
"Aisyah sudah cerita kalau kalian sebenarnya sudah lama saling kenal, tepatnya kalian dulu teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu. Namun beberapa minggu yang lalu kalian bertemu kembali. Aisyah juga sudah cerita gimana kamu dulu dan kami juga bisa menilai bagaimana sikap kamu saat ini. InsyaAllah kalau kamu punya niat baik dan ta'aruf untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kami sangat mendukung niat kamu. Kami menilai kedatangan kamu malam ini adalah bukti keseriusan kamu untuk melamar putri kami. Bapak terima niat baik kamu, besok kamu bisa bawa orang tua kamu. Kita akan membahas langkah selanjutnya untuk mewujudkan keinginan kalian membangun rumah tangga" sambut Papa Aisyah.
"Terimakasih Pak, saya sangat lega bisa diterima dengan baik di keluarga ini" balas Salman.
Setelah sepakat besok Salman akan datang lagi bersama orang tuanya, Salman meminta izin pamit pulang karena waktu sudah malam.
Sesampainya dirumah kepulangan Salman sudah ditunggu oleh Refan dan Kinan yang sudah tidak sabar untuk mendengar kabar gembira dari Salman.
"Gimana hasil pertemuan kamu dengan orang tua Aisyah tadi Sal?" tanya Refan.
"Alhamdulillah baik Pa. Papa Aisyah menerima kedatangan aku dengan baik dan merestui niat baik aku untuk melamar Aisyah. Besok mereka meminta Papa dan Mama datang untuk membicarakan tentang rencana pernikahan aku dengan Aisyah" pinta Salman.
"Alhamdulillah syukurlah semuanya berjalan dengan baik. Sebulan lagi jan Jeta dan Naila akan menikah, rasanya dalam waktu dekat kita tidak mungkin mengadakan pesta lagi. Sementara niat baik kamu tidak mungkin kita tunda. Jadi saat ini Papa ingin bertanya pada kamu. Apakah kamu setuju kalau pernikahan kamu dengan Aisyah kita gabung saja dengan Jeta dan Naila?" tanya Refan.
"Aku tidak masalah Pa. Lebih baik kan menyegerakan niat yang baik Pa dari pada di tunda. Tapi kita harus bicarakan dengan orang tua Aisyah agar mereka tidak terkejut dengan niatan kita dan mau menerimanya dengan baik" ungkap Salman.
******
Esok harinya di rumah Aisyah.
Refan, Kinan, Jelita dan Tagor, Jeta dan Naila ikut menemani Salman datang ke rumah orang tua Aisyah malam ini. Karena acaranya malam, orang tua Aisyah sekalian mengundang untuk makan malam bersama.
"Duh Mbak kenapa harus repot - repot?" ucap Kinan saat mereka diajak duduk di meja makan.
"Tidak apa Jeng, rasanya kan tidak enak kalau kita ingin membicarakan hal penting untuk anak - anak kita tanpa makan malam bersama. Kalau perut sudah terisi pasti nanti akan dapat kata mufakat yang baik" jawab Mama Aisyah.
__ADS_1
"Ah benar itu dek.. Apalagi dihidangkan makanan khas Indonesia seperti ini, kangen kali aku. Inilah yang paling aku kangeni setiap pulang ke Indonesia" sambut Tagor.
Jelita langsung menyenggol lengan suaminya.
"Kalau begitu silahkan disantap Bang semua makanan yang kami hidangkan ini" ujar Papa Aisyah.
Mereka terlihat sangat terbuka menyambut kedatangan keluarga Salman malam ini. Setelah acara makan malam selesai baru mereka membicarakan masa depan Salman dan Aisyah.
"Mmm... begini Mas. Salman sudah cerita mengenai lamarannya kemarin malam. Jadi kedatangan kami ke sini ingin melanjutkan niat baik putra Kami sekalian ingin memutuskan bersama kapan hari baik anak kita akan kita laksanakan" ungkap Refan.
"Kalau mengenai itu kami terserah pada keluarga Dek Refan saja. InsyaAllah kami akan setuju kapan pun kalian mau" jawab Papa Aisyah.
"Ini Putri saya Naila, bulan depan dia akan menikah dengan keponakan saya. Putra dari Kakak saya. Jadi kami berencana bagaimana kalau pernikahan Salman dan Aisyah kita laksanakan bersamaan saja. Kakak saya ini tinggal di luar negeri, putri saya juga nanti akan dibawa ke luar negeri. Mereka tidak bisa pulang kembali dalam waktu dekat. Atas pertimbangan itu juga kami memutuskan tanggal pernikahan untuk Salman dan Aisyah. Semua sudah kami siapkan hanya tinggal undangan, baju pengantin dan seserahan dan mahar untuk Aisyah saja yang perlu kami siapkan" sambung Refan.
"Bagaimana Aisyah, apakah kamu sudah siap?" tanya Papanya kepada Aisyah.
"InsyaAllah Aisyah siap Pa" jawab Aisyah.
"Alhamdulillah... " sambut semuanya.
Salman tersenyum manis menatap wajah gadis pujaan hatinya sedangkan Aisyah membalasnya dengan lirikan malu - malu.
"Syukurlah kalau kita semua sudah setuju, mulai besok kita akan melakukan persiapan untuk pernikahan Salman dan Aisyah juga" ujar Refan.
"Iya dek" sambut Papa Aisyah.
__ADS_1
Semua sudah lega karena apa yang mereka inginkan bisa terlaksana sesuai dengan rencana. Akhirnya keluarga Salman pamit undur diri dari rumah Aisyah.
Saat di rumah Refan.
"Sal Papa ada satu permintaan untuk kamu" ucap Refan.
"Apa tuh Pa?" tanya Salman balik.
"Kamu jangan cepat - cepat pindah dari rumah ini ya? Adik kamu Naila nanti setelah nikah kan akan dibawa Jeta ke luar negeri. Rasanya sepi banget di saat bersamaan dua anak kami keluar dari rumah ini. Untuk sementara kamu dan Aisyah tinggal di sini ya sampai nanti kalian menemukan rumah impian kalian. Lagian kamu kan baru pulang dari luar negeri dan baru kembali berkumpul dengan kami. Jangan terlalu cepat pergi lagi, walau kepergian kamu memang untuk hidup dan masa depan kamu" ungkap Refan.
Salman tersenyum sambil menarik nafas dalam.
"Iya Pa, aku mengerti. Aku akan bicarakan hal ini dengan Aisyah Pa" jawab Salman.
"Itu permintaan Mama kamu. Sebelum kita berangkat ke rumah Aisyah tadi, di kamar dia terlihat sedih karena akan melepas dua anaknya ke jenjang pernikahan. Kamu tau kan bagaimana kasih sayang Mama pada kalian anak - anaknya? Kasihan dia kalau merasa sepi di rumah ini" sambung Refan.
"Iya, aku juga belum ada merencanakan hal itu. Lamaran aku kan kemarin mendadak dan secara spontan. Aku juga belum ada menyusun masa depanku akan bagaimana nanti dengan Aisyah" balas Salman.
"Jalani aja dulu toh tahun - tahun pertama pernikahan adalah tahap pengenalan. Kalian akan saling adaptasi dengan sifat masing - masing. Mengenal Aisyah sejak dulu bukan jaminan perjalanan rumah tangga kalian akan mulus dan berjalan lancar. Kalian hanya mengenal sifat luar pasangan kamu. Sifat aslinya kan belum tau. Rumah tangga itu sesimple pikiran kita jadi jangan dianggap berat tapi bukan berarti anteng juga. Mengalir aja seperti air dan menikah itu niatkan untuk ibadah agar dalam hati tercipta rasa ikhlas. Ingat ridho suami adalah perpanjang tangan dari ridho Allah. Kalau kamu ikhlas dengan apa yang disuguhkan istri kamu kelak InsyaAllah rumah tangga kalian akan tentram. Saling mengerti dan terbuka itu penting. Jangan lupakan juga kerjasama yang baik. Karena menikah itu kita bukan mencari pengurus hidup kita sebagai seorang suami. Tapi kita mencari patner hidup untuk menemani kita berjalan menuju masa depan" pesan Refan.
"Iya Pa, aku akan belajar dengan rumah tangga Papa dan Mama. Kalian adalah panutan aku dalam hidup ini" balas Salman.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG