibelakang nama anda, anda membawa nama besar keluarga. Banyak pria yang melirik dan tertarik akan hal itu. Anda harus bisa memilih mana pria yang tulus dan benar - benar mencintai anda bahkan kalau anda menjadi gembel sekalipun" jawab Refan memberi semangat.


"Terkadang aku sering berpikir apakah aku masih pantas hidup bahagia?" tanya Febri putus asa.


"Anda pantas, kenapa tidak? Apa anda melakukan satu kesalahan besar. Bahkan kalau seandainya anda sudah melakukan kesalahan besar itu, Allah akan tetap memberi celah dan ruang bagi anda untuk introspeksi diri dan bertaubat. Percayalah Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Setelah ujian berat ini akan ada balasan yang lebih indah untuk anda kalau anda berhasil melaluinya. Teruslah semangat dan bangkit kembali. Hidup anda belum usai, masih panjang lagi masa depan yang akan dijalani. Yakinkan diri anda bahwa anda bisa hidup bahagia tanpa Arga Laksamana bahkan mungkin anda akan lebih merasa bahagia tanpa pernah anda bayangkan sekalipun" sambut Refan.


"Aku sangat berharap semua yang anda katakan pada saya benar adanya" jawab Febri.


"Percaya dan yakinlah Bu Febri. Introspeksi diri dulu, benahi apa yang salah selama ini, setelah itu bertaubat minta ampunan hanya kepada Allah dan pasrahkan diri anda padaNYA. InsyaAllah anda akan melihat hasilnya segera. Berjuanglah terus" ucap Refan kembali memberi semangat.


"Terimakasih Pak Refan, kata - kata anda sungguh sangat memotivasi saya untuk tetap tegar menjalani hidup ini. Walau rumah tangga saya sudah kacau balau. Saya akan ingat pesan - pesan Pak Refan" jawab Febri tulus.


"Kalau begitu sampai ketemu di pengadilan Bu Febri" ucap Refan.


"Baik Pak Refan" jawab Febri.


Mereka saling melempar senyum dan saling berjabat tangan, setelah itu masing - masing berpencar melanjutkan tujuan mereka semula.


Refan masuk ke dalam mobil dan langsung melaju menuju kantor Pengacara kepercayaan Pak Reno Subrata.


Sesampainya Refan di sana dia langsung disambut oleh Pak Sitompul.

__ADS_1


"Selamat datang Pak Refan, silahkan duduk" ucap Pak Sitompul ramah.


Refan duduk di sofa yang ada di ruang kerja Pak Sitompul.


"Bagaimana persidangan besok? Apa yang harus saya siapkan?" tangan Refan langsung tanpa basa - basi lagi.


"Saya sudah susun beberapa kemungkinan yang akan dibahas dalam sidang besok. Anda bisa mempelajarinya satu hari ini" ucap Pak Sitompul sambil menyerahkan berkas persidangan besok.


Refan segera meraih berkas yang diberikan Pak Sitompul. Kemudian Refan membuka dan membacanya sekilas.


"Bagaimanan kalau ada yang bertanya dimana keberadaan Naila?" tanya Refan khawatir.


"Anda bisa mengatakan kalau Naila diasuh oleh orang yang sangat terpercaya" jawab Pak Sitompul.


"Kalau dia meminta untuk bertemu dengan Naila bagaimana?" tanya Refan.


"Ingat Pak Refan, Naila itu anak anda secara administrasi. Dia tidak punya hak untuk bertemu. Di dalam agama juga bukan nama dia yang akan disebut sebagai nasab Naila melainkan nama Renita" jawab Pak Sitompul lagi.


Refan terdiam dan sedang berpikir.


"Baiklah Pak Sitompul, aku akan pelajari berkas ini di rumah. Aku akan berdiskusi dengan istriku. Kami akan mempersiapkan diri untuk hadir dalam sidang besok" ujar Refan.


Refan segera bangkit dari duduknya, setelah berpamitan dengan Pak Sitompul dan saling berjabat tangan. Refan segera keluar dan meninggalkan kantor pengacara milik Pak Sitompul.


