
Setelah bertemu dengan teman - temannya Aril dan Bimo kembali ke rumah Refan.
"Lama banget kalian pulangnya? Bukannya jadwal keberangkatan Bapak dan Ibu itu jam sebelas?" tanya Refan yang heran melihat Bimo dan Aril pulang sore ke rumahnya.
"Tadi aku ajak Bimo ketemuan sama yang lain Fan" jawab Aril.
"Oooh... jadi Bimo udah kenal sama Riko, Romi dan Bagus?" tanya Refan.
"Udah, mereka semua teman yang asik. Aku senang berkenalan dengan mereka. Aku juga berencana akan rutin ikut pengajian" jawab Bimo.
"Bagus itu, kita bisa pergi bareng" sambut Refan.
Aril, Refan dan Bimo duduk di ruang keluarga. Tak lama Kinan dan Reni datang dari arah dapur membawa sepiring cemilan sore.
"Apa nih?" tanya Aril semangat.
"Cake marmer. Aku baru belajar masak cake sama Mbak Kinan" jawab Reni.
"Jadi cakenya buatan siapa nih?" tanya Refan.
"Buatan Reni Mas, aku hanya kasih tau cara dan juga resepnya" jawab Kinan.
"Waaah adikku sudah pintar masak sekarang. Seperti udah mau belajar jadi istri yang baik. Sebentar lagi sepertinya kita akan pesta besar Fan" Aril menggoda Reni.
"Iya donk Mas.. aku kan harus mulai belajar jadi wanita yang bisa menjadi istri yang baik" jawab Reni bangga.
"Gak nyangka Fan, setan kecil ini sekarang udah besar" ujar Aril.
"Maaas aku udah besar jadi berhenti memanggilku setan kecil" protes Reni.
"Hahaha sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi setan kecil kami semua hahaha" ujar Aril sambil tertawa.
"Emang kenapa Reni di panggil setan kecil Mas?" tanya Kinan penasaran kepada Refan.
"Dulu kan teman - teman aku sering main ke rumah bahkan tidur di rumah juga. Jadi waktu kecil Reni ini usil banget. Saat kami sedang main gitar di kamar tiba - tiba lampu kamar di matiin dan dia masuk ke kamar kami pakai mukena dan senter yang di arahkan ke wajahnya. Kamu bisa bayangkan gimana takutnya kami saat itu. Kami semua lompat dan lari dari kamar. Si Aril aja udah hampir kencin* di celana" ungkap Refan.
"Hahaha... lucu juga kamu Ren" tawa Bimo.
"Yah habis mereka juga suka usil padaku Mas. Mereka sering cubit pipiku sakit banget sampai aku sariawan" ungkap Reni.
"Itu kan karena gemas lihat pipi chubby kamu. Waktu kecil Reni ini gendut, pipinya tembem makanya kami suka godain dia" ujar Aril.
Aril, Bimo dan Refan langsung mencicipi Cake yang dibuat Reni.
"Mmm.. enak Ren. Dapat nilai delapan deh" puji Bimo.
__ADS_1
"Udah bisa nikah ni, ya kan Fan" Aril mengedipkan matanya kepada Refan.
"Yup, tapi harus minta izin ke Mas dulu. Kan nanti Mas yang akan menikahkan kamu" sambut Refan.
"Aah Mad Refaaaa.. nanti aja deh bicara pernikahan. Aku belum punya calon" jawab Reni
"Mau Mas carikan? Ada tiga calon nih sekarang" ujar Refan.
"Siapa Mas?" tanya Kinan ingin tau.
"Ada Aril, Riko dan Romi" jawab Refan.
"Gak mauuuuu... mereka semua playboy. Walau ada yang ngaku udah tobat tapi aku gak mauuuuu.... " tolak Reni langsung.
"Hahahaha... siapa juga yang mau sama kamu weeeek" ejek Aril.
Tiba - tiba Aril melirik seseorang yang ada di sampingnya.
"Eh.. aku ada calon satu lagi" ujar Aril.
"Siapa?" tanya Reni penasaran.
"Nih si Bimo... dia kan single juga. Ganteng lagi" jawab Aril sambil tertawa menang.
Sontak Bimo dan Reni saling pandang dan Reni langsung membuang pandangannya karena salah tingkah.
Kinan tersenyum melihat sikap Reni dan Bimo yang seketika salah tingkah.
"Tua bukan berarti lemah.. eits jangan salaah gini - gini Bimo masih bisa cetak kesebelasan" goda Aril.
