
"Baiklah Pa, aku akan menyerahkan Naila kepada kalian" ujar Refan pasrah.
"Kamu bilang minggu depan kalian mau pindah rumah kan? Lebih cepat lebih baik kami membawa Naila ya Fan. Agar tidak mengganggu kamu dan keluarga kecil kamu pindahan rumah. Tolong sampaikan pada istri kamu, besok kami akan menjemput Naila. Tidak perlu repot - repot mempersiapkan semuanya, biar setelah itu kami yang akan menyiapkan segala sesuatu kebutuhan Naila" pinta Pak Reno.
Dengan tarikan nafas yang sangat berat tapi harus Refan lakukan, tak mungkin dia mencegah atau menolak permintaan Papanya Renita.
"Iya Pa, nanti akan saya sampaikan pada istri saya" jawab Refan.
"Suci.. kami juga minta maaf kepada kamu. Mungkin selama putri kami menjadi menantu kamu, dia banyak melakukan kesalahan. Kami juga mungkin tanpa sadar telah banyak melakukan kesalahan yang menyinggung perasaan kamu. Terlebih kami sangat malu dengan apa yang di lakukan putri kami kepada putra kamu. Kamu pasti marah dan kesal mengetahui kalau putra kamu telah di bohongi seperti ini, kami sangat mengerti" Reno menunduk hormat dan tulus kepada Suci.
"Aku akui Mas awalnya aku memang sangat marah tapi Refan saja sebagai orang yang langsung tersakiti di sini bisa memaafkan Renita dan mengikhlaskannya masak aku tidak Mas. Selaku orang tua aku hanya bisa mendoakan anak - anakku bahagia. Kini Refan sudah menikah lagi dan aku berharap dia bahagia. Biarlah kejadian yang lalu hanya tinggal kenangan tak perlu di kenang lagi rasa sakitnya. Aku juga sebagai orang tua Refan meminta maaf kepada keluarga Mas. Selama kita berbesan pasti ada kelakuan saya dan keluarga saya yang tanpa sengaja menyinggung perasaan kalian. Pertemuan dua keluarga kita mulai dengan niat yang baik, marilah kita selesaikan juga dengan baik - baik. Tentang Naila aku secara pribadi berpikirnya juga seperti itu. Lebih baik Naila kalian yang asuh, karena.. aku memikirkan perasaan Refan Mas. Maaf karena Refan anakku, hatinya pasti sakit setiap melihat Naila. Anak yang dia besarkan selama ini ternyata bukan darah dagingnya. Aku takut kalau Naila terus bersama Refan dia akan terus teringat tentang pengkhianatan Renita kepadanya. Memang saya tau Refan tulus menyayangi Naila tapi dia akan sulit untuk melangkah menuju masa depannya bersama keluarga barunya. Aku harap Mas beserta keluarga Mas mengerti" sambut Suci.
"Iya Suci, kami sangat mengerti apa yang kamu risaukan. Karena sebab itu jugalah makanya saya meminta agar Naila kami saja yang asuh" ulang Reno.
Refan menatap kedua mertuanya dengan hormat. Mungkin ini kali terakhir dia datang ke rumah ini. Setelah keluar dari rumah ini selesai sudah hubungan ini, selesai sudah masa lalunya bersama Renita dan keluarganya.
"Kalau begitu Pa, Ma, aku dan Mama pamit pulang. Maaf kalau selama ini aku punya banyak salah baik di sengaja ataupun tidak" Refan berdiri dan memberikan salam hormat kepada mertuanya.
Reno membalasnya dengan berdiri dan mereka berperlukan erat dan lama.
"Maafkan Renita Fan, maafkan dia. Ikhlaskan semua ya Fan agar dia tenang di sana" tangis Reno kembali pecah. Dia sangat sedih sekali mengetahui putri tunggalnya bisa berbuat sejahat itu kepada suami yang sangat menyayanginya.
"Sudah Pa.. sudahlaaah.. aku sudah memaafkannya" balas Refan.
Refan beralih ke Talita, Mamanya Renita
"Ma.. maafkan aku jika selama ini aku punya salah ya Ma" ucap Refan.
__ADS_1
"Iya Fan, Mama juga sama" Jawab Talita.
Hanya itu yang dia ucapkan. Refan tidak mengerti apakah kata - kata itu tulus atau tidak tapi Refan tidak mau ambil pusing lagi. Yang penting urusan dia dengan mantan mertuanya ini sudah selesai. Hanya tinggal menyerahkan Naila besok kepada mereka.
"Ingat ya Fan, besok kami akan menjemput Naila ke rumah kamu" ucap Reno mengingatkan.
"Iya Pa" balas Refan.
Suci juga bergantian bersalaman dengan Papa Renita. Kemudian setelah itu dia berjabat tangan dengan Talita.
"Aku pulang dulu Ta" ucap Suci.
"Iya" jawab Talita.
Hanya itu yang terucap, setelah itu mereka saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak tau apa yang sedang pikirkan tapi yang jelas keduanya seperti menjaga jarak. Tidak ada lagi kehangatan berbesan seperti awal pernikahan Refan dengan Renita.
"Kalau begitu kami pamitan ya Pa, Ma. Assalamu'alaikum" ucap Refan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Reno dan Talita.
Refan dan Mamanya melangkah ke luar rumah orang tua Renita, mereka di antarkan Reno dan Talita sampai teras depan rumah. Kemudian Refan dan Suci masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan halaman rumah Renita.
Refan kini bernafas lega.. sangat lega.. akhirnya permasalahan ini selesai dan mungkin memang inilah yang terbaik.
"Mama mau pulang atau... " tanya Refan.
'"Mama ikut ke rumah kamu. Mama mau bantu - bantu kamu pindahan sekaligus ingin perpisahan dengan Naila. Bagaimanapun dia sudah menjadi cucu Mama selama lima bulan sebelum rahasia ini terbongkar" potong Suci.
__ADS_1
"Baiklah.. tapi besok aku harap Mama dan Mama Talita jangan ada konflik lagi ya. Sudah selesai semuanya Ma. Kalian tidak perlu lagi saling baku hantam apalagi saling sindir. Aku sudah tenang semua berakhir seperti ini" ujar Refan.
"Kamu aja yang kebaikan Fan, kalau Mama jadi kamu. Mama udah cari tuh siapa tadi namanya Aa.. Arga Laksamana, Mama akan tinju dia" ucap Suci penuh emosi.
"Untuk apa Ma? Agar dia tau kalau aku terluka karena dia sudah merebut Renita? Tidak ada gunanya kan? Toh Renita juga sudah meninggal lagian aku sudah punya istri yang lebih baik dari dia sekarang. Aku sudah bahagia sedangkan pria itu mungkin masih menangisi dan menyesali perbuatannya dengan Renita. Apalagi kalau dia memang mencintai Renita, mungkin saat ini dia masih menangis karena kehilangan Renita. Wanita yang dia rebut dengan cara yang tidak baik dan harus berakhir dengan menyedihkan seperti ini. Biar saja dia mengalami penyesalan seumur hidupnya Ma dan berpikir bagaimana dia menebus kesalahan dan dosa - dosanya dulu bersama Renita" jawab Refan cuek.
"Kamu bisa setenang ini bicara sekarang karena sudah mempunyai Kinan kan dalam hidup kamu?" tanya Suci.
"Aku akui semua ucapan Mama itu benar. Allah mungkin sangat sayang padaku sehingga dia persiapkan Kinan hadir dalam hidupku terlebih dahulu agar dia bisa menemaniku menghadapi semua masalah ini" ungkap Refan.
"Bagaimana sekarang perasaan kamu kepada Kinan? Apakah dia tetap kamu anggap sebagai baby sitternya Naila? Sementara Naila besok akan dibawa oleh Opa dan Omanya. Bagaimana hubungan kamu dengan Kinan setelah itu?" tanya Suci penasaran.
"Mama kenapa bilang seperti itu? Siapa yang bilang aku menganggap Kinan sebagai baby sitternya Naila?" tanya Refan terkejut, mengapa Mamanya sampai tau tentang itu.
"Hahaha.. Mama ini Mama kamu Fan. Orang yang melahirkan kamu. Apapun yang kamu alami Mama pasti akan tau tak perlu kamu tanyakan dari mana Mama bisa mengetahuinya. Semua orang tua pasti akan sama, walau anak - anak mereka sudah besar dan dewasa pasti mereka akan tetap memantau hidup dan kebahagiaan anaknya dari jauh. Kelak saat kamu sudah memiliki anak dari Kinan kamu pasti akan membenarkan ucapan Mama ini. Kamu pasti akan merasakannya " tegas Suci.
Refan terdiam setelah Mamanya berkata seperti itu.
"Sekarang bagaimana perasaan kamu pada Kinan?" tanya Suci.
"Aku mencintainya Ma"..
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1