Refan masuk kedalam mobilnya kemudian melajukan mobilnya menuju rumah. Dia ingin segera bertemu dengan anak - anaknya terlebih istrinya.


"Pap... paaaa" ucap Naila.


"Ya sayaaang" Refan langsung meraih tubuh gadis mungil itu dan menggendongnya.


Refan juga mencium puncak kepala Salman.


"Hai jagoan Papa. Apakah kamu sudah menjaga adik - adik kamu dengan baik?" tanya Refan.


"Sudah Pa. Hari ini mereka tidak ada yang nakal" jawab Salman.


Refan tersenyum mendengar jawaban Salman. Lalu Refan mengacak gemas rambut Salman dan membawa mereka masuk ke dalam rumah.


Di ruang keluarga sudah menunggu Kinan dan Bu Suci bersama si Kembar. Kinan langsung menyambut tangan Refan dan menciumnya.


"Mas sudah pulang rupanya. Kok cepat pulangnya hari ini?" tanya Kinan.


"Aku baru dari kantornya Pak Sitompul dan membawa berkas untuk besok. Kita akan hadir dalam sidang pertama Arga Laksamana" jawab Refan.

__ADS_1


"Mama ikut ya Fan" pinta Bu Suci.


"Ma.. anak - anak gimana?" tanya Refan.


"Aku sudah minta bantuan Papa dan Mama Mas untuk menjaga anak - anak besok saat kita pergi" sambut Kinan.


"Oh baiklah kalau begitu. Tapi Mama janji harus tenang ya" ujar Refan.


"Iya Fan, Mama hanya ingin melihat langsung bagaimana pria itu menerima hukumannya" ucap Bu Suci.


"Ma ini baru sidang pertama, bukan sidang putusan. Masih panjang lagi ceritanya" jawab Refan.


"Iya tak apa. Mama ingin sekali ikut" sambut Bu Suci.


"Iya Ma. Mama besok ikut kami ke sana. Besok juga banyak yang ikut. Teman - teman juga ingin melihat sidang berlangsung" ujar Refan.


"Mas mau mandi?" tanya Kinan kepada suaminya.


"Iya sayang, aku sudah gerah sekali" jawab Refan.


"Ya sudah kalau begitu aku siapkan pakaian ganti Mas ya" sambut Kinan.


Refan meletakkan Naila di ruang keluarga dan Naila bermain bersama Salman. Setelah itu Refan menyusul istrinya ke dalam kamar.


Saat Refan masuk ke kamar, Refan melihat Kinan sedang mempersiapkan pakaian gantinya. Refan menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Tadi aku bertemu Febri" ungkap Refan.


"Istri Arga?" tanya Kinan.


"Iya, dia besok juga akan datang. Dia sempat terlihat putus asa karena permasalahan rumah tangganya. Aku kasihan melihatnya, bagaimanapun dia wanita. Pasti dalam masalah seperti ini lebih terluka dibandingkan pria. Aku sempat memberinya kata - kata yang mudah - mudahan bisa membuat dia semangat" Refan mempererat pelukannya pada istrinya.


"Terimakasih sayang.. kamu sudah hadir dalam hidupku. Ada di sisiku disaat - saat terendah dalam hidupku. Aku tidak tau bagaimana hidupku jika kamu tidak ada saat itu. Mungkin aku akan jadi orang jahat, aku bisa jadi pembunuh pada saat itu. Yah mungkin aku akan membunuh Arga untuk memuaskan amarahku" sambung Refan.


Kinan melepas pelukan suaminya dan membalikkan badannya. Kini mereka saling berhadapan. Kinan memeluk mesra tubuh Refan.


"Semua sudah berlalu Mas, yang penting apa yang kita jalani saat ini. Dan aku bahagia hidup bersama kamu dan anak - anak kita. Yang lalu biarlah berlalu, setiap orang akan bertanggungjawab atas perbuatannya masing-masing. Saat ini Arga sedang mempertanggungjawabkan perbuatannya. Semoga semua segera berakhir" ujar Kinan.


Refan mencium kening Kinan dengan penuh kasih sayang.


"Iya sayaaaang" jawab Refan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2