
Mereka tiba di Jakarta jam sepuluh malam. Naila tidur dengan nyenyak dalam gendongan Refan. Saat mereka keluar dari pintu kedatangan dalam negeri mereka langsung di sambut oleh Bagus, Aril dan Romi.
"Alhamdulillah kalian sampai dengan selamat. Kami sudah sangat khawatir sekali" ujar Bagus.
"Kami juga sudah lega sampai di Jakarta. Aku rasa kalau di Jakarta yang mengejar kami tidak akan berani bertindak gegabah" jawab Riko.
"Tapi apa alasan mereka mengejar kalian?" tanya Romi.
"Kalau melihat dari kejadian Papa Reno dan yang kami lalui, aku yakin target mereka Naila" jawab Refan.
"Mereka mau apa dari Naila?" tanya Aril.
"Dugaan aku sementara ingin menculik Naila" jawab Refan.
"Apa motifnya?" tanya Aril penasaran.
"Pertama bisa jadi karena ingin memiliki Naila. Kedua ingin harta Naila" jawab Bimo.
"Harta Naila? Gak salah tuh penyerang? Naila masih kecil, dia belum punya apa - apa" sambut Bagus.
"Kamu salah Gus, semua harta Om Reno akan menjadi milik Naila ketika dia berusia dua puluh tahun" ungkap Riko.
"Apa?" tanya Aril, Bagus dan Romi bersamaan.
Mereka sangat terkejut ketika mendengar jawaban Riko.
"Sudah.. sudah.. lebih baik kita ke mobil dulu. Aku takut si Penyerangan itu tetap ada di Jakarta" potong Refan.
"Iya benar, lagian sudah malam. Kasihan Naila kena angin malam" sambut Bimo.
"Ya sudah yuk kita ke mobil" ajak Bagus.
Bagus sengaja membawa mobil besar agar cukup untuk mereka berenam plus si Kecil Naila. Mereka masuk ke dalam mobil dan langsung bergerak menuju rumah Refan.
"Lanjut Fan, gimana ceritanya Naila bisa mendapatkan seluruh harta Om Reno?" tanya Aril tak sabar.
"Papa Reno sudah membuat wasiat, jika sesuatu terjadi padanya dan Mama maka seluruh hartanya akan jatuh kepada Naila ketika dia berada dua puluh tahun" ungkap Refan.
"Jadi sebelum umur Naila dua puluh tahun gimana?" tanya Romi.
"Seluruh harta Naila dikelola oleh Refan" jawab Riko.
"Wah gawat ni bro bisa jadi kamu juga jadi sasaran" ujar Aril.
__ADS_1
"Tuh dia yang belum jelas siapa dalang di belakang semua ini" sambut Bimo.
"Yang penting kita bisa sampai di rumah dengan secepatnya. Kasihan Naila dia baru saja keluar dari rumah sakit, harus istirahat yang cukup. Yang penting sekarang adalah keselamatan Naila" ucap Refan.
Karena hari sudah malam mereka bisa sampai di rumah Refan dengan cepat.
"Assalamu'alaikum.. " ucap Refan ketika masuk ke dalam rumahnya.
Mereka langsung di sambut oleh Kinan, Bu Suci, Bik Nah dan Bik Mar.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab mereka semua yang ada di dalam rumah.
"Ya Allah naaaaak" Kinan langsung meraih Naila dalam gendongan Refan.
Kinan meneteskan air mata karena sedih mengingat nasib Naila.
"Kamu anak Mama sayang.. mulai hari ini kamu akan kembali tinggal bersama Mama" Kinan mencium dan memeluk tubuh Naila sehingga dia terbangun.
"Mam.. ma.. maaa... mamam... " ucap Naila.
"Naila mau mamam?" tanya Kinan.
"Bik cepat siapkan makanan untuk Naila" perintah Kinan.
"Belum sayang, kami sibuk menyelamatkan diri dari kejaran para penyerang itu sehingga lupa untuk mengisi perut kami. Yang kamu pikirkan saat itu bagaimana membawa Naila dengan selamat" jawab Refan.
"Bik, tolong siapkan makanan untuk semuanya ya" sambut Bu Suci.
Bu Suci bergantian memeluk dan menggendong Naila.
"Om.. maaa... " ucap Naila.
"Ya sayang.. Oma disini akan menjadi pengganti Oma kamu. Ya Allah Thalita cepatnya kamu pergi. Naila masih membutuhkan kamu" tangis Bu Suci pecah ketika mengingat tentang Bu Thalita dan Pak Reno.
"Mas bagaimana ceritanya Om sama Tante bisa kecelakaan?" tanya Kinan.
"Papa sudah beberapa minggu ini merasa dipantau dan dibuntuti. Kemarin mereka merasa semakin terancam keselamatannya sehingga mereka pergi dari rumah hendak bersembunyi ke Hotel Bimo tapi naasnya saat mereka dalam perjalanan mereka di kejar dari belakang dan mencoba lari. Di situlah terjadi kecelakaan, mobil Papa menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Papa dan Mama mengalami benturan yang sangat kuat, sedangkan Naila selamat karena duduk di car seat kursi belakang" ungkap Refan.
"Ya Allah Om.. Tante.. tragis sekali hidup kalian" sambut Kinan sedih.
"Jadi apakah kalian sudah lapor polisi Fan?" tanya Bu Suci.
"Sudah Ma, tadi pagi setelah selesai pemakaman Papa dan Mama, kami sempat mendapat kabar dari pihak Rumah Sakit bahwa ada orang yang mencurigakan sedang memantau kamar Naila. Kami langsung kembali ke Rumah Sakit dan memeriksa rekaman CCTV, kemudian membawa barang bukti tersebut ke kantor polisi. Polisi sedang melakukan penyelidikan dan pencarian pelaku. Kalau ada kabar terbaru mereka akan segera menghubungiku" jawab Refan.
__ADS_1
"Non, Den.. makanan sudah siap" ujar Bik Mar.
"Terimakasih Bik. Mas makan dulu, yuk Mas Bimo, Mas Riko dan Mas - Mas yang lain" ajak Kinan.
"Makasih Nan kami sudah makan. Biar Refan, Bimo dan Riko saja. Mereka pasti sudah sangat lapar sekali" tolak Bagus.
"Ayolah kita kumpul di meja makan sambil ngobrol dan minum" ajak Refan.
Akhirnya mereka semua berjalan ke ruang makan dan duduk sambil menyusun langkah ke depan. Kinan juga sedang asik menyuapi Naila makan malam.
"Apa rencana kamu ke depannya Fan?" tanya Riko.
"Arga tetap menjadi tersangka terdepan. Aku harap bantuan dari kalian untuk mencari informasi dia dan memantau gerak - geriknya. Besok aku akan bertemu dengan pengacara Papa untuk mengurus surat - surat Naila. Sekaligus singgah ke perusahaan Papa untuk memeriksa semuanya" jawab Refan.
"Bagus Fan, aku setuju sekali. Pihak dari keluarga Pak Reno juga harus kita selidiki, siapa tau motifnya adalah untuk merebut warisan Pak Renk yang jatuh ke tangan Naila" sambut Bimo.
"Iya benar kata Bimo. Bisa jadi mereka juga tersangkanya. Untuk saat ini siapa saja yang berhubungan dengan Pak Reno perlu kita curigai" ujar Riko.
"Kamu bisa juga selidiki kehidupan Om Reno di Labuhan Bajo siapa tau dia mempunyai musuh di sana" usul Aril.
"Atau saingan bisnis yang berusaha untuk melenyapkan nyawa keluarga Om Reno" sambut Bagus.
"Iya semua bisa saja terjadi" jawab Refan.
"Yang utama kamu harus hati - hati Fan, sampai umur Naila dua puluh tahun kamu yang kelola semua harta Naila. Kamu juga bisa jadi target mereka" ucap Romi kembali mengingatkan.
"Benarkah Mas?" tanya Kinan terkejut dan tak percaya.
"Benar sayang makanya Mas besok mau bertemu pengacara Papa. Kalau surat - surat Bailat sudah aman, tinggal kita kembali memasukkan nama Naila ke dalam daftar Kartu Keluarga. Bagaimanapun secara negara Naila adalah anak kandungku. Karena sejak Naila lahir akte dan surat menyurat sengaja tidak di rubah berdasarkan kesepakatan aku dan Papa Reno " jawab Refan.
"Syukurlah kalau begitu kan lebih mudah untuk kita mendapatkan hak asuh Naila" sambut Kinan.
"Oh jelas, Naila tetap menjadi anakku sampai kapanpun" tegas Refan.
Setelah selesai makan dan berbincang sedikit mengenai langkah - langkah Refan kedepannya. Teman - teman Refan pamit pulang karena hari juga sudah semakin larut malam.
Naila kini tidur di kamar anak - anak. Untung saja Refan memang sengaja membuat kamar anak - anaknya dengan besar sehingga muat untuk ke empat anaknya.
Nanti kalau Salman sudah berani tidur sendiri dia akan dipisah tidurnya dari adik - adiknya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG