Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 39


__ADS_3

Setelah pembicaraan Refan dengan teman kuliahnya Kinan lebih memilih diam. Berulang kali Kinan mengusap dadanya untuk menghilangkan nyeri di dadanya.


"Naila Refanita" panggil seorang perawat


"Mas Naila" ujar Kinan kepada Refan.


"Sus kami duluan ya, lain kali kalau kita ketemu kita ngobrol panjang ya" ujar Refan pamit kepada temannya.


"Oke Fan, selamat atas pernikahan kalian ya" ujar teman kuliah Refan.


Mereka masuk ke dalam ruang prakter Dokter Anak yang akan memvaksin Naila.


"Silahkan timbang dulu bu adeknya" perintah seorang perawat.


Kinan meletakkan Naila di atas timbangan untuk bayi. Kemudian perawat mencatat berat Naila. Setelah itu baru Naila di bawa ke dekat Dokter.


"Ini imunisasi yang ke tiga ya Bu. Nanti kalau adek bayinya demam dikasih ASI aja yang banyak. Tapi mudah - mudahan gak demam ya.." ucap sang dokter.


"Maaf Dok, anak saya gak ASI" jawab Kinan.


"Kalau begitu perbanyak aja susunya" balas Dokter .


"Boleh minta resep obat demam Dok, buat jaga - jaga" minta Kinan.


"Boleh nanti saya kasih resepnya ya" jawab Sang Dokter.


Naila menangis begitu selesai di imunisasi.


"Adek jangan nangis, nanti Kakak akan marahin dokternya ya" ucap Salman.


Dokter dan perawat tersenyum mendengar ucapan Salman yang lucu.


Naila tak berhenti juga bernyanyi.


"Dokter kenapa adikku tidak berhenti menangis? Dokter mau aku gigit" ancam Salman.


"Saaayaaaaang... " ucap Kinan mengingatkan putranya.


"Hahaha... gak apa - apa Bu, namanya anak - anak. Apa yang bisa di lakukan itulah yang akan dia katakan. Dia kasihan melihat adeknya menangis dan yang bisa di lakukan hanya menggigit saya untuk membalaskan tangisan adeknya" ucap Sang Dokter.


"Maafkan putra saya Dok" ucap Refan.


"Hahaha gak apa - apa Pak. Biasa itu anak - anak. Malah putra Bapak ini hebat, masih kecil rasa melindungi adeknya sungguh sangat luar biasa. Walau dia hanya bisa menggigit tapi dia tidak perduli yang penting adeknya jangan disakiti" jawab Dokter.


Sang Dokter mengelus lembut kepala Salman.

__ADS_1


"Kamu sayang sama adek ya" ucap Dokter dengan ramah.


Salman menganggukkan kepalanya.


"Anak pintar, jadi seorang Kakak memang harus seperti itu. Bisa menjaga adek kecilnya jangan sampai menangis ya" sambut Dokter.


"Iya" balas Salman singkat.


"Sampai di rumah nanti adeknya di jaga ya Kak.." ucap Dokter dengan gemasnya.


"Oke Dokter" jawab Salman.


"Anak pintar" puji Dokter lagi.


Kinan tersenyum mendengar pujian Dokter kepada putranya.


"Ini Pak, Bu resep yang Ibu minta" ucap Sang Dokter sambil menyerahkan kertas yang berisikan resep obat untuk persediaan demam Naila.


Refan mengambil resep dokter tersebut dan menyimpannya.


"Terimakasih Dok, kalau begitu kami pamit dulu ya" ucap Refan sopan.


Mereka segera meninggalkan ruang praktek Dokter dan kembali menuju parkiran mobil lalu beranjak pulang.


"Mas jangan lupa singgah di apotek untuk tebus resep Naila" ucap Kinan mengingatkan.


"Iya, kita berhenti sebentar di apotek depan" ucap Refan.


Refan menghentikan mobil tepat di depan Apotek. Dia segera membeli obat sesuai dengan isi resep Dokter tadi.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah. Tapi karena waktu maghrib sudah tiba mereka singgah di mesjid di pinggir jalan dan bergantian untuk melaksanakan shalat maghrib karena salah satu dari mereka harus menjaga anak - anak di dalam mobil.


Setelah selesai shalat mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sekitar jam delapan malam Refan bersama istri dan anaknya sampai di rumah mereka.


Bik Nah dan Bik Mar menyambut kedatangan mereka.


"Bik makan malam sudah di siapkan?" tanya Kinan.


"Sudah Non" jawab Bik Mar.


"Bik Nah tolong jagain Naila ya.. kami mau makan dulu" Kinan menyerahkan Naila ke dalam pelukan Bik Nah.


Kinan bergegas ke kamar untuk menyiapkan baju ganti Refan karena Refan belum mandi sepulang dari kantor tadi. Setelah itu Kinan mengganti pakaian Naila dan Salman di bantu oleh Bik Nah.


Kinan kembali ke kamarnya untuk mengajak Refan makan.

__ADS_1


"Mas yuk makan" ajak Kinan.


"Iya sebentar" jawab Refan.


Kinan langsung meninggalkan Refan dan menunggunya di depan meja makan bersama Salman. Tak lama Refan menyusulnya. Kinan mulai meladeni Refan dan mengambilkan makanan ke dalam piring Refan dan mereka mulai makan dengan hening.


Ada yang berbeda, tidak biasanya seperti ini, pikir Refan. Mungkin Kinan memang sedang malas berbicara. Refan memperhatikan gerak gerik Kinan yang sedang asik menyuapkan Salman makan malam.


"Kak Salman kok tumben di suapin Mama, biasanya kan makan sendiri?" tanya Refan.


"Sudah kemalaman Mas kita makannya, biar cepat aja Salman makan takut masuk angin" jawab Kinan dingin.


Setelah Salman selesai makan kini giliran Kinan yang makan, Refan lebih dulu selesai dari Kinan. Dia meninggalkan Kinan yang sedang makan sendirian di dapur. Refan berjalan ke ruang TV dan mengajak Naila bermain. Seharian ini dia belum ada menggendong Naila.


"Sini Bik gantian aku yang gendong" pinta Refan.


Bik Nah memberikan Naila kepada Refan. Refan mulai mengajak putrinya itu berbicara.


"Anak Papa pinter ya.. sehat terus ya sayang jangan sakit - sakit" ucap Refan.


Naila tampak tersenyum karena di godain Refan. Tak lama Kinan kembali dari ruang makan sambil membawa botol susu untuk Naila.


"Sini Mas Nailanya biar aku tidurkan, sudah malam" pinta Kinan. Refan memberikan Naila kedalam pelukan Kinan.


Setelah minum susu Naila tidur, Kinan segera membawanya ke kamar dan meletakkannya ke dalam box bayi. Setelah itu giliran Salman yang di ajak Kinan tidur.


"Yuk sayang tidur, udah malam. Jangan main lagi, besok aja di sambung mainnya ya" ajak Kinan lembut.


"Oke Mama" balas Salman.


Salman bergegas mengikuti Kinan ke kamar dan segera naik ke atas tempat tidur. Kinan langsung mengusap - ucap punggung Salman sebagai bujukan agar Salman segera tidur. Tak lama kemudian Salman pun terlelap.


Kinan kembali ke kamarnya dan segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sebelum tidur dia tak lupa shalat isya terlebih dahulu. Baru setelah itu Kinan naik ke atas tempat tidur bergabung dengan Refan yang lebih dulu menunggunya.


Refan terlihat sudah sangat polos hanya menggunakan celana boxer. Kinan menarik nafas panjang. Malam ini lagi - lagi Refan mengajak Kinan bertarung. Walau Kinan tidak bisa menolaknya karena merasa itu adalah tugasnya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


Setelah mereka selesai bertarung dan hanya Refan yang mendapatkan kepuasannya. Refan memandangi wajah Kinan tapi tampaknya Kinan tidak menuntutnya untuk gantian memuaskan hasratnya. Kinan tampak biasa saja dan bersiap untuk tidur.


Refan merasa kali ini sikap Kinan lebih dingin dari malam - malam sebelumnya. Membuat Refan merasa serba salah dan membuatnya bertanya.


"Ada apa dengan kamu? Mengapa malam ini kamu bersikap seperti ini?" tanya Refan penasaran.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2