
Malam harinya sesuai dengan rencana mereka, jam setengah sembilan malam Ela dan Rizal sudah sampai di rumah Bela. Bimo, Aril, Reni dan Bela juga sudah bersiap - siap hendak pergi.
Mereka sudah memakai baju santai tak lupa menyiapkan jaket tebal untuk membungkus tubuh mereka dari udara dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Sebelum berangkat mereka berpamitan kepada Bapak dan Ibu Akarsana.
"Mo.. jaga adik kamu ya, bukan hanya adik kamu saja tapi Reni juga. Ingat kamu diberi amanah Refan untuk mengawal Reni selama di sini" ujar Pak Akarsana.
"Iya Pak, aku akan menjaga mereka" jawab Bimo.
"Bapak Ibu kami pergi dulu ya" pamit Bela sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Begitu juga dengan Reni, Aril, Rizal dan Ela bergantian berpamitan dengan Bapak dan Ibu Akarsana. Tak lama kemudian mobil yang akan membawa mereka datang menjemput.
Setelah selesai berpamitan mereka masuk ke dalam mobil dan bersiap berangkat. Rizal dan Aril duduk di kursi belakang. Aril sengaja duduk di dekat Rizal untuk menjaga dan mengawal sekaligus siap bersaing mendapatkan perhatian dari Bela.
Ditengah duduk Bela dengan Ela dan di depan duduk Bimo dan Reni. Sebenarnya Reni merasa sangat canggung tapi dia sungkan untuk protes. Akhirnya Reni hanya bisa pasrah pembagian kursi seperti itu.
Mobil mulai bergerak meninggalkan kota Surabaya menuju Bromo. Satu jam pertama mereka masih asik berbincang - bincang dan bercanda membahas apapun yang menurut mereka menarik.
"Mas Bimo selama ini tinggal dimana sih? Bela kok gak pernah cerita kalau punya Kakak kembar?" tanya Ela.
"Mmm... sebenarnya ini rahasia keluarga El tapi karena kamu sahabatnya Bela gak apa deh Mas kasih tau. Mas dulu bandel El sampai keluar dari rumah jadi Bapak marah bahkan sudah gak diakui jadi anak. Makanya Bela juga gak pernah cerita sama kamu kalau dia punya saudara kembar" jawab Bimo.
"Tapi sekarang udah gak nakal lagi kan Mas?" tanya Rizal.
"Tergantung, kalau kamu punya niat buruk untuk menyakiti keluarga terlebih adiknya. Dia pasti tidak akan tinggal diam. Kamu pengen membuktikannya?" potong Aril.
Rizal menelan salivanya begitu mendengar jawaban Aril.
"Hahaha.. kamu ada - ada aja Ril" sambut Bimo.
"Jadi Mas Bimo lari kemana? Pertanyaan aku tadi belum dijawab?" tanya Ela.
"Mas tinggal di Papua" jawab Bimo.
"Pantas saja kulit Mas Bimo tampak lebih hitam dari Mas Bima. Mungkin karena di sana lebih panas kali ya Mas" sambut Ela.
"Hahaha iya benar kamu" balas Bimo.
"Biar itam tapi manis, ya kan Ren?" ujar Aril.
"Yup" jawab Reni tanpa sadar.
"Cieee... Reni ngakuin tuh kalau Mas Bimo manis" goda Bela.
__ADS_1
Reni tersadar dengan jebakan yang dibuat Aril. Wajah Reni langsung memerah karena malu.
Bimo tersenyum tipis mendengar pengakuan Reni barusan saat dia melirik ke arah Reni, Bimo bisa melihat Reni sedang salah tingkah karena malu.
"Jadi sekarang Mas Bimo tinggal dimana?" tanya Ela.
"Di Jakarta, untuk sementara aku tinggal di rumah Kakaknya Reni" jawab Bimo.
"Ooh di rumah calon Kakak ipar ya Mas?" jebak Rizal.
"Yoi" sambut Bimo tanpa sadar.
"Cieeee.... kompak nih ye" goda Aril dari belakang.
Reni dan Bimo saling lirik dan mereka sama - sama semakin salah tingkah.
"Ehm... ada yang salah tingkah" goda Bela.
"Benar kan yang aku bilang tadi siang. Aku kira Mas Bimo dan Reni pasangan suami istri, habis mereka sangat serasi dan auranya mesra sekali" puji Rizal.
Ya Tuhaaaan... aku pengen turun aja sangkin malunya. Batin Reni.
"Ren kamu malu ya" bisik Bimo.
Tanpa sadar Reni menganggukkan kepalanya.
Reni menatap wajah Bimo dengan tatapan bertanya.
"Kita lakukan apa aja yang mereka mau. Pasti mulut mereka akan tertutup sendiri" ajak Bimo.
Walau bagaimanapun seperti pengakuannya tadi, dulu dia juga pernah nakal. Menurutnya sedikit kembali nakal di depan empat remaja di belakangnya gak ada salahnya.
"Aaah aku ngantuk sekali Ren. Bisa kan aku pinjam bahu kamu" ujar Bimo.
Bimo langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Reni untuk membuat penumpang belakang bersorak.
"Cieeee..... yuhuuuuuu" sorak Bela, Ela, Aril dan Rizal.
Reni menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu tenang aja, terkadang melawan orang gila kita harus lebih gila. Nikmati aja, setidaknya ada perlawanan dari kita. Mereka tidak semudah itu mempermalukan kita berdua. Lebih baik kita tidur saja biar nanti saat menikmati matahari terbit mata kita sudah segar karena sudah tidur" bisik Bimo pada Reni.
Perlahan tubuh Reni yang kaku kini mulai rileks dan pasrah membiarkan kepala Bimo bersandar di bahunya. Reni juga mulai menutup matanya mengikuti intruksi Bimo.
Tak lama kemudian Reni tertidur lebih dulu dari Bimo. Bimo tersenyum menikmati keadaan saat ini. Ada untungnya juga jalan - jalan sama empat anak remaja ini pikirnya. Dia dan Aril jadi merasa kembali muda.
__ADS_1
Bimo lagi - lagi menghirup aroma tubuh Reni secara dekat. Wangi parfumnya sangat harum dan membuat Bimo nyaman juga betah berlama - lama di dekat Reni.
Tak pernah aku menyangka sebelumnya tubuh mungil dan muda ini bisa membuat aku nyaman. Entah mengapa aku kembali merasa muda berada di dekatnya. Seperti saat - saat aku masih remaja dan baru selesai kuliah. Gejolak jiwa mudaku kembali terpanggil berkat tubuh mungil ini.
Bimo mengangkat kepalanya dari bahu Reni, kini perlahan dia yang menarik lembut kepala Reni untuk bersandar di bahunya. Dan Bimo kini mulai menutup matanya, ikut terbuai dalam mimpi di samping Reni. Tak lama kemudian mata Bimo terpejam dan dia pun tertidur pulas.
Suara riuh di belakang juga sudah mulai reda. Satu persatu mata mereka mulai terpejam dan tertidur.
Bela dan Ela tampak sudah tertidur nyenyak sedangkan Aril dan Rizal masih bercerita.
"Sejak kapan kamu mulai dekat dan berteman dengan Bela?" tanya Aril.
"Kalau berteman sudah sejak kami mulai kuliah Mas. Tapi kalau dekat baru beberapa bulan ini saat kami sama - sama sedang menyusun skripsi. Ketepatan kami punya dosen pembimbing yang sama jadi kami sering janjian untuk datang konsultasi skripsi ke dosen pembimbing" jawab Rizal.
"Kamu menyukai Bela?" tebak Aril langsung.
Rizal tersenyum malu.
"Normal kan Mas kalau aku suka dia. Dia gadis yang cantik, santun, baik dan solehah" jawab Rizal jujur.
"Ya pasti normal. Aku rasa lelaki bodoh yang tidak suka dengan tipe wanita seperti dia" ujar Aril.
"Mas ini siapanya Bela, aku yakin bukan hanya sekedar calon Bosnya Bela setelah dia bekerja nanti?" tanya Rizal penasaran.
"Kamu hanya ingin tau apa benar - benar mau tau?" tanya Aril.
"Ya keduanya Mas" jawab Rizal polos.
"Aku adalah calon suaminya Bela, dan tugasku saat ini menjaganya agar tidak ada pria lain yang berani merebutnya dariku. Aku tidak melarang kamu untuk menyukainya tapi cukup hanya sekedar mengagumi jangan pernah kamu berniat ataupun berusaha untuk merebutnya dariku. Kamu mengerti kan?" tanya Aril.
Jawaban Aril langsung membuat Rizal terdiam. Untuk menelan salivanya saja terasa sangat berat setelah mendengar pengakuan Aril.
Rizal bisa melihat bagaimana kedekatan Aril dengan kedua orang tua Bela begitu juga dengan Kakaknya Bela. Aril tampak sangat lues berada di lingkungan keluarga Bela.
Rizal bisa menilai kalau Aril adalah pria sukses, mapan, tampan dan pintar. Dia kalah jauh kalau harus bersaing dengan Aril.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers.. untuk double up bab sebelumnya aku tidak tau mengapa itu sampai terjadi. Mungkin karena jaringan atau kesalahan tehnis. Jadi mohon di maaf keun.
Sekalian aku juga sudah lama tidak menyapa kalian. Semoga kalian semua senantiasa diberi kesehatan dan kelapangan waktu untuk membaca semua novel - novel saya.
__ADS_1
Kalau kalian mampir jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya ya agar aku lebih semangat lagi nulisnya. Terimakasih..