"Hahahaha... ada - ada saja kamu Ril" tawa Bimo pecah.
Reni hanya tertunduk malu. Kinan jadi gemas melihat Kakak ipar dan juga adik iparnya itu. Kinan membayangkan seandainya hal itu terjadi Bimo dan Reni menikah pasti hubungan kekeluargaan mereka jadi semakin dekat.
Pasti antara keluarga Akarsana dan keluarga Ardianto tidak putus dan terhubung kembali karena Bimo menikah dengan Reni yang tak lain adalah adik Refan suaminya Kinan.
"Mbak aku mau main sama Salman dulu ya" ujar Reni karena malu di hadapan Bimo.
"Ada yang malu nih yeeee... tumben si setan kecil punya rasa malu. Cie.. cie.. setan kecil udah dewasa sekarang. Trus kalau dewasa ganti nama donk jadi kuntilanak wkwkwkwk" goda Aril.
"Siriiiiik" ucap Reni cemberut.
Bimo tersenyum melihat tingkah Reni yang grogi karena malu.
Reni melangkah pergi meninggalkan yang lainnya di ruang keluarga dan segera menyusul Salman di kamarnya. Tapi karena Salman sedang bermain dengan Opanya Reni jadi beralih ke kamarnya.
__ADS_1
Reni langsung duduk di sofa sambil meraba dadanya yang tak berhenti berdetak.
Duh kenapa jantungku berdisko seperti ini? Kenapa sih harus geer di depan Mas Bimo? Aku kan jadi malu, Mas Bimo bisa saja menganggap aku masih seperti anak kecil. Ni gara - gara si Aril peterpen nih mulutnya gecor amat. Awas nanti dia ya, aku gak mau lagi bantuin dia deketin Bela. Batin Reni.
Reni segera masuk ke kamar mandi untuk mandi karena sebentar lagi adzan maghrib. Tubuhnya gerah karena tadi belajar membuat kue di dapur ternyata membuat tubuhnya lengket karena keringatan.
Malam harinya mereka semua berkumpul di meja makan. Ketepatan Reni dan Bimo duduk berhadapan membuat Reni jadi semakin salah tingkah. Bimo tersenyum melihat tingkah Reni yang tampak sungkan dan gelisah.
Bimo menyuguhkan makanan kepada Reni.
"Tambah Ren makannya biar cepat besar" goda Bimo.
Sontak wajah Reni memerah. Aril melirik dan langsung semangat ikut godain Reni.
"Benar itu biar kamu ganti nama jadi kuntilanak" ujar Aril pelan.
Reni mengangkat garpu dan mengancam Aril membuat Aril dan Bimo kompak tersenyum. Kinan dan Refan diam - diam juga memperhatikan tingkah Reni yang sedikit berubah jadi malu - malu di hadapan Bimo.
Setelah selesai makan dan selesai membantu Bik Mar dan Bik Nah membereskan meja makan Reni bergegas langsung masuk ke kamar. Dia tidak mau menjadi bual - bualan Aril lagi dan entah mengapa Reni jadi serba salah kalau berhadapan dengan Bimo.
Mending aku langsung masuk ke kamar aja deh. Dari pada di bully sama Aril peterpen itu. Batin Reni.
"Lho Dek Reni udah mau tidur?" sapa Bimo saat mereka berpapasan di depan toilet.
"Eeh iya Mas, aku udah ngantuk" jawab Reni gugup.
"Cepat banget tidurnya. Masih juga jam delapan" sambung Bimo.
"Besok aku mau cepat pergi ke kantor. Ada kerjaan yang belum selesai" ujar Reni.
"Ooo... rajin ya. Ya sudah met malam dek Reni" balas Bimo.
"Malam Mas" jawab Reni dengan jantung yang semakin kencang berdebar.
Ya Tuhaaaan... ada apa dengan jantungku. teriak Reni dalam hati.
Reni langsung melangkah cepat menuju kamarnya dan meninggalkan Bimo yang menatap kepergiannya. Bimo kembali tersenyum melihat tingkah Reni seperti itu.
Entah mengapa sejak mengantar Reni kemarin pulang ke rumahnya diam - diam Bimo juga jadi sering memperhatikan gerak - gerik Reni.
Reni gadis remaja yang beranjak dewasa. Baik dan juga taat beribadah plus dia juga masih jomblo belum punya pacar ataupun calon suami. Membuat Bimo semakin memikirkan sesuatu di masa depan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG