Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 82


__ADS_3

"Kamu sudah kelewatan Talita, secara hukum Kinan mempunyai hak pengasuhan Naila karena Kinan saat ini adalah Ibu sah Naila walau hanya Ibu Tiri. Dia yang berhak mengasuh Naila dari pada kita Ibu kandungnya, walau kita berdua mempunyai hubungan darah yang kental dengan Naila" tegas Suci.


Talita yang tak lain adalah Mamanya Almh. Renita langsung terdiam. Dia sadar kalau perkataan Suci benar lagian kalau hal ini dia tuntut takutnya Refan tidak akan memberi izin kepadanya untuk bertemu dengan Naila lagi.


"Ya kalau memang wanita ini seorang Ibu, urus donk anaknya dengan baik. Anak tiri kan seorang anak juga" ujar wanita.


"Dua hari yang lalu Naila baik - baik saja. Baru tadi pagi badannya panas. Beberapa bulan yang lalu saat Naila masuk Rumah Sakit Dokter sudah berpesan kalau Naila tidak boleh kecapean dia masih terlalu kecil. Kata Refan kemarin Naila kamu bawa ke rumah kamu karena ada acara keluarga. Jangan - jangan kamu yang tidak jaga Naila dengan baik. Naila kurang istirahat dan minum susunya juga tidak teratur" ungkap Suci.


"Enak aja, jadi kamu tuduh aku gak pinter ngurus cucu?" tanya Talita.


"Bukan gak pinter ngurus cucu tapi kamu lupa kalau cucu kamu itu masih kecil. Kamu ajak dia main seharian seperti anak besar. Cucu kita itu masih kecil belum juga genap lima bulan. Dia masih butuh banyak tidur dan minum susu teratur. Terakhir Naila masuk rumah sakit sebelum Refan menikah pesan dokter dia gak boleh terlalu letih" ungkap Suci.


"Capek gimana, Naila cuma di gendong aja kok bukan di suruh jalan" bantah Talita.


Kinan menggelengkan kepalanya. Heran dengar jawaban Talita. Seperti dia gak pernah punya anak, lupa gimana cara ngurus anaknya dulu.


"Anak kecil itu gak bisa di over - over. Gendong sana gendong sini, tubuhnya pasti sakit karena terlalu banyak tangan yang pegang dia. Belum lagi yang cium - cium banyak bawa virus" ujar Suci.


"Oh jadi kamu nganggap keluarga aku itu pembawa penyakit?" tuduh Talita.


"Ya Allah. iiiih gimana sih bilangin kamu biar sadar" Suci geram sendiri jadinya.


Tak lama Refan dan Reni adiknya sudah kembali ke rumah sakit membawa tas berisi pakaian mereka selama menjaga Naila di rumah sakit dan juga beberapa perlengkapan lainnya yang di butuhkan Naila.


"Assalamu'alaikum.. " sapa Refan ketika masuk.


"Wa'alaikumsalam" jawab Kinan dan Suci, Mamanya Refan.


"Nih untung kamu sudah sampai Fan, Mama gak terima kalau di tuduh Mama kamu tidak pinter ngurus cucu dan kata Mama kamu juga keluarga Mama pembawa virus" lapor Mama Almh. Renita.


Refan terkejut karena aduan mantan mertuanya itu. Dari nada suaranya Refan bisa menduga kalau di ruangan ini baru saja terjadi perang. Apalagi melihat wajah istri dan Mamanya yang juga tampak tegang.


"Aku tidak menuduh tapi seperti itulah kenyataannya. Bukan hanya di keluarga kamu tapi anak kecil memang sebaiknya jangan dibawa di tengah - tengah orang ramai. Karena bisa saja mereka terserang virus yang dibawa oleh orang dewasa" bela Suci.

__ADS_1


"Maaas" panggil Kinan pelan. Mencoba memberikan isyarat kepada Refan agar Refan bisa meredam emosi kedua ibu - ibu ini. Kinan takut Naila terbangun dan menangis.


"Ma... tolong tenang semuanya. Ini di rumah sakit, Naila sedang tidur dari tadi subuh dia kurang istirahat karena rewel terus badannya hangat. Tolonglah mengalah demi cucu kalian, biarkan dia tidur dengan tenang" pinta Refan.


Dia harus menjadi penengah diantara Mama dan mantan mertuanya.


Suci dan Talita saling lirik tapi wajah mereka masih terlihat kesal. Tak lama kemudian seorang perawat datang ke ruangan Naila di rawat dengan membawa alat medis dan berkas hasil pemeriksaan.


"Selamat sore Pak... Kami mau berikan hasil pemeriksaan laboratorium. Silahkan Bapak baca nanti kalau dokter yang merawat datang bisa Bapak tanyakan langsung kepada beliau" ujar perasat tersebut.


"Terimakasih sus" jawab Refan.


Perawat segera melakukan pemeriksaan kepada Naila. Mengukur suhu tubuhnya detak jantung dan pernafasan Naila.


"Alhamdulillah sudah turun panasnya Pak. Kelihatannya anak Bapak memang kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. Jangan dulu di gendong yang berlebihan ya Pak, Bu. Anak bayi masih rentan, tubuhnya masih sangat rapuh. Bisa saja salah gendong mengakibatkan tubuhnya terkilir" sambung Perawat.


Suci melirik ke arah Talita, seolah - olah mengatakan... Dengar Tuh... kepada Talita.


"Baik Sus" balas Kinan.


"Kalau bisa jangan terlalu banyak yang jenguk dan jaga di rumah sakit ya Pak. Kita kan gak tau dari luar sana bisa saja kita yang besar ini membawa virus penyakit dan terkana oleh anak bayi Bapak dan Ibu" sambung perawat.


Lagi - lagi Suci melirik ke arah Talita dengan kesal.


Cih.. bandel banget di bilangin, dengar tuh apa kata perawat. Batin Suci.


Sial.. Suster ini ngomong apa sih. Aku jadi diliatin Suci sampai seperti itu. Batin Talita cuek.


"Iya Sus, sebentar lagi Mama sama mertua saya pulang kok. Tadi bantuin jaga karena saya pulang ke rumah jamput pakaian Sus" jawab Refan.


"Kalau begitu saya pamit ya Pak. Biarin aja dulu adek bayinya tidur nyenyak Pak" ujar perawat.


"Iya Suster. Terimakasih" balas Kinan.

__ADS_1


Perawat tak lama kemudian keluar dari ruangan rawat inap Naila meninggalkan Refan dan keluarganya. Untuk sesaat ruangan sunyi sampai perawat itu benar-benar sudah pergi jauh dari ruangan mereka.


"Tuh Ta dengarkan apa kata perawatnya. Kamu sih ngeyel banget jadi orang, gak mau dengar perkataan orang lain" ujar Suci.


Talita diam tapi wajahnya terlihat kesal. Sedangkan Refan sedang memeriksa hasil laboratorium pemeriksaan darah Naila. Semuanya terlihat normal, mungkin benar kata perawat Naila hanya kecapekan saja seharian di rumah Mamanya Almh. Renita. Kurang waktu tidur dan istirahat.


Refan memeriksa lembar berikutnya dan kini tatapan Refan terpaku pada golongan darah Naila. Tertera di lembar kertas hasil pemeriksa dokter kalau golongan darah Naila adalah AB.


Refan terdiam dan mencoba mengingat golongan darah Renita dan menghubungkan dengan golongan darahnya.


Refan mempunyai golongan darah O sedangkan Renita A. Mengapa Naila mempunyai golongan darah AB? Walau tidak diperiksa secara medis, hanya secara ilmu pengetahuan yang Refan ketahui jika pasangan bergolongan darah O dan A menikah kemungkinan anaknya akan bergolongan darah O atau A juga. Tidak akan mungkin bergolongan darah B atau AB.


Kecuali Refan mempunyai golongan darah B sedangkan Renita A. Kemungkinan anak mereka bisa bergolongan darah apa saja. O, A, B dan AB.


Wajah Refan tampak benar - benar tidak bisa digambarkan. Membuat Kinan penasaran dengan apa yang terjadi pada Refan.


"Mas ada apa? Apa ada yang serius dari hasil pemeriksaan darah Naila?" tanya Kinan penasaran. Suci, Reni dan Talita juga tampan sedang menatap wajah Refan.


"Go.. golongan darah Naila AB" jawab Refan terbata.


"Terus ada apa dengan golongan darah Naila, apa ada masalah?" tanya Suci kemudian.


"Golongan darahku O, sedangkan Renita A. Mengapa Naila bergolongan darah AB?"....


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers setia.. maaf ya kalau beberapa minggu yang lalu aku upnya banyak sedangkan beberapa hari ini upnya sedikit.


Aku benar - benar tidak ingin membuat kalian kecewa tapi aku juga punya kehidupan, punya keluarga, suami dan anak - anak yang harus aku urus di sela - sela menulis.

__ADS_1


Sabar ya.. kalau aku punya waktu luang pasti aku akan up yang banyak. Tolong juga dukung novel - novelku dengan like, vote, kembang, kopi dan lainnya agar aku lebih semangat.


Terimakasih...


__ADS_2