
"Baik kami akan mempertemukan Anda dengan Salman, tapi kami yang akan menentukan tempat dan waktunya" ucap Refan.
"Baik, kalau begitu akan aku tunggu" jawab Bimo.
Bimo mengambil dompet di tangannya dan mengeluarkan kartu namanya kemudian memberikannya kepada Refan.
"Ini kartu namaku, kalau kalian sudah bisa menentukan waktu dan tempatnya segera hubungi" perintah Bimo.
"Baik" jawab Refan.
"Kalau begitu saya pergi dulu" Bimo pamit.
Bimo bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju pintu keluar. Setelah itu Bimo pergi meninggalkan Kinan, Refan dan Fadlan yang masih bengong dengan apa yang terjadi dengan rumah tangga Kinan.
Refan memandang wajah Kinan yang masih shock karena kemunculan Bimo.
"Kamu sudah makan?" tanya Refan.
Kinan menggelengkan kepalanya.
"Yuk kita makan" ajak Refan.
"Aku sudah pesan makanan Mas" jawab Kinan.
"Udah nanti kasih aja ke satpam. Yuk Fad ikut makan bareng kami" ajak Refan
"Ba.. baik Mas" sambut Fadlan.
Fadlan langsung menerima ajakan Refan karena dia masih penasaran dengan apa yang baru saja dia lihat dan saksikan.
Refan, Kinan dan Fadlan akhirnya keluar dari kantor Kinan dan makan di sebuah Restoran yang tak jauh dari kantor Kinan. Mereka segera memesan menu makan siang karena waktu istirahat sudah hampir habis.
"Maaf Nan, Mas aku boleh tanya gak?" tanya Fadlan.
"Mau tanya apa Fad?" tanya Refan balik.
"Yang tadi beneran Kakaknya Mas Bima, bukan Mas Bima yang bangkit dari kubur kan?" tanya Fadlan.
"Menurut kamu?" tanta Refan.
"Ya walau wajah mereka mirip banget tapi aku merasa ada perbedaan. Kalau Mas Bima kan orangnya dewasa, lemah lembut dan penyabar tapi Mas yang tadi tatapannya lebih seram" jawab Fadlan.
Kinan mendengar jawaban Fadlan tersebut.
__ADS_1
Benar.. tatapannya berbeda. Tatapan Mas Bima bisa membuat aku merasa nyaman berada di dekatnya, sedangkan Mas Bimo dari tatapannya sepertinya dia banyak menyembunyikan sesuatu. Dia terlihat sangat misterius. Batin Kinan.
"Nah tu, kamu sendiri aja bisa membedakannya jadi ngapain nanya lagi? Kalau aku tidak pernah bertemu dengan Bima, hanya Bimo yang aku temui itupun baru satu kali ya tadi. Jadi aku tidak bisa membedakan mereka berdua" sambut Refan.
Refan melitik istrinya yang masih asik makan.
"Kamu gak apa - apa kan yank?" tanya Refan.
"Aku gak apa - apa Mas" jawab Kinan.
"Jadi beneran Nan kalau Mas Bima di bunuh?" tanya Fadlan.
"Aku gak tau Fad, aku gak bisa menjawabnya" jawab Kinan.
"Kalau menurut cerita Bimo seperti itu. Tapi apa kita bisa mempercayai Bimo?" tanya Refan kepada Kinan.
"Aku gak tau Mas" jawab Kinan tampak sedih.
"Kalau begitu nanti malam kita telepon orang tua Bima di Surabaya ya" ujar Refan.
"Iya Mas" jawab Kinan singkat.
"Ya sudah kamu habiskan aja dulu makanan kamu setelah itu kita balik ke kantor kamu. Tapi apa kamu yakin bisa kembali bekerja dengan keadaan seperti ini?" tanya Refan.
Kinan terdiam, sejujurnya Kinan gak sanggup. Tubuhnya masih lemas karena apa yang baru dia hadapi tadi.
"Iya Fad, tolong permisikan aku ya. Setelah dari sini aku mau ikut Mas Refan aja" jawab Kinan.
"Okey" sambut Fadlan.
"Ya sudah setelah ini kita antar Fadlan ke kantor setelah itu kita ke kantor aku sebentar ya sebelum pulang. Ada perkerjaan aku yang belum siap" ujar Refan.
"Iya Mas" jawab Kinan.
Mereka segera menyelesaikan makan siang mereka setelah itu Refan dan Kinan mengantarkan Fadlan kembali ke kantor baru setelah itu mereka melanjutkan ke kantornya Refan.
Sesampainya di kantor kehadiran Kinan di sambut dengan oleh beberapa pegawai kantor yang melihat kedatangan Kinan bersama Refan.
"Selamat siang Bu Kinan.. " sapa sekretaris Refan.
"Selamat siang" jawab Kinan ramah.
"Sudah besar ya bu perutnya. Sudah berapa bulan bu usia kandungannya?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah lima bulan" jawab Kinan.
"Rud.. siapkan semua pekerjaan yang belum selesai biar saya periksa. Saya mau pulang cepat hari ini" perintah Refan pada Rudi
"Baik Pak" jawab Rudi.
"Ayo yank masuk ke ruangan saya" ajak Refan.
Refan dan Kinan masuk ke dalam ruang kerja Refan.
"Kamu duduk dulu ya, aku melanjutkan pekerjaanku dulu" ujar Refan.
"Iya Mas" jawab Kinan.
Refan segera duduk di depan meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terbengkalai karena telepon dari Fadlan saat Bimo datang ke kantor Kinan.
Kinan memperhatikan sekeliling ruangan kerja Refan. Kinan melihat di atas meja Kinan terdapat foto pernikahan mereka saat pesta resepsi.
Kinan jadi teringat kembali kejadian saat itu. Refan masih dingin kepadanya bahkan sampai saat malam pertama mereka Refan masih menyebut nama Renita.
Hati Kinan masih merasa pedih mengingat kejadian malam itu. Kinan menatap wajah Refan yang sedang menyiapkan perkerjaannya di depan meja kerjanya.
Bagaimana dengan perasaan kamu saat ini Mas? Aku tidak tau apa yang kamu rasakan. Tapi sampai kapan kita akan seperti terus. Sebentar lagi anak - anak kita akan lahir Mas. Apa yang harus kita lakukan pada mereka.
Apakah kita harus berbohong di depan mereka Mas? Kita berpura-pura saling mencintai di depan mereka. Apakah mereka akan bahagia melihat orang tua mereka bertingkah laku seperti ini Mas? tanya Kinan dalam hati.
Kinan merebahkan tubuhnya di sofa dan tak lama kemudian Kinan tertidur di atas sofa. Refan melihat Kinan yang sedang tidur dengan kondisi tubuh tidak nyaman.
Refan segera menghampiri Kinan. Perlahan - lahan Refan menaikkan kaki Kinan ke atas sofa kemudian merebahkan tubuh Kinan dan kepalanya dia berikan alas bantal sofa.
Refan membelai kepala Kinan yang tertutup jilbab dan mengecup puncak kepala Kinan.
Apa yang harus aku lakukan Nan? Aku tau tadi kamu pasti sangat senang bisa melihat wajah Bima di wajah Bimo. Aku melihat air mata kamu terus mengalir dan terus menerus menatap Bimo.
Apakah aku harus mengalah jika seandainya Bimo bisa menggantikan keberadaan Bima yang hilang? Saat ini Bimo juga sudah sendiri, seperti yang dia katakan dia ingin bertanggungjawab pada kamu dan Salman. Aku tidak bisa Nan, aku tidak bisa melepaskan kalian dan merelakan kalian? Kalian adalah hidupku sekarang. Batin Refan.
Perlahan Refan membelai perut Kinan yang semakin membesar. Refan dapat merasakan perut Kinan bergetar. Dia dapat merasakan tendangan kedua belah hatinya di perut Kinan.
Hai sayang - sayang Papa.. kalian jangan nakal di dalam perut Mama ya. Kalian harus jadi anak yang kuat. Papa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian. Kalian adalah kekuatan Papa, karena kalian Papa akan memperjuangkan Mama. Papa tidak ingin kehilangan kalian dan juga Mama. Bantu Papa sayang untuk menarik perhatian Mama. Semoga dengan kehadiran kalian bisa menyatukan perasaan Papa dan Mama. Doa Refan dalam hati.
Tanpa terasa air mata Refan menetes di pipi. Refan perlahan mengecup perut Kinan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG