
Refan segera memanggil bagian keamanan perusahaannya dan memasang CCTV tersembunyi di sekitar rumah Kinan yang lama. Kemudian melaporkan kejadian barusan kepada pihak keamanan komplek.
Mereka memberikan ciri - ciri pria misterius itu beserta warna dan merk mobilnya.
Setelah semua selesai baru Refan dan Kinan pulang bersama Salman. Sedangkan Bik Ijah juga pulang ke rumahnya yang terletak di belakang komplek perumanan.
"Yank, aku semakin khawatir. Lebih baik kamu dan Salman jangan kemana - mana dulu sebelum semuanya jelas. Aku mengkhawatirkan keamanan kalian. Sepertinya pria itu menginginkan sesuatu" ucap Refan saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah.
"Tapi Mas dari beberapa kali kejadian sepertinya dia tidak berniat jahat kepada kami. Dia hanya menunjukkan keberadaannya saja tanpa pernah berusaha untuk menyentuh kami" jawab Kinan.
Refan terdiam sesaat. Benar juga yang Kinan katakan, pria itu hanya berusaha ingin memantau keberadaan dan keadaan Kinan juga Salman. Tapi tidak pernah berusaha untuk menyentuh mereka. Ah tapi aku tidak boleh gegabah.
"Mungkin belum ada kesempatan yank, aku benar - benar mengkhawatirkan keselamatan kalian" balas Refan.
Tak lama kemudian Refan dan keluarga kecilnya sudah sampai di rumah mereka. Suci merasa heran dengan keadaan Kinan yang berjalan sambil di tuntun Refan.
Wajahnya tampak pucat dan lemas. Wajah Salman juga tampak sedih.
"Ada apa ini? Mengapa wajah kalian semua seperti itu? Apa ada yang terjadi?" tanya Suci.
"Tolong tenang sebentar Ma. Nanti aku akan jelaskan. Sekarang aku mau telepon Papa dulu" jawab Refan.
Setelah Kinan duduk di sofa Refan segera menghubungi mertuanya.
"Assalamu'alaikum Pa" ucap Refan menyapa.
"Wa'alaikumsalam, ya Fan" sambut Ardianto.
"Pa sepertinya ancaman pesan itu semakin serius. Barusan kami pulang dari rumah lama Kinan dan di sana kami bertemu dengan pria yang postur tubuh dan wajahnya mirip Bima. Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah pergi dengan mobil" ungkap Refan.
"Astaghfirullah benarkah Fan?" tanya Ardianto tak percaya.
"Benar Pa. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Aku terus melakukan penyelidikan tapi aku mau minta tolong pada Papa" Pinta Refan.
"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Ardianto.
"Untuk sementara bisa tidak Papa dan Mama tinggal di rumah kami saja. Dan bisa tidak Papa menemani Salman di sekolah setiap hari. Aku khawatir jika Salman di biarkan sendiri tidak ada yang menjaga. Sementara aku tidak bisa mempercayakan Salman kepada orang lain. Makanya aku meminta bantuan Papa" ujar Refan.
"Bisa - bisa. Hari ini juga Papa dan Mama akan siap - siap ke rumah kamu. Mulai hari ini kami akan tinggal di rumah kalian" jawab Ardianto.
"Baik Pa, terimakasih. Kalau begitu kami tunggu kedatangan Papa dan Mama ya" sambut Refan.
"Iya Fan, secepatnya kami akan sampai ke sana. Assalamu'alaikum" Ardianto menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Refan.
__ADS_1
Suci yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Refan dengan mertuanya tak sabar menahan rasa penasarannya.
"Benarkah yang kamu katakan itu Fan?" tanya Suci.
"Iya Ma, kami bertiga melihat pria itu. Tapi hanya Salman yang melihatnya dengan jelas itupun wajahnya tertutup kaca mata hitam dan topi. Saat aku ingin mengejarnya dia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi. Aku sudah lapor bagian keamanan komplek dan memasang CCTV di rumah Kinan. Mudah - mudahan secepatnya menemukan kebenarannya" tegas Refan.
"Kalau begitu kita harus lebih hati - hati. Kita tidak tau apa yang sedang direncanakan pria itu. Tapi apakah dia memang benar - benar mirip almarhum suami kamu Nan?" tanya Suci kepada Kinan.
Kinan menganggukkan kepalanya ke arah Suci.
"Bagaimana kalau dia memang suami kamu Nan?" tanya Suci
"Aku yakin mereka hanya mirip Ma. Mas Bima sudah meninggal. Aku sudah meyakinkan kalau jenazah yang aku lihat di rumah sakit dulu memang Mas Bima" jawab Kinan.
"Lagian Ma isi pesannya kan mengatakan tentang sebab kematian Bima. Bukan pengakuan kalau Bima masih hidup. Jadi sudah jelas dalam hal ini Bima sudah meninggal" sambut Refan.
"Sayang kamu lelah?" tanya Kinan pada putrnya.
"Iya Ma, aku ngantuk sekali" jawab Salman.
"Ya sudah. Bik Maaaar" panggil Kinan.
"Ya Non" Jawab Bik Mar.
"Bik tolong bantu Salman istirahat dan tolong temani dia sampai dia tidur ya di kamarnya" perintah Kinan.
"Kamu juga istirahat di kamar sayang. Kamu kan juga masih terkejut dan shock dengan kejadian tadi" ujar Refan.
"Iya Mas. Ma, aku ke kamar dulu ya istirahat" Kinan pamit pada mertuanya.
"Iya Nan. Hati - hati dan istirahat saja dengan tenang jangan pikirkan yang lain. Biar Refan yang mencari jalan keluarnya" jawab Suci.
"Iya Ma" balas Kinan.
Refan membawa dan menuntun Kinan sampai ke kamar. Setelah memastikan Kinan sudah tidur Refan keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Refan segera menghubungi Aril lewat telepon.
"Halo Ril" ucap Refan memulai telepon.
"What's up bro?" sambut Aril.
"Ril sudah ada kabar dari teman kamu di Surabaya?" tanya Refan.
"Belum Fan. Tapi ketepatan aku lagi di Surabaya ini. Sekalian aja aku dan teman aku mencari informasi langsung ke rumah almarhum Bima. Emang ada apa bro?" tanya Aril.
__ADS_1
"Masalahnya semakin serius Ril. Barusan aku jemput Kinan ke rumah lamanya bersama Bima dan saat aku baru saja tiba di sana tiba - tiba pria yang mirip dengan Bima muncul hanya saja saat aku mengejarnya dia langsung pergi naik mobil" ungkap Refan.
"Waah sepertinya dia semakin dekat Fan. Kamu dan keluarga kamu harus lebih hati - hati. Kalau begitu aku juga secepatnya akan mencari tau di sini. Mudah - mudahan kami mendapatkan informasi tentang keluarga Bima" ujar Aril.
"Tolong ya Ril, aku benar - benar minta tolong pada kamu" jawab Refan.
"Yoi bro. So pasti aku akan bantuin sahabat aku" balas Aril.
"Thanks bro. Assalamu'alaikum" ucap Refan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Aril.
Refan menghubungi orang suruhannya.
"Halo" ucap Refan.
"Halo Pak" jawab pria di seberang.
"Bagaimana informasi yang saya pinta?" tanya Refan.
"Kami baru mendapatkan kabar terbaru Pak" jawab pria itu.
"Jadi mengapa tidak kamu laporkan pada saya" tanya Refan geram.
"Kami sudah mencurigai seseorang Pak, wajahnya sangat mirip dengan foto yang Bapak kirimkan kepada kami" ungkap pria itu.
"Siapa pria itu?" desak Refan.
"Pria itu bernama Ricardo Yacob tapi kami menduga kalau nama itu bukan nama sebenarnya. Karena ada kejanggalan biodata yang kami temukan" lapor Pria itu
"Siapa pria itu dan apa kejanggalan yang kalian temukan?" tanya Refan.
"Pria itu berasal dari Papua. Dia menantu salah satu orang terpandang di sana. Tapi anehnya data yang kami dapatkan hanya data sepuluh tahun belakangan ini. Sedangkan informasi lainnya kosong Pak. Kalau lihat dari wajahnya dia bukan orang Papua asli. Dari tekstur wajahnya sepertinya pria itu putra Jawa. Tapi informasi lainnya sangat sulit kami temukan" lapor pria itu.
"Kalau begitu selidiki lagi siapa Ricardo Yacob. Aku ingin informasi secepatnya" perintah Refan.
"Baik Pak" jawab pria itu.
Telepon terputus, Refan mematikan panggilannya. Tak lama kemudian Refan mendapatkan pesan di ponselnya. Refan membuka pesan tersebut. Alangkah terkejutnya dia ketika membaca pesan tersebut.
Aril
Ada informasi baru dari teman aku. Bima mempunyai saudara kembar bernama Bimo Akarsana.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG